GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Fina dan paman Haru


__ADS_3

****


"Hari yang menyebalkan sekali, bisa-bisanya ulangan tanpa pemberitahuan sama sekali" gumam Lyla yang sedang asyik makan


cemilan di kursi taman belakang sekolah yang menjadi tempat favorit mereka bertiga.


"Namanya juga sekolah favorite pasti ada resikonya, salah satunya harus selalu siap dengan ujian selain daripada uang," ketus Heri.


"Kalian berdua anak pintar berada di kelas A tentu saja hal ini adalah hal yang sepele bagi kalian berdua, huh" delik Lyla.


"Tidak juga kok, aku juga sama kagetnya seperti kamu" ucap Fina coba meredakan kekesalan Lyla.


"rasanya ingin kembali satu kelas dengan kalian lagi" wajah Lyla memelas.


"2 tahun satu kelas dengan orang bodoh seperti kau memang menjengkelkan, tapi jalani saja semoga kuliah nanti kau bisa masuk ke Universitas terbaik" ucapan Heri menohok dan membuat Lyla spontan mempelototinya. Tapi, Lyla tidak menjawab ataupun marah karena memang benar apa yang dikatakan Heri.


"Aku dengar akan ada siswa baru kesekolah ini, ya?" tanya Lyla.


"Benarkah, aku tidak tahu" ucap Fina lalu melirik ke arah Heri.


"Hmm, aku dengar juga begitu" balas Heri seolah mengerti dengan lirikan Fina.


"Tapi, kenapa sudah heboh sekali yah dari beberapa hari yang lalu. Apakah anak ini begitu penting?" Sebuah kata tanya Lyla lontarkan entah bertanya kepada siapa, Fina dan Heri yang mengerti hanya saling melihat dan mengangkat bahu mereka seolah tidak tahu.


"Sudah waktunya masuk kelas, ayo" ajak Lyla. Merekapun pergi ke kelas masing-masing.


"Kalian masuk duluan, aku mau ke toilet sebentar," ucap Fina di tengah perjalanan. Heri dan Lyla pun pergi ke kelas mereka masing-masing sedangkan Fina, pergi ke arah toilet.


Sesaat Fina keluar dari toilet wanita, Fina terkejut dengan kehadiran seseorang yang sudah berdiri di depannya.


"Pa, paman...!" ucap Fina dengan wajah pucat nya karena kaget.


"Ikut aku...!" ucap paman Haru dan tanpa ada jawaban dari Fina, dia langsung mengikuti paman Haru.


"Kenapa Fina lama sekali, apa aku harus menjemputnya.Umumnya orang biasa ke toilet untuk buang air kecil tidak sampai 5 menit, ini hampir 15 menit" gumam Heri.


****

__ADS_1


"Aku harap kau sudah tahu maksud kedatanganku," ucap paman Haru tanpa basa-basi.


"Ma, maaf saya belum tahu" ucap Fina.


"Kurasa Haru sudah mengatakannya," balas paman Haru.


"Mo, mohon maaf paman saya tidak mengerti maksud paman," ucapan Fina membuat suasana terasa hening sesaat.


"Hmm, jadi anak tengik itu masih belum mengatakannya kepadamu. Biar aku jelaskan, Pernikahan Haru dan Tesa sudah ditentukan dan aku menyuruhnya memberitahumu," jelas paman Haru.


Bagai disambar petir, hati Fina hancur berkeping-keping seketika. Seluruh tubuh Fina kehilangan tenaga untuk berdiri, ia bersandar ke dinding yang berada tepat disisi nya.


"A, apa maksud paman Haru dan aku sudah menikah. Bagaimana bisa..." ucapan Fina terpiting oleh paman Haru.


"Surat perceraian mu dan Haru akan segera di urus. Dengarkan, kau dan Haru bukanlah orang yang sebanding dan sederajat jadi menyingkirlah dari kehidupan keponakanku," ucap paman Haru dengan penuh tekanan.


"Ba, bagaimana dengan Haru. Apa paman yakin kalau Haru bersedia, saya rasa..." Lagi-lagi ucapan Fina terpotong.


"Tentu saja dia menolak dengan mentah tentang pernikahan ini," sedikit rasa lega saat Fina mendengar tentang penolakna Haru tapi segera berubah menjadi sedih akan lanjutan ucapan dari paman Haru.


"Apa kau tidak sadar, kalau semenjak kau hadir dikehidupan keponakan ku. Hidupnya semakin rumit, mengurus ini itu sampai keluarga kecilmu itu dia yang memikirkannya termasuk kakak mu yang hobi berjudi. Perusahaan Haru satu persatu mulai roboh dan direbut oleh perusahaan rival. Tidakkah kau merasa bahwa kau ini membawa kesialan dikehidupan Haru..." ucapan paman Haru ya g terakhir bukan hanya menghancurkan hatinya, tapi juga harga dirinya. Fina yang dari dulu paling anti disebut orang peminta bahkan dia rela tiap hari bergadang kelelahan demi untuk mencukupi kebutuhan adik dan ibunya itu kini hanya bisa terdiam mengepalkan tangannya.


"A, aku..." ucap Fina.


****


"Kau sudah 20 menit tidak kembali ke kelas, kau ini kencing atau buang air besar, hah" Heri yang sedikit khawatir dengan kepergian Fina lega bisa melihat Fina kembali ke kelas. Tapi, wajah Heri kembali panik saat melihat wajah Fina yang pucat tak bergairah.


"Kau, apa kau sakit?" ucap Heri sambil memegang tangan Fina.


"Aku tidak apa-apa, hanya tadi melihat kecoa di toilet merinding sekali, iihh" ucap Fina ngasal.


"Benarkah, kau tidak sakit?" Heri yang tidak percaya terus menanyai Fina. Sampai pintu kelas terbuka dan nampak guru diikuti seorang siswa baru.


"Duduk dan jangan berisik...!" ucap guru sejarah.


"Ayo, perkenalkan diri" Anak itu mengangguk dan langsung memposisikan diri didepan.

__ADS_1


"Selamat siang, namaku adalah Rian pamungkas, panggil saja dengan nama Rian atau terserah kalian, aku pindahan dari sekolah London, mohon kerjasamanya," Para siswi saling berbisik setelah melihat ketampanan siswa baru ini.


"Baiklah Rian, pilih tempat duduk mu," ucap guru. Lalu Rian memilih bangkunya yang kosong tepat dibelakang Fina.


"Salam kenal,"pria itu tersenyum ke arah Fina di balas senyum oleh Fina.


****


jam pelajaran usai para siswa dan siswi pulang dengan tertib. Fina sudah berpisah dengan Heri dan Lyla, Fina menunggu Haru di area parkir. Tiba-tiba Rian si anak baru menyapa Fina.


" Hai, namamu Fina kan?" ucap Rian.


"Eh, iya aku Fina," merekapun berjabat tangan.


"Menunggu orang?" tanya Rian.


"Iya,"


"Siapa?" tanya lagi Rian.


"Eh, aku tadi habis perpisahan dengan kedua temanku disini jadi aku berada disini. Hmm, kalau begitu aku permisi dulu" ucap Fina memakai alasan untuk kabur dari situasi terjepit seperti ini.


"Gawat, jangan sampe ketahuan" humam hati Fina.


"Haru...," ucap Rian membuat Fina seketika memberhentikan langkahnya dan berbalik, ka arah Rian.


"kakek yang tadi berbicara denganmu di belakang sekolah adalah paman Haru, bukan" ucapan Rian membuat Fina kaget bukan maen.


"Ba, bagaimana bisa kau..."


"Kupingku sakit sekali mendengar hal konyol yang kalian bicarakan, tadi aku sedang tiduran dekat pohon beringin" jelas Rian.


"Tidak perlu takut dan heran dengan apa yang sudah aku katakan barusan. Yang jelas, tetaplah berhati-hati nona manis, atau aku panggil Nyonya Haru" Rian kemudian pergi saat jemputan nya tiba dan meninggalkan Fina sendiri berdiri di parkiran.


Fina melongo bengong karena kaget, apa yang ada difikiran Fina sangatlah bercampur aduk saat ini. Tidak begitu lama Haru datang dan mengajak Fina pulang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2