
Siang berganti malam, kini jam menunjukkan pukul 10:00. Fina izin pamit pulang pada pak Toni dan pak Toni pun mempersilahkan nya tak lupa pak Toni memberikan buah tangan untuk Fina makan dirumah nya nanti meski Fina sempat menolak karena fikirnya masih ada sisa Roti tadi siang. Tapi, karena pak Toni memaksa pada akhirnya Fina menerima nya juga.
"Ternyata pak Toni orang baik,padahal aku sangka awalnya dia orang yang tegas dan galak,hehehe" ucap Fina dalam hati sembari duduk di ayunan sambil sesekali mengayunkan menggunakan kaki dengan pelan dan kantong yang berisi makanan ia simpan di sebelah ayunan nya.
Fina mengambil Roti sisa yang tadi siang bekas ia makan sebagian dan mengambil kotak bening yang pak Toni beri untuknya. Ternyata berisi nasi padang ayam bakar, Seketika Fina terdiam,laparnya yang sempat melanda kini tidak lagi terasa begitu terlalu. Ia teringat akan pertemuannya tadi pagi dengan Haru ( mantan suaminya ).
"Kenapa dia begitu dingin, bahkan seolah tak sudi melihat ke arahku seolah-olah aku tidak ada." Fina mengingat lagi kejadian saat ia mencoba menyapa Haru.
"Ah, kenapa tadi aku menyapa nya. Padahal dia saja tidak ada niat menyapaku. Memang dia sudah mengatakan talak dan aku menanda tanganinya, tapi tak seharusnya ia bersikap dingin seperti itu kepadaku. Walau bagaimanapun aku pernah menjadi seseorang yang selalu berada di sisinya. Menyebalkan...!" Tak terasa air mata Fina tak terbendung lagi, ia menangis sesegukan sambil melihat makanan yang ia pegang. Air matanya menetes perlahan mengenai tutup kotak makanannya.
" Wah,kelihatannya enak sekali..! aku coba yah," Seorang pria tiba-tiba mengambil potongan roti yang Fina pegang yang tak kunjung Fina makan.
Sontak Fina kaget dan membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Hai,... wah enak sekali roti bawang ini..!" ucap Haru sembari memakan garlic cheese bread buatan pak Toni tadi.
"Ah, Rian..." Fina buru-buru mengelap pipinya yang dibasahi oleh air matanya barusan.
__ADS_1
"Senang sekali kamu sudah punya kerjaan, selamat yah. Tapi,memangnya kamu kerja dimana?" tanya Rian.
"Memangnya kamu tahu dari mana aku kerja?" tanya balik Fina dengan kening sedikit dikerutkan. Padahal Fina memang sudah curiga pasti Rian yang merekomendasikan dirinya untuk masuk ke toko roti pak Toni.
Tapi, Fina mengurungkan niat bertanya nya setelah melihat ke ponselnya sudah menunjukkan jam 11 malam.
"Sudah malam,sebaiknya kita pulang saja. Yuk," ajak Fina kepada Rian.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Lagian sudah malam juga,gk baik anak SMA masih berkeliaran di jam seperti ini," jawab Rian.
"Mana mungkin ada yang tahu aku anak SMA," letus Fina.
"Enak saja, tentu saja wajahku seumuran usiaku. Mana mungkin umur 17 wajah seperti ibu itu," Tunjuk Fina ke salah seorang ibu yang lumayan sudah berumur yang sedang menutup toko kelontongnya. Mereka berdua pun cekikikan tertawa sambil berjalan menuju kost an mereka.
"Pada akhirnya yang menghabiskan makananku itu ya kamu Rian," celetuk Fina kepada Rian uang mereka sudah sampai di depan kost an mereka.
"Ya maaf habis bagaimana,aku lapar hee.." jawab Rian enteng tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
" Ya sudah aku masuk dulu,mau mandi sudah lelah pengen istirahat." Sambil membuka pintu kamarnya Fina berkata dan Rian pun mengangguk lalu pergi masuk ke kamarnya.
Saat membalikkan badannya Fina sedikit kaget dan diam mematung. Ketika di dapatinya ada sebuah bingkisan misterius yang terletak di atas kasur berwarna putih.
" Apa ini," Fina mengerutkan keningnya dan membuka bingkisan itu. Terasa masih hangat ketika Fina sentuh, lalu Fina membukanya dan sebuah roti bolen yang masih hangat beserta Thai tea original berisi di dalamnya. Dilihatnya ada secarik kertas dan bertuliskan sesuatu.
"Makanlah dan jaga kesehatan," begitulah kata-katanya. Fina membolak balik siapa pengirim nya, tapi tak ada nama pengirimnya.
"Siapa, apakah Rian atau Heri?" Fina berfikir sejenak siapa yang mengirim itu.
"Kalau Rian, sepertinya tidak mungkin. Karena baru saja dia memakan makanan yang pak Toni beri untukku" fikir Fina.
" Apa Heri? sepertinya tidak mungkin juga. Karena dia tidak tahu aku kost disini," fikir lagi.
"Apa mungkin...," terlintas mantan suaminya Haru yang ada di fikiran Fina tapi ia segera menggeleng gelengkan kepalanya pertanda tidak mungkin.
"Tidak mungkin, Haru sudah membenciku. Tindakanku pasti membuatnya benci padaku. Pasti..." Rasa sesal seketika menghampiri Fina. " Seandainya aku tidak memilih langkah itu, akankah dia mempertahankan?" Kini bayangan Fina dipenuhi masa-masa ia masih berada di samping Haru. Tak terasa butiran-butiran air asin menetes ke pipinya. Fina menikmati kesedihannya di kamar, sampai ia tertidur pulas dengan rasa lelah nya bersatu bercampur aduk dengan kesedihannya mengingatkan keputusannya mengambil jalan ini.
__ADS_1
Bersambung...
.