
Fina dan Haru sedang menikmati sarapan mereka di pagi ini sekaligus hari terakhir Fina ujian. Tidak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir Haru maupun Fina, Harun yang sibuk dengan ponselnya dan Fina yang sedari tadi membisu karena kesal melihat suaminya memainkan ponselnya. Yang ada difikiran Fina hanyalah Tesa.
"Pasti dia sedang kirim pesan dengan Haru," begitulah isi hati Fina saat ini.
"Ehem...,Ehem...ehem...," Haru yang merasa sedikit terganggu dengan deheman Fina membuatnya menengok kan kepalanya ke arah istrinya.
"Ada apa, apa makanannya tidak enak, biar aku panggil kepala pelayan," tanya Haru.
"Eh...! bukan itu, aku hanya ingin bertanya," Fina menundukkan kepalanya menyesal dan sedikit melirik Haru.
"Lalu ada apa?" tanya Haru lagi yang segera meletakkan ponselnya dengan posisi di balik. Fina melihat itu, lalu Fina hanya diam.
"Anu..., malam ini kan Haru berangkat. Bisakah diundur jadi besok?" tanya Fina dengan sedikit keberanian. Dan Haru yang mendengar itu ekspresinya kelihatan tidak senang.
"Untuk apa?" tanya Haru lagi.
"Itu..., bukannya sebelumnya kita pernah berjanji kalau selesai ulangan nanti Haru akan panggil aku sayang?" senyum manis tergambar di raut wajahnya Fina dengan bibir kecil yang tipis itu.
Haru yang mendengar itu menghela nafas dan sedikit menahan emosinya.
"Dengar, apa kau tahu dengan kata segera? " Haru meletakkan sendok dan garpu nya kembali ke atas piring saat akan memulai makan, dan Fina yang mendengar pertanyaan Haru sedikit mengerutkan dahinya dan merasa aneh.
"Urusanku tidak bisa di tunda, dan ini penting. jika tidak, selamanya tidak akan terselesaikan dan ini menyangkut kehidupan para pekerja ku," ucap Haru.
"Maaf karena aku terlalu egois, aku mementingkan diri sendiri," Fina menundukkan kepalanya dengan perasaan menyesal. Haru yang melihat istrinya seperti itu mengucap lembut rambut Fina.
"Sudahlah, kita berangkat kesekolah ini adalah ulangan terakhir kamu. Berjuanglah," kata Haru seraya berdiri.
"Tapi, kamu belum makan hanya minum saja," Fina mengingatkan.
"Sarapan disekolah juga bisa, kamu lupa aku bos nya," merekapun pergi bersama.
******
Banyak murid yang begitu ceria, menyampaikan kegembiraan mereka lewat ekspresi wajah-wajah nya. Entah apa yang membuat mereka sebahagia itu, mungkin karena hari ini adalah ujian terakhir. Atau mungkin karena mereka pede dengan hasil jawaban mereka. Tapi tidak dengan hati dan perasaan Fina saat ini, perasaanya menggantung tak tentu. Fikirannya terbagi menjadi dua arah, yang satu ujian yang satu Haru. perlahan Fina mengehla nafas di tengah ramainya anak-anak yang sedang berdiri di Koridor. Dilihatnya Lyla menyapa Fina dan mendekat lalu memeluk teman kesayangannya itu.
"Akhirnya ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, hari terakhir ulangan. Rasanya seperti terselamatkan dari hukuman, hahhahaha," ucap Lyla dengan senangnya.
"Ada apa, kenapa wajahmu seperti itu apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Heri.
"Ah tidak ada, aku hanya merasa lelah saja semalaman belajar," Fina berbohong.
"Bagaimana bisa belajar disaat esoknya akan ulangan kamu ini, bukannya jaga kesehatan" Lyla mengingatkan.
__ADS_1
"Iya maaf heee," jawab Fina.
"Apa seberat itu masalahmu?" tanya Heri dan berlalu pergi karena dipanggil salah satu temannya.
"Hey, apa kamu memikirkan sesuatu, ayo duduk dulu sebelum masuk ceritakan kepadaku Heri sudah tidak ada," bisik Lyla ke telinga Fina dan Fina tidak menjawab hanya duduk dan membereskan tasnya lalu duduk dengan rapi dan memulai percakapannya.
"Pak Haru malam ini akan pergi ke Australi,"
"Wah..., yang benar?"
"Iya,"
"Lalu?"
"Entahlah kenapa nama Tesa terus terbesit difikiranku?"
"Huh Tesa? memangnya apa hubungannya dengan Tesa?" tanya Lyla
"Bukankah Tesa orang Australi, dan juga orang tua Tesa sangatlah akrab dengan pamannya pak Haru, beliau yang mengusulkan pak Haru untuk segera menikahi Tesa" ucap Fina menjelaskan.
"Oh begitu, jadi bagaimana kalau begitu mungkin pak Haru pergi untuk melaksanakan perintah pamannya itu. Bukankah pak Haru itu anak yang baik yah, denger-denger paman beliau adalah orang tua pengganti bagi pak Haru karena itu pak Haru tidak pernah bisa melawan pamannya itu," kata Lyla dengan wajah yang serius.
"Iya..., " jawab Fina.
"Bagaimana bisa iya aja, kamu harus melakukan sesuatu jangan diam saja" tangan Lyla seraya menggoyangkan bahu Fina.
"Selamat pagi, hari ini adalah hari terakhir kalian mengikuti ujian akhir semester ini. Untuk kalian jangan sampe lengah dan tetap semangat, setelah ujian ini selesai akan diadakan pengumuman. Jadi setelah lonceng pulang sekolah berbunyi harap langsung berkumpul di lapang terbuka untuk berkumpul. bagi kalian yang mengikuti ujian susulan harap lapor ke guru mata pelajaran sesuai yang tidak kalian ikuti saat ujian dan setelah ujian ini selesai. Selamat berlibur, 1 minggu lamanya berlibur akan membuat otak kalian refresh dan kalian akan mengetahui naik atau tidaknya kalian ke kelas berikutnya. Bapak harap kerja keras kalian tidak akan sia-sia," begitulah pembukaan di pagi hari ini oleh bapak pengawas sebelum di bagikan nya kertas soal.
******
setelah selesai pengumuman yang diberikan di lapangan. Para siswa pun segera berpencar dengan jalan mereka masing-masing menuju rumah mereka. Fina yang disuruh Haru menunggu, menyusuri koridor sekolah yang sudah kosong oleh para siswa, hanya beberapa guru mata pelajaran yang lewat dan berpapasan dengan Fina. Masih memikirkan hal yang sama, fina pun mengehla nafasnya dalam-dalam.
"Kenapa fikiranku tidak bisa dihilangkan," gimamnya.
"Kamu belum pulang ya," tanya Heri yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Ah Heri, belum pulang yah?" tanya balik Fina.
"Hmm, aku harus menyelesaikan sesuatu dulu baru pulang," mata Heri melirik ke arah Fina lalu melihat jarum jam di tangan nya.
"Apa kamu masih khawatir tentang Tesa?" tanya Heri membuat Fina membalikan wajahnya menatap heran bagaimana dia bisa tahu pasti kerjaannya Lyla, fikir Fina.
"Lyla yang memberitahuku," kata Heri.
__ADS_1
"Ternyata benar, huh dasar Lyla tidak bisa dipercaya," wajah Fina menunjukkan kekeselan dan Heri melihat itu.
"Kebanyakan seorang pria yang sudah menambatkan hatinya pada satu hati tidak akan mudah di goyahkan oleh siapapun," Heri berkata serasa mengikuti pangkah Fina lalu Fina mengimbangi langkah Heri yang cepat karena kaki panjangnya sedangkan kaki Fina pendek terlihat kewalahan. Heri yang melihat itu ikut mengimbangi langkah Fina yang pendek.
"Benarkah, benarkah itu?" tanya Fina.
"Hmm, tentu saja. Contoh saja aku, sampai sekarang tidak bisa move on dengan perasaanku sendiri," Heri melirik Fina yang menundukkan kepalanya lalu memalingkan wajahnya pura-pura melihat sesuatu, entah apa yang dia lihat.
"Terima kasih, karena telah membuat hatiku yang tadi ragu menjadi sedikit lega," senyum Fina menghiasi wajah cantiknya.
"Ehem...ehem, baiklah sudah sampai masuklah," ucap Heri setelah sampai di depan kantor Haru. Fina pun mempercepat langkahnya dan terhenti tiba-tiba didepan pintu. Heri yang melihatnya melangkah mendekati Fina hendak bertanya kenapa dia berhenti. Tapi Heri pun tidak bisa bersuara, karena didengarnya suara seseorang di dalam kantor Haru. Bukan suara Haru tapi ada dua orang didalam kantornya.
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat jam 7 malam yah. Jemput aku di depan hotel tempat menginap ku kita pergi sama-sama," suara Tesa terdengar antusias dan juga sedikit bertenaga.
Heri melihat ke arah Fina dan melihat wajah nya menegang dan merah hendak menahan air matanya. Heri buru-buru menarik tangan Fina dan membawanya menjauh dari ruangan itu.
"Ternyata benar, apa yang aku fikirkan selama ini itu semua benar. Haru bukan menemui Tesa tapi bahkan pergi dari sini dengan Tesa. Mereka pergi berdua, ada apa ini, kenapa Haru tidak jujur. Kenapa?" itulah kira-kira apa yang ada di dalam hati Fina saat ini, tanpa ia sadar Fina dan Heri sekarang berada di parkiran.
"Fina..." ucap Heri.
"Aku tahu, kamu ingin minta maaf karena omongan kamu yang tadi itu salahkan?" Fina seraya melepaskan genggaman Heri.
"Maafkan aku, aku tidak tahu,"
"Aku bahkan hanya mengharapkan kejujurannya, meski perasaan takutku akan terus menghantui. Tapi setidaknya seorang pria bisa jujur terhadap pasangannya bukan, dan itu tidak salah," ucap Fina.
"Fina, dengar seorang Pria kadang tidak bisa mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan. Karena mereka tidak ingin pasangannya ikut berfikir dan takut mengganggu fikiran wanitanya. Mereka akan mengatakannya disaat semua sudah terselesaikan," Heri coba menjelaskan dan itu sia-sia.
"Yah, mereka hanya menunggu pasangannya mengetahuinya dari belakang seperti ini. Aku sudah tidak apa-apa bukankah kamu akan pulang setelah mengantarkanku ke kantor suamiku?" ucap Fina dengan nada sinisnya karena marah.
"Fina maafkan aku," ucap sesal keluar dari mulut Heri dengan wajah yang menyesal.
"Tidak apa-apa aku akan menunggunya disini," kini senyum yang ditunjukkan Fina berbeda jauh dari sebelumnya. Senyum penuh duka dan air mata yang di tahan. Ingin rasanya Heri memeluk erat Fina saat ini dan membiarkannya menumpahkan air yang mengisi penuh di kelopak matanya. Tapi Heri mengalah, memilih pamit dan pergi meninggalkan Fina sendiri.
"Aku akan menelponmu nanti," ucap Heri sebelum pergi.
Fina berusaha meredakan kekecewaannya menghapus air mata yang sudah terkumpul dipelupuk matanya. Kring...kring..., ponsel Fina berdering, dilihatnya suaminya Haru menelpon lalu Fina mengankatnya.
"Dimana kamu," kata Haru.
"Aku diparkiran menunggu," Ponsel pun dimatikan Haru mungkin dia bergegas langsung ke parkiran. Benar saja tidak berselang lama pintu parkiran pun terbuka dan nampak Haru mendekati Fina.
"Kenapa menunggu disini tidak kekantorku saja?" tanya Haru yang sedikit mengerutkan dahinya bertanya-tanya dengan raut wajah istrinya.
__ADS_1
Tidak berselang lama mobil pun datang dan Hari membukakan pintu untuk mereka berdua. Tak berselang lama mobil mereka melaju meninggalkan parkiran sekolah.
*****