GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Tesa kembali


__ADS_3

Mentari pagi sudah hampir berada di puncaknya. Ini bukan pagi lagi, tapi sudah menuju ke siang hari. Suara burung masih terdengar samar-samar. Fina menatap Haru dengan lembut, membelai rambut serta wajahnya.


"Sungguh hari ini adalah hari pertamaku menyandang sebagai isteri sah nya Haru," Raut wajah bahagia tak bisa Fina sembunyikan. "Sekarang aku sudah bukan gadis lagi," gumam Fina dalam hati.


Haru yang sudah setengah bangun, melihat istrinya yang sedang asyik memandangi suaminya, segera memeluk Fina dan mendekatkan tubuh Fina ke tubuhnya hingga membuat Fina yang sudah setengah bangun, kembali roboh di pelukan Haru.


" Jangan memandangiku seperti itu," ucap Haru yang malu dan membenamkan wajahnya ke dada Fina.


"Kenapa," Fina berusaha mendongakkan wajah Haru. Kali ini Haru menutup mukanya dengan selimut bedcovernya.


"Ah lucu sekali suamiku ini, bertingkah seperti anak kecil karena malu," goda Fina.


"Diam kamu,"


"Duh..., lucu sekali" Fina terus dengan godaannya.


"Bagaimana rasanya, apa enak atau sakit?" tanya Haru tiba-tiba.


"Eh..., apa kamu bilang?" Fina tidak siap dengan pertanyaan yg dilontarkan Haru.


"Hmm, bukankah keinginanmu terpenuhi agar aku jadikan kamu sebagai isteri semestinya," goda Haru. Kali ini Fina yang mendapat giliran malu.


"Lihat ada bercak merah di sprei menandakan bahwa kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Ingat...! Jangan pernah menyakiti hatiku apalagi berselingkuh di belakang ku. Jika tidak, aku pastikan mereka akan aku bantai," ucap Haru.


Seketika bulu kuduk Fina merinding, bukan cantik lagi yang terpancar di wajah Fina, tapi takut.


" Be...benarkah?"


" Tentu saja, jangan anggap perkataanku main-main. Kenapa wajahmu jadi seperti itu," goda Haru.


" Jika suatu saat aku yang mengkhianati cinta ini, aku harap habisi saja aku jangan orang lain," ucap Fina d3ngan wajah serius.


"Hahahahhah," suara Haru tertawa membahana mengisi seluruh ruang kamar yang Haru dan Fina tiduri. Sedangkan Fina melihatnya dengan heran.


"Kamu ini lucu sekali, hanya seperti itu saja sudah pucat," ucap Haru.


"Tentu saja, tidak perduli sepengkhianat apa kamu. Aku tetap tidak akan mampu membuatmu tergores, dasar bodoh," Haru mendaratkan ciuman mesra kepada Fina dan menindih Fina.


"Ma...mau apa?


" Bagaimana rasanya, apa enak?" tanya Haru.


" Apa maksud kamu?" Fina ingin melepaskan cengkraman Haru tapi tidak kuat.


" Jawab dulu"


"Jangan menanyakan hal. Yang konyol,"


"Jadi tidak enak yah," kata Haru dengan muka memelas.


"Bu...bukan begitu," kata Fina.


"Oh jadi enak yah, hahahha" gelak Haru.


"Bukan..., tapi memang sakit rasanya," kata Fina malu-malu.


"Jika melakukannya sekali lagi, dijamin tidak akan sakit," gurau Haru.


"Benarkah?"


Mana aku tahu, aku hanya membaca di buku saja. Haru dalam hati.


"Tentu saja, mau coba lagi?"


"Tidak mau...!" ucap Fina langsung.


Haru tidak mendengarkankarena gairahnya sudah kembali. Merekapun meneruskan tidur mereka, sampai jam 4 sore baru bangun dari tidur mereka yang melelahkan.


"Tuan.....," Har menelpon Haru.


"Hemm, siapkan kami makan malam. Terserah di resto mana dan pastikan semua aman," perintah Haru. Dilihat nya Fina sudah mulai bangun dari tidurnya Haru langsung menutup telfonnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Haru sambil mendekati Fina.


" iya heheheh," jawab Fina.

__ADS_1


"Apa masih sakit?"


"Tentu saja kamu ini kenap..." belum selesai Haru keburu menyela.


"Bisa jalan?" pertanyaan Haru membuat Fina malu sekaligus kesal, padahal Haru bertanya serius takut terjadi apa-apa.


"Tentu saja bisa, Jangan menanyakan hal yang tabu aku mohon,"


"Maaf aku tidak bermaksud, kalau begitu aku duluan yang mandi," ucap Haru sambil pergi ke arah kamar mandi setelah mencium kening Fina.


Tring...tring...tring..., suara telfon dari ponsel Haru berbunyi. Fina ingin melihatnya, tapi dia urungkan. Kali ini kedua kalinya ponsel Haru berdering, Fina mengambul ponsel Haru karena penasaran siapa yang menelpon sampai berulang-ulang, mungkinkah Rere.


Siapa lagi yang berani menelpon Haru selain Rere dan juga pamannya sanpai beberapa kali, Gumam Fina dalam hati. Tapi, yang Fina lihat ternyata bukan dari pamannya ataupun Rere, tapu dari Tesa.


Hati Fina berdebar kencang, nafasnya sesak melihat nama Tesa di ponsel Haru, suaminya.


"Hmm, dasar kepo" suara terdengar dari arah belakang Fina.


"Ah Haru," dengan cepat Fina menyimpan ponsel Haru, tapi Haru sudah terlanjur melihatnya lalu Haru mengambil ponsel miliknya.


"Hmm?" Haru berdiri di depan Fina menunggu penjelasan dari Fina.


"Ma...maaf tadi aku penasaran, dan tanpa fikir panjang aku...,"


"Aku tidak suka ada seseorang yang kepo dengan barang yang bukan miliknya"


Deg...jantung Fina seakan tertusuk.


Seseorang? bukankah aku ini istrimu, bukankah hal yang wajar jika seorang istri ingin tahu isi dari ponsel suaminya. Gumam kesal dalam hati Fina.


"Ma...maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Fina. Lalu Haru berlalu pergi saat membuka pintu kamar..


"Mandilah, makan malam sudah disiapkan. Aku akan mengantarkanmu pulang kerumah kakakmu," icap Haru lalu menutup pintu kamarnya.


Kemudian Fina pergi bersiap-siap untuk mandi sambil dalam hatinya bertanya-tanya akan sikap yang Haru berikan kepadanya dan juga maksud Tesa menelpon Haru.


" Dimana kamu Haru, aku dirumahmu jawab aku. Haru...!" Ucap Tesa di telfon. Haru menutupnya tanpa sepatah katapun.


"Dimana tuan kalian, katakan...!" ucap Tesa kepada pelayan dirumah Haru.


"Mohon maaf nona, kami tidak tahu dimana dan kemana tuan muda Haru pergi" jawab kepala pelayan dirumah Haru.


"Kalian memang tidak becus, seharusnya sebagai pelayan kalian tahu dimana dan kemana tuan kalian pergi. Tunggu saja, setelah aku resmi menjadi istri Haru kalian semua akan aku pecat, mengerti...!" ucap Tesa dengan suara lantang.


"Maaf nona, anda tidak akan bisa memecat kami meskipun anda sudah sah menjadi istri tuan Haru. karena hanya tuan mudalah yang berwenang memecat kami," ucap kepala pelayan.


"Kau...!"


"Lagipula, kami sudah mempunyai nona muda kami. Seorang wanita yang sudah sah menjadi isteri tuan muda," ucap lagi kepala pelayan tadi.


"Berani sekali kau...!" ucap Tesa kesal.


"Silahkan dimohon nona keluar dari rumah tuan muda, sebelum saya panggilkan keamanan,"


"Aku sudah diijinkan oleh pamannya Haru kesini dan tinggal disini..."


"Tapi tidak dengan tuan Haru, beliau tidak akan membiarkan orang asing masuk kedalam rumahnya termasuk nona. Lagipula ini adalah rumah tuan muda aturanpun mengikuti aturan rumah ini. Silahkan," kepala pelayan itu dengan beraninya melebarkan tangan mengarah keluar agar Tesa mau angkat kaki dari rumah Haru.


" Kau...! Awas kau, lihat saja nanti orang yang pertama akan aku pecat adalah kau, tunggu saatnya nanti saat aku sudah mengambil alih ini semua," Ucap Tesa dengan segala amarah dia berlalu pergi meninggalkan rumah Haru.


Para pelayan bernafas lega dan saling sikut satu sama lain. Lalu kepala pelayan menyuruh mereka membubarkan diri, kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


*****


Haru dan Fina sedang menikmati makan malam mereka. Dengan suasana hening tanpa satu patah katapun terucap dari bibir Fina. Dalam Fikiran Fina tentu saja masih mengenai Tesa yang menelpon Haru tiba-tiba.


"Apa makanannya enak?" tanya Haru.


"Iya,"


"Kamu suka?"


"Ya,"


"Besok adalah hari sekolah, di bor pengumuman akan terpampang semua nilai hasil dari latihan soal, jangan sampai nilaimu jelek," ucap Haru dengan tenangnya. Tapi yidak dengan Fina. Dia langsung melotot tegang dan menelan ludah. Sedang Haru yang melihat raut wajah Fina tidak kuat ingin ketawa.

__ADS_1


" Ka...kalau nilaiku jelek bagaimana? "


" Tentu ada hukumannya, ditambah kamu harus belajar private. No main, no tv, no main ponsel,sampau selesai ujian," ucap Haru.


"Apa...! Bagaimana mungkin," Fina sambil menggebrak meja makan, membuat Haru melirik sinis Fina.


"Maaf," Fina kembali duduk.


"Karena itu, jangan sampai nilaimu jelek. Aku sudah selesai," Haru bangkit dari duduknya diikuti Fina.


"Jika belum selesai, kamu selesaikan dulu makannya," ucap Haru dengan sinis.


"Aku sudah kenyang, aku tidak mau makan"


"Lalu kamu mau apa?"


"Aku ingin es krim,"


"Kamu ini seperti anak kecil saja,"


"Bukan begitu, sudah lama aku tidak makan es krim," jawab Fina polos.


Haru pergi ke dapur membukakan kulkas dan mengambil es krim untuk Fina.


"Ini,"


"Aku ingin rasa cokelat," tangan Fina sambil mengambil


"itu es krim milikku, kemabikan" tapi Fina menolak.


"Tidak mau," Fina buru-buru membuka es krim coklatnya lalu menjilatnya.


"Kamu ini," Haru membuka se krim rasa strawberry nya lalu mengambil se krim yang sedang dijilati Fina, kemudian Haru menjilati es krim coklatnya dna menggigitnya.


Fina yang melihat es krimnya diambil Haru, memasang raut wajah kesal dan cemberut. Lalu Fina mengambil es krim strawberrynya mau tidak mau. Sedangkan Haru, sangat menikmati menjaili isterinya itu.


*****


Mobil terparkir di depan perumahan, butuh jalan beberapa ratus meter dari jalan menuju kontrakan Kakaknya, sampai akhirnya mereka sampai di gerbang pintu kontrakan.


"Ini kontrakan kakakmu, kecil sekali. Apa ini yang dinamakan rumah orang miskin?" ucap Haru dengan polosnya.


"Walau kontrakan kami lebih kecil dari kamarmu, tapi ini masih layak disebut dengan rumah," jawab Fina ketus sembari membuka pintu gerbang rumahnya.


"Mau kemana?" tanya Fina yang melihat Haru nyelonong masuk gerbang rumah.


"Tentu saja masuk, apa kamu buta?"


Gawat, kalau dia sampai masuk rumah ini pasti sangat berantakan sekali, bisa-bisa dia katakan ini bukan rumah tapi lebih layak gudang sampah. Jangan sampai dia masuk kerumah. Gumam Fina dalam hati.


"Ja...jangan masuk, jangan masuk sudah sampai sini saja ya" ucap Fina seraya mengahalagi langkah Haru dengan kedua tangannya.


"Memangnya kenapa, aku mau masuk. Aku ingin tahu istriku bagaimana hidup dirumah sempit ini," Jaru memaksa.


" Ah...tidak bisa, a...aku benar-benar mengantuk sekali. Aku ingin tidur, sudah yah sampai ketemu besok" ucap Fina.


"Jangan melarangku, kamu dan aku baru saja bangun. Kenapa kamu sudab mengantuk lagi. Aneh sekali, apa yang kamu sembunyikan di dalam rumah ini," ucap Haru penuh curiga.


"Tidak ada, sungguh hanya saja jangan masuk" tangan Fina terus-terusan menghalangi langakah Haru. Mereka keukeuh dengan pendirian masing-masingnya.


Cekrek.... Seseorang keluar, kakak Fina.


"Ada apa?" ucap kaka Fina.


"Ah..., tuan Haru masuklah masuk. Kamu ini Fina tidak sopan ada suami kamu kemari malah disuruh diluar terus, ayo masuk sini" kakak Fina menyuruh Haru masuk.


"Tidak usah, aku pulang saja" Haru menolak saat melihat wajah Fina yang pias.


"Aku pulang dulu Fin," lalu Haru menganggukkan kepalanya kepada kakak Fina. Membuat kak Herman kaget karena seornag tuan muda yang angkuh sekrg menundukkan kepalanya kepada dia. Fina pun masuk dan tidak menghiraukan pertanyaan dari kakaknya itu.


"Ada apa?" ucap Haru di telfon.


"Aku kesana," Haru menutup telfon dari Tesa lalu pergi setelah menengok kebelakang melihat rumah Fina.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2