GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
semua untuk Haru


__ADS_3

Ada pertanyaan terbesit di fikiran Fina, tapi enggan mengatakannya. Nampaknya Haru tahu apa yang ada di fikiran Fina seperti seorang pembaca fikiran saja.


"Apa kamu heran, kenapa aku tidak se arogan dulu?" pertanyaan yang langsung menyadarkan Fina dari lamunannya.


"Rumah ini adalah rumah masa kecilku dengan ayah dan ibu. Disini, tersimpan banyak kebahagiaan serta kesedihan. Ayah memulai perjuangannya dari rumah ini, begitu banyak saudara yang membenci kami termasuk yang paling banyak adalah keluarga ayah. Hampir semua saudara ayah membenci kehadiran kami. Bukan karna kami miskin atau kami di buang, tapi karena kesuksesan ayah yang tidak bisa mereka kerjar. Mereka mengira pencapaian ayah adalah hal yang tidak wajar, karena kehidupan ayah jauh dari kata normal. Ibu bercerita, dia (ayah) adalah anak yang terlahir dengan super aktif dan berani. Dia juga anak yang cerdas dan juga tangguh. Tidak perlu belajar untuk dapat mengejar semuanya, IQ ayah di atas rata-rata. Dia mampu menganalisi setiap kejadian yang kemungkinan akan terjadi. Tidak heran ayah berani masuk ke dunia hitam. Hanya di umur 15 tahun dia mampu lulus di universitas ternama,dia bahkan mendapat gelar dari keluarganya anak iblis. Ayah mampu membunuh tanpa rasa sesal, dia pernah di penjara karena membunuh anak yang berani mengganggu ibu, "


Haru membuka kemejanya, kini dia bertelanjang dada dan membalikkan tubuhnya.


" Ayah, ibu dan aku. Kami memiliki tato yang sama di punggung sebelah kanan dekat dengan lengan bagian atas kami, karena ayah diangkat menjadi ketua di salah satu kelompok hitam elite, hanya keluarga kami yang memiliki tato ini termasuk Haries. Dia dipercaya dan harus setia menemani kami walau nyawa taruhannya seperti halnya ibu dan ayah Har.. Dari 17 yang terkenal di dunia," jelas Haru.


Seketika bulu kudug Fina merinding mendengar ceritanya. Lalu Fina sedikit menjauh dari Haru karena takut.


" Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan di kapal fery yang di sewa ayah untuk merayakan keberhasilannya dalam menaklukkan berbagai kelompok elit dan menjadi salah satu perusahaan yang disegani sekaligus di takuti. Termasuk ayah dan ibunya Har, ikut meninggal dalam kecelakaan itu. "


" Dikeluarga ayah, pamanlah satu-satunya saudara ayah yang menganggap ayah sebagai manusia. Karena itu, dia di berikan wewenang untuk dapat mengambil alih semuanya yang sudah ayah bangun selama ini. Sebenarnya dia bukanlah orang jahat, hanya saja wajahnya yang sangar. Aku tahu kamu bertemu dengannya dan aku yakin dia berbicara sesuatu kepadamu, hingga kamu memilih pergi dari sisiku untuk menyelamatkan ibumu, "


Fina terperanjat kaget mendengar ucapan terakhir Haru. Bagaimana bisa dia tahu, apakah dia punya indera keenam? fikir Fina dalam hati.


" Bagaimana bisa kamu tahu? " tanya Fina heran.


"Kamu lupa nona sedang berhadapan dengan siapa," jawab Haru.


"Kamu telah salah membuatku jatuh cinta dan berjanji kepadamu. Karena itu, kemanapun kamu pergi pasti akan terus aku temukan. Jangan kamu fikir bisa lari semudah itu dari tanganku," ucap Haru.


"Bagaimana dengan Teresa(Tesa)? " tanya Fina ragu.


"Karena itu, bersabarlah sebentar. Aku akan mengurus semuanya dengan Har, kamu bersekolahlah dnegan baik dan dapatkan nilai yang bagus. Jangan membuatku malu dengan nilai rendahmu itu, yang benar saja nilai rata-rata dari 95 menjadi 65,bahkan Lyla pun lebih unggul 1 angka daripada kamu, " jelas Haru panjang lebar. Membuat Fina mendelik kesal.


" Memangnya aku mau nilaiku jatuh seperti itu?, aku bahkan malu pada diriku sendiri. Ini semua karena kamu...!" ucap Fina. Dibalas dengan senyum kecil Haru membuat Fina meleleh.


"Kenapa kamu menyalahkanku, aku bahkan tidak membuat kesalahan"


"Semenjak kenal dengan Haru, aku nyaris membenci Haru dari ujung rambut hingga ujung kaki," ucap Fina tiba-tiba, membuat Haru sedikit mengerutkan dahinya.


"Tapi, sejak ciuman pertama itu. Dadaku seringkali berdetak tidak beraturan, rasa-rasanya jantungku mau copot. Ditambah kamu selalu mengintimidasiku dan memanggilku ke ruang kantor, bagaimana bisa aku konsentrasi belajar. Bahkan dirumahpun aku tidak ada waktu untuk belajar " ucap Fina membuat Haru tertawa.


" Jadi begitu, jadi semuanya karena aku? ciuman Haru mendarat di bibir kecil Fina, istrinya itu terbuai dalam lautan gairah, tiba-tiba Haru berhenti dan melepaskan tangannya dari dagu Fina.


"Baiklah mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi, apalagi mengintimidasimu," jelas Haru sambil mengambil kembali baju yang sudah dia buka tadi.


"Jangan," Fina mengambil pakaian yang akan dipakai Haru.


"Kamu ini kenapa? Kembalikan pakaianku. Aku mau memakai baju, dingin sekali di loteng ini, sini" Haru berusaha mengambil tapi Fina mundur dengan gerakan cepat.


Harupun menatap Fina, tapi Fina menunduk dengan tetap memegang pakaian Haru di belakang punggung Fina. Haru melihat Fina dengan seksama, dan memegang dagu Fina.


"Sebenarnya apa maumu?"

__ADS_1


"A...da pertanyaan kecil yang selalu menggelitik fikiranku," Ucap Fina.


"Apa?" tanya Haru.


"Katakanlah," ucap Haru.


"Ba...gaimana kamu bisa menjalani hari-harinya seperti itu menggantungkan keadaan yang sudah kamu mulai, lalu berhenti seenaknya," Ucap Fina membuat Haru mengerutkan dahi dan matanya tanda tak mengerti.


"Apa maksudmu dengan menggantungkan keadaan dan berhenti seenaknya?" tanya Haru.


"Kamu bahkan tidak mengerti maksudku, bukankah umurmu lebih tua dariku?" jawab Fina ketus.


"Memangnya pertanyaan yang kamu lontarkan itu bisa di mengerti dengan umur yang lebih tua darimu. Jangan bicara soal umur denganku akhir-akhir ini rasanya aku sensitif sekali menegenai umurku yang semakin bertambah," jawab Haru kesal sembari mendongakkan kepalanya ke arah atas loteng melihat bintang yang bertaburan di langit. Kamar kecil Haru di atasnya sengaja di buatkan jendela kaca, biar Haru bisa melihat bintang.


Fina menyenderkan kepalanya ke dada bidang Haru, membuat Haru kaget dan menatap Fina. Melihat reaksi Haru, Fina buru-buru mengembalikan posisinya ke semula dan merapihkan rambutnya.


"Jangan main-main denganku, bagaimanapun juga aku seorang lelaki. Aku tidak mau tidak bisa mengontrol diriku di depanmu, aku takut melihatmu menangis" jawab Haru.


Suasana begitu hening, hanya terdengar semilir angin malam dengan lembut menusuk tubuh mereka, termasuk Haru yang bertelanjang dada.


"Aarrgghh...dingin sekali kembalikan pakaianku, kamu mau aku sakit apa," ucap Haru sembari meminta pakaiannya kembali. Melihat Fina masih tidak mau mengembalikkan pakaian suaminya itu, Haru lebih memilih mencari selimut di atas kasur dan membalurkannya ke tubuhnya.


" Ka...kalau terasa dingin bi...bisakah kamu hangatkan memakai tubuhku?" ucap Fina tiba-tiba.


Haru yang mendengar perkataan Fina spontan melirik ke arah Fina. Tidak percaya dengan apa yang Fina ucapkan, Haru meminta Fina mengulanginya lagi.


"Pa...pakailah tubuhku i...ni, u...untuk menghangatkan tubuhmu. La...gi pu...la aku adalah isterimu bukan? Lalu kenapa, kamu sama sekali tidak ingin memperlakukanku layaknya sebagai seorang isteri?" pinta Fina.


"Me...memangnya selama ini aku tidak memperlakukanmu sebagai seorang isteri?" tanya Haru sambil melihat ke arah Fina. Tapi Fina tidak merespon, dia masih tetap menundukkan kepalanya. Melihat semua itu, Haru hanya bisa menghela nafas panjang.


"Tanganmu saja gemetaran seperti itu, bagaimana bisa aku menyentuh dan menggaulimu sebagai seorang isteri. Aku merasa menjadi seorang pedofil," ucap Haru.


"Kalau begitu, kenapa kamu tetap menikahiku. Kenapa kamu tetap mencium dan mencumbuku. Kenapa tak kamu tinggalkan saja aku, jika kamu masih menganggapku sebagai seorang anak kecil yang masih berumur 17 tahun kamu salah. Aku sudah mau berumur 19 tahun, dan kamu masih memperlakukanku dengan sama. Tahu begitu aku lebih baik jadian dengan Heri, dia sepertinya lebih baik dari pada kamu. Bahkan dia pernah menciumku dan mengungkapkan perasaannya kepadaku," Fina melontarkan kata-kata dengan sedikit berteriak lalu berdiri ingin pergi. Saat Fina berdiri dan melangkah 1 langakah, tangannya langsung di tarik Haru kencang membuat Fina langsung terduduk di depan Haru.


" Aw...sakit," Fina mengaduh.


" Apa kamu bilang, Heri pernah menyatakan cinta, bahkan berani menciummu...!" seketika aura dikamar loteng itu berubah menjadi menakutkan, sorot mata Harupun sangat menakutkan. Fina baru sadar dengan ucapannya mengenai Heri.


" Ma...maafkan aku, maksud aku bu...bukan itu," jawab Fina takut. Tapi sayang Haru dengan segala amarahnya mencengkram tubuh mungil Fina. Lalu menembakkan ciumannya ke arah bibir Fina dengan kasar, membuat Fina kaget.


Haru mendorong Fina hingga terjatuh di atas kasur. Lalu berhenti mencium Fina. Fina yang mendapat jeda langsung mengambil nafas. Lalu Haru mendaratkan tangannya ke gunung Fina yang Fina tepiskan karena kaget. Haru memegang kedua tangan Fina memposisikannya di atas kepala Fina dengan satu tangan. Sementara tangan satunya, Haru mendarat di gunung kembar milik Fina dan memainkannya.


Tubuh Fina menggeliat, meronta dengan nafas yang tersengal. Entah karena merasakkan nikmat atau malah sebaliknya. Harupun tidak tahu, tapi Haru sudah terlanjur begairah dan tidak bisa berhenti disini.


"Jangan memaksaku berhenti, semakin kamu mamksaku semakin aku ingin membuatmu menjadi istri sah ku," ucap Haru dengan berbisik.


Mendengar ucapan Haru, Fina semakin melemahkan kekuatannya untuk berusaha melepaskan diri dari Haru. Dia pasrah.

__ADS_1


"Lakukanlah," jawab Fina.


Mendengar itu, Haru melepaskan cengkraman nya kepada Fina kemudian mengusap kepala Fina dan menciumi diseluruh wajah. Meraba leher Fina dan mendaratkan beberapa stempel kepemilikkan disana. Kemudian tangan Haru mendarat di dua gunung Fina dan meremasnya lembut, membuat Fina sedikit melirih. Haru yang sudah tak terkontol gairahnya mulai melucuti semua pakaian yang menempel pada tubuhnya maupun Fina.


"Apa kamu yakin?" tanya Haru ragu yang sudah membenarkan posisinya diatas Fina.


"Fina hanya diam dan mengangguk dengan kepalanya,"


"Ini akan terasa sakit sedikit," ucap Haru. Lalu dengan cekatan Haru mnerobos dan mencium bibir Fina di saat Fina mengaduh kesakitan. Punggung Haru terkena cakaran Fina yang menahan rasa nyeri dibagian vitalnya.


"Sakit? Maaf," ucap Haru sambil mengelap air mata yang keluar dari mata Fina. Meresa sedang di mabuk gairah di malam yang sepi diiringi sepoi-sepoinya angin malam, Kegadisan Fina telah hilang diambil pemiliknya.


*****


Dilihatnya Fina yang tertidur lelap, Haru menyelimuti Tubuh Fina yang tanpa sehelai benang. Lalu mencium kening Fina. Ada perasaan bangga dan bahagia di benak Haru, karena telah menaklukkan isterinya itu.


"Maafkan aku, aku tidak bisa memegang janjikku untuk tidak menyentuhmu sampai kamu lulus," ucap Haru lalu pergi dan membiarkan Fina sendiri dikamar.


Di bawah tangga Har sudah menunggunya.


"Tuan,"


"Hemm..,"


Mereka duduk di kursi ruang tengah.


"Bagaimana?" tanya Haru.


"Butuh beberapa Hari saja untuk membereskannya tuan karena cukup rumit," jawab Har.


"Pastikan anak buah kepercayaannya membuka mulut semua, bahkan jika perlu dengan nyawa mereka" ucap Haru.


"Baik,"


Haru beranjak pergi ke dapur mengambil minuman coca cola dari kulkas. Lalu meminumnya 1 kaleng langsung habis dna mengambilnya lagi 2 kaleng 1 untuk di serahkan kepada Har satunya lagi untukknya.


"Kelihatannya kamu cape sekali," goda Har.


"Hmm..., begitulah" ucap Haru dengan wajah puasnya tanpa malu mengekspresikannya.


" Dasar tidak tahu malu," delik Har kepada Haru.


"Hey, jangan lupa aku ini atasanmu," delik Haru becanda.


"cih," Har dengan senyum kecilnya kemudian membuka kaleng coca cola dan meminumnya.


Memang disaat bukan jam kerja mereka adalah ibarat kakak dan adik, lebih dari sahabat. Mereka terlarut dalam obrolan malam, sampai tak terasa menuju pagi lalu Har pergi pamit tidur begitu pula Haru beranjak ke atas untuk menemui istrinya yang sudah terlelap dari awal.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2