
Hari sudah semakin gelap, Fina masih belum di temukan ada timsar 7 orang yang mencari termasuk Heri. Tidak lama Haru pun datang, dengan amarah yang sedang meledak-ledak.
"Ah Haru...!" Ucap Rere yang melihat Haru turun dari mobil.
Haru berjalan lurus ke tempat perkumpulan anak-anak dan guru tadi, dia bahkan tidak menyapa Rere. Haru berjalan cepat dan Rere spontan mengikuti Haru dari belakang. Pak Wakil melihat Haru.
"Ah Pak Haru....," ucap nya.
Haru tetap tidak menggubris, dia fokus kepada satu orang. Haru menarik rambut Tesa yang panjang terurai kemudian menyeretnya ke sebuah ruangan kosong Rere terus mengikuti Haru di belakang. Sampai di ruangan Rere menutup pintu dan tinggal Haru Rere dan Tesa. Sedang, para murid yang melihat merasa kaget atas tindakan Haru kepada Tesa barusan, karena setahu mereka, pak Haru adalah orang yang humble, ramah, dan baik.
"Ah sakit, Haru lepaskan aku..! Ucap Tesa sambil berusaha melepaskan tangan Haru yang menyeret rambutnya.
" Brukk...!" Tesa di lempar hingga tubuhnya menghantam meja dengan sangat keras.
" Apa yang Kau lakukan terhadap Fina *******...!" sentak Haru seraya mencekik leher Tesa sampai Tesa tidak bisa menjawab dan kakinya jinjit-jinjit berusaha menapaki ke lantai.
" A...a....ak....euh....le....pas....kan..." Tesa berusaha berbicara dengan terbata-bata tidak bisa menahan karna saluran pernafasannya di kerongkongan tertekan.
"Haru..., lepaskan Tesa, Haru...!" Rere berusaha menenangkan Haru, dia berusaha memegang tangan Haru agar mau melepaskan tangannya yang mencekik Tea. Bukannya membuat Haru melepaskan Rere malah terpelanting ke lantai karna Haru mengibaskan tangan nya.
Melihat wajah tesa mulai pucat, Rere bangkit lalu berusaha menenangkan Haru agar mau melepaskan Tesa.
"Haru lepaskan dia. Dia bisa mati dengarkan aku" Ucap Rere dengan cemas.
Dia melihat tangan kiri Haru mengambil pisau kecil.
Rere benar-benar panik.
"Haru..., tidak ada gunanya seperti ini Tesa akan mati dan kamu tidak akan mendapatkan Fina kembali, sebaiknya kita cari Fina." Ucap Rere
"Aku akan membuatnya mati dan mengoyak tubuh kotor ini," Jawab Haru dengan mata yang penuh amarah.
"Kalau kamu berbuat seperti ini, Fina tidak akan pernah memaafkanmu, Lepaskan Tesa, please, " Ucap Rere dengan harapan terakhir.
Akhirnya Haru mau melepaskan Tesa. Tesa dilempar, tersungkur ke lantai dengan badan yang gemetar sambil batuk-batuk dan berusaha memulihkan pernafasannya lalu dia berusaha bangun dengan segala tenaga yang tersisa.
" Katakan dimana dia, dimana Fina...!" teriak Haru membuat Tesa ketakutan.
Haru mencengkram dagu Tesa dengan tatapan kebencian.
"Katakan atau akan ku bunuh sekarang juga tanpa memikirkan orang-orang disini," ancam Haru.
"Fi..., fina jatuh ke jurang," Jawab Tesa.
__ADS_1
Haru terbelalak kaget mendengar perkataan dari Tesa.
Dan hampir pisau itu tertancap di tubuh Tesa, tapi Rere menghalanginya.
"Haru..., lepaskan kamu tidak mau seperti ayahmu kan, fikirkan juga ayahku, pamanmu."
Lalu Haru pergi meninggalkan Tesa dan Rere bergegas mengambil senter lalu pergi.
"Pak haru...!" Lyla memanggil.
"Aku ingin ikut, mencari Fina," sambil sesegukan Lyla memohon untuk mencari Fina. Walau bagaimanapun Fina adalah temannya.
Haru tidak menjawab dia pergi dengan diikuti Lyla di belakangnya, lalu di temani pak wakil kepala sekolah.
"Kamu sekarang sudah tahu bagaimana Haru marah,menyeramkan bukan?, dia bahkan mampu membunuh seseorang tanpa merasa menyesal," ucap Rere kepada Tesa.
Sementara seluruh badan Tesa menggigil ketakutan, dia syok dengan apa yang baru saja dia lihat tentang Haru.
" Kalau aku jadi kamu, aku akan mengilang tidak peduli kemanapun asal tidak bertemu dengan Haru lagi."
" Ingat, jangan pernah menampakan mukamu lagi. Haru memutuskan perjanjian di Australi dengan perusahaan ayah mu. Jadi, kamu sudah bukan apa-apanya. Menyingkirlah...! " Rere pun peegi meningfalkan Tesa sendiri.
" Ayah..." Tesa menelpon ayahnya.
Hari sudha semakin larut. Para timsar mencari Fina, tapi masih tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Fina.
" Sial...! Dimana kau Fin?" gumam Heri kesal karena tidak dapat menjaga Fina.
"Ah, pak Haru..." para guru sekaligus timsar menyapa Haru.
Heri yang mendengar itu tidak ikut menyapa Haru, dia fokus mencari Fina.
"Heri...,kamu jangan jauh-jauh mau kemana ini sudah malam sebaiknya pencarian di lanjutkan besok saja," kata mereka. Tapi Heri tetao pergi mencari semakin jauh dari timsar.
"Anak itu...," kata timsar dan mau menghentikan Heri. Tapi, tiba-tiba Haru mencegat salah satu guru dan mengatakan untuk tetap mencari Fani.
Lalu Haru mengikuti Heri sedangkan Lyla kembali dengan sebagian tim sar, karena tidak diperbolehkan lebih jauh lagi pergi.
"Dimana terakhir kamu melihat nya?" tanya Haru pada Heri. Tapi Heri tidak menjawab dan tetap fokus mencari.
"Sebaiknya lepaskan Fina, biarkan dia hidup bahagia," Celetuk Heri memulai pembicaraan yang tadinya begitu sepi.
"Apa...?" kata Haru.
__ADS_1
"Kamu tidak pantas bersama Fina. Karena kamu dia menderita, karena kamu dia tersakiti, karena kamu dia menangis. Apa yang bisa dia banggakan memiliki mu hah...! Kau bahkan tidak tahu betapa menderitanya hidupnya karena mu, dia bahkan tidak bisa bernafas dengan bebas, "Ucap Heri dengan nada tinggi.
" Heri..., " belum Jaru selesai dengan uca9annya Heri menyela.
" Kau bahkan membiarkannya di bully, kau mengekakng kebebasannya, kau bahkan tidak mampu membuatnya tertawa lepas walau hanya sebentar. Aku tidak peduli kau seornag guru, atau penguasa, sedikit saja kau membuatnya menangis aku bersumpah akan membunuhmu...!" teriak Heri yang sudah tidak terkontrol dan tidak memandnag Haru sebagai gurunya.
Haru tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa apa yang dikatakan Heri memang benar adanya, dia tidak bisa menjaga Fina dengan baik.
" Tolong...tolong...!" suara minta tolong terdengar sangat kecil dari bawah jurang.
Heri dan Haru langsung terdiam dari adu mulut mereka dan mengamati sumber suara kecil itu.
"Tolong... Apa ada orang, tolong aku hiks" Suara Fina terdengar sangat putus asa.
Sementara Haru dan Heri mencari jalan ke sumber suara. Fina di bawah sedang merasakan sakit di bagian kaki nya, dia tidak bisa berdiri pakaian nya pun sebagian terkoyak karena terkena bebatuan yang ada di sisi tebing.
"Fina...!" Haru menemukan Fina sedang berusaha bangun.
"Ah, tu tuan Haru anda ada disini?" ucap Fina.
Haru langsung membuka mantel yang ia pakai lalu menyelimuti Fina dan menyobekan sebagian kaos putih nya untuk mengikat kaki Fina yang patah lalu menggendongnya. Heri yang keduluan Haru hanya bisa melihat Haru memperlakukan Fina dan membantu membawakan peralatan yang Fina bawa tadi.
" Kamu tidak apa-apa kan, tenang lah aku akan membawamu, tidurlah sebentar di punggungku selama dalam perjalanan.
"Baik...," Fina dengan keadaan lemah mencoba untuk tidur
Setelah sampai di tempat perkemahan Fina langsung di bawa ambulance kerumah sakit. Haru dan Rere ikut menemani Fina. Karena Fina harus di oprasi kakinya yang patah Harus di sambung kembali.
Setelah selesai pengoprasian, Fina masih dalam keadaan tidak sadar dan lemah.
"Maafkan aku...aku benar-benar minta maaf, " Haru menggenggam tangan Fina.
Rere yang melihat itu menepuk pundak Haru dan mencoba menenangkannya.
"Bagaimana dengan dia,?" tanya Haru.
"Sesaat setelah kamu pergi mencari Fina, dia sudah langsung pergi, sepertinya dia kembali ke Australi," rere menjelaskan.
"Aku tidak akan tinggal diam...," Haru mengepalkan kedua tangannnya.
"Sebaiknya kita urus dulu Fina, baru dia," Ucap Rere.
Bersambung....
__ADS_1