
Hari ini adalah hari dimulainya latihan-latihan yang perlu dilakukan para siswa siswi SMA Wijaya Khususnya untuk kelas 1 dan 2 yang akan menghadapi ujian nasional. Sedangkan kelas 3, ujian nasional lebih dulu.
"Ah males sekali semuanya latihan soal hiks," Gerutu Lyla.
"Kamu ini memamng pemalas, pantas saja nilaimu terus anjlok," balas Heri ketus.
"Kamu ini, sukanya meledek terus...!" Lyla kesal.
"Hehehe, mau gak mau harus mau kan, bagaimanapun juga ini ujian untuk dapat naik ke tingkat lebih tinggi," ucap Fina menenangkan.
"Kamu iya enak, karena pintar. Sedangkan aku, ah rip buat aku" ucap Lyla putus asa.
"Srettt....,selamat pagi anak-anak hari ini kita mulai latihan-latihan soal untuk bekal menghadapi ujian nasional 2 minggu ke depan. Sekarang kelas tiga sedang menjalani ujian nya, jadi mohon kerja sama nya untuk tidak terlalu berisik sehingga bisa mengganggu kakak kelas kalian yang sedang berkonsentrasi mengisi lembaran soal," Rere menerangkan.
" Tolong bagikan lembaran latihan ini ke teman kalian. Heri tolong bagikan" perintah Rere sambil membuka-buka buku oaket yang di pegang nya dan Heri membagikan soalnya.
Merekapun mengisi tiap lembaran soal, sesekali Rere melirik ke arah Fina dan diam-diam mengerjainya dengan memotret Fina lalu mengirimkannya ke ponsel Haru.
*****
"Maaf tuan, saya akan lebih baik lagi dalam bekerja" turunya guru Fisika sekolah wijaya.
"Hmm, pergilah" Ucap Haru.
Tring...tring...!
"Apa yang dia lakukan (Rere), bisa-bisanya mengirimku foto Fina," ucap Haru dengan seksama membuka foto-foto Fina yang sednag bingung mengisi setiap lembar soal latihan.
Ah, lihat dia Lucu sekali, kamu adalah wanita berhargaku. Ucap Haru dalam hati diiringi senyuman kecil menghiasi bibir nya.
"Apa ada yang salah denganku, kenapa aku tidak bisa menjawab soal-soal ini?" Fina bingung.
"Baiklah 60 menit sudah berlalu, diharap kalian kumoulkan soal latihannya lalu kirimkan ke meja kantorku. Terima kasih banyak," Rere pamit setelah memberi salam. Kertaspun di kumpulkan oleh Fina.
"Haaah.... Rasanya lega sekali, aku tidak bisa menjawabnya atau tidak yang penting diisi," gumam Lyla depan Fina.
"Sama aku juga tidak bisa, sepertinya gara-gara kelelahan jadi tidak bisa mengingat pelajaran dnegan baik" ucap Fina.
"Semoga kita bisa naik ke kelas 3 dan bisa menghadapi ujian dengan nilai rata-rata," kata Lyla.
"setidaknya kamu berharap lebih tinggi 5 atau 10 angka dari nilai rata-rata kelulusan. Tidak heran kamu. Mudah sekali di bodohi laki-laki," Heri menggoda sembari mengacak-acak rambut Lyla.
__ADS_1
"Memangnya apa hubungannya dengan mendapat nilai tinggi dan di bodohi laki-laki," jawab Lyla kesal.
"Tentu saja ada. Tinggi rendah nya IQ seseorang bisa dilihat dari cara dia menghadapi ujian, termasuk ujian tertulis di sekolah. Semua itu bisa menjadikan patokan penilaian, bahwa orang itu bodoh atau pintar."
"Tentu saja tidak...! Contohnya Fina, dia pintar dpt beasiswa tapi dia bodoh mau saja jadi budak pak Haru," Lyla seketika itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan melirik ke arah Fina. Finapun hanya tersenyum kikuk.
"Kamu ini, mana bisa di bandingkan dengan Fina. Benar-benar seorang yang ber IQ rendah selalu main Fisik," Heri menjitak kepala Lyla dan Lyla meringis kesakitan.
"Sudah-sudah kalian ini jangan bertengkar terus, sebentar lagi latihan kedua akan di mulai bersiap-siaplah. Aku juga akan berjuang semaksimal mungkin," Fina berusaha mencairkan suasana.
Tak lama guru kedua pun datang tapi bukan guru Fisika melainkan Haru guru matematika datang.
" Selamat siang, tolong bagikan soal latihan ini, " perintah Haru diikuti dengan Heri mengambil soal latihan dan membagikannya ke masing-masing teman.
"Isi dan jawab dengan benar dan juga jangan terburu-buru, jangan juga terlambat harus pas sesuai waktu bila perlu 5 menit sebelum waktu selesai sudah harus selesai mengerjakan soal ini," Haru menerangkan seraya duduk di kursinya.
Bukankah itu sama saja harus cepat, gumam Fina dalam hati sambil melirik ke arah Haru. Tak disangka Haru pun melirik ke arah Fina, dan mata merekapun bertemu. Fina yang sadar langsung memalingkan mukanya ke arah jendela.
Dia masih marah padaku ternyata, lucu sekali. Guman Haru dalam hati.
"Baiklah..., kerjakan soal kalian waktu di mulai 3 2 1 mulai," kata Haru sambil diikuti para muridnya yang langsung mengerjakan soal mereka.
10 menit 20 menit berlalu, Harupun mulai berjalan di sekitar bangku-bangku para murid. Melihat isi jawaban mereka sambil mengawasinya. Dia terhenti di sisi bangku Fina, dan melihat dengan seksama jawaban dari Fina.
" Uh, eh..., apa? " tanya Fina.
" Bukankah sudah kujelaskan soal ini ke padamu sebelumnya, bagaimana bisa lupa?" tanya Haru.
Harupun mendekatkan wajah nya ke Fina tapi mata Haru fokus ke lembar soal latihan dna menjelaskan, sedangkan Fina tak henti melihat Haru dan menelan ludahnya.
Ah...,dia sungguh tampan, rambutnya sedikit panjang menutupi daun telinganya. Tak terasa tangan Fina refleks membenahi rambut Haru, membuat Haru kaget dan buru-buru menepiskan tangan Fina, membuat Fina juga kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Apa kamu dengar dengan apa yang aku katakan?" tanya Haru serius sambil berbisik.
"Ma...maaf,saya refleks" jawab Fina malu.
"Tunggulah dirumah jika ingin menyentuhku," Ucap Haru sambil berlalu pergi ke meja depan. Lalu Haru melihat jam tangannya memeriksa waktu latihan mereka berapa lama lagi.
"Apa yang aku lakukan, bodoh...!" Fina menggerutu mengutuk dirinya sendiri.
"Waktu hanya tinggal 15 menit lagi, dalam waktu 10 menit harus sudah selesai. Kumpulkan semua buku setelah kalian selesai dengan latihan soalnya," pri tab Haru.
__ADS_1
"Apa...! 15 menit lagi, mana cukup...!" jerit hati Fina dan buru-buru mengerjakannya.
Sementara Heri sudah selesai mengerjakan soal dan memperhatikan tingkah Haru dan Fina barusan.
Cih..., dasar tidak tahu malu merayu Fina tidak lihat kondisi, gerutu Heri dalam hati.
Setelah selesai latihan soal pun dikumpulkan dan di simpan ke meja Haru oleh Fina.
"Mau kemana kamu...!" cegah Haru menutup kembali pintu ruangannya saat Fina mau pamit keluar untuk istirahat dan menyudutkan Fina ke tembok.
"Saya mau istirahat," jawab Fina.
"Apa yang kamu lakukan tadi, tidakkah kamu takut mereka mengetahuinya?" tanya Haru.
"Lagi pula kita sudah menikah kan? Kalaupun mereka tahu tidak apa-apa kan?" jawab Fina pelan hampir tidak terdengar oleh Haru.
"Apa?" tanya Haru sambil menyodorkan kupingnya ke wajah Fina tanda tidak mendengar. Lalu Fina mengulangi kata-katanya dan diakhiri dengan ciuman dari Haru. Ciuman lembut dari Haru membuat Fina melayang.
Wajah mereka begitu dekat nafas mereka pun bisa mereka rasakan. Haru menatap Fina dengan lembut sambil membelai rambutnya dan berakhir di bawah dagu Fina menyodorkan muka Fina ke muka Haru, sehingga ciuman kedua mendarat di bibirnya. Kali ini dengan sedikit gigitan dari Haru karena gereget, membuat Fina mengaduh kesakitan.
Haru hanya tersenyum puas dan diakhiri dengan mencium keningnya Fina.
"Pergilah istirahat, makan makanan dengan baik dan sehat jangan sampai kurus kering seperti ini. Setidaknya aku butuh wanita yang seksi dan bohay," Goda Haru pada Fina.
"Memangnya aku sekurus itu apa...!" gerutu Fina kesal, sambil membuka pintu kantor Haru dan berlalu pergi. Haru melihat Fina dari belakang, sampai Fina tidak kelihatan batang hidungnya.
*****
Fina yang memerah mukanya karna ciuman Haru, menghampiri temannya Lyla dan Heri.
" Ah kalian sedang makan rupanya," tanya Fina.
"Iya abis kamu lama aku jadi duluan karena lapar, latihan tadi cukup menguras otakku" kata Lyla dmabil membuka roti sobeknya.
"Maaf sekali, tadi aku mengantarkan lembar soal ke meja pak Haru," Fina sambil mengambil minumannya lalu meminumnya.
"Jangan katakan kalian bercumbu dulu sebelum kemari," dengan pede nya dengan asumsinya Lyla berkata. Membuat Fina yang sedang minum seketika tersedak dan batuk, begitu pula Heri tersedak karena makananannya.
"Tidak kok aku hanya menyimpan buku saja, lalu pergi. Mungkin karena aku jalan lambat, jadi terasa lebih lama.
Heri menatap Fina curiga dan tidak percaya. Fina menyadarinya, lalu buru-buru memalingkan mukanya dari Heri.
__ADS_1
Bersambung....