
" Tolong jangan antar aku, aku bisa pulang sendiri," lanjut Fina tidak ingin memaksa. Haru masih tetap pergi mengang tangan Fina dan perlahan mereka menjauhi ruang UKS.
" Lepaskan..!" bentak Fina. Haru seketika terdiam dan membalikkan tubuhnya kepada Fina.
" Aku mohon, jangan seperti ini. Kita sudah bukan apa-apa lagi, jangan seperti ini, jangan peduli lagi terhadapku." Kata Fina sambil menundukkan pandangannya dari mata Haru.
" Ssett...," Haru pun melepaskan genggamannya sedikit membuat Fina kaget lalu melihat ke wajah Haru yang dilihatnya tatapan Haru begitu dingin.
Haru pun pergi meninggalkan Fina sendiri di lorong tanpa berucap sepatah katapun. Ada sedikit rasa sesal saat Fina mengatakan hal itu kepada Haru.
***
Seperti biasa Fina mendapati bingkisan di kamar kost nya. Kali ini berisi obat penurun panas disertai nyeri, juga terdapat bubur tim ayam dan sop sapi yang masih panas dan hangat, tidak lupa beberapa buah-buahan seperti mangga dan pisang.
Fina hanya menatap bingkisan itu sebentar, lalu segera mencari goresan tinta hitam di atas kertas putih.
__ADS_1
" Jaga diri baik-baik, jaga kesehatan. Makan dulu sebelum minum obat lalu istirahatlah," begitulah kira-kira coretan tinta hitam yang terdapat di kertas putih kecil itu.
" Siapa, siapa yang mengirim ini. Bagaimana bisa dia mengetahui kunciku," gumam Fina dalam hati sambil memikirkan orang-orang yang mungkin seperti ini.
"Ah, besok harus di tanyakan kepada ibu pemilik kost," ucap Fina sambil membereskan tempat tidurnya.
***
Pagipun menjelang, sayu-sayu terdengar suara pintu kamar di ketuk. Semakin lama semakin terdengar jelas. Nyawa Fina pun cepat kumpul karena suara berisik dari balik pintu kamarnya.
Dibukanya pintu oleh Fina. di depan pintu sudah menunggu Lyla, Rian dan juga Heri. Mata Fina terbelalak melihat Lyla dan Heri datang ke kost an nya.
" Lebih bagus gudangku," celetuk Heri tiba-tiba seketika membuat Fina badmood.
" Hmm, dengan garasi dirumahku saja lebih besar garasiku," Ditambah dengan Lyla yang ujug-ujug bicara seperti itu sambil nyelonong masuk
__ADS_1
" Sepertinya kalian tidak perlu melihat tempat ini," jawab Fina laku melirik ke arah Rian dengan di balas Rian hanya dengan menaikkan alis dan mengangkat kedua bahunya lalu pergi masuk juga.
" Bagaimana bisa kau tinggal di tempat ini, berdekatan dengan pria mesum ini lagi," Kata Hero yang tidak terlalu senang dengan Rian.
Fina menutup pintunya tanpa menjawab sepatah katapun. " Kalian bagaimana bisa tahu kost an ku?" tanya Fina.
" Ah, Fin apa kamu lupa kami ini siapa? jangankan mencari keberadaanmu yang satu kota, beda negarapun bisa kami temukan iya kan," jawab Lyla.
" Tapi..., " Lyla menghampiri Fina dan berkata " Sudahlah, lain kali jika ada apa-apa kamu bicarajan dengan kita. Apa kamu tidak menganggapku sebagai sahabatmu?" jawab Lyla sambil memegang kedua tangan Fina.
Fina tak bisa menahan rasa sesak nya, air mata berjatuhan lalu kedua tangan Fina menutupi wajahnya. Lyla yang melihat itu memeluk Fina, sementarq Heri dan Rian saling menatap membiarkan Lyla meredakan tangis Fina. Cukup lama Fina menangis sampai akhirnya luapan itu perlahan memudar, pundak Fina yang tadinya terasa berat kini sudah terasa ringan. Rasanya setengahnya rasa berat yang membebani hatinya kini sudah terlepas.
Merekapun mengobrol sampai larut malam, bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya. Kini Fina tidak ingin lagi seperti dulu menyembunyikan perasaan yang dapat membebaninya. Malam itu mereka tumpahkan, sampai mereka tak sadar ada sebuah mobil terpakir di depan kost an Rian dan Fina. Tak lama mobil itupun melaju pergi meninggalkan kost an mereka.
Bersambung...
__ADS_1