GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Menuju ujian 2


__ADS_3

"Hei...kenapa melamun," ucap Lyla mendekat sambil menyerahkan minuman pesenan Fina.


"Aku merasa tidak yakin bisa memperbaiki nilai," dengan memyeruput minumannya lalu Fina menghela nafas panjang.


"Lalu kenapa kamu tidak coba bilang saja sama pak Haru kalau kamu ingin belajar serius dan meminta pak Haru untuk tidak melakukan sesuatu," saran Lyla kepada Fina.


"Aku sudah menyindirnya semalam, tapi aku tidak tahu dia ngeh atau tidak," Fina menekukkan tangannya untuk menopang dagunya.


"Hei, kalian sedang apa disini," tanya Heri.


"Apa kamu tidak lihat, kami sedang istirahat" jawab Lyla.


Heripun duduk di sebelan Fina. Dan mengambil minuman Fina lalu meminumnya.


"Itu minumanku, kenapa kamu meminumnya," tanya Fina.


"Memangnya kenapa, aku haus," jawab Heri.


"Tapi..."


"Memang ketua kelas kita ini gak punya sopan santun memang," ucap Lyla.


Lyla yang ngoceh tiba-tiba minumannya diambil Heri dan diminumnya minuman Lyla. Lyla yang melihat kelakuan Heri hanya bengong.


"A...apa yang kamu lakukan?" tanya Lyla.


"Fin, aku mengadakan les tambahan sepulang sekolah. Kalau kamu mau gabung, boleh" ucap Heri.


"Ah...aku tidak tahu nanti aku fikirkan dulu,"


"Baiklah, aku pergi dulu harus ada rapat osis lagi," ucap Heri dan berlalu meninggalkan Fina dan Lyla.


Fina yang melihay Lyla bengong mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Lyla. Sampai Fina bersuara baru Lyla berkedip.


"Hei Lyla..."


"Ah...iya" sahut Lyla.


"Kenapa kamu bengong gitu?"


"Ah enggak kok," jawab Lyla.


"Wah jangan-jangan, cie... Heri ni yeh," ucap Fina.


"Ah jangan ngada-ngada kamu ini,"


"Ih aku tahu sekarang diam-diam kamu suka sama Heri," Fina sambil menahan gelak tawanya karena menggoda Lyla. Lyla yang melihat Fina seperti itu salting dan memalingkan mukanya yang merah.


"Hehehe...iya sudah-sudah aku mengerti kok. Tapi, sejak kapan kamu suka sama Heri?" tanya Fina.


"Aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba saja selalu merhatiin dia," jawab Lyla.


" Wah...Heri anak yang berprestasi tampan dan juga multi talenta, banyak juga siswi lain yang ngincer dia tapi gak dapet," ucap Fina.


"Iya itu karena wanita yang Heri suka cuman kamu," jawab Lyla dengan sedikit wajah kecewanya.


"Tapi aku sudah ada pak Haru, mana mungkin sula dengan Heri. Pak Haru sudah cukup untukku," jawab Fina.


"Iya tahu, pak Haru adalah segalanya untukmu," ucap Lyla.


Waktu istirahat mereka sudah berakhir dan merekapun masuk ke kelas masing-masing untuk mengerjakan latihan selanjutnya sampai pelajaran selesai setelah Heri dan Lyla pamit kepada Fina, Mereka langsung pergi. Heri mengajar les tambahan dengan tan-teman lain sedangkan Lyla pulang karena sudaj dijemput supirnya dan Fina menuju kantor Haru.


"Masuklah," kata Haru dari dalam.


Seketika pintu bergeser, lalu Fina masuk dan mendekati suaminya itu.


"Ada yang masih dikerjakan?" tanya Fina.


"Hmm, masih ada beberapa yang harus dikerjakan," ucap Haru.


"Tidak bisakah dilanjutkan besok?"


" Tidak bisa, besok sudah mulai mengatur jadwal ujian," jawab Haru sambil memeriksa tugas yang ada di atas mejanya.


"Aku bantu yah?" Fina langsung bergegas mendekati Haru dan melihat-lihat kertas ulangan latihan teman-temannya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri nanti kamu nyontek lagi," sambil mengambil kembali kertas latihan yang sudah Fina pegang tadi.


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Fina bingung.


"Kamu duduk saja kerjakan soal yang aku berikan semalam, apa sudah selesai?"


Fina yang mendengar pertanyaan Haru langsung membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah buku lalu mengerjakan soal yang Haru berikan.

__ADS_1


"Ternyata masih belum selesai juga mengerjakannya yah, memangnya butuh waktu berapa lama mengerjakan soal sedikit seperti itu?"tanya Haru.


"A...aku bukannya tidak mengerti. Tapi, tidak tahu jalan untuk mencari jawabannya. Itu karena private les kita selalu berakhir di atas kasur," Ucap Fina kesal.


"Baiklah, aku akan menjelaskannya sekali lagi," Harupun mendekati Fina lalu menjelaskan contoh soal yang ia berikan kepada istrinya itu.


Fina serius sekali memperhatikan penjelasan dari Harus. Setelah selesai, Fina langsung mengerjakan soal yang di berikan Haru dan hanya butuh waktu 15 menit Fina selesai mengerjakan nya.


" Aku sudah selesai," ucap Fina.


"Hmm...," jawab Haru.


"Apa kamu tidak mau memeriksanya?" tanya Fina.


"Nanti aku periksa," jawab Haru.


"Baiklah," jawab Fina pasrah. Sekitar 1 jam lebih Fina menunggu Haru diruangannya itu. Fina yang terlihat bosan menghela nafas panjang meneku dagunya dengan tangan. Dilihatnya hari semakin gelap, tapi suaminya masih belum selesai dan cacing di perut Fina sudah mulai protes minta jatah makan.


"Apa masih belum selesai?" tanya Fina hati-hati.


"Hmm... Kenapa, apa kamu ngantuk tidur saja dulu di kursi," jawab Haru.


"Ah tidak, aku tidak ngantuk tapi..." Fina memegang perutnya dengan kedua tangannya.


Haru melihat Fina seperti itu, dia mengerti istrinya itu sudah lapar.


"Baiklah, kita pulang" Haru sambil membereskan kerjaannya tadi lalu membawa beberapa buku yang belum dia periksa.


*****


Mobil terparkir di depan rumah, Har membukakan pintu mobil untuk tuannya dan Fina kemudian mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah. Kepala pelayan sudah berdiri di de depan pintu masuk menyambut kedatangan tuan dan istrinya.


"Selamat malam tuan dan nona muda, makan malam sudah siap," ucap kepala pelayan itu.


"Aku mandi dulu," Harus seraya pergi menaiki tangga dan diikuti istrinya Fina.


setelah keduanya selesai membersihkan diri, merekapun turun dan makan malam bersama. Fina yang sudah lapar dari tadi sudah tidak berfikir panjang langsung melahap makanan yang ada diatas meja. Harus hanya menggelengkan kepala dengan senyum kecil terpancar diwajahnya melihat kelakuan istrinya itu.


"Begitu laparnya kamu sampai tidak ingat ada aku disini," ucap Haru.


Fina yang mendengar suaminya berbicara itu langsung menghentikan aksinya memburu makanan yang terhidang di atas meja.


"Maaf, aku hanya lapar" sambil meletakan sendoknya kembali Fina menjawab dengan wajah polos yang merasa bersalah.


"Setelah selesai, aku beri kembali soal untukmu," ucap Haru tiba-tiba.


"Hah, soal lagi bukannya tadi siang aku baru mengerjakan soalnya?"


"Itu yang kemarin, yang sekarang bahasa Inggris. aku lihat nilai Inggris kamu pun kurang dan perlu di perbaiki," ucap Haru.


"Baiklah, " dengan berat hati Fina meng iyakan kata dari Haru.


Tring..., tring..., telfon Haru berbunyi. Haru melihat nama yang menelfonnya lalu mematikannya dan melanjutkan makan malam.


"Telfon dari siapa?" tanya Fina.


"Tesa," jawab Haru.


"A...apa ada sesuatu? " Sambil meremas tangannya di bawah meja Fina memberanikan diri bertanya.


"Entah," ucap Haru dan menyuruh Fina melanjutkan makannya


Drrr... drr.... telfon Haru bergetar lalu Haru membuka pesan yang baru saja diterima.


"Aku tunggu kamu di cafe yang biasa," Tesa.


Haru langsung menutup telfonnya dan berdiri. Fina yang melihat Haru berdiri langsung ikut berdiri.


"Ada apa, kenapa ikut berdiri kamu makan saja" Ucap Haru.


"Tapi, apa kamu sudah kenyang?"


"Hmm..., kamu makan saja," Haru berjalan ke ruang tamu dan duduk disana sambil membuka ponselnya.


Tidak lama Fina sudah selesai dengan makannya. Haru yang melihat itu langsung beranjak bangun dan mengajak Fina masuk ke kamar mereka.


Didalam kamar Fina diajari tentang bahasa inggris, tentang cara penulisan yang benar pada kalimat dan pengucapan. Fina bukannya memperhatikan penjelasan Haru, dia malah fokus menatap wajah Haru.


"Ah...Kenapa wajahnya begitu tampan, sungguh tidak ada cela. pria tampan yang cerdas dan pekerja keras, pemilik tinggal perusahaan Wijaya group, siapa yang tidak mau?" ucap Fina dalam hatinya. Entah kenapa mata Fina dan otak Fina tiba-tiba konek menjadi satu server. Melihat wajahnya dari samping yang tampan, hidung mancung dengan bulu mata yang lentik bibir yang keriting, lehernya yang tidak terlalu panjang dan juga pendek dengan jakun yang menonjol sedikit membuat Fina yang melihatnya seketika menelan ludah. Melihat di sebelahnya ada sosok pria dengan badan yang gagah dan tangannya yang berurat membuat fikiran Fina traveling. Buku-buku Fina menggeleng sedikit kencang kepalanya dan menampar kecil pipinya untuk segera sadar, tapi tetap tidak bisa.


"Apa kamu memperhatikan?" tanya Haru seketika membuat otak Fina yang terisi penuh dengan fantasinya tiba-tiba kosong.


"Eh..., iya" jawab Fina

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu fikirkan dasar bodoh," sebuah buku memukul pelan kepala Fina.


"Aduh...," Fina cemberut kesal.


"Kenapa kamu tidak konsentrasi?"


"Maaf," Fina yang menyesal menundukan kepalanya.


"Jika mengerti kerjakanlah," ucap Haru.


"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti. Aku hanya fokus melihat wajahmu, entah kenapa ini bukan karena aku mesum. tapi, aku sendiri tidak tahu apa yang aku fikirkan, susah sekali untuk konsentrasi" jelas Fina.


"Kau ingin aku menyentuhmu bukan?" pertanyaan yang membuat Fina kaget dan seketika wajahnya merah seperti udang rebus. Haru yang melihat reaksi Fina pun sedikit kaget dan tergelak tawa kecil.


"Kenapa tertawa?" tanya Fina kesal.


"Tidak ada, hanya saja wajahmu seketika menjadi merah seperti udang rebus," ucap Haru sambil menahan tawanya.


"Aku tidak bisa menyentuhmu, kamu harus belajar serius bukankah itu yang kamu mau,kita fokus belajar saja tanpa melakukan yang aneh-aneh,"


Fina mendengar itu hanya menundukan kepala karena malu dan juga menyesal karena tidak ingin diaentuh Haru, tapi nyatanya dia sendiri yang kegatelan terhadap suaminya itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan dengan wajahku ini? " ucap Haru tiba-tiba dengan mengarahkan tangan Fina ke pipi Haru dan Fina pun melotot kaget.


"Ah, aku... aku, "


"Jawablah, jangan sampai menyesal nantinya" goda Haru.


Wajah Fina semakin memerah dan berusaha melepaskan genggaman dari Haru. Tapi tenaga Haru tentu sangat kuat membuat Fina pasrah.


"Hmm? " goda Haru dengan wajah tanpa dosanya.


"Katakan," Haru kini dengan ekspresi seriusnya.


"Aku, ingin disentuh suamiku,"


"Hmm? " Haru mendekatkan wajahnya tanda tidak mendengar.


"Aku ingin disentuh suamiku,"


"Huh? "


"Aku ingin Haru suamiku menyentuhku dan memanjakanku, puas! " sambil ngos-ngosan Fina berkata. Haru yang tidak bisa menahan melihat ekspresi di wajah isterinya dengan suara kerasnya menyatakan keinginannya semakin membuat Haru tertawa lepas. Fina yang melihat suaminya tertawa merasa kesal dan juga senang karena suatu pemandangan langka bisa melihat suaminya tertawa lepas seperti itu adalah kali pertamanya Fina melihat.


"Ah lucu sekali suamiku ini bisa tertawa lepas," goda Fina seketika membuat Haru mengubah ekspresi gembiranya menjadi cool seketika.


"Diam...! jika ingin membuatku bahagia sebaiknya kamu tidak melawan karena malam ini akan menjadi malam panjangmu" Haru sambil memangku istrinya itu dan meletakannya diatas kasur. Tina hanya terdiam pasrah dengan rasa malu yang amat sangat karena telah ibarat menjilat ludahnya sendiri yang dia tidak ingin disentuh Haru saat belajar kini malah dia s3ndiri yang meminta.


Selesai bercengkrama di atas kasur dengan hanya di tutupi selimut Haru melanjutkan penjelasannya tentang Bahasa Inggris kepada istrinya, dan mereka belajar diatas kasur hingga akhirnya Fina istrinya tertidur setelah selesai mengerjakan tugasnya.


Haru beranjak pergi dari tempat tidur menuju kamar mandi. setelah selesai Haru berganti pakaian memakai kaos dan celana panjang, pergi menancapkan gas mobilnya.


*****


Tesa yang sudah kesal terus menambah minumannya kedalam gelas.


"Awas kau Haru, berani sekali membuatku menunggu...!" Gerutu Tesa dengan membanting gelas yang ia pegang sampai pecah berkeping-keping.


"Amarah yang buruk," seseorang datang dari depan melangkah dengan tenang mendekat.


"Haru...," Tesa yang melihat Haru seketika menegakkan tubuhnya yang awalnya membungkuk karena melempar gelas tadi.


"Katakan ada apa kau memanggilku," ucap Haru datar.


"Aku, aku ingin mengatakan bahwa ayah ingin bertemu denganmu, "


Haru berbalik dan melangkah pergi dirasa apa yang Tesa katakan tidak penting untuknya.


"Kenapa kau tidak pernah peduli kepadaku, " kata dari Tesa membuat langkah Haru terhenti.


*Dari sejak kita di jodohkan, aku langsung jatuh hati kepadamu dengan tulus. Aku bahkan selalu ingin melihatmu, aku ingin selalu bersamamu disampingmu. Tapi, wanita kotor itu dengan tiba-tiba merampasmu dariku," Tesa berusaha menopang tubuhnya yang mabuk untuk tetap berdiri tegap.


"Jangan pernah menyebut istriku kotor," suara Haru sedikit meninggi.


"Memangnya kenapa...! dia memang wanita kotor derajat yang tidak sama tingginya denganku, tapi dia mampu merebutmu dariku. Kau bahkan tidak tahu betapa sakitnya hati ini ketika mendengar bahwa dia telah kau jadikan istri, memangnya kau anggap aku ini apa, hah?"


suara Tesa meninggi.


"Dia lebih baik darimu dan dia bukan parasit hanya mampu menempel dari orang-orang sekitar. Fina berbeda dia mampu berdiri sendiri, dia mandiri dan banyak hal yang dia mampu lakukan tapi kau tidak, jadi jangan berharap lagi kepadaku karena sampai kapanpun Fina tidak akan aku lepaskan. Berani menyentuhnya, aku yang maju. o'ya, katakan kepada ayahmu bahwa dalam beberapa hari, semua bukti kejahatannya akan terbongkar. Heh, aku tidak sabar melihat tampang bodoh ayahmu itu, " Haru berlalu pergi tanpa menengok ke arah Tesa.


"Tidakkah kau bisa melihat diriku tanpa melihat kejahatan ayahku, aku benar-benar tulus mencintaimu," buliran air mata Tesa jatuh membasahi pipinya yang putih.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2