
Sepanjang perjalanan pulang, Fina hanya memikirkan apa yang sudah dia bicarakan dengan Lyla tentang Haru. Fina di jemput oleh Har untuk pulang, setelah selesai mengantarkan Lyla kerumah nya, Fina minta agar Har mengantarkannya ke pasar tradisional.
"Nona, apa mau saya menjaga nyonya?" tanya Har setelah membukakan pintu mobil untuk Fina.
"Tidak usah pak Har, biar saya sendiri saja, tidak akan lama kok" jawab Fina.
"Baiklah, kalau ada apa-apa tolong hubungi saya" ucap Har.
"Baiklah," Fina sambil berlalu pergi.
Di pasar kaki lima sangat banyak di temukan makanan-makanan murah dan enak tentunya. Fina sangat menikmati pemandangan serta bau khas yang di keluarkan dari pasar kaki tradisional.
Fina membeli beberapa barang uang dia perlukan, dan tertuju kepada pedagang kaki lima. Dia menghampiri pedagang itu dan membeli makanan soto khas betawi.
"Pak, tolong soto betawinya yah 2 porsi" Fina dengan membuka tasnya untuk membayar.
"Baik neng, pakai sambel atau nggak?" tanya si bapak.
"Iya, dipisah saja. Kalau begitu tambah satu ya pak," Ucap Fina.
Dan bapak itu membungkusnya lalu di berikannya kepada Fina.
"Ini neng," sambil memberikan soto itu.
"Berapa pak semuanya?" Fina memberikan uang 100rb.
"30rb saja neng," bapak itu menghitung kembalikan.
"Tidak usah untuk bapak saja kembaliannya yah, terima kasih banyak" Fina sambil pergi berlalu.
"Bapak itu mengucap syukur dan terima kasih atas pembeli yang baik hati ini.
"Ah ini bisa untuk makan malam kami nanti," ucap Fina sambil menenteng kantong yang ia bawa.
Har menunggu tepat di depan mobil, saat dia melihat Fina Har langsung menundukan kepalanya tanda hormat.
Selama diperjalanan Fina tidak terlalu memikirkan dengan apa yang dia bicarakan dengan Lyla. Tak lama, mobilpun terparkir di depan rumah Haru. Lalu Har mempersilahkan Fina turun, lalu Fina memberikan 1 kantongnya kepada Har.
"Tidak usah nona muda, silahkan nona makan saja nanti, saya bisa membeli makanan nanti," jawab Har.
"Aku membelikannya untuk pak Har, terimalah soto di sana enak tau," kata Fina memaksa menyodorkan soto itu.
"Baiklah, terima kasih banyak nona," jawab Har.
Lalu Fina pun masuk ke dalam. Di dalam rumah sudah ada pelayan yang menyambut kedatangannya.
"Selamat sore nona, makan malam akan selesai pada jam 7 nantikan," kata pelayan itu.
"Tuan Haru sudah pulang?" tanya Fina.
"Belum nona," jawab pelayan itu.
"Kalau begitu, malam ini tiddak usah masak yah. Aku membawakan makanan untuk tuan makan malam ini" sambil menunjukkan isi kantong kepada pelayan itu.
"Tapi nona, tuan muda tidak pernah makan sembarangan, saya takut nanti tuan muda kenapa-napa," jawab dengan sesikit mengeeutkan dahinya tanda khawatir.
__ADS_1
"Eh, begitu ya. Kalau begitu silahkan masak saja untuk tuan Haru biar saya yang makan ini," jawab Fina.
"Nona muda juga termasuk yang harus kami lindungi, tidak boleh memakan makanan sembarangan," Pelayan itu sambil menyodorkan tangannya meminta makanan Fina dikasih ke dia.
"ini sudah saya beli, sayang kan jadi mubazir kalau di buang, lagipula sudah lama saya ingin memakan ini," jawab Fina.
"Biar kami yang membuatkannya untuk nona jika nona mau itu," Jawab pelayan itu bersikeras.
"Ada apa ini?" Haru yang baru saja datang melihat kekacauan ini.
"Mohon maaf tuan muda, nona membeli makanan diluar untuk tuan makan. Lalu saya melarangnya, karena peraturan dirumah ini tidak boleh memakan makanan di luar," sekertaris itu menjawab sambil ketakutan.
Lalu Haru melirik ke arah Fina dan melihat kantong yang dia bawa.
" Apa yang kamu beli, dan dimana kamu belinya?" tanya Haru.
" Saya membelinya di pasar tradisional, disana buka dari sore sampai malam, " jawab Fina.
"Kamu tahu kan aturan dirumah ini, tidak boleh membawa makanan dari luar. Karena kita tidak tahu itu higienis atau tidak," jawab Haru.
"Tapi, selama ini saya selalu makan makanan ini dari kecil dan bersyukur masih sehat dan tidak terjadi apa-apa," jawab Fina.
"Berikan pada pelayan, biar dia memasak dan menyiapkan soto untukmu," kata Haru dingin.
"Ah, kalau begitu saya minta maaf. Biar saya saja yang memakannya jika anda tidak berkenan memakannya," jawab Fina.
"Tidakkah kamu mendengarku...!" bentak Haru membuat Fina kaget hingga kantong itu jatuh ke lantai dan terburai berantakan karena plastiknya pecah.
"Ah, ma...maafkan saya, biar saya bersihkan semua kekacauan itu," Fina mau menunduk dan jongkok untuk membereskannya. Tapi, tangan Haru menariknya.
Setibanya di ruang kamarnya, Fina duduk di sofa. Dia melihat wajah Haru yang kesal karena perlawanan Fina tadi. Sedangkan Haru membuka dasi dikemejanya dan melemparkannya ke meja.
"Bisakah kamu mendengarkan aturan dirumah ini," Haru memulai percakapan.
"Ma...maafkan saya, saya hanya ingin membeli itu untuk kita. Makan malam ini," jawab Fina.
Ada apa ini, kenapa Haru marah seperti ini? Apa salahku, apa sebegitu salahnya diriku membeli makanan itu. Padahal aku berniat baik ingin memakan bersama. Fina dalam hati.
"Aku mandi dulu," Haru menghela nafas panjang-panjang dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Fina yang duduk di sofa, tertunduk menjatuhkan air matanya. Tangannya di remas-remas, menahan emosi sedih dalam hatinya itu, air mata terus mengalir tak terbendung. Karena seumur dia nikah dengan Haru, ini kali pertama Haru membentaknya seperti itu. Bahkan Fina merasa tidak melakukan apa-apa yang fatal, niatnya justru bagus karena ingin makan bersama dengan Haru berdua saja supaya lebih romantis. Apa boleh buat, malah tanggapan Haru seperti ini.
Akhir-akhir ini Haru memang tidak seperti biasanya, dia sedikit dingin kepada Fina. Seperti ada yang dia Fikirkan, tapi Fina tidak tahu apa.
Harupun selesai mandi, setelah ganti baju tidur Haru pun berlalu pergi keluar tanpa sepatah katapun keluar dari bibir Haru kepada Fina.
Lalu Fina juga bersiap-siap mandi setelahmelihat Haru pergi.
*****
"Bisakah kau tidak menurutinya untuk membeli makanan di pasar yang menjijikan itu," bentak Haru kepada Har.
"Maafkan saya tuan, nona hanya ingin berbagi makanannya dengan anda," Jawab Har.
"Apa kau sudah lupa kejadian dimana aku hampir mati karna makanan yang ibu belikan di pasar, hah!" bentak Haru.
__ADS_1
Ternyata alasan untuk tidak membeli makanan di pasar adalah ketika masih kecil Haru pernah hampir tewas karena keracunan makanan dari pasar. Dari situlah aturan untuk tidak membawa makanan luar di bawa kerumah mulai di berlakukan.
" Setidaknya anda harus menghargai pemberian nona kepada anda," ucap Har tiba-tiba.
"Apa...! Kenapa kau berbicara seperti iti kepadaku, berani sekali," bentak Haru.
"Saya disini bicara sebagai teman, bukan seorang sekertaris dan bos nya. Kita sudah lebih dari 20 tahun hidup bersama, banyak kejadian dan keadaan yang kita lewati baik buruk maupun bahagia" jawab Har.
"Dia membeli itu 3 kantong dan diberikan kepadaku satu, dan dua untukmu dan dia. Setidaknya terima makanan darinya walaupun kamu tidak mau mrmakannya. Itu sebagai tanda terima kasih kita kepadanya karena sudha membelikan makanan untuk kita," Har menjelaskan kembali.
" Buang makanan yang diberikan Fina kepadamu. Bagaimana dengan paman?" tanya Haru tidak memperdulikan penjelasan Har.
" Tuan besar akan datang kemari, hari apa dan kapan tidak ada yang tahu, " jelas Har.
" Berikan semua laporannya, kau pulang saja aku ingin memerikasanya sendiri.
" Baik tuan, " Har berlalu pergi setelah membungkukan kepalanya.
" Haru merebahkan tubuhnya ke tempat duduk kerjanya dan memijit-mijit kepalanya,"
*****
Har masuk ke apartemennya. Setelah meletakkan semua barangnya di meja, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Har merebahkan dirinya ke Sofa dan mengambil isi kantong dari Fina tadi. Lalu pergi ke dapur membawanya,meletakannya ke dalam mangkuk dan di hangatkan melalui microwife.
Dia kembali ke tempat duduk sambil mengambil minumannya 1 kaleng coca cola dan air putih di tambah soto yang di berikan Fina tadi, lalu di mengambil remote dan menyalakan tv.
"Hmm..., Fina" ucap Har sambil mengaduk-aduk soto yang sudah di panaskannya laku memakannya.
*****
Fina, masih dengan Fikirannya di kamar. Tak lama pintu kamar tebuka dan Haru masuk.
"Kamu belum tidur?" Tanya Haru.
"Hmm...," jawab Fina dan membaringkan badannya bersiap untuk tidur.
"Kamu masih marah?" tanya Har. Tapi Fina tidak menjawab. Dia membelit dirinya dnegan selimut dan membalikan tubuhnya ke arah yang berlawanan karena tidak mau melihat Haru.
"Kamu belum makan, mau aku ambilkan makan?" tanya Haru mendekati Fina. Tapi Fina buru-buri menutup mukanya dengan selimut.
Haru pun menghela nafas panjang melihat tingkah laku Fina yang seperti anak kecil.
Ah..., lucu sekali membuatku ingin memeluknya. Haru dalam hati.
" Maafkan aku karena sudah membentakmu tadi," ucap Haru tiba-tiba sambil berusaha melepas selimut yang Fina pakai menutupi wajahnya.
"Hey, buka, nanti kamu tidak bisa nafas," ucap Haru bersikeras membuka selimut yang menutupi wajah Fina. Begitupun Fina dnegan sekuat tenaga menahan selimutnya.
"Buka atau aku akan memakanmu," Haru mengancam dan seketika itu selimut yang menutupi muka Fina dibuka sendiri oleh Fina.
Ah...lihatlah istriku lucu sekali. Haru tersenyum kecil, tapi tidak terlihat oleh Fina, karena dia memalingkan muka nya.
Haru membaringkan tubuhnya dekat Fina lalu membelai rambut dan muka Fina dan menciuminya, Fina pun tidak bisa melawannya. Satu persatu kancing baju tidur Fina terbuka dan Haru terus berselancar di atasnya membuat Fina menggeliat. Setelah puas Haru memeluk Fina dan menyuruhnya tidur dengan pakaian terbuka, lalu Haru menyelimuti Fina.
Ah...hanya sekedar sampai sini saja ya, padahal akupin ingin merasakan lebih, aku ini istrinya kan. Gumam Fina dalam hati.
__ADS_1
Bersambung