
****
Pagi sekali Fina datang kesekolahan, duduk di bangkunya sambil membenamkan mukanya ke meja diantara kedua tangannya.
"Ada apa denganmu," tanya Heri yang juga baru datang. " Tumben sekali pagi ini sudah ada di sekolah," tanya Heri.
"Tidak apa-apa aku hanya tidak ingin mimpi burukku menjadi kenyataan," jawab Fina.
"Memangnya kamu mimpi apa, hingga membuatmu gesit kesekolah."
Tidak mungkin kan aku mengatakan kejadian semalam, aku masih bingung bagaimana cara menghindari tuan Haru, tapi sepertinya tidak bisa, secara dia guru sekaligus wali kelas ku,hiks.
"Wah, wah, tumben sekali Fina sudah disini," Lyla baru saja datang disusul dengan teman sekelasnya yang lain.
"Apa hari ini kita akan mulai membagi tugas?" tanya Lyla.
" Sepertinya harus mengurus anak dari kelas lain juga," kata Heri menerangkan.
Besok adalah hari minggu, mereka sebagian libur hanya panitia lah yang ikut lembur mempersiapkan semuanya.
"Sreet...," Pintu terbuka dan Rere masuk ke ruang kelas.
"selanat pagi," Rere menyapa dengan senyum manisnya.
"selamat pagi bu..!" balas murid-muridnya.
"Hari ini kita awali dengan pelajaran ipa, sebelum kalian mengerjakan urusan kalian untuk persiapan festival," Rere menerangkan.
Setelah 2 jam lamanya pelajaran selesai Rere memanggil Fina.
"Haru menunggumu di kantor, bawa ini sekalian dan letakan buku ini di mejaku, dan ini juga serahkan kepada Haru," jelas Rere.
"Baik bu," Fina menjawab dengan gugup.
"O, ya jangan lama-lama yah sebentar lagi istirahat, kami akan makan berdua" Rere menggoda. Fina tidak menjawab dan langsung melengos.
"apa-apaan maksudnya itu, memangnya apa urusannya denganku dia mau makan bareng atau nggak dengan tuan Haru, aku bahkan setiap hari makan dimeja yang sama, tidur di kasur yang sama, mandi pun dalam ruangan yang sama, bahkan kami menghirup udara yang sama," Fina menggerutu.
" Sreet...," pintu terbuka dari dalam ketika Fina mau membuka nya.
" Ah pak Har...!"
" sreet...Cekrek..." pintu dikunci oleh Haru.
" Gadis bodoh, dimana kamu menyimpan sepatu sekolahku, " tanya Haru dengan nada marah.
" kamu tau aku tidak punya sepatu lain untuk kesekolah lagi," Haru sambil melingkarkan tangannya ke pundak Fina.
Ah iya aku lupa menyembunyikan sepatunya di bawah kasur, heheheh...Fina dalam hati.
"Saya sembunyikan di bawah kasur, heheeheh." jawab Fina.
"Kamu ini, sebenarnya kenapa sampai menyembunyikan sepatuku," tanya Haru sambil kembali duduk dan diikuti Fina menyimpan buku tadi dimeja Haru.
__ADS_1
"Saya hanya ingin mengulur waktu tuan pergi ke sekolah, biar saya yang berangkat duluan. Lagipula tuan kan orang kaya pasti punya sepatu banyak," Fina menjelaskan.
"Aku tidak terlalu suka mengoleksi barang seperti itu, 1 saja sudah cukup bagiku."
"Kenapa tingkahmu seperti anak kecil, tidak bisakah sedikit dewasa," Haru sambil membuka kacamatanya dan memijat-mijat di bagian atas hidung.
Sepertinya dia kelelahan semalaman kerja di ruangannya, sampai aku tidurpun sepertinya dia belum kembali ke kamar, Fikir Fina.
" Maafkan saya tuan, lain kali tidak akan mengulanginya lagi" kata Fina merasa menyesal.
"Apa kamu takut aku melakukan sesuatu kepadamu atas kejadian semalam?" tanya Haru.
"Ah itu...," belum menjawab Harupun meneruskan bicaranya.
"Aku tidak akan pernah menyentuhmu, jadi tidak perlu takut," jawab Haru. Entah kenapa jawaban Haru seperti itu malah membuat Fina seperti tertusuk hatinya.
"Ah saya tau tuan, tidak mungkin tuan akan melakukan hal rendahan seperti itu kan," jawab Fina membuat Haru sedikit melirik sambil mengerutkan dahinya.
Fina melihat Haru memijat mijat pundaknya seperti kelelahan, membuat Fina merasa kasian dan berinisiatif membantu Haru memijat untuknya. Baru memegang pundak Haru, Haru langsung menepiskan tangan Fina hingga membuat Fina terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, jangan sentuh aku...!" jawab Haru kaget, karna melihat ekspresi Fina yang juga kaget dengan apa yang dilakukan Haru.
"Ah, ma...maafkan saya tuan, saya lancang menyentuh tuan," jawab Fina panik.
"Bukan begitu, aku...," belum selesai Haru menjawab Fina menyela.
"Lagi pula tidak mungkin tuan Haru mengijinkan saya menyentuh tuan, karna saya bukan orang yang tuan cintai, dan juga pernikahan kita hanya sebatas karena punya hutang pada tuan muda," jawab Fina sambil pergi keluar.
"ehem...Ehem...,wah dramatic sekali kisah cinta kalian yah. Aku jadi penasaran jika ayah tahu,"Rere masuk ke ruangan Haru.
"Dasar tukang kuping," Kata Haru.
"Wah... Sepupuku sudah menemukan cintanya sekarang, bagaimana dengan Tesa," Rere menyindir sambil melirikan matanya ke arah Haru.
"Aku tidak suka kamu membahas orang itu," Kata Haru sembari pergi meninggalkan Rere.
"Hey, jangan tinggalkan aku Haru, dasar bodoh tunggu aku," Rere berlari mengikuti Haru.
****
Sementara di luar Fina sedang duduk dan melamun.
Benar sekali, mana mungkin tuan Haru menyukaiku. Aku saja yang terlalu bodoh dan geer karna telah mengira tuan Haru suka padaku, Fina dalam hati.
"Nih..." seseorang menyodorkan roti sandwich kesukaan Fina.
"Oh, terima kasih."
"Mana Lyla?" tanya Fina.
"Dia di ruangan bu Lisna untuk mengerjakan uji otak lagi yang kemarin sempat gagal nilainya" Heri menjelaskan.
"Kamu sendiri bukannya sibuk yah," tanya Fina lagi.
__ADS_1
"Tadi kumpulan osis, tapi sekarang sudah selesai."
"Oh begitu, heheh" jawab Fina sambil mengunyah makan siang nyah.
"Fin, apa kamu punya pacar?" tanya Heri tiba-tiba, membuat Fina tersedak.
"apa yang barusan kamu bilang, pacar? Cough cough..." tanya Fina sambil terbatuk batuk.
"aku, aku sebenarnya..." belum selesai Heri menyela.
"Aku mendengar pembicaraanmu dengan pak Haru tadi," kata Heri.
Duarrr...! Bagai disambar petir Fina mendengarnya penjelasan dari Heri.
"Tadi tidak sengaja aku mau menemui pak Haru, ada yang mau aku tanyakan mengenai Festival. Tapi, aku mendengar percakapan kalian. Maafkan aku, aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Saat dulu kamu berlari menangis di atap sekolah gara-gara melihat bu Rere memeluk pak Haru, aku sudah mulai curiga. Melihatmu 1 mobil dengan pak Haru, melihatmu pulang kerumah pak Haru,bahkan aku sudah tau kalau kalian sudah menikah," Heri menjelaskan dengan panjang lebar.
Fina benar-benar kaget bukan main mendengar perkataan Heri.
" Heri, aku sebenarnya..., " Fina berhenti bicara, tidak tau Harus berkata apa kepada Heri.
"Kamu tau akibatnya jika satu sekolah mengetahui masalah ini?" tanya Heri, membuat Fina mengerutkan dahinya dan semakin takut.
"Heri, kenapa kamu melakukan ini," tanya Fina.
"Semua ini karna aku me..." jawaban Heri terputus karna seseorang menyapa.
"Hey... Kalian, sedang apa disana," Lyla menghampiri dengan sedikit berlari.
"Kalian tega sekali, aku di ruang guru sedang sekarat setengah mengerjakan tugas, kalian malah enak-enakan pacaran disini, Huh.." Lyla dengan kesal.
"Apa yang kalian bicarakan sepertinya serius," tanya Lyla dengan polosnya.
"Kami...," omongan Fina terputus karna Heri buru-buru menyela.
"Kami hanya berbincang yang tidak penting, memikirkan bagaimana otak bodohmu itu bisa melewati soal dari bu Lisna," Jelas Haru.
"Sialan kamu Her, sebegitu bencinya apa kamu kepadaku sampai mengatakan aku ini bodoh," kata Lyla dengan kesal.
"Memang, kan?". Jawab Heri membuat Fina mendelikan matanya tanda kesal.
Sementara di kantin...
"Ayah menanyakanmu terus, datanglah jika tidak dia akan marah besar," Tanya Rere.
"Aku akan menemui paman nanti," Jawab Haru..
"Kapan? Sudah 1 tahun lamanya dia meminta tapi kamu tidak mengindahkannya, kamu tidak mau sampai dia marah kan," Rere menerangkan.
"Datanglah, aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa lagi, sudah cukup pembangkanganmu kepada paman sekaligus ayahku itu. Aku yang menderita melihatnya," Rere memohon.
Haru tetao tidak menjawab dan sibuk dengan makanannya.
Bersambung....
__ADS_1