
Matahari sudah menampakan wajahnya, Fina terbangun lebih dahulu dalam pelukan Haru.
Ah..., ternyata suamiku adalah pria masa kecilku. Dia adalah kakak bodoh yang selalu aku panggil selama ibu merawatnya. Aku sungguh wanita yang beruntung bisa mendapatkan pria tampan serta baik seperti dia. Fina dalam hati dan tangannya menyentuh wajah tampan suaminya itu
"Selamat pagi," Haru sambil membuka matanya.
"Eh...sudah bangun ya? Selamat pagi juga," saut Fina.
Haru mengecup kening Fina, kemudian bangun dan bersiap untuk ke kamar mandi.
"Eh..., mau ke sekolah yah?" tanya Fina.
"Hemm...," Haru sambil berlalu pergi mandi.
Ah...rasanya jantungku mau copot jika ingat kejadian semalam. Apa aku terlalu dini melakukan itu. Haru dalam hatinya sembari mandi.
Aku tidak percaya apa barusan aku bangun dengannya barengan? Biasanya dia selalu duluan pergi atau aku yang pergi duluan. Serasa mimpi rasanya, Fina dalam hati cengar cengir sambil memegang pipinya.
Setelah selesai bersiap-siap mereka pergi ke bawah untuk sarapan. Lalu Fina dan Haru pergi barengan ke sekolah.
"Mmm...a...aku berangkat duluan," kata Haru.
"I...iya," balas Fina. Haru melirik ke arah leher Fina lalu tersenyum dan pergi meninggalkan Fina.
"Kenaoa jadi kikuk seperti ini, aduh....rasanya jantungku mau copot," gumam Fina.
"Jantung siapa yang copot," dari belakang Rere muncul.
"Ah... Selamat pagi. Tidak apa-apa heheheh," saut Fina.
"Huh...apa kamu mau memamerkan kepada teman-temanmu?" Ucap rere dengan senyum kecilnya.
"Uh...kenapa?" tanya Fina polos.
Rere mengeluarkan handyplas lalu menempelkannya ke leher Fina. Mengetahui itu Fina sedikit kaget.
"Kamu ini, jika memang perjalanan cinta kalian sudah ada kemajuan, tidak seharusnya di publikasi kan?" kata Rere sambil mengacak-acak rambut Fina yang sudah rapi.
"Eh...bukan itu maksudku," kata Fina malu
"Sudah sampai mana?" Tanya Rere.
"Uh.. Maksudnya?" Fina polos.
"Aduh..., masa kamu gak ngerti sih. Itu kamu sudah sampai mana, apa sudah ehem...ehem?" Rere penasaran.
__ADS_1
"Aah...hehhee itu...," wajah Fina seketika memerah.
Tring...tring...telpon masuk ke ponsel Rere lalu Rere mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Rere. "Iya iya aku kesana sekarang," jawab Rere lalu menutup ponselnya.
"Finaaa...," Lyla memanggil Fina dan berlari menghampiri Fina.
"Ah Lyla selamat pagi Lyla," jawab Fina lalu berpelukan.
"Ah aku kangen sekali denganmu Fin hiks," kata Lyla sedih.
"Hehehe aku juga," jawab Fina.
"Wah wah kalian berdua asyik sendiri sampai aku di cuekin. Kalau begitu aku duluan yah, bye" Rere lalu pergi.
*****
Saat sampai di kelas Heri menyambut kedatangan Fina dan Lyla. Heri sangat senang dengan sekolahnya Fina.
"Bagaimana keadaanmu,?" tanya Heri.
"Baik dong, hehehe" jawab Fina.
"Bagaimana sekarang kamu bisa lari kan?" Gurau Lyla.
"Baiklah pelajaran akan kita mulai hari ini," kata Haru.
Seorang anak mengacungkan tangannya dan bertanya sesuatu kepada Haru.
"Ada apa?" tanya Haru.
"Selama 2 hari ini kenapa bapak tidak masuk sekolah, apa bapak sakit? " tanya salah satu murid kelasnya.
"Tidak, saya hanya ada keperluan yang tidak. Bisa ditinggalkan," Jawab Haru.
Selama pelajaran berlangsung, mata Fina tak pernah lepas memandang Haru. Entah dia mendengarkan atau tidak pelajaran yang Haru terangkan.
"Fina...," sentak Haru memanggil namanya mmebuat Fina kaget.
"Ah iya pak?" tanya Fina dengan muka kagetnya.
"Apa kamu mendengarkan apa yang bapak terangakan?" tanya Haru.
"Eh...iya," dengan muka pucat Fina menjawab.
__ADS_1
"coba terangkan soal nomer 3 halaman 67," Haru sambil memeberikan buku kepada Fina.
Aku ini isterimu kenapa kamu sangat kejam berbuat seperti ini di depan temna sekelas sih, gumam Fina dalam hati.
"Biar saya yang mengerjakannya pak," Heri mengangkat tangan bersedia mengerjakan soal yang diajukan pak Haru.
"Aku menyuruh Fina. Coba Fina kerjakan kamu bisa?" Haru menggoda. Dan Fina hanya diam saja tidak menjawab.
"Heh..., ikut bapak ke kantor. 0elajaran hari ini. Berakhir di susul dengan pelajaran berikutnya," Haru sambil berlalu.
"Dan kamu Fina bapak tunggu di kantor," Haru sambil melengos pergi setelah memberi salam penutup.
*****
"Aah... Jangan lakukan ini Haru," Fina memekik geli.
"Ini sebagai hukuman untukmu karena tidak konsentrasi dalam pelajaranku," Haru sambil menggoda Fina,
"Apa saja yang kamu fikirkan tadi, lancang sekali melamun saat di jam-jam pelajaran," Haru dengan tanganya yang asyik memainkan di tempat favoritnya.
"Haru lepaskan..." Pekik Fina.
"Kamu mau aku melepaskanmu...kalau begitu berjanji dulu kalau kamu akan lulus saat ujian nanti," Haru sambil menikmati suasana.
"Ba... Baik, aku akan berusaha," jawab Fina yang sudah tidak tahan.
"Hmm... Tapi aku tidak mau selesai sampai disini," Haru menggoda.
Tok...tok...tok...
"Masuk," kata Haru sambil melepaskan cengkramannya dari Fina dan membantu membereskan pakaian Fina.
"Haru..., Wah...apa-apaan ini kalian berdua di satu ruangan, jangan berbuat mesum disini yah," Rere menggoda membuat wajah Fina merah padam.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," Fina pamit dan kembali ke kelas.
"Diam kau...terserah aku, ini bukan sekolahan kamu juga, mengganggu saja" jawab Haru kesal.
"Kamu ini melawan saja kalau kakak sepupumu ini ngasih tahu. O'ya ibu menelponku, dia marah karena kamu tidak datang ke acara ulang tahunnya." Rere sambil mengambil sebuah buku membuka lembar perlembar.
"Aku tidak mau," Jawab Haru singkat dan berdiri melangakah, terhenti sejenak lalu Haru meneruskan kalimatnya.
"O, ya lain kali cepatlah cari pacar, agar kamu bisa merasakan bagaimana itu bercumbu," Goda Haru.
Ah anak itu, enak saja kamu meledekku, punya sepupu gk tau diri. Rere dalam hati sambil tersenyum bahagia melihat Haru menemukan cintanya.
__ADS_1
"Hallo, ayah..." Rere menelpon.
Bersambung....