
Ramainya suasana pada malam hari di taman kota tak menyurutkan sejumlah pengunjung untuk beristirahat setelah seharian cape bekerja, bahkan bersekolah. Mereka tetap sibuk dengan kesenangan mereka, tak luput dari anak-anak pun masih tetap tertawa gembira bermain di taman kota yang di sediakan oleh pemimpin kota itu. Dihidupkannya ponsel untuk melihat jam berapa sekarang, ternyata sudah pukul 10.45 malam.
"Ring...ring...ring," Suara ponsel Fina berbunyi beriringan sampai beberapa menit akhirnya ponsel Fina berhenti berbunyi. Dilihatnya ada chat serta panggilan dari teman-temannya menanyakan keberadaannya dan kondisinya,kenapa tidak sekolah,apa keperluannya,sampai puluhan pemberitahuan panggilan dari temannya Lyla dan juga Heri. Tapi, bukan mereka yang Fina harapkan , memang Fina terharu atas kepeduliannya teman2nya. Tapi, dia berharap nama Haru pun tercantum diantara pesan dan juga panggilan itu.
Fina mengambil minuman kaleng yang ia beli lalu meminumnya barengan dengan air mata yang jatuh tak terbendung.
***
"Tuan," sekertaris Har menyapa.
"Sudah kau urus semuanya?" tanya Haru.
"Sudah, tuan hanya tinggal bersiap."
__ADS_1
"Hmm...," balas Haru sambil mengangguk. Lalu Har pun izin pergi dari ruangan tuannya itu.
Diambilnya ponsel oleh Haru, dilihatnya kontak nama istrinya Fina, dia scroll ke atas dan bawah membuka pesan lalu menutupnya kembali, dilemparnya ponselnya ke atas kasur. Diambilnya kembali ponselnya lalu membuka kembali kontak nama Fina di call nya tp buru-buru ia cancel lalu melemparkan kembali ponselnya keatas kasur. Lalu Haru terduduk di atas kasur sambil mengacak acak rambutnya, kemudian menghela nafas lalu membaringkan diri diatas kasur.
"Aku harap kau baik-baik saja," gumam Haru.
Haru kembali bangun dari tidurnya duduk. Dia teringat kembali kata-kata yang Heri lontarkan kepadanya.
"Sial, berani sekali bocah itu bicara seperti itu kepadaku." Dibarengi senyum sinis yang Haru keluarkan dan reaksi wajah yang marah.
***
"mmm...jam berapa ini," Fina mengambil ponselnya dan melihat jam menunjukkan sudah di angka 10 pagi. Di letakannya kembali ponsel di kasur lalu Fina bangun dengan wajah nya yang masih belum seutuhnya bangun. Fina mengambil handuknya lalu pergi membersihkan diri ke kamar mandi.
__ADS_1
"Ah, aku harus pergi membeli gorden dan alat dapur untuk memasak. Jangan sampai uang tabunganku habis tak berarti," Fina mengambil ATM nya dan memandanginya.
"Hah, sudah lama sekali kartu ini tidak aku gunakan. Semenjak aku menikah dengan Haru semua yang aku mau ditanggung olehnya bahkan apa yang baru saja aku fikirkan sudah langsung ia berikan," ucap Fina.
"Aku harus bergegas pergi,perutku juga lapar, aku juga harus mencari kerja part time." Fina berdiri bersiap pergi setelah selesai mengambil tas nya dan keluar dari kamarnya. Seketika Fina tertegun kaget ternyata dia keluar barengan dengan tetangga sebelah kamarnya yang tiada lain adalah teman sekolahnya.
"Uh...kau, bagaimana bisa?" ucap laki-laki itu.
"Rian...!" ucap Fina dengan wajah tegang sedikit melotot.
"Heh, kenapa kau begitu tegang. Aku tidak menyangka kalau kau kabur kesini," Rian murid pindahan itu tersenyum mengejek.
"Ayo," Rian memegang tangan Fina dan membawa pergi bersamanya.
__ADS_1
"Tunggu... kita mau kemana? a,aku ada urusan sendiri kau pergi saja sendiri,lepaskan." tolak halus Fina yang sudah pasti tidak di dengar oleh Rian.
Bersambung...