
****
Pagi tiba, setelah keluarga pamanya di Australi menyambut kedatangan Haru, pamannya berlalu pergi disusul Haru.
"Haru, bicaralah baik-baik dengan pamanmu itu yah," Istri pamannya mengingatkan.
"silahkan tuan muda," pelayan itu mempersilahkan Haru masuk. Lalu Haru masuk, dan berdiri terdiam.
"Duduklah," perintah pamannya.
"Tidak usah, aku hanya sebentar," jawab Haru.
"Bagaimana keadaanmu disana," tanya paman Haru.
"Tidak perlu saya beritahu pun anda sudah tau," Jawab Haru.
"Haha.. Haha... Hahahhahahah," paman Haru tertawa.
"Kamu ini benar-benar mirip sekali dengan ayahmu, selalu membangkang. Temui Tesa, dia ingin menemuimu.
" Anda sendiri sudah tahu bahwa saya sudah mengikat seorang wanita, jadi jangan berharap untuk memaksaku," Haru berkata.
Plak...! Tamparan keras mendarat di pipi mulus Haru.
"Berani sekali kamu...!" paman Haru melotot menakutkan.
"Heh...,lakukan saja apa maumu paman," Haru sambil berlalu pergi.
"Jika kamu tidak mau menuruti perintahku, setidaknya kamu tahu berterima kasih karena sudah aku rawat," begitu paman Haru berkata hingga membuat langkah Haru terhebti sedikit tersentak.
"Selama ini, bukankah kamu sendiri yang harus tau berterima kasih, karena kematian kedua orang tuaku membuatmu hidup seperti sekarang, bukan? Jangan ganggu kehidupanku, dan jangan sampai aku sendiri yang turun tangan," tegas Haru dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Paman Haru tidak bisa berkata apa-apa hanya mengepalkan tangannya kesal, hanya bisa melotot sambil mematung dengan apa yang baru saja Haru ucapkan kepadanya.
" Heheh...., kamu benar-benar persis seperti ayahmu, yang tidak takut apapun. Han.... Anakmu sudah besar, dia mirip sekali denganmu," Gumam paman Haru.
"Haru..., apa kamu baik-baik saja?" tanya istri pamannya itu.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," Haru sambil memangku anak tantenya itu yang masih kecil.
"Har, tolong bantu pamanmu itu untuk membereskan kekacauan ini," Kata tante Haru.
"Aku sudah menyuruh Haries membereskannya, tan," Kata Haru sambil asyik bermain dengan anak tante nya itu.
"Kalau begitu, tinggalah beberapa hari saja disini, akan kubuatkan makanan kesukaanmu, yah?" tantenya memohon. Haru walaupun dibesarkan oleh tantenya, tapi dia begitu menyayangi Haru seperti anaknya sendiri. Karena itu, ibunya meninggalpun Haru tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang seorang ibu.
" Aku harus pergi tan, ada orang yang ingin aku temui, lalu kembali pulang," Kata Haru sambil meenggendong anak tantenya itu.
"Kenapa sebentar sekali," tantenya sedikit kesal. "Ah aku tau kamu sangat ingin bertemu dengan istrimu itukan? Begitu cintanya kamu padanya, ajak dia kemari, Rere bilang dia sangat imut dan cantik yah, aku ingin sekali bertemu dengannya," tantenya membujuk Haru.
"Baiklah, lain kali akan ku bawa," jawab Haru. "Baiklah aku harus pergi," Haru lalu pergi
*****
"Ada apa, katakanlah...!" Ucap Haru.
"Kamu ini tega sekali, apa tidak kangen dengan tunanganmu ini," wanita yang bernama Tesa itu memeluk Haru.
__ADS_1
" kenapa kamu tidak pernah mengabariku, aku kangen sekali denganmu Haru," tanya Tesa.
"Hanya itu yang ingin kamu katakan?" membuat Tesa diam. "Kalau begitu, biar aku yang mengatakannya langsung padamu," Haru dengan tatapan tajamnya.
"Aku bukanlah tunanganmu, ikatan sandiwara ini sudah berakhir," tegas Haru membuat Tesa melotot.
"Aku tidak mau...!" tolak Tesa. "Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu, aku tidak ingin putus denganmu, kau tau akibatnya jika memutuskan hubungan inikan?, Bagaimana jika perusahan terbesarmu di Australi ini merosot turun," Ancam Tesa.
Haru berlalu peegi tanpa mengindahkan Tesa yang sedang memohon sekaligus mengancam Haru.
"Tunggu dulu Haru...!" Tesa mengepalkan sayapnya. "Awas saja kamu Haru, tidak akan semudah itu kamu lepas dari tanganku...!" gerutu Tesa kesal.
****
Tok...tok...tok
"Masuklah," Kata Haru.
"Selamat malam tuan, ini berkas yang anda minta, semua sudah aman terkendali tanpa melibatkan tuan besar," kata Har menjelaskan.
"Hemm..., pergilah siapkan jadwal keberangkatanku hari ini, " perintah Haru. Setelah menundukan kepala lalu Haries pun keluar
*****
Aku benar-benar tidak ingin bertatap muka dengan Heri, semoga hari ini dia tidak masuk, benar sekali sekarang sudah siang tidak mungkin dia masuk, Fina dalam hati.
"Fin..., bagaimana tidurmu?, aku pulang langsung mandi dan tidur sampai tidak ingat makan. Badanku rasanya remuk," Ucap Lyla sambil menepuk-nepuk bahunya.
"Iya, aku juga sedikit pegal dibagian kaki dan lengan," balas Fina sambil memijat-mijat kakinya.
"Kamu sudah terbiasa kerja keras makanya gk terlalu berpengaruh di badan kamu. Eh, Fin aku minta maaf yah atas prilaku orang tuaku kepadamu kemarin," Lyla masih sangat bersalah pada Fina.
"Bagaimana dengan Heri yah, dia pasti sangat kelelahan melebihi kita," Ucap Lyla.
Ah bener juga diantara kami Heri lah yang paling menderita karena pangkatnya sebagai ketua osis. Tentu paling banyak di repotkan. Ucal Fina dalam hati.
"Apa yang kalian bicarakan," Tiba-tiba Heri muncul.
"Wah.., baru saja kami membicarakanmu, sudah nongol lagi" Ucap Lyla.
Fina buru-buru memalingkan mukanya, Heri menyadari itu dan dia pergi ke bangkunya.
"Huh..., ada apa dengan kalian, apa kalian bertengkar?" tanya Lyla polos.
"Tidak ada apa-apa kok," Jawab Fina.
Sepanjang sekolah Fina benar-benar menghindari Heri. Saat istirahat tiba Heri menghampiri ke tempat biasa Fina tiba-tiba saja pergi, saat Heri membagikan lembar tugas dari guru, Fina memalingkan mukanya. Sampai saat Fina berpapasan di koridor dengan Heri pun Fina buru-buru putar balik saking tidak mau bertemu dengan Heri sampai kebingungan, untuk bicara saja susah.
"Bukan cuman kamu yang gerogi, tapi aku juga," Ucap Heri sambil melihat Fina berlari menghindarinya.
*****
Sebuah mobil terparkir di sekolah Pria yang selama ini Fina rindukan akhirnya menampakan batang hidungnya.
"Eh itu bukannya pak Haru yah?" tanya Lyla.
Fina sontak melihat dari balik jendel kelasnya, ternyata benar itu Haru.
__ADS_1
"Ah iya itu pak Haru," ucap Fina.
Itu tuan Haru, dia datang, dia pulang, Fina merasa smagat senang.
Sedang Heri melihatnya Hanya mengerutkan dahi.
"Akhirnya, kamu sudah tiba," Ucap Rere. "Rasanya lelah sekali harus menjaga anak kecil seperti Fina," sambil menghampiri Haru Rere bicara.
Haru duduk di tempat duduknya dan menghela nafas.
"Ada apa, kenapa kamu seperti kelelahan seperti itu," tanya Rere.
"Pergilah..., aku ingin tidur sebentar," Ucap Haru sambil memijat mijat bagian atas hidung diantara matanya dan menyimpan kacamata nya.
"Kamu tau, jika kamu membuka kacamata itu, jika kamu bukan sepupuku, mungkin aku sudah dimabuk asmara," Goda Rere sembari tangannya mengelus rambut Haru.
"Jangan membuatku marah, pergi dari sini, aku ingin istirahat," Ucap Haru memperingatkan.
"Hmm..., baiklah sepertinya banyak hal yang kami urus disana," Rere berjalan pergi meninggalkan Haru sendiri di kantornya.
****
Jam sekolah sudah selesai, para murid sekolah Wijaya pulang dengan tertib. Hanya tersisa Fina dan Heri, Fina sangat gugup karna harus membereskan dna mengantarkan buku paket ke kantor guru, sedang Heri melihat Fina sembari duduk.
Saat Fina mau menggeser pintu kelasnya dan ingin langsung berlari pergi meninggalkan Heri sendiri, tangan Heri lebih cekatan mengunci pintu kelas.
"He..., Heri aku harus mengantarkan buku paket ini ke kantor guru," Ucap Fina.
"Selama sekolah berlangsung, kenapa kamu selalu menghindariku?" tanya Heri
"Tidak apa-apa aku tidak menghindarimu, aku hanya sibuk saja," Ucap Fina.
"Sesibuk apa kamu sampai tidak bisa menjawab sapaanku," Tangan Heri semakin kuat menahan pintu.
"Lepaskan aku Heri, aku mohon jangan seperti ini," Ucap Fina.
"Kamu bahkan memalingkan muka disaat kita berhadapan seperti ini. Kenapa, apa bagian dadamu terasa sesak?, atau kamu merasakan wajahmu merah," Heri sambil memegang wajah Fina.
"Atau jantungmu berdetak kencang saat melihatku?" pertanyaan yang mengintimidasi Fina Heri keluarkan.
Fina tidak bisa menjawab apa-apa, dia bahkan tidak tau bagaimana perasaannya sekarang. Entah harus takut atau malu, dia benar-benar tidak bisa menjawab semua pertanyaan dari Heri.
Tiba-tiba Heri melepaskan tangannya dari menahan pintu tadi.
"Pergilah, aku tidak mau membuatmu takut kepadaku, bahkan aku bisa melihat tanganmu yang tidak berhenti bergetar. Jangan takut kepadaku, aku tidak akan berbuat apa-apa padamu. Jika perkataanku saat Festival mengganggumu, anggap saja itu tidak pernah terjadi dan bersikap biasalah seperti biasa, aku mohon, " Ucap Heri memohon.
Lalu Fina mengangguk dan pergi meninggalkan Heri.
Srett...., pintu kantor Haru terbuka, Fina melihat Haru sedang terlelap tidur. Pelan-pelan dia menyimpan buku di meja agar tidak membangunkan Haru. Tapi sudah terlambat Haru menyeret tangan Fina untuk duduk di sofa kantornya lalu dia membaringkan kepalanya di paha Fina.
"Tu.., tuan," Ucap Fina.
"Diamlah aku ingin tidur sebentar," Jawab Haru singkat. Lalu Fina membiarkan Haru tidur lelap di pangkuan Fina.
"Sekarang aku tanya, apa kamu mencintainya?" Fina ingat kata-kata yang di tanyakan padanya itu.
Aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak, yang jelas aku merasa nyaman bila dekat dengannya, aku merasa bahagia hanya dengan melihat dia setiap hari, Tuhan apakah aku salah mengagumi orang ini? Fina dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....
.