GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Fina diculik


__ADS_3

Pagi tiba, Harupun terbangun. Disisinya sudah tidak ada Fina, karena sudah pergi ke sekolah.


"Tuan, silahkan diminum,," kata pelayan sambil menyodorkan minuman kepada Haru pereda mual dan pusing bekas minum alkohol.


"Kemana istriku?" tanya Haru.


"Nona sudah berangkat kesekolah duluan, tuan" jawab Har yang dari tadi menunggu Haru bangun.


"Ada apa?" tanya Haru sambil sedikit memijat-mijat kepalanya. Masih terasa sedikit pusing mungkin, lalu Haru duduk menyenderkan tubuhnya.


"Tuan besar(paman) meminta anda untuk segera ke Autrali tuan," nampaknya tidak ada respon dari Haru, lalu Har meneruskan pembicaraannya.


"Tuan besar (paman) ingin tuan segera menyusulnya ke Australi. Karena beliau tidak jadi datang kesini, dan tolong diangkat telepon dari beliau," Har pun menunggu respon dari Haru.


Tring...tring...,sebuah telfon berdering dari ponsel Haru. Haru melihat nama paman di ponselnya, ternyata yang menelpon pamannya. Haru pun mengangkatnya.


" Cih..., kamu ini anak yang keras kepala sekali ya," ucap pamannya lewat telfon.


"Bagaimana dengan saham disana, aku membekukannya sepertiganya hanya dengan sekejap. Apa kamu masih mau tetap keukeuh menolakku?. Aku dengar dari Rere semalam kamu mabuk, dasar tidak tahu diri" jelas lagi pamannya.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau," jawab Haru.


Ternyata semalaman dia mabuk berat karena memikirkan para investor yang mencabut secara tiba-tiba kontrak mereka dalam perusahaan secara serentak. Karena itu menimbulkan kerugian yang cukup besar. Bagi Haru perusahaan yang sudah didirikan oleh ayahnya sangatlah berharga. Dia pernah bersumpah akan memepertaruhkan nyawanya demi mempertahankan perusahaan ayahnya tetap berdiri. Tapi, ancaman pamannya untuk kembali ke Tesa sangatlah membuat Haru bimbang. Tentu dia tidak mau memilih Tesa, karena dihatinya sudah ada Fina.


"Baiklah..., jangan salahkan pamanmu ini jika sesuatu terjadi pada istri tak bergunamu itu," ancam pamannya itu.


"Kau...! Jangan coba-coba menyentuhnya apalagi menyakitinya," bentak Haru.


"Oh..., sudah mulai membantah ya" kata pamannya.


Harupun menutup telfonnya lalu melemparkan ponselnya ke lantai.


"Sial...!" Haru bangkit dari tidurnya.


"Tuan," Kata Har sambil memegang badan Haru yang masih keleyengan.


"Aku mau mandi, tunggu di luar," ucap Haru sambil berlalu pergi begitupun dengan Har yang pamit keluar.


*****


Sudah waktunya pulang sekolah Fina pun pulang sendiri karena Har masih belum datang untuk menjemputnya.


Semalam Haru mabuk berat, ini kali pertama aku melihatnya mabuk seperti itu. Apa sedang ada masalah? Fikir Fina dalam Hati.


"Hey..., hayo apa yang kamu fikirkan?" Tanya Lyla.


"Tidak apa-apa. Eh, kamu pulang dijemput supir?"


"Yah, seperti biasa," sahut Lyla. Tak lama supir Lyla datang dan Lyla pun pamit kepada Fina lebih dulu.


Fina pun menunggu Har datang, ada sebuah mobil mendekati Fina.


Tring...tring... Ponsel Fina berdering ada sebuah pesan.


"Kamu dimana?" tanya Haru.


"Aku sedang di depan pintu gwrbang menunggu pak Har jemput," balas Fina.


"Kembali masuk sekolah, Har tidak ada disana dia sedang bersamaku. Tunggu aku," balas Haru.


Tring...tring..., pesan dari Harupun di buka. Tapi terlambat Fina sudah diberikan obat bius, di masukkan ke dalam mobil dan di bawah oleh sekelompok orang.


Tring...tring...tring...tring...!


"Sial tidak ada yang mengangkat," Haru dalam mobil gelisah.


"Kau bisa cepat tidak...!" bentak Haru kepada Har.

__ADS_1


Har pun melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung jalanan masih sepi karena masih pada sibuk dikantor dan di tempat kerja lainnya.


Mobilpun terparkir di depan pintu gerbang, Haru menanyakan Fina ke penjaga sekolah, tapi dia bilang nona Fina sudah pulang.


"Sial...!" bentak Haru membuat penjaga sekolah itu terdiam.


"Tuan," Har memberikan ponsel Fina yang terjatuh kepada Haru.


Tring...tring..., ponsel Haru berdering.


"Bagaimana, apa kamu masih mau ngeyel dan keukeuh dnegan pendirianmu?" ancam paman Haru.


"Kau...! Kau apakan Fina hah...!" wajah Haru memerah karena saking marahnya.


"Cih..., gara-gara wanita miskin itu, kau bahkan berani membentakku seperti itu," tut...tut...tut,telfon pun di tutup oleh paman Haru.


Beberapa kali Haru mencoba menelpon tetap tidak diangkat, sampai dia. Membanting ponselnya kembali sampai terburai.


"Haru?" Rere datang.


"Kau..., dimana kalian sembunyikan Fina?" Haru mencengkram baju Rere.


"Apa yang kamu katakan? kenapa kamu menanyakan Fina kepadaku, bukankah dia sudah pulang?" tanya Rere heran.


Lalu Haru pergi meninggalkan Rere yang masih kebingungan.


*****


Didalam mobil


"Har, kau cari tahu dimana Fina," tegas Haru.


"Baik tuan," jawab Har.


"Kakek tua itu benar-benar keterlaluan," Haru sambil mengepalkan tangannya.


"Berikan ponselmu," perintah Haru.


Haru berusaha menelpon pamannya lewat ponsel Har, tapi nihil.


"Sial...! Kenapa tadi aku tidak menyadarinya dasar bodoh...!" Haru terus terusan menyalahkan diri sendiri.


*****


Malam pun tiba, Haru mulai panic dan meminta Har untuk mengurus semua keperluannya untuk pwrgi ke Australi.


Tring...tring..tring telfon Haru berdering.


" Aku berada dirumah datanglah,"


" Ah..., paman" Haru mendengarkan apa yang pamannya bicarakan di telfon. Tak lama Haru langsung membanting setirnya ke arah rumahnya dengan Har.


Mobil pun terparkir di depan rumah Haru, tak butuh waktu lama, Haru langsung turun dan masuk kerumah. Didapatinya pamannya di ruang tengah sedang berdiri. Harupun menghampiri pamannya.


"Dimana kau sembunyikan Fina...!" Haru tak segan-segan kedua tangannya langsung mencengkram orang tua itu.


"Sudah berani seperti ini, kepada pamanmu sendiri yang mengurusmu sejak kecil. Anak tak tahu berterima kasih," Sentak paman.


"Aku akan melakukan apapun jika terjadi sesuatu padanya, sekalipun nyawaku taruhannya," ucap Haru dengan tqtapan tajam.


"wah...,hebat sekali wanita itu bisa membuatmu seperti ini ya. Memangnya ada yang lebih penting perempuan itu dengan perusahaan yang sudah ayahmu bangun, ayah yang srlama ini kamu puja-puja, kau bahkan bersumpah berani memeprtaruhkan nyawamu untuk tetap mempertahankan perusahaan ayahmu," jelas pamannya sedikit membuat Haru kentor dan nyalinya menciut mendengar sumpahnya dulu.


" Sudah kubilang dimana Fina, " Haru masih keukeuh dengan pertanyaannya. Tiba-tiba seseorang melangkah dari atas tangga, mata Haru tercengang.


" Fin... Fina...! " Ucap Haru lalu buru-buru melepaskan cengkramannya dari pakaian Pamannya.


"Kamu tidak apa-apa kan, apa yang sudah dia lakukan padamu?" tanya Haru sambil memeriksa dengan seksama bagian wajah atau tangan Fina takut ada yang memar atau luka.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa kok, paman hanya mengajakku ngobrol saja," jawab afina sambil tersenyum.


Haru melirik ke arah pamannya, dan melihat pamannya tersenyum.


"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, ayo" ucap Haru sambil membelai rambutnya Fina mengajak Fina kembali ke atas.


"Ah tunggu dulu, paman bagaimana. Dia juga harus istirahat," ucap Fina memberhentikan langkah Haru.


"Paman akan kembali ke Australi, lagi pula dia tidak suka tinggal disini," jawab Haru dan meneruskan langlahnya. Fina pun mengikuti Haru setelah memberi hormat kepada paman Haru.


"Mari tuan besar," ucap Har sambari membukakan pintu mobil.


"Hemm...," paman Haru masuk ke dalam mobil.


"Tunjukkan rumah anak itu, sebelum kau mengantarkanku ke bandara," ucap paman Haru.


"Maaf tuan besar, tuan muda melarang saya untuk menunjukkan rumah nona muda karena bersifat pribadi" jawab Har lugas.


"Hah... Hahahaha...., kau sudah berani melawanku yah, kau fikir kau ini siapa hah, mau aku pecat...!" ucap paman Haru mengancam.


"Hanya tuan muda yang bisa memecat saya," ucap Har membuat paman Haru terdiam.


"Cih..., baiklah antarkan aku ke bandara. Lagi pula lambat laun aku akan tahu semuanya," ucap paman Haru sambil menyenderkan pundaknya ke kursi mobil.


Sementara di kamar Haru memeriksa tubuh Fina, dia mau membuka pakaian Fina, tapi Fina menolak.


" Bagaimana bisa aku membuka pakaianku dalam keadaan seperti ini," ucap Fina sambil menyilangkan tangannya ke tubuhnya menahan Haru membukanya.


"Lepaskan...! Aku hanya ingin melihatnya apa tubuhmu ada luka atau tidak," ucap Haru sambil berusaha menarik tangan Fina untuk tidak menghalangi tubuh Fina.


"Tidak mau...!" ucao fina.


"Lepaskan...!"


"Sudah kubilang tidak mau, dasar mesum...!" ucqp Fina.


"Apa kamu bilang," Sret...! Pakaian Fina pun robek dan terbuka kali ini hanya tersisa pakaian dalam di bagian atas Fina. Kedua tangan Fina Haru gemggam dengan satu tangannya, lalu Haru pun melihat dengan seksama tubuh Fina takut ada yang luka, memar, hasil dari kekerasan. Tapi Haru tidak menemukannya, semuanya nihil.


"Sudah kubilang tidak ada...!" dengan wajah merah padam karena malu Fina berteriak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Haru dari kedua tangannya.


"Belum, sekarang bagian bawah...! Ucap Haru berniat membukanya.


" Apa kamu sudah gila, aku bilang tidak ada...!"ucap Fina setengah berteriak.


" Kenapa kamu sama sekali tidak oercaya, biar aku sendiri yang mrmbukanya, " ucap Fina seraya Haru berkata baiklah dan melepaskan cengkramannya dari tangan Fina.


Lalu Fina membuka celana tidurnya dan menunjukannya kepada Haru.


" tidak ada kan?" ucap Fina dengan mata tertutup.


" Belum, berbaliklah..., "Ucap Haru. Lalu Fina berbalik.


" Aku belum melihat dalamnya, buka... " ucap Haru.


Lalu Fina membuka nya dan menunjukkannya kepada Haru.


" Sudah puas...! " ucap Fina kesal dalam keadaan memejamkan matanya.


"yah, tidak ada" ucap Haru sambil menghampiri Fina.


Saat Fina berusaha memakaikan kembali semua, Haru mencegah tangan Fina memangkunya dan menidurkan Fina, lalu memeluk Fina dan menciuminya dengan sedikit arogan. Sulit untuk bisa bernafas bagi Fina dalam keadaan seperti ini, sesekali Fina berusaha mendorong Haru dan berusaha bernafas tapi hanya 2 detik Harupun sudah melancarkan kembali ciumannya. Tangan Haru selalu tidak lupa berada di tempat favoritnya.


"Syukurlah, kamu tidak apa-apa, aku sangat khawatir terjadi sesuatu kepadamu" ucap Haru pada Fina sambil memeluk hangat tubuh Fina.


Fina hanya bisa terdiam dan membiarkan Haru larut dalam kelegaannya, bisa melihat istrinya itu baik-baik saja.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2