
"Hmm..., jadi kau kabur dari rumah om itu?" kata Rian seraya mengambil bantal untuk jadi alas kepalasnya.
" Aku tidak kabur ," jawab Fina.
"Oh aku tahu, kamu pasti di usir karena om itu sudah bosan denganmu,hahhahaha." goda Rian.
"Bukan begitu. A,aku...," Fina tidak meneruskan kalimatnya. Rian melihat raut wajah Fina, ia membuka plastik yang sedari tadi belom dibuka. Rian mengeluarkan isi kantong yang ternyata sarapan yang mereka beli tadi pagi.
" Kamarmu berantakan sekali, aku ragu kamu itu perempuan atau jangan-jangan...," dengan tatapan menyelidik Rian melihat Fina.
" Enak saja, tentu aku wanita tulen. Aku hanya belum membeli saja barang-barang karena tadi diburu-buru olehmu.Bahkan rencanaku untuk mencari kerja part time tidak jadi gara-gara kamu, huff..." Fina buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia baru sadar telah mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan.
"Memang kau fikir aku ini laki-laki setengah perempuan yang suka menggosipkan orang?" jawab Rian sebelum Fina sendiri yang bicara.
__ADS_1
Rian pun membuka isi kertas nasi goreng tadi yang mereka beli , satu ia suguhkan untuk Fina dan satunya lagi untuknya. Mereka pun makan dengan lahap.
"Memang kau mau kerja part time apa?"tanya Rian sambil makan.
"Aku tidak tahu, sedapatnya saja yang mau memper kerjakanku," jawab Fina.
"Hmm," Rian mengangguk tanda mengerti.
***
" Besok aku akan pergi, kau urus urusanku disini," perintah Haru tanpa menjawab tawaran sekertarisnya dan berlalu pergi meninggalkan sekertaris Har.
"Sudah pukul 11.00 malam kenapa kau belum tidur?" tanya Rian.
__ADS_1
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, sekarang sudah larut kenapa kamu tidak kembali ke kamarmu?" kawab Fina kesal.
"Baiklah sebagai orang yang menghargai tamu dan menghormati tamu, apalagi tamunya adalah teman sendiri. Aku akan menginap disini sebagai pesta penyambutan,hehe..." kata Rian sembari menepak-nepak bantal Fina yang ia ambil.
"A,apa aku tidak salah dengar. Upacara penyambutan, menginal? oh terima kasih sekali aku sangat terkesan, tapi aku tidak mau. Lagipula uang punya kontrakan akan marah," jawab Fina dengan nada sedikit di tekan karena jengkel dengan ucapan Rian.
"Tenang saja, di tempat ini bebas kok cewek atau cowok dalam satu ruangan sudah tidak aneh," dengan tenangnya Rian menjawab sambil tiduran dengan bantal Fina.
Fina mendorong tubuh Rian dengan sekuat tenaga agar Rian mau bangun dan pergi dari tempat tidur Fina. Tapi, apalah daya hanya dengan tenaga seorang wanita tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki. Sampai beberapa lama Fina kelelahan dengan sendirinya dan menyerah hingga ia hendak beranjak. Rian menarik tangan Fina hingga membuatnya terduduk di sebelah Rian.
" Baiklah, aku akan pergi jangan ngambek seperti itu. Cantikmu akan hilang hehehe..., aku senang dengan melihatmu disini. Serius," dengan tatapan serius ia menatap Fina hingga membuat Fina terdiam sejenak.
Rianpun pergi meninggalkan Fina dalam sepi di sebuah kamar. Hingga Rian menutup pintu dan tidak terdengar lagi suara langkahnya, Fina membaringkan tubuhnya diatas kasur dan menghela nafas dalam. Tak lama Fina pun pergi membereskan kekacauan yang ada dikamarnya,termasuk sampah bekas ia dan Rian makan tadi.
__ADS_1
"Apakah aku melakukan keputusan yang tepat, bagaimana nanti aku ketemu dengannya nanti disekolah. Apa aku harus sekolah atau tidak. Ahh... lebih baik tidak sekolah lebih aman. Tapi, jika tidak sekolah bagaimana dengan cita-citaku dan harapan ibuku. Kalau aku sekolah bagaimana jika aku bertemu dengannya nanti? Aahhh... pusing sekali rasanya." Fina pun kembali menjatuhkah diri diatas kasur setelah selesai membereskan kekacauan tadi.