
Ini sudah tidak benar, ini sudah keterlaluan kalau keadaannya terus seperti ini, jangankan memperbaiki nilai. Untuk mengejar ketinggalanpun aku tidak bisa...! Ucap Fina dalam hati.
Yah sudah 3 hari ini Fina les private dengan Haru tapi selalu berujung tidak lancar. Ketika Haru memberikan soal-soalnya untuk Fina dan Fina mengerjakannya, Haru selalu mengganggu Fina dengan menyentuh ataupun mencium yang berakhir di atas ranjang. Fina yang selalu berakhir marah dengan apa yang Haru lakukan selalu di jawab santai oleh Haru.
"Salah sendiri, kenapa kamu juga mau dan pasrah saat ku sentuh. Kerjakan soal skrg dalam 1 jam aku akan kembali," dengan rasa tidak bersalah saat nafsunya sudah tersampaikan kepada Fina. Haru selalu dengan seenaknya menyuruh Fina buru-buru menyelesaikan soalnya dalam waktu yang ia tentukan dan berlalu pergi dan kembali dengan batas waktu lalu meminta Fina menyerahkan hasil kerjaannya.
"Benar-benar kejam sekali...!" gumam Fina dalam hati dengan perasaan kesal.
"Bagaimana bisa orang seperti dia bisa menjadi suamiku," Hati Fina berteriak marah sambil mengacak-acak rambutnya setelah selesai memakaikan kembali pakaian yang sempat terlepas gara-gara ulah Haru.
Sementara, Haru di bawah sedang mengobrol dengan Har sekertarisnya.
" Bagaimana dengan Tesa? " tanya Haru sembari mengambil buah yang sudah kepala pelayan sediakan untuk cemilan Haru.
"Semalam sempat kemari, untung saya belum pergi dan setelah itu saya menyuruhnya untuk pergi"
"Memang dia nurut?" tanya Haru ragu.
"Tentu saja, jika tidak dia harus menerima akibatnya," ucap Har.
"Lalu, bagaimana dengan paman. Apa semua data sudah siap dan apa paman masih berhubungan dengan ayah Tesa?"
"Akan sedikit sulit mengenai ini, karena tuan besar(paman) sangatlah menghormati ayah dari Tesa dan sangat membanggakannya. Kita butuh data lebih spesifik dan lengkap untuk menjatuhkannya," jelas Har.
"Berapa orang yang kamu kerahkan?"
"Ada satu di tiap perusahaan. Semua sudah saya atur, hanya butuh waktu sedikit lebih lama. Karena semuanya harus terancang dengan kehati-hatian" Ucap Har.
"Apa paman masih mengincar keluarga Fina, bagaimana dengan ibu dan adik Fina di tempat persembunyiannya?"
"Semua berjalan dengan normal, 4 penjaga terpercaya disana benar-benar bisa diandalkan. Beruntung ibu dan adik nona muda bisa diatur jadi kami tidak terlalu kerepotan menjaga mereka,"
"Bagus," ucap Haru dan mengambil jus orange yang sudah kepala peplayan sediakan tadi.
*****
Tring...
"Fin, bagaimana dengan private les kamu?" pesan dari Lyla untuk Fina.
"Kacau...!"
"Huh, kok bisa?"
"Selalu berujung tidak mulus, hiks."
"Buahahahhaha...., ya bagaimana lagi namanya orang sudah menikah. Indah sekali aku jadi iri," ucap Lyla seolah mengerti dengan apa yang Fina maksud. Memang Lyla termasuk cewek yang tingkat kehaluannya itu diatas rata-rata tapi bodoh dalam hal pelajaran.
"Jangan iri, aku yang iri dengan kamu bisa bebas dan konsentrasi mengerjakan tugas. Aku merasa kehilangan jati diriku,"
"Sudahlah, kamu yang sabar yah teman. Hahahhahah"
__ADS_1
"Jahat sekali kamu tertawa diatas penderitaanku,"
"Sebaiknya kamu coba beri pengertian kepada pak Haru, aku rasa dia akan mengerti. Ah aku tidak bisa membayangkan pak Haru tanpa busananya, wahhhhh.... Pasti seksi dan maco," balas Lyla antusias.
Memang, dia seksi dan maco, hehehe ucap Fina sambil senyum-senyum sendiri. Karena itu aku tidak bisa menolaknya hiks.
" Kamu jangan ngaco, aku harus konsentrasi dengan nilaiku. " balas Fina lewat pesan ke Lyla.
" Hmm..., kalau begitu kamu ikuti saran aku untuk memberikan pengertian kepada pak Haru pasti dia mengerti kok" Balas Lyla menegaskan.
"Baiklah aku akan coba nanti ngomong dengan Haru,"
Cekrek... Pintu kamar terbuka.
Fina yang panik langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke atas kasur. Sesegera mengambil bolpoin dan buku soal tadi yang diberikan oleh Haru.
Ah gawat, belum selesai mengerjakannya. Aku benar-benar tidak mengerti. Ucap Fina dalam hati
"Bagaimana, sudah selesai?" tanya Haru sambil menghampiri Fina dan duduk di belakang Fina.
"Be, belum"
"Sudah satu jam aku beri waktu masih belum selesai?" tanya Haru.
"Soal sebanyak 20 soal dengan penjelasan yang belum aku mengerti bagaimana bisa mengerjakannya dengan cepat," jawab Fina sedikit emosi.
"Ini soal mudah, baiklah akan aku ulangi sekali lagi," Haru sembari menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan.
Fina yang tidak mengerti otomatis menggelengkan kepalanya.
" Kalau kamu belajar seperti ini terus, aku tidak yakin kamu akan baik-baik saja saat ujian nanti," ucap Haru.
" Memangnya siapa yang buat aku tidak konsentrasi seperti ini,"ketus Fina kesal.
" Aku mandi dulu, " seraya pergi ke kamar mandi Haru mengusap rambut Fina yang tergerai lurus.
Huh..., selalu berakhir dengan menggantung. Setidaknya kamu balas pembicaraanku. Ucap Fina dalam hati.
Fina berusaha mengasah otaknya dengan soal yang di berikan Haru, berusaha mengerjakannya dengan maksimal.
****
Sesaat Haru keluar dari kamar mandi, ia lihat Fina sudah terlelap tidur dengan menjatuhkan wajahnya ke atas meja belajarnya. Haru mendekat dan meletakkan bopoin yang masih Fina pegang ke tempatnya dan menutup buku yang belum selesai Fina kerjakan. Haru memangku Fina dan membaringkannya diatas kasur.
"Biarkan aku mengerjakannya, jangan ganggu konsentrasiku hmm...," igau Fina.
"Maafkan aku karena les ini selalu berujung tidak lancar. Aku akan berusaha menahannya," ucap Haru sambil menatap wajah manis isterinya dan mengusap rambutnya.
Fina menggeliat sedikit, dan kembali terlelap. Harupun mencium kening Fina lalu menyelimuti tubuh mungil isterinya itu.
Haru beranjak dari tempat tidur dan mengambil remote TV lalu menghidupkan TV nya dengan suara rendah karena takut membangunkan isterinya yang sudah terlelap tidur. Dilihatnya ponsel isterinya itu tergeletak di lantai dan diambilnya oleh Haru. Dilihatnya pesan demi pesan dari ponsel isterinya dan membaca setiap pesan yang Fina kirim dengan Lyla.
__ADS_1
"Ternyata kalian teman akrab sampai hubugan suami isteripun kamu ceritakan kepadanya," gumam Haru dengan smirk kecilnya entah pertanda kesal atau malu karena isterinya terlalu terbuka dengan temannya itu.
"Ya tuan," ucap Har yang sedang menikmati secangkir kopi pada malam hari di ruang tv nya.
"Kau pastikan Lyla tidak membuka mulut tentang kehidupan pribadiku ataupun isteriku, beri tahu orang tuanya," ucap Haru lewat telfon.
"Baik tuan," Har seraya menutup ponselnya dan kembali menyeruput kopi yang sedikit pait tapi tak juga terlalu manis itu.
Dia membaringkan tubuhnya di sofa ruang tv nya sembari menonton dan tangannya sedang membuka lembar demi lembar map yang ia kumpulkan hari ini. Tentu saja selain map laporan perusahaan juga ada map tentang misi yang ia dapat dari tuan mudanya itu. Besok harus diberikan kepada tuan mudanya. Beberapa kali Har memijat-mijat pundak dan lengannya pertanda dia kelelahan. Tapi, apa boleh buat hanya ini dedikasi yang bisa ia berikan utnuk tuannya sekaligus teman dekatnya ini.
****
"Bagaimana dengan tante, apa baik-baik saja?" tanya Haru dalam telfonnya.
"Tante baik-baik saja nak, bagaimana dengan keadaanmu sekarang?"
"Aku baik, bagaimana dengan anak-anak tante dan juga paman?" Hatu melihat ke arah tem0at Fina tidur karena isterinya menggeliat di balik selimut.
"Mereka baik-baik saja, nak. Kapan kamu kemari dan mengenalkan isterimu kepadaku dan pamanmu ini,"
"Lain kali akan aku kenalkan, ngomong-ngomong ada apa?" tanya Haru. Memang tantenya ini tidak tahu bahwa sebenarnya pamannya sudah menemui isterinya bahkan secara pribadi.
"Tidak ada, tante hanya kangen dengan keponakan tante, jaga dori kamu disana baik-baik ya Har," ucap tante Haru.
"Hmm..., baiklah aku tutup telfonnya. Bibi juga jaga diri baik-baik," lalu Haru menutup telfonnya
"Siapa yang kau telfon malam-malam begini?" terdengar suara dari belakang wanita itu.
"Tidak ada," jawab tante Haru.
"Berhenti menelpon anak itu malam-malam begini, biarkan dia istirahat."
"Kau mengatakan seolah-olah kau perduli pada Haru, sudah jelas tidak mungkin Haru bisa istirahat karena segudang pekerjaannya. Tolong jangan siksa dia, dia juga ingin mengerjakan hal-hal yang seharusnya anak seusia dia lakukan,"
"Tidak ada waktu istirahat untuknya, karena dia satu-satunya pewaris tunggal Wijaya grup. Dia yang akan duduk jadi pemimpin Wijaya grup menjadi leader dari semua investor dan di takdirkan untuk mengelola perusahaan yang telah ayahnya perjuangkan selama ini sampai menaruhkan nyawanya".
"Sudah cukup kau menyiksa Haru dengan segudang pekerjaan dan tugas, jangan kau siksa dia dengan pilihan yang kau berikan tentang Tesa. Aku tidaj suka anak itu, seperti wanita tidak ada harga diri saja mengejar laki-laki yang jelas tidak mau sama dia,"
Plak..., tamparan keras mengenai pipi lembut wanita itu.
" peraturan dikeluargaku, seorang isteri hanya harus patuh tidak boleh membatah ataupaun merengek bukankah kau sudah mengerti. Pergi tidur jangan membuatku marah. "
Wanita itu hanya berlalu sambil meneteskan air mata tanpa kata. Memang di keluarga Wijaya tidak diperbolehkan wanita atau seorang isteri mengutarakan pendapatnya terkecuali isteri dari Bapak Handoko pemilik perusahan Wijaya grup sekaligus ibunya Haru.
Haru mematikan Tv kemudian pergi istirahat di samping Fina isterinya. Sebelum menutupkan matanya, Haru mengecup 2x kening Fina dan 2x bibir Fina. Terasa desahan nafas dari hidung Fina ketika Haru mendekatkan wajahnya ke Fina.
"Aku akan berusaha menjagamu walau nyawa taruhannya," gumam Haru.
"Pah," Suara Tesa lewat telfon.
Bersambung....
__ADS_1