GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Jujur


__ADS_3

Hari semakin larut tepat jam 22:47 malam,,mobil Haru terparkir di depan rumah. Fina melangkahkan kaki mengikuti suaminya dari belakang.


"Selamat malam tuan dan nona muda," seperti biasa sambil membungkuk ketua pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Kau pergilah dulu ke kamar dan mandi, aku masih ada urusan," perintah Haru kepada Fina istrinya, lalu Haru pergi ke ruang kerjanya diikuti ketua pelayan.


"Hanya satu hari aku meninggalkan kamar ini, tapi rasanya aku sudah kembali menjadi orang asing disini." Gumam hati Fina setelah menghembuskan nafasnya untuk sekedar menghirup udara di kamar bersejarah ini.


Dilepasnya tas yang ia bawa lalu meletakkannya di atas kursi.Matanya tertuju dengan selembar kertas putih yang terhimpit oleh beberapa map diatasnya. Diambilnya kertas itu lalu dibaca nya.


"Deg!" Mata Fina melototi kertas putih itu dengan sesekali membolak balikkan nya.


***


Dibukakannya pintu kamar. Haru melihat kalau istrinya sudah berselimutkan di atas ranjang. Dia membuang badannya di sisi Fina dan melihat wajah istrinya yang sedang terlelap tidur. Di usapkannya tangan Haru dari atas kening hingga bibir Fina, dengan menyimpan sejuta penyesalan terpancar dari mata Haru.


"Maafkan aku..."Dikecupnya kening istrinya lalu bibir Fina,membuat Fina yang sedang tidur membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Haru. Lalu Haru menyelimuti setengah tubuh Fina yang tidak terselimuti, kemudian beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.


Fina membuka mata, tak terasa bantal yang ia tiduri basah oleh air mata yang mengalir. Sambil menahan rasa sesak yang menghampiri dadanya, Fina mengkerutkan tubuhnya seperti siput.


"Ssseet...!" pintu kamar mandi menggeser terbuka. Haru keluar dengan hanya beralaskan handuk di pinggangnya. Fina yang mengetahui Haru keluar, ia kembali memejamkan matanya setelah menghapus air matanya.

__ADS_1


"Brukk...!" Fina merasakan tubuhnya ditindih sesuatu, tapi dia tidak ingin membuka matanya. Fina tahu kalau yang menindihnya itu adalah suaminya Haru, tercium dari harum badan Haru yang sudah mandi.


"Aku tahu kau belum tidur, buka matamu!" ucap Haru.


Fina masih tidak membuka matanya, lalu Haru memencet hidung Fina supaya kehabisan nafas. Fina masih kukuh dengan pendiriannya sampai wajahnya memerah menahan nafas, dilepaskannya tangan Haru karena tidak tega melihat istrinya ini.


"Hmm..." Gumam Haru, didiamkannya Fina sebentar sambil tetap memperhatikan wajah istrinya itu. Fina masih anteng dengan kepura puraannya.


Di lentangkannya tubuh Fina oleh Haru. Fina masih saja tidak membuka matanya.


"Sset...sset..." satu persatu kancing piyama yang dipakai Fina terbuka, Haru masih fokus dengan membuka kancing piyama istrinya itu sampai terbuka semua. Tangan Haru mulai nakal dengan kembaran yang tersedia di hadapannya.


" Apa..!" ucap Haru. " Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan kepada bonekan ku ini," lanjut Haru dengan mengangkat tangan Fina ke atas bahu nya.


"Ya, benar. Aku memang bonekamu, dari dulu sampai sekarang, dari awal bertemu sampai sekarang aku memang hanya jadi bonekamu." Seketika Haru menghentikan dengan aktifitas dewasanya dan menatap tajam kepada Fina dengan mengkerutkan alisnya.


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Haru.


Fina tidak berkata apa - apa, dia memalingkan wajahnya ke arah sisi lain asal tidak bertatap muka dengan Haru. Wajah Fina memerah menahan tangis dan amarah yang sedang melanda hatinya. Haru mengangkat tubuhnya, gairah nafsunya yang sudah hampir memuncak seketika padam melihat istrinya seperti itu, Haru beranjak pergi menuju pintu kamarnya.


"Kenapa...kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu akan menceraikan ku." ucap Fina dengan sedikit nada bergetar menahan tangis.

__ADS_1


Haru mengundurkan niatnya pergi keluar dari kamar dan membalikkan tubuhnya. Dilihatnya kertas putih yang ada di meja, lalu kembali menatap istrinya yang sedang tersedu sedu menangis sambil merapihkan kembali kancing piyama nya.


" Lalu, apa kau percaya kalau aku akan menceraikanmu?" tanya Haru tenang. Suasana Hening sesaat yang terdengar hanya suara isak tangis Fina dari atas kasur.


"Aku tidak tahu kau akan menceraikanku atau tidak. Tapi saat paman bilang kamu dan Tesa sudah ditentukan waktunya, aku sangat kaget. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu, awalnya aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Tapi, setelah ku beranikan diri melihat ke dalam mata paman, aku tidak bisa berkata - kata," jelas Fina kepada Haru. Suasana pun kembali hening hanya tangis Fina yang memecah keheningan, Haru terdiam kaku memperhatikan Fina.


" Aku tahu, " Ucap Haru lalu mengambil kertas putih itu dan melihat kertas yang isinya surat talak Haru yang harus di tanda tangani Fina.


"Berkemaslah, kau sudah bukan istriku lagi. Kujatuhkan kepadamu talak satu." Haru membalikkan tubuhnya dan membuka pintu kamar seraya ingin keluar.


"A, apa!" ucap Fina yang seketika tidak percaya dengan ucapan Haru yang baru saja ia dengar.


"Kau bahkan berani berbohong kepadaku. Kau berbohong dengan alasan menginap ke rumah Lyla temanmu dengan alasan Lyla yang memaksamu, dan kau tidak jujur bahwa sebenarnya paman menemui mu, bahkan saat aku tanya apakah ada laki-laki dirumah Lyla kau pun berbohong." Ucap Haru membuat jantung Fina berdegup kencang dan seketika membuat tubuhnya kaku tak bergerak.


" Aku bahkan ingin sekali membunuh anak itu saat itu," Haru mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


" Jadi, saat Heri..." Fina menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Karena itu, pergilah besok pagi .Ku jatuhkan talakku padamu Fina" Haru pergi meninggalkan Fina yang berada di kamar sendiri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2