GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Bersatunya dua Hati


__ADS_3

"Kamu tahu, nak? Kalau tuan Haru adalah anak yang pernha ibu tolong terheletak di sisi pantai," ibu mengingatkan.


"Eh...,Eehh...! Apa ibu bilang?" Fina kaget.


"Kenapa kamu begitu kaget," kata Haru.


Ah jadi selama ini dia adalah kakak yang pernah di tolong oleh ibu. Fina dalam hati.


Mereka ngobrol dengan asyik sampai tidak terasa waktu sudah malam, dan ibu Fina pamit.


"Biar aku antarkan bu," Haru menawarkan.


"Tidak usah tuan, ibu pulang sendiri saja," ibu Fina menolak.


"Jangan panggin aku tuan panggil saja dengan sebutan nak. Kalau begitu, aku pesankan Driver untuk mengantarkan ibu," kata Haru tanpa di tolak ibu Fina.


Lalu mereka berpisan ke masing-masing rumah.


Di perjalanan Fina masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bahwa selama ini Haru dan ibunya sudah bersekongkol menyembunyikan semua ini dari Fina.


" Curang..." Fina menggerutu.


"Apa kamu. Bilang?" tanya Haru.


"Ah..tidak heheh," Fina buru-buru menutup bibirnya.


"Kalau mau protes bilang saja," Ucap Haru.


Mobil terparkir di depan rumah mereka, dan mereka pun masuk.


"Selamat malam tuan dan nona muda, saya sudha siapkan makan malam untuk tuan dan nona," Pelayan itu menyambut dan menawarkan makanan.


"Kami sudah makan diluar, kau makan saja atau berikan pada yang lain," Kata Haru sambil pergi menuju kamar.


"Ah pak pelayan mohon maaf, tadi kami sudah makan. Jadi kami masih kenyang sekali," Fina meminta maaf.


"Tidak apa-apa nona, biar saya bereskan kembali," pelayan itu sambil pamit dan pergi. Sementara, Fina mengikuti Haru yang sudah duluan ke kamar.


"Aku mandi dulu," Haru berjalan ke arah kamar mandi.


"Eh.. Iya," jawab Fina.

__ADS_1


Setelah Haru selesai lalu Fina pergi mandi, Haru membenamkan dirinya ke atas kasur, dan memainkan ponsel.


"Kamu pulanglah, hari ini aku ingin bersama istriku," Kata Haru mengirim pesan kepada sekertaris Har.


"Baik tuan," balas Har.


Malam ini, Haru terlihat gelisah entah kenapa dia beberapa kali bangun dan merapikan sprei. Mondar mandir di sekitar tempat tidur dan sesekali melirik ke arah kamar mandi dan sesekali juga menelan ludah.


Cekrek... Pintu kamar mandi terbuka dan Fina sudah selesai mandi menuju ke ruang ganti baju, tapi Haru mencegatnya.


"Mau kemana kamu?" kata Haru.


"Eh.. Aku mau ganti baju," saut Fina.


"Kemarilah,"


"Ayo kemari," Haru sembari tangannya menepuk-nepuk tempat tidur.


Fina yang polos pun mendekati Haru.


"Ada apa tuan, eh maksud saya Haru," Fina bertanya.


"Janji?" Fina dengan muka heran.


"Kamu bilang akan menyerahkan tubuhmu kepadaku jika tidak jadi kerumah ibumu kan!" Jawab Haru kesal.


"Ah, itu...tapi bukankah kita tetap ketemu dengan ibu, kan?" tanya Fina heran.


"Kamu mengatakan jangan pergi kerumah ibumu, bukan jangan bertemu dengan ibumu," Jawab Haru sambil tangannya mulai membelai rambut Fina membuat Fina merinding.


"Eh...! ma....mana bisa begini," Fina kaget.


"Janji adalah janji, kamu tidak boleh mengingkari. Aku benci pada oeang yang mengingkari janji," ucap Haru dan ciuman mendarat di kening Fina.


"Tapi...," Fina dengan menahan kimono handuknya yang berusaha Haru lepas.


"Happy Birthday istriku," Kata Haru sambil. Mencium Fina dan menempelkan sebuah kalung di leher Fina.


"Eh...ini?" Fina memegang lehernya.


"Ini hadiah ulang tahun untukmu, mungkin tidak seberapa. Tapi, aku berharap kau bisa menjaganya," ucap Haru dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu ingat saat dulu aku masih di rawat ibumu. Tiba-tiba suruhan paman datang dan mengambilku. Kamu menangis memohon agar aku tidak pergi, sampai kita berjanji untuk saling menjaga diri dan akan bertemu kembali," kata Haru menjelaskan


"Sejak SMA aku mencarimu melalui anak buahku, tapi hasil nihil. Sampai 2 tahun lalu aku menemukanmu mengikuti ujian beasiswa di SMA wijaya, dan melihatmu langsung yang sedang linglung mencari jalan ke tempat aula itu,lucu sekali," Gelak tawa kecil menghiasi bibir Haru.


"A...apa?" Fina terkejut terbelalak matanya.


"Jangan melototiku seperti itu. Saat aku tahu kalau kakakmu suka sekali bermain di casino, aku datang dan menawarkan bantuan hingga sampai dia tidak mampu lagi membayar. Lalu dia menawarkanmu untuk aku nikahi. Jujur saat itu aku tidak menyangka apa yang kakakmu ucapkan. Tapi benar adanya aku menikahimu. Janjiku sudah aku penuhi Fina."


Ah... Jadi selama ini dia adalah kaka bodoh yang ibu temukan dan ibu rawat. Jadi dia adalah kaka bodoh, dia memenuhi janjinya. Fina dalam hati.


Fina memegang wajah Haru, tak terasa air matanya jatuh.


"Jangan menangis bodoh...," Haru sambil menciumi pipi Fina dan membelainya.


"Maafkan aku, dari awal tidak mengatakan nya. Maaf," Haru membelai rambut Fina.


"Ba...baiklah kalau begitu, kamu boleh melakukan apa saja kepadaku," Ucap Fina tiba-tiba membuat Haru kaget.


"A...apa kamu serius?" tanya Haru. Dan Fina mengangguk.


Di awali dengan Haru membelai rambut Fina mesra dan menciumi muka Fina, beralih ke leher Fina.


"Ahh...sakit," pekik Fina.


Melihat Fina menggeliat Haru semakin berani, kini tangan Harupun bergrilya ke bawah leher.


Mereka bergetar, berdebar, campur aduk dalam satu nafas. Cumbuan Haru terhenti seketika dan kembali menyelimuti Fina.


"Eh...?" Fina kaget.


"Maaf, maafkan aku. Sepertinya aku belum siap," Kata Haru.


"Eh?" Fina mengiyakan dan membenahi semuanya.


"Kita pelan-pelan saja, lagi pula aku sudah dapat lampu hijau dari ibumu di usia mu sekarang," kata Heri.


Muka Fina maupun Haru sama-sama memerah, AC pun di pencet-pencet Haru ke no -15 tapi masih terasa panas entah kenapa fikir mereka.


Fina sudah terlelap lebih dulu, sedangkan Haru pergi ke ruang kerja dan melihat-lihat laporan dari Har kemarin.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2