GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Ancaman


__ADS_3

Suasana sekolah yang masih sunyi hanya Fina yang baru datang, Fina menyusuri lorong menuju kelasnya, dan tak disangka apa yang dia dapat saat hendak menyimpan buku-bukunya.


Sampah berserakan di atas bangkunya lalu terdapat secarik kertas bertuliskan


"Enyahlah kau orang miskin!" begitulah kira-kira tulisannya hingga membuat nya kaget.


Apa ini, kenapa ada di bangku ku, siapa uang melakukan ini? Fina dalam hati.


Srett..., pintu kelas terbuka, Heri datang.


"Fin," Panggil Heri.


Fina buru-buru membereskan sampah-sampah itu dan meremas kertas ancaman tadi.


"Selamat pagi Her," Ucap Fina. Mata Heri tertuju pada apa yang ada di belakang Fina.


"Apa itu," tanya Heri.


"Bu, bukan apa-apa hanya sampah saja, sepertinya kemarin saat aku tidak masuk ada anak lain duduk dibangkuku dan lupa membuang sampah," jawab Fina.


"Benarkah,setahuku disekolah ini tukang yang membersihkan kelas walau para siswa siswi sudah membereskannya, lagi pula selama kamu bersekolah kemarin tidak ada satu orangpun yang duduk di bangkumu, "Heri sambil mendekati Fina,bermaksud mengambil kertas yang Fina sembunyikan di belakangnya. Tapi, Fina keburu menghindar.


" Aku harus membuang sampah ini, " Ucap Fina sambil berlalu tidak sadar kertas tadi terjatuh dan Heri mengambil lalu membacanya.


"Cih..., berani sekali...!" Ucap Heri.


Di lorong Fina berpapasan dengan Lyla. Tapi Lyla memalingkan wajah dari Fina.


"Ly..., Lyla," ucap Fina.


Lyla tak menggubris panggilan Fina dan jalan berlalu saja seolah tidak ada yang menyapanya.


"Maafkan aku Lyla...," Ucap Fina.


"Simpan saja ucapan maafmu itu", jawab Lyla.


*****


"Pelajaran selesai kalian boleh istirahat," ucap Rere.


Lalu para murid pun keluar dengan tertib, tak terkecuali Heri, karena ada urusan kumpulan osis. Kecuali Fina, dia duduk sendiri dikelas.


"Dimana tuan mudamu," tanya Rere. "Aku tidak melihatnya."


"Aku tidak tahu, saat terbangun dia sudah tidak ada," jawab Fina.


"Cih..., bagaimana bisa kamu bersikap hangat pada Haru, tapi bersikap dingin denganku, bagaimanapun juga aku sudah seperti kakaknya," ucap Rere. Tapi, tidak ada jawaban dari Fina dia fokus melihat ke arah keluar.


"Saat aku bangun, tuan Haru sudah tidak ada, dan tidak tau kemana. Dia bahkan tidak mau memberi tahuku hanya sekedar ke tempat mana dia pergi. Hah....," Fina mengehla nafas.

__ADS_1


Biasanya, jika Haru bersikap seperti itu, ada sesuatu yang harus dia bereskan dengan segera yang menyebabkan dia sendiri yang harus turun tangan. Ucap Rere dalam hati, melihat ke arah Fina lalu pergi meninggalkan Fina sendiri di kelas.


Entah kapan aku tertidur, sampai tidak sadar tuan Haru meninggalkanku. Gumam Fina dalam hati, lalu melihat kembali ke arah luar, saat itu Lyla melihat Fina sendiri di kelas lalu kembali pergi.


Srett...., pintu terbuka.


"Fin, Lyla memanggil mu, katanya temui dia di belakang sekolah," ucap seorang teman sekelasnya.


"Huh..., ada apa?" tanya Fina.


"Entahlah, aku hanya menyampaikan pesan saja," lalu teman sekelasnya itu pergi.


Fina mendatangi tempat yang katanya Lyla ingin ketemu. Tapi, tidak ada satu orangpun di sana.


Loh, bukannya Lyla ngajak ketemuan disini, tapi masih belum ada,Fina dalam hati. Tak lama, 3 anak datang menghampiri Fina, salah satunya adalah Tesa.


"Menunggu siapa kamu Fin," tanya Tesa.


"Aku menunggu seseorang," jawab Fina. "tapi sepertinya dia tidak datang," Fina sambil pergi, tapi keburu di halangi 2 orang teman Tesa.


"Kamu mau kemana Fi, kemarilah jangan buru-buru, kita berboncang-bincang dulu," Ucap Tesa.


"Aku harus pergi," Fina sambil pergi.


"Kamu tidak siapa yang membuat mejamu berantakan, bukan?" Kata Tesa membuat Fina menghentikan langkahnya.


"kamu yang melakukannya? Kenapa?" tanya Fina.


Fina hanya diam dan memilih pergi untuk tidak meladeninya.


"tunggu dulu...!" Tesa dengan nada marah.


Tapi Fina, tetap pergi dan mengacuhkan Tesa. Lalu Tesa mengejar Fina dan menyiram Fina dengan minuman bersoda rasa strawberry yang ia beli di kantin, mengotori baju seragam yang di pakai Fina. Teman-teman Tesa terkejut dengan apa yang mereka lihat, lalu menghampiri Tesa.


"Apa yang kamu lakukan Tesa, bagaimana jika pak Haru marah? Aku dengar dari ayahku kalau sebenarnya pak Haru itu menakutkan," ucap kedua temannya itu.


"Dia tunanganku, dia tidak mungkin menyakitiku," Ucap Tesa membela.


"Hey... Anak miskin, jangan pernah mengganggu Haru lagi, atau akan aku lakukan yang lebih kejam dari ini," Tesa memperingatkan.


" Bukankah kedudukanku sekarang lebih tinggi dari sekedar seorang tunangan," Ucap Fina membalas, membuat Tesa tidak bisa berkata apa-apa hanya mengepalkan tangan tanda kesal, lalu Fina pergi.


"Awas kamu, akan ku balas," ucap Tesa membuat kedua temannya itu takut.


"Heh..., seru juga menonton drama," Ucap Rere saat melihat kejadian antara Fina dan Tesa barusan di hadapannya, dan memotret kejadian tadi.


*****


Jam sekolah sudah masuk, Fina membersihkan badannya lalu mengganti baju seragamnya dengan kaos olahraga.

__ADS_1


"Kenapa kamu ganti baju," tanya Heri.


"Bajuku tadi kotor, gara-gara tersandung. Jadi aku ganti saja pakai kaos olahraga," jawab Fina.


Lyla melihat Fina dan dia masih keukeuh mengacuhkan Fina lalu duduk di bangkunya.


*****


"Ada apakah gerangan pewaris wijaya group datang kemari," seseorang menyapa Haru di ruang tunggu dan memelukny.


"Bagaimana dengan keadaanmu," tanya laki-laki itu.


"Bagaimana keadaan anakku di sana..., oh maaf atau lebih tepatnya tunanganmu calon menantuku. Hahahhahah... Hahahhaha...," laki-laki itu tertawa dengan pedenya.


Ternyata dia adalah ayah Tesa yang bekerja sama dengan perusahaan wijaya group.


"Aku datang kemari hanya untuk menyerahkan berkas ini. Disana berisi tentang semua data yang terjadi di perusahaan selama ini," ucap Haru,membuat laki-laki itu gugup dan menelan ludah.


"A.., apa ini menantuku aku sendiri tidak tahu data apa ini," ucap laki-laki itu.


"Tuan, orang-orang yang anda suruh untuk mengancurkan perusahaan ayahku, mereka terlalu bodoh untuk mewakilkan perusahaan besar anda" ucap Haru.


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menjatuhkan perusahaan yang telah ayahku bangun, termasuk kau...," ucap Haru dengan nada menekan.


Laki-laki itu masih berisi keras tidak mengaku.


"Menantuku..," kata laki-laki itu lalu terpotong oleh Haru.


"Jangan pernah menyebut ku dengan kata-kata yang menjijikan, aku bukan menantumu," Ucap Haru.


"Jangan pernah memperalat pamanku untuk membujuku supaya aku mau melakukan apa yang kamu mau," Kata Haru sambil memegang dagu laki-laki itu.


"Aku di didik oleh ayahku untuk menjadi anak yang tidak patuh, kau bahkan tahu kalau aku anak dari seorang pemimpin dari mafia, ayahku bisa melakukan apa saja termasuk membunuh tanpa merasa menyesal. Begitu pula aku," Ucap Haru sambil melemparkan ayah Tesa itu ke sofa tadi.


Lalu Haru pergi bersama sekertaris Haries.


*****


Haru duduk di kursi kantornya, ponselnya pun berdering, ada pesan masuk. Lalu Haru membukanya, seketika mata Haru melotot melihat isi dari ponselnya itu. Rere mengirimi Haru sebuah foto, di dalamnya terdapat foto Fina dengan baju kotornya bersama dengan Tesa yang menyiramnya.


"Tuan, apa perlu saya menyiapkan keberangkatan anda sekarang untuk kembali," tanya sekertaris Har dengan wajah khawatirnya melihat foto yang ada di ponsel Haru.


"Tidak perlu, aku harus membereskan semua permasalahn disini secepatnya, lalu kembali," ucap Haru.


"Tapi..., disana nona muda disakiti oleh Tesa" kata Har dengan muka yang tegang.


"Disana ada orang yang akan melindunginya, begitupun Rere," Ucap Haru.


Sedikit lagi, sabarlah tunggu aku pulang..., ucap Haru dalam hati sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2