Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
21. Trauma


__ADS_3

"Aku akan membuat kamu seperti Ansela!" Ucap Rangga ditelinga Firda.


BUGH…


"Arghhhh Sial!!" Umpat Rangga saat perutnya ditendang oleh Firda sampai ia tersungkur.


Sedangkan kini Firda sudah berlari kencang ke arah kamarnya dengan sisa tenaganya ia langsung mengunci pintu kamarnya.


"Hiks… Ayah Firda takut hiks!" Firda langsung duduk di ujung kasurnya dengan seluruh tubuhnya yang terus bergetar.


Tok…tok…tok…


"Firda sayang buka dong pintunya! Malam inikan kita akan bersenang-senang!!!"


Firda semakin takut ketika mendengar suara Rangga diluar, apalagi saat melihat pintu kamarnya yang bersiap untuk didobrak.


BRAK…


Dengan sekali tendangan pintu itu sudah rusak seketika, raut wajah Rangga yang senang. terpampang jelas saat menatap Firda dari jauh.


"Please jangan lakukan ini Rangga! Aku mohon!!! hiks!!"


Langkah Rangga terus mengarah pada Firda, sedangkan Firda terus mundur akibat ketakutan, namun nahasnya kini ia sudah mentok dengan tembok.


"Sayang kamu sangat cantik malam ini!" Dengan kasar Rangga menarik tubuh Firda dan langsung membantingnya ke kasur.


"Awwshh…!" Firda meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"LEPASKAN BRENGSEKK!!!" Teriak Firda disela-sela tangisannya.


"jangan berteriak padaku Sayang! Kau tak suka dibentak bukan?" Tanya Rangga dingin.


SREK…


Piyama tidurnya di bagian lengannya yang pendek kini sudah sobek akibat ditarik oleh Rangga.


"Kulitmu sangat mulus Baby, aku suka!" Ucap Rangga.


Cup…


Rangga mencium pipi Firda dengan gerakan cepat karena posisinya yang berada sangat dekat karena Firda berada di bawahnya.

__ADS_1


PLAK…


"JANGAN SENTUH AKU BRENGSEK!!" Firda yang kesal langsung menampar wajah mulus Rangga itu.


"Kau sudah mulai berani hmm?" Tanya Rangga dengan auranya yang sudah berbeda dari sebelumnya.


Dengan kasar Rangga langsung membuka setiap kancing piyama tidur Firda. Firda memberontak sekuat tenaganya namun nihil, karena tenaga Rangga begitu kuat mengunci pergerakan Firda.


Firda sudah pasrah kali ini, rasa takut terus menjalar saat melihat wajah Rangga seperti orang kesetanan.


Kini kancing piyama Firda sudah hampir semuanya terbuka, wajah Firda yang sudah tak terbentuk akibat menangis, rambutnya yang berantakan dan tangisannya yang tak henti-henti.


"BAJINGAN!!"


BUGH…SREK…KREK…


Satria Memukul punggung Rangga, ia juga menarik tubuh Rangga menjauh dari Firda hingga bajunya sobek, Satria juga memukul wajah Rangga membabi buta, ia juga membuat tangan Rangga bersuara, entah itu terkilir atau patah Satria tak mempedulikan ringisan laki-laki didepannya.


Malam ini Satria memutuskan untuk memberikan pelajaran pada Firda akibat masalah tadi siang, namun saat ia datang ke apartemennya ia sedikit heran karena pintunya dikunci dari dalam bukan memakai pin, dan saat ia masuk ia mendengar tangisan teriakan dari kamar Firda, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah pemandangan yang membuat emosinya naik.


"Kapten Sudah biar dia kami yang urus!" Ucap salah satu rekan kerjanya Yang baru saja datang dan tadi sempat Satria panggil melalui tombol Alarm yang ia buat di handphonenya sebelum ia memukul babak belur laki-laki didepannya ini.


"TUTUP MATA KALIAN!!" Teriak Satria marah saat ia baru ingat bahwa mereka kini sedang berada di kamar Firda. Tangan Satria yang sudah berlumur darah itu akhirnya berhenti memukul Rangga yang tak sempat mendapatkan perlawanan sedikitpun.


Polisi disana langsung mengamankan Rangga dan dibawa ke luar lebih tepatnya ke kantor polisi, tangannya juga di borgol walaupun Rangga berteriak kesakitan akibat tangannya yang tadi sempat di patahkan oleh Satria.


Satria langsung berlari kearah Firda yang terus menangis sambil menatap atap-atap apartemennya. Tubuhnya terus bergetar dan tak henti-henti menangis.


"Hai tenanglah!!!" Ucap Satria yang ingin menutupi tubuh Firda yang memakai Piyama dengan tak terbentuk, bahkan bagian depannya sudah terekspos kemana-mana.


"STOP JANGAN SENTUH AKU!" Firda berteriak dan bangun dengan sisa tenaganya, dan sedikit mundur dari hadapan Satria.


"Tenanglah aku tak akan melukaimu!" Ucap Satria lembut dan menatap Firda dengan tatapan teduhnya.


"Hiks… please jangan sentuh aku hiks… aku takut. hiks…!" Tatapan Firda sangat kosong.


Satria menaiki kasur untuk menghampiri Firda. yang sedang memeluk lututnya sendiri.


"Kemarilah!! Aku tak akan melukaimu, percaya padaku!" Satria mengulurkan tangannya kepada Firda sambil mendekati Firda dengan perlahan.


Firda tak henti-hentinya menangis, selama hidupnya ia baru pertama kali mengalami hal yang membuatnya takut, dan ia yakin ia tak akan melupakannya dengan mudah.

__ADS_1


Satria kini yang sudah berada di hadapan Firda langsung memeluk tubuh mungil Firda, ia juga melepaskan tangan Firda dari kakinya dan langsung menutupi bagian depan Firda dengan selimut disana.


"Aku takut hiks!!" Firda terus menangis di dada bidang Satria kali ini.


"it's ok! Ada aku disini!" Ucap Satria menenangkan.


Sesaat Satria melupakan kemarahannya akibat melihat kondisi Firda yang seperti ini, hatinya terasa sakit sekaligus marah melihat kejadian barusan.


Firda membalas pelukan Satria dengan erat, dan mencium aroma tubuh Polisi dihadapannya dengan rasa tenang akibat wanginya, beberapa saat kini tangisannya mulai mereda.


"Kau terluka?" Tanya Satria yang masih memeluk tubuh Firda.


Firda hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak ada yang terluka pada dirinya, ia tak membuka suar sedikitpun setelah tangisannya mereda.


"Kau ingin berganti pakaian sekarang?" Tanya Satria lagi.


Namun lagi-lagi Firda menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya. Satria tak protes, ia terus memeluk tubuh Firda dan mengusap surai rambut Firda yang sudah berantakan. Posisinya yang sangat dekat dengan Firda pasti membuat semua orang berpikir hal kotor pada mereka berdua, pasalnya posisi Firda dari lima menit yang lalu sudah berada di pangkuan Satria karena Satria yang susah untuk memeluk Firda.


Satria membiarkan Firda yang masih tenggelam di dada bidangnya untuk menenangkan dirinya.


Prang…


"****!" Satria mengumpat saat kini tengah ada dua orang yang sedang menatapnya dengan tatapan terkejut di ambang pintu.


Sedangkan Firda kini tengah tertidur akibat terlalu lemah dan lelah karena menangis. Ia juga terlalu cape karena hari ini adalah hari yang membuat Firda mengalami trauma berat.


Satria memberi kode dengan menempelkan telunjuk di bibirnya kepada dua orang yang sangat berharga dihidupnya itu.


Dengan perlahan ia membaringkan tubuh Firda agar tertidur di bantal, dan ia juga berusaha melepaskan pelukan Firda yang cukup erat di bajunya.


Saat sudah terlepas ia juga menutupi tubuh Firda dan segera turun menghampiri dua wanita yang tengah menatapnya garang.


"Oh ayolah Bund! Kau membuat apartemen ku semakin berantakan!" Ucap Satria pelan saat melihat makanan yang berceceran akibat terjatuh karena terlalu kaget melihat pemandangan didepannya.


Sintia langsung menjewer telinga Satria dan menyeretnya ke ruangan tamu meninggalkan kamar yang sangat kacau. Yaps. yang datang diwaktu yang tidak tepat itu adalah Sintia dan Bundanya, niatnya untuk membawakan makanan karena Satria belum sempat makan malam, eh mereka ternyata malah melihat pemandangan yang mengagetkan.


.


.


.

__ADS_1


.


...BTW LANJUT GAK NIH? SEMOGA SUKA YA 😍...


__ADS_2