
Kini Firda sudah menyelesaikan rutinitas mandinya walau langit sudah menggelap sejak tadi, Satria dan Firda tiba di mansion pukul tujuh malam, setelah menaiki balon udara, mereka berdua juga main di pinggir pantai yang terdapat di pulau kecil milik keluarga Satria.
"Kau belum mandi?" Tanya Firda saat melihat Satria yang masih memakai kaos polos hitam serta celana pendek selutut nya.
"Hmm!" Gumam Satria yang langsung menghampiri Firda yang sudah ganti pakaian dengan piyama tidurnya.
Satria langsung menarik Firda agar duduk di depan cermin, ia juga menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambut Firda.
"Makasih!"
Satria fokus pada setiap helaian rambut Firda yang masih basah.
"Jangan sampai kau tidur dengan rambut yang masih basah! Paham?"
"Aku tahu kok!" Jawab Firda sambil menatap Satria lewat cermin di hadapannya.
"Mulai sekarang kau akan tidur di kamarku!" Tutur Satria dengan tegas.
Firda hanya mengangguk sebelum kembali berbicara.
"Satya! Apa aku boleh melakukan aktivitas di siang hari saat kau bekerja? Aku bosan terus di mansion!"
"Kau akan menjadi asisten pribadiku mulai besok!" Jawab Satria yang tetap fokus.
"Ish… bukannya dulu juga aku malah membuat kekacauan? Aku gak mau mengulang hal yang sama!" Ucap Firda dengan raut sedih mengingat kejadian sebelumnya.
"Tidak akan! Walaupun terjadi, aku yang tidak akan mengulang hal yang sama!"
Cup…
Satria mengecup puncak kepala Firda singkat.
"Satya…!" Panggil Firda dan menatap Satria dari cermin, begitu juga mata Satria yang juga menatap manik milik Firda.
Satria langsung membalikkan tubuh Firda untuk menghadapnya, ia yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran istrinya.
Satria berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Firda.
"Ada yang mengganggu pikiranmu hmm?" Tanya Satria sambil mengelus kepala Firda lembut.
Gadis didepannya hanya mengangguk dengan mata yang sebentar lagi berkaca-kaca.
"Katakan!" Bukannya menjawab Firda justru malah menundukkan kepalanya kebawah menatap lantai yang bersih tanpa debu itu.
__ADS_1
"Jangan menunduk! Angkat kepalamu atau mahkotamu akan terlepas!!" Satria mengangkat kepala Firda dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.
"Satya…! Apa aku salah tidak meminta restu dari ibu sebelum menikah?" Tanya Firda dengan suara serak menahan tangisannya.
"Apa kau tahu keberadaan ibumu?" Tanya Satria yang dijawab dengan gelengan kepala Firda.
"Berarti kau tidak salah apapun! Jangan dipikirkan lagi oke!". Ucap Satria yang langsung memeluk tubuh mungil Firda untuk menenangkan gadisnya itu.
"Sttttt… don't cry!!" Tutur Satria saat mendengar Isak tangis kecil dari bibir Firda.
"Satya!! Apa ak-"
"Sttttt… jangan berbicara lagi!!"
Satria sangat kesal, kenapa firda masih saja menangisi wanita yang sudah tega menyiksa, membuang, bahkan menjual dirinya? Kenapa gadis ini terlalu baik kepada semua orang termasuk wanita itu? Pikir Satria heran.
Setelah beberapa menit akhirnya isakan Firda terhenti, Satria juga langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Firda yang sembab itu, ia mengecup kedua kelopak mata yang bengkak akibat menangis itu dengan singkat.
"Istirahatlah!" Firda menggelengkan kepalanya yang membuat Satria mengangkatkan alisnya karena heran.
"Aku mau menunggu suamiku selesai mandi! Baru kita istirahat bersama!" Tutur Firda yang diakhiri dengan senyuman khasnya walau dengan mata yang bengkak.
Telinga Satria kini terasa terbakar mungkin sudah merah akibat ucapan Gadis didepannya.
"Tunggu aku lima belas menit!" Ucap Satria yang langsung pergi meninggalkan Firda yang masih duduk di tempatnya setelah mengacak-ngacak rambut Firda.
Firda langsung duduk di tepi ranjang, ia menatap setiap sudut kamar yang kini ternyata dilengkapi dengan barang-barang milik Firda yang entah kapan dipindahkan kesini, bahkan piyama tidurnya juga tadi sudah berada diruang ganti bersama piyama Satria.
"Apa Satya juga memindahkan pakaian dalamku? Ouh memalukan sekali!!" Ucap Firda dengan histeris mengingat bagaimana cara laki-laki itu memindahkan pakaian dalam wanita milik Firda.
"Apa mungkin para maid? Tidak mungkin bukan jika Satria yang memindahkannya?" Pikir Firda lagi sambil bermonolog.
"Sebetulnya rutinitas pengantin saat malam setelah pernikahan apa sih?" Pikir Firda yang langsung mencari keberadaan handphonenya.
"Apa harus selalu melakukan hubungan intim? Tidak kan? Tubuhku saja ingin segera tidur!" Gumam Firda lagi.
Firda yang sudah menemukan handphonenya langsung ia urungkan niat saat ingin searching di google, ia lebih baik ikuti alur malam ini saja, yah walau sebenarnya ia agak takut membayangkan hubungan suami istri seperti itu.
Suara Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Firda terlonjak kaget karena ia yang sedang melamun barusan, dan sialnya lagi disana terdapat Satria yang hanya memakai handuk dari mulai perut sampai lututnya, tentunya dada bidang yang sispax itu begitu jelas terlihat dihiasi oleh roti sobeknya, otomatis Firda langsung meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Memikirkan apa hmm?" Firda langsung memalingkan wajahnya saat ketahuan menatap tubuh laki-laki itu.
"Ke…kenapa kau tidak pakai baju?" Tanya Firda dengan nada kesalnya.
__ADS_1
"Aku lupa membawa baju ganti!" Jawab Satria dengan senyum miringnya dan langsung pergi keruang ganti meninggalkan Firda yang tengah salah tingkah itu.
Firda langsung menghela nafas lega saat melihat kepergian Satria, ia juga menidurkan tubuhnya yang terasa begitu pegal ke atas ranjang ukuran king size itu.
"Nikmat sekali rasanya!" Gumam Firda dan langsung berguling di atas ranjang Satria.
Namun tiba-tiba pergerakan Satria yang menaiki kasur langsung disadari oleh Firda. Firda langsung bangkit dan bergeser agar tidak ke sebelah Satria.
"Ayo kita tidur!" Ajak Satria pada Istrinya sambil menepuk bantal sebelahnya.
"Emhh iya!" Jawab Firda gugup dan langsung merangkak menghampiri posisi Satria.
Satria langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping menghadap ke tempat Firda. Begitu pula dengan Firda yang langsung merebahkan tubuhnya dengan menghadap pada wajah Satria.
Tangan satria langsung menarik tubuh Firda agar merapat dengannya.
"Tak baik suami istri tidur berjauhan!" Ucap Satria dengan suara seraknya.
' Kenapa mempesona sekali laki-laki ini tuhan! Apa dia suamiku? ' Jerit Firda dalam hatinya.
"Kita akan tidur bukan?" Tanya Firda tiba-tiba.
"Tentu tidur! Memangnya kita akan melakukan apa selain tidur hmm?" Tanya Satria yang tahu jika Firda sedang dilanda gugup kali ini.
"Mak…maksudku apa kita tidak akan makan? Ya makan!" Jawab Firda dengan hati yang mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya bertanya seperti itu, apalagi posisi mereka sangat intim sekarang.
"Bukankah kita sudah makan malam tadi diperjalanan pulang? Apa.kau lapar?" Tanya Satria dengan sengaja memancing Firda.
"Tidak! Lupakan saja!" Ucap Firda yang langsung memejamkan matanya menghilangkan kegugupannya.
Satria semakin mendekatkan wajahnya pada Firda dan berbisik di telinga Firda.
"Apa kau siap menyerahkan mahkotamu malam ini hmm?" Tanya Satria dengan suara seraknya.
Otomatis Firda langsung membuka matanya dengan sempurna dan hal yang dia lihat pertama kali adalah wajah Satria yang begitu dekat hingga hanya tinggal satu centimeter jaraknya.
"Mak-maksudnya?" Tanya Firda gugup.
"Kau tahu maksudku!" Jawab Satria dengan senyum miringnya.
"Apa kau siap?" Tanya Satria lagi sambil menempelkan wajahnya pada wajah Firda yang otomatis Firda menutup matanya.
Perlahan Satria ******* bibir Firda, dan terjadilah malam pertama mereka berdua dan malam ini menjadi malam yang panjang dan bersejarah bagi mereka berdua.
__ADS_1