Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
66. Balon udara


__ADS_3

"Wake up Beby!"


Cup…


Satria membangunkan Firda setelah ia tiba di. tempat tujuannya yang membutuhkan waktu setengah jam.


"Enghhh!" Firda melenguh pelan dan mencoba untuk membuka matanya, ia masih bisa mendengar suara helikopter dengan baling-balingnya yang masih berputar, otomatis dia masih berada di atas bukan? Pikir Firda.


Seketika Firda membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat pemandangan indah di bawah.


"Sat…Satya!" Panggil Firda dengan terbata karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kau suka hmm?" Tanya Satria sambil mengelus kepala Firda lembut.


Hey!! Pertanyaan bodoh apa itu? Memangnya siapa yang tidak suka jika diperlakukan seperti ini? Di bawah sana terdapat hamparan hijau seperti taman, namun yang paling penting ialah sketsa yang terbuat dari bunga mawar putih dan berbentuk namanya dan nama Satria begitu jelas terbaca dari atas.


...SATRIA AND FIRDA...


...Welcome my wife...


...Welcome to the William family...


Seperti itulah mungkin isi tulisan yang terbuat dari bunga mawar putih itu, yang luasnya entah berapa meter.


"Satya! Aku mau kebawah!" Tutur Firda sambil menatap wajah Satria meminta persetujuan.


"Of course!" Ucap Satria sambil kembali memeluk tubuh mungil Firda dafi belakang.


Juan langsung mendaratkan helikopter untuk memenuhi permintaan nona mudanya, namun ia mendaratkannya agak jauh dari tempat tujuan, pasalnya ia tidak mau kalau sampai bunga-bunga itu hancur akibat angin yang disebabkan oleh helikopter.


Setelah mendarat dengan sempurna Firda langsung keluar dengan tak sabar, ia menjinjing dan mengangkat gaun pernikahannya dan langsung berlari ke taman indah itu.


Satria yang melihat itu tentu khawatir, pasalnya Firda tidak memakai alas kaki apapun karena Heels tadi di lepas.


"Jangan berlari terlalu cepat!" Tutur Satria namun tak di dengar oleh Firda.


Firda langsung memetik salah satu bung mawar putih disana dengan hati-hati, rasanya begitu tenang memandang pemandangan yang menyejukkan matanya ini.


"Apa kau happy hmm?" Tanya Satria sambil memeluk tubuh Firda dari belakang.


"Sangat!" Jawab Firda sambil memejamkan matanya menikmati setiap hempasan angin yang menerpanya.

__ADS_1


"Terima kasih Satya! Terima kasih!" Firda langsung membalikkan tubuhnya menghadap pada Satria.


"Terima. kasih karena telah menjadikan aku wanita paling bahagia di hari istimewa ini! Terima kasih sudah menerimaku yang penuh dengan kekurangan ini! Terima kasih telah hadir di hidupku! Terima kasih…" Firda meneteskan air matanya karena terlalu bahagia saat ini.


Satria menangkup wajah Firda dan menghapus air mata gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu.


"Don't cry! I don't like!"


Satria mendekatkan wajahnya pada wajah Firda, hidung keduanya beradu, Satria langsung memiringkan kepalanya dan langsung mengecup bibir Firda singkat namun ia lakukan beberapa kali.


"Sekarang kau Milik Satria Arnold William seutuhnya!" Tegas Satria.


"Dan aku milik Firda Permata seutuhnya!" Firda tersenyum mendengar penuturan tegas dari laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Firda tidak menyangka akan melangkah sejauh ini dengan laki-laki yang dulu pernah ia benci karena sikapnya yang menyebalkan, namun ia sadar dibalik semua itu Satria sangat berpengaruh pada hidupnya akhir-akhir ini, ia selalu berada di sampingnya, ia selalu mendukungnya, Firda yakin dengan keputusannya, Firda yakin bahwa Satria yang akan menjadi Sandara hidupnya mulai saat ini, karena Firda yakin akan hal itu.


"Kau mau naik balon udara?" Tanya Satria tiba-tiba.


"Tentu!" Mendengar jawaban antusias Firda, Satria langsung menarik tangan Firda untuk mengikutinya ke arah balon udara yang telah siap terbang. Namun, ia menghentikan langkahnya dan langsung menggendong Firda ala bridal style karena merasakan Firda yang kesusahan akibat gaun pernikahannya.


"Gaun ini menyusahkan mu bukan?" Tanya Satria.


"Hmm! Tapi aku suka!" Jawab Firda.


"Ish… sembarangan!" Firda langsung memukul dada bidang Satria karena kesal.


"Apapun yang pernah menyusahkanmu, aku tak akan segan-segan membuangnya!" Ujar Satria.


Ia langsung menurunkan tubuh Firda saat sudah sampai di dalam balon udara yang sudah di siapkan bahkan hanya tinggal terbang saja.


Tak lama setelah Satria mengutak-atik semuanya akhirnya balon udara tersebut perlahan naik ke udara.


"Waw!" Firda kini bisa melihat kembali bunga tadi yang berbentuk namanya dan juga Satria, ia juga bahkan bisa melihat pulau-pulau kecil yang tak jauh dari sana.


"Satria ini begitu indah dan juga cantik!" Ucap Firda senang.


"Tapi gadis yang bersamaku lebih indah dan juga cantik!" Firda merasakan pipinya yang panas akiba ucapan Satria, Firda langsung berjinjit dan menarik leher Satria untuk menyamakan tingginya dengannya.


Cup…


"Thank you My husband!" Ucap Firda setelah mengecup bibir Satria singkat.

__ADS_1


"Your welcome baby!"


Satria langsung memeluk tubuh Firda dengan erat menikmati hembusan angin dan balon udara yang terbang semakin tinggi. Hamparan hijau hanya bisa menyaksikan keda insan tanpa mengganggu ketenangan keduanya, suasana hari ini sangat mendukung untuk kedua pengantin itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"KENAPA SIH KALIAN GAK BECUS BANGET JADI MANUSIA?"


"Kau ini terus saja berteriak! Kita tidak tuli ya!" Ucap Rani pada anak tirinya.


"DIAM!"


"MASAK ULANG LAGI! AKU TAK MAU MASAKAN SAMPAH SEPERTI INI!!" Rani benar-benar kaget, ini sudah masak yang keberapa kalinya ia dan Karina memasak untuk jelmaan nenek lampir ini.


Namun dering ponsel Ansela Langsung berbunyi, ia bisa melihat nama ayahnya tertera jelas disana.


"Hallo ayah! Tumben Ayah hubungi Ansela siang-siang! Ayah udah makan?" Tanya Ansela lembut.


"Ayah udah makan kok sayang! Ngomong-ngomong ibu kamu kemana ya? Dari tadi dia gak jawab panggilan telepon dari ayah!" Ucap Riko terdengar suara khawatir disana.


"Ouh Ibu ya?" ucap Ansela sambil menatap Rani dengan remeh.


"Pasti dia sedang tidur siang setelah melakukan makan tadi ayah! Apa harus ku panggilkan?" Tanya Ansela lagi.


"Tak perlu sayang! Biarkan ia istirahat! Apa adikmu sekolah?" Tanya Riko lagi.


"Aku barusan melihatnya di area ruang tamu, mungkin ia bolos hari ini!" Karina yang hendak berbicara langsung ditahan oleh Rani agar tak bersuara.


"Baiklah! Nanti biar ayah yang tegur Karin! Ayah kerja lagi ya sayang!"


"Tentu Ayah! Selamat siang ayahku!"


"Too!" Riko langsung mematikan sambungan teleponnya.


"KENAPA KAU BILANG AKU BOLOS HAH? BUKANNYA KAU YANG MELARANG AKU UNTUK PERGI KE SEKOLAH HAH?" Ucap Karina tak terima.


"Hey! Buat apa kau sekolah jika sifatmu saja seperti orang yang tak berpendidikan? Kau hanya membuang-buang uang ayahku saja! lebih baik uang itu buat aku bukan? Itu lebih baik bukan?" Ansela langsung tertawa lepas setelah mengucapkan itu.


"Dasar rubah licik!" Ujar Karina kesal.


"Sttttt… bukankah kalian juga rubah yang licik? jadi lebih baik sekarang kalian masak kembali untuk diriku!" Ucap Ansela dengan tegas.

__ADS_1


Rani langsung menarik tangan Karina agar ikut bersamanya pergi ke dapur untuk melayani Ansela.


__ADS_2