
GREP…
Sepasang tangan kekar memeluk tubuh Firda yang kini sedang berkutat dengan peralatan dapur di apartemen.
"Kau sudah bangun? Mau sesuatu untuk di makan pagi ini?" Tanya Firda sambil mengelus tangan Satria dengan sebelah tangannya yang tidak ia gunakan.
"Aku mau memakan mu saja!" Jawab Satria dengan suara beratnya.
"Aku mau minta sama bunda agar kamu pulang ke mansion mulai sekarang, kamu meresahkan jika disini terus!" Tutur Firda mengancam Satria.
"Tidak aku tidak mau!!" Tolak Satria sambil mengeratkan pelukannya.
"shhh… Jangan terlalu kencang! Lukanya belum kering!" Mendengar hal itu Satria langsung melonggarkan pelukannya dan langsung melihat ke ara punggung Firda.
"Masih sakit?" Tanya Satria sambil mengelus pelan punggung Firda.
"Tidak terlalu! Hanya saja takut lukanya gatal terus infeksi lagi!"
"Kalau gatal usahain jangan di garuk biar gak infeksi dan nyebar kemana-mana!" Tegas Satria.
"Iya-iya!! Sebaiknya kau mandi terlebih dahulu! Setelah itu kita sarapan!!" Jawab Firda mengalah.
"hmm baiklah!!"
CUP…
Setelah mencium pipi kanan Firda Satria langsung pergi begitu saja dengan tampang tak berdosa nya, bisa-bisanya dia pergi setelah membuat hati dan jantung Firda meledak di dalam sana! Pikir Firda sambil menetralkan jantungnya.
"Huhft… Status gak ada, kerjaannya nyosor terus!" Gumam Firda kesal sambil melanjutkan acara memasaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini jadwalnya Satria pergi ke kantor sang ayah untuk membantunya karena ada pertemuan dengan klien dan menjalin proyek baru William Group kebetulan kerjasama ini dilakukan dengan Gabriel Group tau keluarga Farhan.
"Ayo!" Satria mengulurkan tangannya kepada Firda agar ia berpegang padanya.
Firda hanya menerimanya tanpa mau berdebat lama dengan laki-laki di depannya. Mereka berdua langsung masuk ke lobby utama perusahaan Saka dan tentu menjadi sorotan publik karena sang tuan muda untuk yang keberapa kalinya membawa Firda ke sana.
"Semua orang menatapku aneh dan jijik! Apa aku terlihat seperti gelandangan yang begitu menyedihkan?" Tanya Firda pelan saat tak.sengaja menatap para kaum hawa yang menatapnya dengan tatapan jijik.
Sial sekali Satria sangat. kesal mendengarnya lalu menatap arah pandangan Firda apalagi ia langsung melihat karyawan laki-laki yang sejak tadi menatap Firda terus menerus. Ia dengan refleks langsung memberhentikan langkahnya dan menatap seluruh karyawan yang berada di sana.
"TUNDUKKAN PANDANGAN KALIAN! DAN KEMBALI BEKERJA!!" Semua orang di lobby langsung gelagapan dan kembali ke tempat masing-masing.
"Kenapa kau begitu marah? Tenanglah! Bahkan mereka tidak mengatakan apapun tadi!!" Tanya Firda heran sambil mengelus lengan Satria yang di balut jas hitam itu.
"Mereka membuatku kesal lagi ini!" Jawab Satria yang langsung menarik pinggang Firda posesif dan kembali meneruskan langkahnya.
Sedangkan Juan yang sejak tadi berada di belakang Satria dan Firda tidak ikut melanjutkannya langkahnya, ia malah mengekori para karyawan wanita yang kini sedang menggunjing nona mudanya.
"Wanita itu pasti wanita malam! Wajahnya so polos padahal aslinya biadab! cih tuan pasti tertipu dengan rayuan j*lang itu!!"
__ADS_1
"Kau benar! Dulu saja gayanya kampungan banget! Pasti dia itu cuma ngincar harta Mr. William! Kasihan banget tuan muda! Bisa-bisanya ia kecantol sama model nya yang kayak gitu!"
"Menurut aku sih ya! Lebih baik nona Anita aja yang cantik dan body nya tuh gak main-main!"
"Nah betul sekali!!"
Ke tiga wanita itu tidak sadar jika pembicaraan mereka begitu terdengar jelas di telinga Juan saat ini, dan jujur ia sangat. marah.
Ekhem…
Ketiga wanita menegang kaku saat melihat ke asal sumber suara.
"Tuan muda menunggu surat resign kalian hari ini!!" Tutur Juan yang langsung pergi dari sana, ia takut kelepasan jika sudah marah seperti ini.
Mereka bertiga langsung pucat pasi mendengar perkataan tangan kanan Tuan mudanya, siapa yang bisa melawan perintah tangan kanan tuannya? Jawabannya tidak ada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rapat kini sedang berlangsung dengan pembahasan proyek baru serta kerja sama antara William Group dan Gabriel Group, kebetulan disana juga terdapat Farhan yang ikut serta membantu ayahnya, sudah seminggu ini Farhan membagi waktunya untuk RS dan juga kantor ayahnya.
"Jadi proyek ini aka di pegang langsung oleh putraku Satria dan di dampingi oleh Farhan! Bagaimana?" Tanya Saka.
"Aku sarankan agar Farhan berjalan di bagian kepegawaian, biar Satria yang mengurusnya, pasalnya putraku belum berpengalaman jadi biarkan dia melakukan proyek secara bertahap!" Jawab Ares.
"Bagaimana Satria? Kau sanggup memegang kendali proyek sendiri?" Tanya Saka memastikan.
"Hmm!" Jawab Satria dengan anggukan kepalanya.
"Nanti perihal bahan bangunan untuk proyeksi kita kali ini kita bekerja sama dengan Pak Rio, kebetulan dia akan datang pada acara makan siang nanti!" Ujar Saka yang hanya di angguki oleh Ares dan juga semua orang disana.
"Satria! Panggil putriku!" Ujar Saka yang di balas oleh tatapan malas dari Satria.
"Aku sudah tahu!" Jawab Satria yang masih tetap berada di tempat duduknya, tak lama pintu ruangan terbuka menampilkan Firda yang kini berdiri canggung saat melihat banyak orang di ruangan makan ini, ia di antar Juan sesuai perintah dari Satria.
Firda menyapu ruangan besar itu, ia juga tak sengaja menangkap sosok dokter yang bernama Farhan yang kini tengah meminum jus jeruk sambil berbincang entah dengan siapa Firda tidak tahu.
Satria berjalan ke arah Firda dan mengulurkan tangannya. Dengan gugup Firda meraih tangan Satria dan mengikuti langkah Satria dengan beriringan.
"Duduklah!" Satria mempersilahkan Firda duduk tepat di samping kursinya.
Tanpa mereka sadari seseorang kini tengah menatap kesal ke arah dua orang berbeda jenis kelamin itu, hatinya merasa terbakar melihat adegan itu.
"Sudah berkumpul semua? Jika sudah mari kita mulai makan siang hari ini!"
Acara makan kini berjalan dengan khidmat, tak ada pembicaraan dalam ritual makan karena sudah menjadi peraturan tersendiri.
Firda juga makan dengan tenang walau hatinya terasa canggung karena banyak orang yang kadang menatapnya heran karena mungkin ia tidak ada yang mengenalinya.
Setelah acara maka selesai semua orang disana bertukar cerita terkadang juga sambil tertawa lepas. Namun Firda hanya mendengar saja tanpa ikut nimbrung, begitu juga Satria yang sejak tadi terus diam sambil memegang tangan kiri Firda dan terkadang memainkannya.
"Om Saka! Satria makin lama makin ganteng yah!" Celetuk seorang wanita secara tiba-tiba yang membuat semua orang terdiam karena keberanian wanita itu.
__ADS_1
"Hahaha Maaf Saka! Putriku selalu bercanda tak tahu tempat!" Ujar seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Rio, kebetulan dia datang bersama putrinya ke acara makan siang hari ini.
"Tidak apa-apa!" Jawab Saka dengan nada biasa.
"Emang bener kok! Satria sudah cocok nih usianya kalau sekarang nikah! Gimana kalau Satria nikah sama aku aja om!" Ujar Wanita itu lagi yang tak lain adalah Laura dengan sejuta keberaniannya.
Satria yang mendengar akan hal itu langsung merah padam, bukan salting justru ia malah kesal dan ingin sekali ia memukul wajah tampang tak berdosa Laura.
Satria juga bisa merasakan tangannya yang kini di peras oleh Firda, yah Satria tahu gadis di sampingnya sedang kesal.
"Laura! Jaga bicaramu!" Tegus Rio.
"Kenapa emangnya? Lagian Satria juga pasti tidak punya pacar, iyakan? Satria bagaimana kalau nanti malam kita kencan?" Tanya Laura dengan sangat berani.
"Laura! Cukup!!" Tegur Rio lagi karena sudah tak enak saat melihat air muka Satria dan juga Sama yang sudah berubah. Aura disana juga sangat mencekam terlebih para pegawai disana tak ada yang berani berkutik sedikitpun setelah mendengar perkataan Laura yang sangat berani, apakah wanita itu tidak melihat jika di samping tuan mudanya ada seorang gadis? Sungguh keberanian yang patut di beri penghargaan.
"Acara makan siang. akan berakhir dalam waktu satu menit, jika sudah selesai para staff boleh melanjutkan pekerjaannya!!" Ujar Saka mengubah suasana canggung barusan.
Para pegawai yang tak mau berada dalam kecanggungan langsung keluar dengan tertib.
"Kau cemburu?" Bisik Satria pelan di telinga Firda.
Bukan malah menjawab, Firda justru memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tangannya yang dilepaskan dari genggaman Satria secara paksa.
Satria yang melihat Firda seperti jadi lebih kesal pada Laura, lihatlah! ia saat ini malah di acuhkan oleh gadisnya gara-gara wanita sialan itu!.
CUP…
Dengan secara tiba-tiba Satria mencium pipi Firda di hadapan para tamu yang tersisa termasuk Laura dan juga Farhan serta ayahnya.
"Jaga bicara anda Nona Laura! Gadis saya jadi marah karena mu!" Desis Satria yang langsung menarik tangan Firda agar ikut dengannya untuk keluar dari ruang makan itu.
Laura menatap kepergian mereka dengan tatapan marah. Sedangkan semua orang disana menatap adegannya dengan tak percaya, apakah itu benar putra tuan Saka yang terkenal dingin dan tak berperasaan? Jika benar, tolong abadikan memori ini dalam otak mereka.
"Maaf Saka! Aku telah mengacaukan acara cuci mulut makan siang hari ini!" Tutur Rio dengan tulus karena tidak enak, terlebih pada gadis yang statusnya kini mungkin sudah menjadi kekasih Satria.
Sedangkan Saka hanya mengangguk datar karena ikut kesal dengan kejadian barusan, jika istrinya tahu perihal ini, ia akan marah pastinya karena membuat calon menantunya kesal.
.
.
.
.
.
.
..
__ADS_1
.
.