
Malam ini sayup-sayup terdengar suara pukulan dan erangan keras dari luar, Firda yang kebetulan berada di kamar penasaran karena. suara itu bercampur dengan suar derasnya air hujan diluar.
Ceklek…
Tubuh Firda membeku saat melihat pemandangan didepannya, disana terdapat Satria yang sedang memukul satu persatu bodyguard yang kini hampir memenuhi ruangan apartemennya.
"Lanjut!" Ujar Satria dan langsung di hampiri oleh bodyguard yang belum terkena pukulannya.
BUGH…
BUGH…
"Stop Satria STOP!" Namun bukannya berhenti Satria terus meminta setiap bodyguard yang belum di pukul untuk maju, begitu juga dengan para bodyguard yang tak mendengarkan ucapan Firda yang pastinya jelas terdengar.
"Nona sebaiknya anda masuk kembali!" Ujar Juan yang menghadang Firda agar tidak menghampiri Satria.
"Kenapa Satria memukuli mereka? Apa salah mereka?" Tanya Firda heran sekaligus panik melihat hal itu.
"Ini salah mereka juga nona! Mereka tidak bekerja dengan teliti hingga nona mendapat teror beberapa jam yang lalu!" Juan menjawab pertanyaan Firda dengan menunduk tanpa melihat wajah Firda.
Berbeda dengan Firda yang kini begitu tercengang mendengar alasan Satria yang kini tengah membabi buta memukul setiap bodyguard. Jadi alasan Satria hanya karena ia mendapat kiriman paket mengerikan tadi?.
"Minggir!" Juan yang tidak siap mundur beberapa langkah ke belakang saat di dorong oleh Firda.
"Satria STOP! APA YANG KAMU LAKUKAN?" Firda berlari ke arah Satria yang seakan tuli dengan teriakannya.
DUG…
Dada Firda terkena sikut Satria akibat Firda tak hati-hati saat mendekati Satria yang sedang memukul para bodyguard. Dada nya terasa sesak karena walaupun tak sengaja kekuatan Satria tak main-main.
"Nona!" Ujar Juan panik melihat Firda yang hampir tersungkur gara-gara tuan mudanya.
Tanpa menghiraukan rasa sakitnya dengan cepat Firda menahan tangan kekar milik Satria yang hendak ingin Memukul dan tangan kanannya yang menyentuh dada Satria. Namun tiba-tiba pergerakan Satria berhenti begitu saja setelah Firda menyentuhnya, Juan yang melihatnya ikut terkejut dengan apa yang kini terjadi.
' apa benar itu tuan muda? ' ucap Juan dalam hatinya.
Biasanya tuan mudanya tidak akan ada yang berani melerai ketika ia sedang marah, bahkan yang melerai akan kena imbasnya seperti kena pukulan atau malah di pukul dengan cara sengaja. Dan apa ini? Hal diluar nalar sekali tuan mudanya berhenti hanya karena seorang gadis yang dulu ia beli dari club malam.
"Stop Satria! Mereka tidak salah!" Satria menatap Firda teduh bercampur keringat dan wajah yang memerah, perlahan Firda menurunkan tangan Satria yang berada di udara dengan tangan kanannya yang setia mengelus dada bidang Satria pelan untuk meredakan emosinya.
"Kesalahan tetap kesalahan!" desis Satria.
"Semua manusia bisa melakukan kesalahan bukan? Bahkan kau juga pernah melakukannya!" Satria terdiam mendengar perkataan Firda.
"Kalian keluarlah! Lalu obati luka kalian!" Ucap Firda pada semua bodyguard disana, para bodyguard hanya saling memandang karena bingung, namun saat mereka mendapat tatapan maut dari Satria langsung mengangguk dan pergi keluar dari apartemen Firda.
__ADS_1
"Duduklah! Tangan mu memar! Bukannya lukamu belum sembuh akibat luka pecahan kaca?" Firda tak habis pikir pada Satria yang masih tetap kuat memukul orang lain dengan kondisi tangan yang masih di perban, pasti luka di dalamnya berdarah lagi, pikir Firda.
Satria langsung duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya pada punggung sofa, ia juga memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya yang masih tersimpan dan belum keluar semua. Sedangkan Firda dengan telaten mengganti perban Satria yang kini sudah tak terbentuk lagi akibat brutalnya dia memukul para bodyguard.
Uhuk… Uhuk…
Firda terbatuk akibat Nafasnya yang terasa sakit akibat tadi terkena sikut Satria, namun Firda tidak mau terlihat kesakitan oleh Satria, ia tidak ingin laki-laki ini merasa bersalah.
"Nona! Apa kau baik-baik saja?" Tanya Juan yang melihat raut Firda yang sedang menahan sesuatu. Tatapan Satria langsung teralih pada Juan seakan bertanya.
Uhuk…. Uhuk…
Firda menggelengkan kepalanya dan terbatuk kembali.
"Ada apa dengannya?" Tanya Satria pada Juan.
"Aku tidak apa-apa!" Jawab Firda cepat dan langsung menatap Juan.
"Nona sebaiknya anda periksa takut nafas anda sakit karena pukulan keras tadi!" Namun dengan sengaja juan mengatakan itu agar di dengar oleh tuan mudanya, Satria yang mendengar itu langsung tersadar sesuatu, ia ingat tadi dengan tak sengaja pukulannya mengenai dada gadis ini sebelum ia menenangkan dirinya.
"****!" Satria langsung menggendong Firda ala bridal style dan langsung di bawa masuk ke dalam kamar milik Satria.
"Kenapa tuan malah membawa nona ke kamar?" Pikir Juan heran pada tuan mudanya, ia pikir tuannya akan membawanya ke rumah sakit.
Namun tanpa berpikir panjang Juan Langsung keluar dari apartemen Firda tak lupa ia menguncinya, setelah itu Juan langsung menuju apartemen sebelahnya lagi untuk beristirahat,
Berbeda dengan dua orang yang berbeda jenis di kamar nuansa gelap ini,
"Buka kancing piyama mu yang paling atas!" Tutur Satria setelah menurunkan Firda di atas ranjangnya.
"Ka…kau mau apa?" Tanya Firda gugup.
"Ku ingin melihat lukamu! Jangan berpikir kotor!" Satria menonyor kening Firda pelan.
Firda membukanya dengan takut-takut melihat tatapan datar Satria saat ini. Setelah terlihat Firda membukanya, Satria langsung menyentuh piyama Firda dan melihat bagian atasnya. Satria terpaku melihat kulit Firda yang putih dan di sana terdapat memar berwarna ungu bercampur biru akibat Satria tadi.
Satria membawa salep dari dalam laci nakasnya, Satria mendekati Firda yang kini hanya berjarak beberapa centimeter, Satria dengan telaten mengobati memar di dada atas Firda.
"Bernafas bodoh!" Geram Satria kesal saat melihat Firda yang begitu tegang dan tak bernafas sama sekali.
"Huuhhh!" Firda membalikkan badannya dan. langsung mengancingkan kembali piyamanya.
Satria berjalan menuju ruang ganti pakaian di kamarnya, sedangkan Firda hanya berdiam diri enggan untuk pergi, matanya terus menyapu ruangan bernuansa gelap itu, tak ada apa-apa tentang Satria disana, pasalnya ini apartemen baru-baru ini di huni.
Firda mengelus dadanya yang tinggal sakit sedikit karena memang tidak parah, nafasnya juga sudah membaik. Tanpa meminta persetujuan Firda langsung merebahkan tubuhnya di bantal yang ada di sana, terdengar hujan deras dari arah luar menandakan bahwa hujan masih tetap turun membersamai malam yang hening ini.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Tanya Satria heran saat kaki Firda di tekuk di perutnya.
"Cuacanya dingin sekali, sweaterku kotor gara-gara tadi, tak ada baju hangat lain punyaku di kamar!" Ujar Firda.
Satria menghela nafas pelan dan tersenyum miring sesaat, ia tidak memperkirakan cuaca akhir-akhir ini, ia malah menyuruh Juan membelikan baju biasa semuanya waktu itu tapi ini ada untungnya juga ketika memikirkan rencananya.
Satria meraih Hoodie besar miliknya, kebetulan disana juga terdapat satu-satunya, ia langsung memakainya dan langsung naik ke ranjang menghampiri Firda yang sedang meringkuk di atasnya.
"Masuklah!" Satria merentangkan tangannya dengan membuka Hoodie yang ia pakai dan menyuruh Firda masuk ke dalamnya.
"Sa…satu Hoodie?" Tanya Firda kaget yang masih setia berbaring di ranjang ukuran king size itu.
"hmm!" Jawab Satria dengan posisinya yang masih berdiri dan dengan posisi yang sama.
Firda menatap laki-laki didepannya tajam, dia gila? Pikir Firda.
"Tawaran hanya berlaku tiga puluh detik, jika kau tidak masuk berarti kau akan tidur hanya di balut selimut saja dan akan tetap kedinginan!" Firda menatap Satria tajam lagi, bisa-bisanya Satria memberikan opsi rumit ini, namun mau bagaimana lagi? Malam ini benar-benar dingin sekali, bahkan kini tangan dan kaki Firda sudah hampir beku rasanya. Tiba-tiba Satria menidurkan tubuhnya dan menghadap ke arah Firda.
GREP…
Bukan Firda yang memeluk Satria, melainkan Satria yang menarik lengan Firda hingga ia masuk ke dalam Hoodie miliknya. Perlahan tangan Firda melingkar di tubuh Satria.
SREK…
Satria menaikan resleting Hoodie yang kini di pakai untuk dua tubuh itu, untungnya Firda kecil, jadi ia dapat masuk ke dalamnya.
"Tidurlah!" Ujar Satria yang kini memeluk Firda.
"Seperti ini?" Ucap Firda gugup.
"Keluarlah kalau begitu!" Ucap Satria dan bergerak untuk membuka resleting Hoodienya.
"Tidak Tidak! Tubuhku nanti membeku!" Firda mengeratkan pelukannya di dalam sana, dan tanpa sadar Satria menyunggingkan senyumnya dan langsung mengangkat Selimut untuk menutupi kedua tubuh yang se Hoodie itu.
"Maaf telah membuatmu marah kemarin!" Ucap Firda di dalam pelukan Satria namun masih bisa terdengar jelas di telinga tajam Satria.
Namun bukannya menjawab justru Satria malah memeluk Firda erat, entah itu sebagai jawaban atau hal lainnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.