
Sore ini Satria masih sibuk dengan pikirannya, tidak ada yang menemukan sosok gadisnya itu, padahal tidak biasanya Erik susah dalam melacak, dimana sepertinya gadisnya itu.
Satria sudah berpenampilan yang acak-acakan saat ini, dasi yang sudah tak berbentuk, rambut yang berantakan, bajunya yang sudah kusut, dan di tambah wajah yang rata seperti tembok.
"Kapten! Apakah anda belum melihat CCTV?" Tanya Erik yang tiba-tiba datang menghampiri Satria yang baru saja duduk selepas mencari Firda.
"Ada masalah?" Tanya Satria yang tidak melihat ke arah Erik sedikitpun.
"Kapten beberapa menit sebelum kita menyelesaikan rapat pertama, Anita datang ke ruangan anda, dan bisa dipastikan dia bertemu dengan nona!" Satria langsung merogoh ponselnya dari saku jas nya dan langsung melihat rekaman CCTV ruangannya.
Namun sayangnya handphone Satria malah loading saat membuka akses CCTV ruangannya.
BRAK…
Dengan kasar Satria membanting handphonenya ke lantai karena kesal.
"Ambilkan tab ku!! CEPAT!!" Ucap Satria kesal.
Dengan cepat Erik membawa tablet milik orang itu.
' Kapten! bisakah anda sabar sebentar saja! hari ini terasa begitu panjang saat melihat anda seperti ini ' gumam Erik sambil menyodorkan tablet kaptennya.
Satria menatap tajam layar tabletnya dan tak lama ia mengepalkan tangannya saat melihat kejadian yang sebenarnya, ia menyesal telah menyuruh Firda pergi dari ruangannya, ia menyesal tidak mendengar penjelasan Firda dan ia juga menyesal tidak mengecek kejadian yang sebenarnya di CCTV.
"Arghhhh…!!" Satria mengacak rambutnya prustasi karena ia semakin merasa bersalah pada Gadisnya, dimana gadisnya sekarang? Apakah ia tersesat? Apa ia sudah makan siang? Apa ia di ganggu oleh laki-laki lain seperti waktu lalu? Arghhhh memikirkannya saja membuat Satria kembali prustasi.
Suara dering ponsel Erik mengalihkan pandangannya yang sedang bingung menghadapi Kaptennya.
Erik heran mengapa Tuan besar menelponnya, namun saat ia mengangkat ternyata Saka ingin berbicara dengan putranya.
"Kapten! Tuan Besar menelpon, ia ingin berbicara dengan anda!" Ucap Erik pada Satria yang langsung menyodorkan benda pipih nya pada Satria dengan was-was, pasalnya ia takut nasib handphonenya seperti handphone kaptennya yang di banting beneran menit lalu.
"Hallo!"
"Hai Boy! Bagaimana kabarmu? Kau sedang kacau? Kau tak bisa dihubungi barusan! Apa handphone mu sudah rusak?" Tanya Ayahnya di sebrang sana.
"Aku tidak punya waktu bercanda bersama anda tuan!!" Tegas Satria kesal.
"Tenang dulu boy! Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu, tapi sebelum itu memohon lah terlebih dahulu padaku agar aku mengatakannya!"
"Sinting!" Ucap Satria datar.
"Wah…wah…wah… kau tak ingin ku beritahu tentang calon menantuku? Baiklah-baiklah akan ku tutu-"
"Katakan cepat atau akan ku ratakan kantormu sekarang juga!" ucap Satria kesal mendengar sesuatu tentang gadisnya, yah memang tidak bisa dipungkiri lagi jika Saka mengetahui keberadaan gadisnya, pasalnya pelacak tercepat di dunia berada di tangan Ayahnya.
"Hahahaha! Oke tenang saja! Dia baik-baik saja boy! Kau begitu peka kalau terkait dengan calon menantuku!"
"Katakan sekarang dimana gadisku?" Tanya Satria geram pada ayahnya yang bertele-tele, ia pikir Satria dapat di ajak bercanda saat ini? Hari-hari baiknya pun ia tidak bisa di ajak bercanda apalagi situasi genting seperti ini?.
__ADS_1
"Baiklah akan ku kirimkan alamatnya sekarang! Kebetulan anak buahku sedang menjaganya!" Tutur Saka.
"Kenapa tidak kirim saja langsung alamatnya kepada ku HAH? Dan beritahu pada anak buahmu agar tidak menyentuh gadisku seujung kuku pun, jangan menatap gadisku lebih dari tiga detik, dan jangan awasi dia jangan sampai terluka secuil pun!"
"Aku hanya ingin meledek mu saja boy! Kau kurang ahli dalam hal ini! Hahahah!"
Tut!…
Saka mematikan sambungan teleponnya dan tak lama notifikasi masuk tanda pesan alamat itu sudah dikirim.
"Erik! Ikut aku!" Ucap Satria melihat alamat yang tertera, ia langsung melempar handphone itu pada pemiliknya dan langsung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Firda sedang takut karena kejadian barusan yang menimpanya.
Flashback on
Firda baru saja keluar dari area TPU selepas berziarah ke makam sang ayah.
Ia sangat bingung harus kemana, andai di kantor tadi ada Juan, ia pasti meminta Juan mengantarnya pulang sesuai dengan yang diperintahkan oleh Satria.
Kebetulan ia juga kurang tahu arah apartemen yang sekarang dikarenakan ia jarang memperhatikan saat sedang bepergian bersama Satria.
"Ibu!" Ucap Firda saat melihat sosok Rani yang kini berdiri dihadapannya.
"Ikut denganku!!" Ucap Rani menarik tangan Firda kasar.
"Ikut saja anak bodoh!" Ucap Rani dengan penekanannya.
"Gak aku gak mau! Maaf!" Ucap Firda yang langsung mendorong tubuh Rani hingga tersungkur ke tanah.
Dengan secepat mungkin Firda berlari dari kejaran anak buah Rani dan juga Rani nya sendiri.
Namun, samar-samar Firda dapat melihat perkelahian Anak buah Rani entah dengan siapa, tapi mereka semua memakai seragam hitam. Firda tak mempedulikan itu, yang terpenting ia dapat terhindar dari Rani, ia benar-benar takut kejadian itu terulang lagi.
Firda langsung terduduk lemas akibat berlari kencang menghindari Rani, ia langsung duduk walau hatinya gelisah takut Rani menemukannya di kolong jembatan ini.
Flashback Off
"Apa yang sebenarnya ingin ibu lakukan padaku tadi? Apa aku salah telah menghindarinya? Tapi aku sangat takut!" Ucap Firda bermonolog.
Kepala Firda begitu pusing saat ini, pasalnya ia belum makan siang ditambah ini efek jambakan Anita yang belum sempat menghilang sampai sekarang, dan jika dilihat-lihat dari langit saja sudah bisa menebak bahwa hari sudah semakin sore, tapi Firda belum berani keluar dari persembunyiannya.
"Satria gak mungkin mencari ku bukan? Dia masih marah padaku!" Firda tiba-tiba saja menangis mengingat kesalahannya pada Satria hari ini, pasti Satria menunda rapatnya akibat ulahnya.
"FIRDA!!!" Teriak seseorang dengan keras.
Firda yang merasa namanya dipanggil langsung berdiri dan keluar dari persembunyiannya, ia sangat kenal dengan suara itu.
__ADS_1
"Satya!" Gumam Firda sambil berjalan dengan. gontai mencari sosok yang ingin sekali ia temui saat ini.
"SATYA!" Teriak Firda dengan sisa tenaganya.
Satria yang melihat Firda langsung menghampiri gadis itu dengan berlari.
GREP…
Satria Langsung memeluk tubuh Firda dengan erat hingga tubuh gadis itu terangkat akibat tingginya yang tidak sama dengan Satria.
"Are you okay?" Tanya Satria sambil melihat seluruh tubuh Firda.
"Apa kau terluka hmm?" Firda menggeleng sebagai jawaban singkatnya karena bahagia, ia bahagia sekali saat tahu Satria begitu mengkhawatirkannya.
"I'm sorry!" Satria kembali memeluk tubuh mungil Firda dengan erat menyalurkan rasa bersalahnya pada gadisnya ini.
Satria begitu lega saat memeluk tubuh yang ia khawatirkan ini.
CUP…CUP…CUP…
Satria mengecup wajah Firda tanpa henti-hentinya, rasa bersalahnya begitu besar, ia bodoh, ia sangat ceroboh hingga gadisnya hampir saja hilang jika saja anak buah ayahnya tidak ada.
"Ayo kita pulang!" Ucap Satria dengan posisi masih memeluk Firda.
"Satya! Kepalaku pusing! Aku mau tidur!".Ucap Firda lemah.
"Hey bertahanlah! Apa ada yang sakit?" Tanya Satria pada Firda yang menatapnya lemah.
"Tidak! Kepalaku sedikit pusing! Aku mau tidur!" Ucap Firda yang langsung memejamkan matanya, dengan gerakan cepat Satria mengangkat tubuh Firda ala bridal style saat melihat mata Firda yang tertutup.
Semua para bodyguard menghela nafas lega melihat tuannya yang sudah kembali seperti biasa saat sudah menemukan nona mudanya.
Yah! Hari ini mereka telah melewati hari yang panjang, bahkan semua pasukan yang berada di gedung pun mengalami hal yang pertama seperti ini, tuan muda mereka memang sudah jatuh cinta pada seorang gadis, jadi bersiaplah mereka akan mendapatkan hal yang lebih dari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.KOMEN DONG READER 🥰 LANJUT GAK NIH?