Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
27. Gara-gara Obat Tidur


__ADS_3

Deru nafas Satria menerpa jenjang leher Firda yang sedang menutup matanya, terlihat wajah polos yang kini sedang tertidur tenang dan menjelajahi alam mimpinya. Tadi sore Firda sudah melakukan terapi untuk melawan traumanya, sedikit demi sedikit ia juga sudah mulai terbiasa kembali jika bertemu dengan laki-laki, itu semua berkat obat dan juga terapi yang khusus Saka menyewa dokter dari Singapura, Farhan memang bukan bagian dari psikologi, jadi ia tak mampu membantu dalam bidang traumanya Firda.


"Kau lupa hah?" Bisik Satria di telinga Firda.


Sedangkan sang empu hanya bergumam tak jelas saat Satria menarik hidungnya, mencubit pipinya dan saat Satria mengusap wajahnya.


"Bangunlah!!" Bisik Satria sambil menekan kedua pipi Firda gemas.


"Emmmhh…" Gumam Firda tak jelas.


"Satu menit lagi waktunya kau menjawab syarat dariku! Cepat bangunlah!!" Satria menggoyahkan tubuh Firda agar terbangun, namun ternyata nihil.


"Tidak seperti biasanya kau tidur seperti orang mati!" Gumam Satria, namun saat ia mengedarkan pandangannya tak sengaja matanya melihat bekas obat-obatan yang berbeda dari milik Firda yang sedang digunakan saat ini.


Satria meraih Bekas obat tersebut dan tersenyum miring melihat bagian yang terbaca olehnya.


"Kau sengaja hmm?" Tanya Satria dan langsung memandang wajah Firda yang damai.


"Baiklah jika itu pilihanmu!" Ucap Satria tenang.


"Pantas saja kau begitu nyenyak malam ini, ternyata kau minum obat tidur ini hmm?" Satria mendekatkan wajahnya pada wajah Firda.


CUP…


"Hukuman pertama untukmu! Semoga ini adalah First kiss mu!" Tutur Satria setelah mencium bibir Firda singkat.


"Dan ini hukuman keduamu!!"


Click…


Satria menekan tombol di nakas yang otomatis kunci kamar Firda terbuka. Satria juga langsung menaiki kasur disebelah Firda dan merebahkan dirinya dengan nyaman, ia mengangkat kepala Firda dan menjadikan tangan kirinya sebagai bantal kepala Firda.


Tak lupa juga Satria menutupi kembali dirinya dengan selimut yang sebelumnya ia singkirkan. Sedikit gila memang Satria kali ini, tapi entah kenapa ia selalu menuruti kata hatinya yang menurutnya harus dilakukan. Entah apa rencana Kapten polisi itu saat ini, yang hanya tahu adalah dirinya sendiri saat ini.


Perlahan Satria memejamkan matanya mengikuti Firda mengejar mimpinya kali ini, belum sampai satu menit, Satria kini sudah terlelap dalam tidurnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kapan Ibu datang?" Tanya Amera pada sang ibu mertua.


"Baru saja aku datang! Apakah calon menantu rumah ini masih tetap di mansion?" Tanya Emery.


"Iya Bu! Dia menjalani terapi traumanya Minggu ini, sudah banyak peningkatan untuk kesembuhannya!"


"Bagus-bagus!! Aku senang mendengarnya!"


"Bagaimana liburanmu Bu? Apakah menyenangkan?" Tanya Amera sambil meminum teh hangatnya


"Jangan tanyakan lagi! Aku sangat senang setelah sekian lama bisa kesini! Tapi Ayahnya Saka menyuruhku agar tidak lama-lama di sini! Sebal sekali aku padanya, aku juga mau disini sampai Satria menikah!"


Amera hanya tersenyum mendengar perkataan mertuanya, sifat Emery yang begitu pecicilan membuat suasana rumah menjadi hangat.


"Ibu mau meminum sesuatu?"


"Tidak-tidak! Aku harus menemui calon cucuku!" Ucap Emery menolak.


"Bagaimana bisa ibu bertemu dengannya dulu?"


"Waktu itu aku sedang kabur dari para bodyguard Edward! Dan ternyata setelah sekian lama tidak menyebrang, itu sangat menyulitkan ku Amera! Dan dengan baik hatinya gadis itu menolongku, padahal jika dilihat waktu itu dia juga sangat terburu-buru!" Tutur Emery sambil membayangkan pertemuan pertama dengan Firda.


Bay the way Edward adalah suami dari Emery yaitu ayahnya Saka.


"Ternyata calon menantuku sangat baik hati ya Bu!"


"Tentunya harus! Agar kau beruntung sama seperti aku mendapatkanmu!" Emery menatap menantunya dengan tatapan hangat.


Amera juga tersenyum simpul pada sang mertua yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri.


"Kalian kenapa belum memulai sarapan?" Tanya Emery.

__ADS_1


"Aku sedang menunggu Mas Saka, Satria dan juga Firda! Karena kemarin Sintia pergi kerumah mertuanya bersama Kenzo!"


"Panggil mereka kalau begitu! Kecuali calon cucuku! Biar aku yang memanggilnya!"


"Baiklah aku akan memanggil mas Saka terlebih dahulu!"


"Aku sudah disini sayang!" Ucap Saka pada istrinya saat ia baru saja keluar lip.


"Baiklah aku akan memanggil Satria! Tidak seperti biasanya dia telat seperti ini!"


Sedangkan Emery dan Amera kini berjalan bersama memasuki lip, namun mereka keluar dengan arah yang berbeda.


Emery menekan tombol bel pada kamar yang ditempati Firda, namun ternyata tak ada sautan dari dalam. Ia kembali menekan tombol bel kamar, namun lagi-lagi tak ada jawaban ataupun tanda-tanda membuka pintu.


"Apakah dia masih tidur?" Pikir Emery.


Namun saat hendak Mecoba membuka kenop pintu ternyata ia berhasil membukanya, apakah Firda tak mengunci pintu semalaman? Pikir Emery lagi.


Ia langsung masuk ingin mengecek keadaan Firda, dan ternyata dugaannya benar, ia melihat balutan selimut yang masih menggulung nyawa Firda saat ini.


"Apakah semalam ia begadang sampai tak ingat bangun pagi ini?" Pikir Emery.


Sebelum Emery menghampiri Firda ia terlebih dahulu membuka gorden yang menjulang tinggi itu.


Click,…


Ia menekan tombol otomatis yang berada di dinding dan membuat gorden otomatis terbuka menampilkan mentari yang kini sudah keluar, Emery menatap halaman mansion dari dinding kaca yang sudah ia buka barusan. Ia mengambil pot bunga kecil yang kini bunganya telah layu, apakah para maid lupa mengganti bunga yang baru, jika benar maka ia akan menghukumnya, bagaimana jika calon menantu baru dirumah ini tidak betah gara-gara bunga layu yang merusak mata ini.


Emery membalikkan badannya dan…


Prang…


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Satya!! Sayang!!" Panggil Amera saat memasuki kamar putranya yang bernuansa hitam dan abu-abu itu.


"Apakah ia sedang mandi?" Pikir Amera.


"Satya!!" Panggil Amera lagi.


"Kemana anak itu?"


"Tempat tidur Satria sudah rapih! Apakah mungkin ia membereskannya sendiri? Dan dimana dia sekarang?" Amera terus mengelilingi kamar luas milik putranya itu sejak tadi, tapi nihil, ia tak menemukannya.


Prang…


Aaaaaaaaaaaaaa…


Bukan! Bukan Amera yang berteriak! Melainkan itu berasal dari kamar yang tidak jauh dari kamar ini. Dengan cepat Amera berlari ke arah sumber suara.


"Ibu!" Pikir Amera sambil terus berlari.


Saat Amera tiba di kamar Firda, ia langsung menghampiri sang ibu yang kini tengah mematung.


"Kenapa Bu? Aku pikir ibu kenapa-napa! Apakah gara-gara pot bunga ini pecah?" Tanya Amera panik.


"Ameraaa lihatlah!!" Ucap Emery pelan sambil menunjuk ke arah ranjang ukuran king size itu.


"Sa…Satya?" Ucap Amera terbata.


Pantas saja Emery sampai berteriak, ternyata ini yang ia lihat, kini Satria dengan santainya masih terlelap dalam mimpi bersama Firda dalam keadaan berpelukan.Bahkan Firda juga menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Satria. Ah…pasangan ini sudah seperti suami istri cara tidurnya. Apakah mereka tak terganggu dengan teriakan Emery yang melengking tadi? Kenapa mereka begitu lelap seperti orang kelelahan sampai tak ingat dunia?


Pikiran Emery dan Amera kini sama, mereka saling menatap bingung. Ingin sekali rasanya Amera menangis Bombay melihat putranya seperti ini.


"Satria bangun!" Kini suara tegas Amera sudah keluar.


"Emmhh…" gumam Satria terdengar samar-samar.


"SATRIA!" Tidak! Amera tidak teriak, ia hanya menekan intonasi sambil Manarik piyama tidur Satria.

__ADS_1


"Apa bund?" Masih dengan nyawa yang belum terkumpul.


"Bukalah matamu!" Ucap Amera lagi.


"Firda bangun sayang!" Amera merubah intonasinya dengan suara lembut.


"Hmm!" Firda menggeliat dari tidurnya.


Namun, beberapa detik kemudian ia merasakan keanehan, Firda membuka matanya dengan cepat dan menatap siapa yang kini berada didepannya dan kebetulan yang kini berada di hadapannya sedang menatapnya juga.


"Aaaaaaaaaaaa…" Firda teriak karena keget dan langsung Bangun dari tidurnya.


"Ke…kenapa kau ada disini?" Tanya Firda kaget, Firda langsung menutup tubuhnya dengan selimut tebal, padahal jika ia sadar, tubuhnya masih memakai piyama.


"Satria bangunlah!!" Ucap Amera dengan penekanan.


Mata Firda langsung membola saat melihat Amera dan Emery yang kini tengah berada di kamarnya dengan keadaan kaget, apalagi wajah Emery yang menatap mereka berdua kosong.


Satria bangkit dari tidurnya dan dengan santainya ia masih bisa merenggangkan ototnya di situasi seperti ini.


"Satria jelaskan pada Bunda apa ini?" Tanya Amera sedikit pusing dengan keadaan ini.


"Bunda apa yang harus kujelaskan?" Tanya Satria balik.


"Kenapa kau ada di kamarku polisi menyebalkan?" Tanya Firda kali ini.


"Hey sayang! Bukannya semalam kau yang memintaku untuk tidur bersamamu? Katanya kau ketakutan semalam! Jadi aku menemanimu sampai tertidur si kamar ini!" Jawab Satria seolah ia ta memiliki dosa.


"Ti…tidak mungkin! Bahkan aku tidur lebih awal semalam!"


Apa-apaan ini? Pikir Firda. Seingatnya ia semalam meminum obat tidur agar bisa tidur lebih awal dan menghindari Satria, tapi kenapa kondisinya jadi seperti ini?


Arghhhh… ia bahkan tak ingat apapun semalam! Apakah benar dia yang meminta Satria tidur disini? Apakah itu gara-gara obat tidur itu? Jika benar, ia menyesal telah meminumnya. Bahkan obat itu ia temukan dilaci khusus obat dikamar ini, sungguh Firda tidak tahu efek sampingnya jika memakan dua sekaligus.


"Satria! Nanti kau jelaskan pada Bunda!" Ucap Amera.


"Ayolah Bun! Aku bahkan sudah menjelaskannya barusan!"


"Amera!" Panggil Emery masih dengan keterkejutannya.


Amera yang merasa dipanggil langsung melirik ibu mertuanya tanda menjawab.


"Satu Minggu lagi mereka harus menikah!" Tutur Emery yang langsung pergi dari kamar Firda.


DUAR..…


Bagaikan disambar petir di siang bolong Firda saat ini, apa-apaan ini? Kenapa jadi seperti ini? Batin Firda menjerit. Sia-sia ia semalam meminum obat tidur dua sekaligus untuk menjauhi polisi aneh ini! Dan apa ini? Nenek Satria bilang seminggu lagi acara pernikahannya akan diadakan? Dan ada kalimat harus disana, apakah itu dalam artian ia harus menikah jalan satu-satunya dengan laki-laki yang kini sedang menatapnya santai.


Firda menatap nyalang laki-laki didepannya saat ini, ia yakin semua ini adalah skandal dari polisi menyebalkan ini.


"Kau sengaja bukan?" Tanya Firda kesal saat melihat Satria dengan santainya turun dari tempat tidur dan merenggangkan otot-ototnya.


"Apa yang kau maksud sengaja hmm? Bukannya kau yang sengaja meminum obat tidur dengan sengaja? Apakah itu cara untuk menghindariku hmm?" Firda kaget saat mendengar ucapan Satria, kenapa laki-laki ini bisa tahu? Pikir Firda aneh.


"Sudahlah! Kali ini kita impas bukan? Kau terjerat pada jaring yang kau buat sendiri!" Ucap Satria santai dan meninggalkan Firda yang kini sedang mengacak-acak rambutnya prustasi.


Satria keluar kamar Firda dengan senyuman kemenangannya, namun jujur, rencananya agar diketahui oleh orang dimansion memang bagiannya, tapi ternyata takdir sedang berpihak padanya, ia alah dimudahkan dalam rencananya, siapa di mansion ini yang dapat menolak permintaan dari Emery? Jawabannya adalah tidak ada! Kecuali Satria. Karena selain dari Emery dihargai, Emery juga salah satu mantan agen rahasia saat mudanya, tentu semua orang tidak ada yang berani membantahnya sedikitpun, hanya Satria yang sering membantah, namun kali ini ia dengan senang hati menuruti permintaannya.


Senyenyak itukah dirinya barusan tidur? Sampai-sampai ia baru menyadari ini terlalu siang untuk Satria yang selalu bangun paling awal. Apakah itu efek dari pelukan hangat dengan Firda? Pikir Satria yang kini tengah bersiap untuk mandi. Arghhhh… memikirkannya saja sudah membuat ia pindah haluan.


' KENAPA JADI SEPERTI INI SIH? ' jerit Firda dalam hatinya


..


.


.


.

__ADS_1


.


YU LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK🤗


__ADS_2