
"Mas ayolah! Aku mau ketemu teman aku! Bolehkan?" Pinta Firda dengan memohon terus menerus sejak tadi.
"Sayang! Kau ini harusnya istirahat! Kita baru saja sampai semalam ke Indonesia, besok saja oke?"
Firda mengerucutkan bibirnya dan langsung menghentakkan kakinya dengan kesal ke lantai, ia langsung pergi dari hadapan Satria menuju lantai atas melalui tangga mansion.
Satria memijat pelipisnya pelan melihat tingkah istrinya yang keukeh seperti itu, apa seperti ini wanita jika tidak dituruti kemauannya? Pikirnya heran.
Ia langsung berjalan ke arah lip dan langsung menuju ke kamarnya, ia yakin pasti istrinya berada di sana.
Benar saja ternyata dugaannya, istrinya sedang berada di ayunan yang berada di balkon sambil memakan cemilan yang Juan beli tadi pagi.
"Kau masih mau kesana hmm?" Tanya Satria sambil memeluk tubuh ramping istrinya.
"Kenapa harus bertanya sih?" Tanya Firda balik dengan perasaan kesal.
"Mari kita kesana kalau begitu!"
"Serius?" Tanya Firda dengan mata berbinar menatap Satria dengan mendongakkan kepalanya keatas.
"Hmm!" Ucap Satria dengan senyumannya.
Firda langsung berlari kedalam untuk mengganti pakaiannya, akhirnya setelah sekian lama ia bisa bertemu temannya yang begitu baik itu.
Satria menghela nafasnya pelan melihat tingkah Firda yang semakin hari semakin menggemaskan dimatanya, saking gemasnya ia tak bisa melewatkan kesempatan setiap malam untuk memeluk istrinya.
"Cepatlah kalau begitu!" Ucap Firda setengah berteriak pada suaminya.
Namun getaran handphone Satria menghentikan langkahnya saat ingin menghampiri istrinya.
"Sebentar!" Ucap Satria pada Firda.
Firda langsung duduk di sofa saat suaminya mengangkat telepon.
"Ada apa?" Tanya Satria to the point!"
"…"
"Kau tak bisa menanganinya?" Tanya Satria dingin.
"…"
"Tidak bisakah nanti?" Tanya Satria sambil melirik istrinya sejenak.
"…"
"Ck… Baiklah! Aku akan segera kesana!"
Satria Langsung menghampiri istrinya yang sudah memasang raut wajah kusut.
"Sayang!" Panggil Satria sambil berjongkok di hadapan istrinya.
"Kau tetap akan pergi kesana tenang saja! Dengan syarat harus diantar oleh Juan! Jika sudah selesai hubungi Juan lagi! Tapi aku tidak bisa mengantarmu, apa tidak masalah?" Tanya Satria lembut.
"Tidak apa-apa yang penting aku bisa ketemu Sama hari ini!" Jawab Firda dengan senyumannya, ia pikir ia tidak akan jadi pergi saat mendengar percakapan suaminya tadi.
"Bersenang-senanglah disana! Aku sudah transfer uang ke rekening kamu! Jangan lupa juga bawa black card juga!"
"Baiklah!" Jawab Firda tanpa mau berdebat, ia tidak mau kalau sampai suaminya itu malah berubah pikiran.
"Ayo!" Ajak Satria pada istrinya untuk pergi keluar.
Saat di halaman mansion Satria langsung menghampiri Juan sebelum tangan kanannya itu pergi mengantar istrinya.
__ADS_1
"Tetap lakukan pengamanan seperti biasa!" Tegas Satria.
"Baik tuan!"
"Juan aku tidak segan-segan menghukum mereka yang lengah!" Ucap Satria dengan penuh penekanan.
"Saya jamin nona tidak akan terluka sedikitpun!" Ujar Juan yakin.
"Saya pegang janji kamu!" Ujar Satria dan langsung menghampiri sang istri yang sudah siap di kursi belakang.
"Hati-hati! Pakailah uang itu semau mu! Ia harus berkurang saat kau kembali!" Firda hanya mengangguk untuk tidak memperpanjang hal seperti ini.
CUP…
"Hubungi aku jika ada apa-apa!" Tegas Satria pada istrinya.
"Iya suamiku! Aku pergi sekarang ya!"
Cup…
Firda juga mengecup bibir Satria singkat dan langsung menutup jendela mobil. Tersirat Tidak rela melihat istrinya pergi tanpa dirinya, namun ia juga harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa cepat menjemput istrinya.
Satria langsung masuk ke bagasi mobil dan memilih salah satu di antara deretan mobil di sana, ia memilih mobil BMW keluaran terbarunya.
Tak lupa juga ia selalu membawa kartu identitasnya sebagai tanda kepolisiannya kemana-mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini, mobil bermerek itu telah terparkir di depan salah satu toko, Juan dengan grecep langsung membukakan pintu belakang untuk Firda.
"Terima kasih!" Juan hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Nona apakah saya harus menunggu anda sampai selesai?" Tanya Juan dengan hormat.
"Baik nona!"
Firda langsung masuk ke dalam toko kue, sudah lama rasanya ia tidak menginjakan kaki di toko kue yang pernah menjadi sumber kehidupannya ini.
"Firda!" Panggil Sasa melambaikan tangannya saat mengetahui jika sosok Firda sudah sampai.
"Sasa!" Panggil Firda dan langsung memeluk tubuh Sasa saat wanita itu berlari kearahnya.
"Aku kangen banget!"
"Aku juga! Terakhir kita bertemu saat di taman bukan?" Firda hanya mengangguk.
"Kita duduk dulu yuk Fir!" Ajak Sasa pada salah satu meja yang kosong.
"Apa kau tidak kena marah dengan para senior?" Tanya Firda takut jika temannya kena semprot nantinya.
"Tenang! Aku sudah izin langsung tadi! Lagian senior yang menyebalkan sudah pada pindah, karena kamu tahu? Manager yang suka menangani toko ini sangat kecewa karena banyak pelanggan yang terus berkomentar perihal layanan mereka!"
Belum sempat Firda angkat bicara Sasa sudah lebih dulu berbicara.
"Bentar! Aku akan membuat minuman untukmu!" Ucap Sasa yang langsung pergi dari sana menuju dapur.
Firda menatap sekeliling toko kue yang sudah banyak berubah sekarang, dari mulai varian rasa kue, tempatnya dan masih banyak lagi yang berubah.
"Eh… Kamu bukannya istrinya Satria ya?" Tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja datang dan langsung melihat keberadaan Firda.
"Eh iya Tante!" Jawab Firda dan langsung menyalami tangan wanita itu, lima detik kemudian Firda ingat bahwa wanita didepannya adalah ibu dari Farhan sahabat suaminya.
"Wah! Kamu sedang mau pesan kue?" Tanya Aneska.
__ADS_1
"Tidak Tante! Saya lagi ketemu sama teman saya yang bekerja disini!" Jawab Firda sopan.
"Ouh… Begitu rupanya!"
"Eh Nyonya Anes!" Ucap Sasa yang langsung menyimpan nampan minumannya dan langsung menunduk hormat pada Aneska.
Apa Sasa mengenal Tante Aneska? Pikir Firda heran.
"Yang Kamu maksud Sasa ya? Apa kalian teman sekolah?" Tanya Aneska menebak karena Sasa membawa dua minuman ke meja Firda, pasalnya toko kue ini tidak menjual minuman.
"Iya Tante bener banget! Tapi kita bertemu saat aku masih bekerja disini Tante! Kebetulan kita dekat banget!" Jawab Firda sopan.
Sasa hanya diam tanpa mau menyela obrolan keduanya, apa mereka saling kenal? Pikir Sasa heran.
"Benarkah? Kamu pernah bekerja di sini?" Tanya Aneska tak percaya.
"Iya Tante!" Ucap Firda.
"Kamu di suruh berhenti ya sama Satria?"
"Tidak Tante! Saya dipecat dari sini!" Jawab Firda.
"Loh? Sasa, siapa yang memecat Firda dulu? kenapa saya tidak tahu?" Tanya Aneska heran kenapa gadis sebaik Firda bisa dipecat, ia sangat yakin Firda tak akan melakukan hal apapun, dia terlihat seperti gadis yang sangat baik.
Sedangkan Firda menatap Sasa aneh, kenapa Sasa ditanya seperti itu? Pikirnya heran.
"Oleh senior Sira Nyonya!"
"Sira? Apa dia sudah dikeluarkan?" Tanya Anes kesal.
"Sudah nyonya! Bulan lalu!" Jawab Sasa.
"Syukurlah! Saya tidak mau di toko saya ada orang-orang yang gak punya perasaan!" Tegas Aneska.
' Apa? Jadi toko kue ini milik Tante Anes? ' ucap Firda dalam hatinya.
"Yaudah! Kalian lanjutkan saja ya! Tante mau ke belakang dulu!"
"Baik Tante!"
"Baik Nyonya!"
Jawab keduanya serempak. Sedangkan Aneska langsung berlalu dari sana meninggalkan dua wanita yang sama-sama memiliki kebingungan tersendiri.
"Kalian saling kenal ya?" Tanya Sasa sambil duduk mengikuti Firda.
"Hmm! Dia ibu dari sahabat suami aku!" Jawab Firda sambil menatap Aneska yang mulai menghilang dari pandangannya.
Berbeda dengan Sasa yang seketika menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Firda, apa katanya, Suami? Pikir Sasa terkejut.
"Ceritain gak?" Ucap Sasa dengan wajah yang tak bisa diartikan oleh Firda.
"Hah? Apanya yang harus diceritakan?" Tanya Firda bingung.
"Suami!" Tegas Sasa datar.
Firda langsung meringis pelan melihat tatapan Sasa yang datar.
"Iya aku ceritakan kok!" Ucap Firda dengan cengengesan.
.
.
__ADS_1
.