
Saat ini Firda menatap gundukan yang cukup baru itu dengan tatapan sendu, ia menaburkan bunga baru dan juga air mawar ke atasnya.
"Hai Ayah! Firda kangen banget!"
"Ayah! Ternyata cowok yang dulu sering Firda ceritakan ke ayah dia jahat banget sama aku! Dan ayah tahu? Dia hampir bikin aku gak suci ayah! Tapi ayah tenang aja, dia sekarang udah di kasih balasan yang setimpal!"
"Itu juga berkat laki-laki yang awalnya sangat menyebalkan! Tapi ternyata Takdir menyuruh Firda untuk selalu terikat bersamanya!!" Firda mengusap air matanya yang kian jatuh.
"Ayah! Firda mau minta restu dari ayah! Sepertinya Firda akan memulai hidup baru bersama laki-laki yang sudah baik dan menerima Firda apa adanya saat ini!"
"Nanya Satria Arnold William! Dia salah satu anak dari pengusaha terbesar loh! Ay pasti tahu!"
"Awalnya Firda gak nyangka bisa terikat dengan anak pengusaha itu! Tapi ternyata ini bukan mimpi! Bunda Satria juga Nerima Firda dengan tangan terbuka, keluarganya baik banget!"
"Ayah! Firda harus minta restu sama ibu dengan cara apa? Bahkan Firda tidak tahu imana rumah ibu yang sekarang!!"
"Ayah! Firda lelah!" Ucap Firda sambil memeluk nisan bernama Dafa itu.
"Tiap hari masalah gak pernah ada hentinya! Firda cape Ayah! Firda pengen semuanya kelar!" Tanpa di minta kini Air mata Firda keluar lolos melewati kedua pipi mulus milik Firda.
"Ayah! Sesakit ini kah aku kehilangan seorang cinta pertama?" Firda memukul-mukul dadanya sendiri akiba sesak yang menombak dadanya.
"Bawa Firda dari sini Ayah! Firda mau ketemu ayah!!" Isak tangis Firda begitu pilu terdengar disaksikan oleh pohon-pohon yang rindang di atasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria terpaksa membatalkan rapat menjelang makan siang ini, ia harus menyelesaikan laporan yang hancur itu. Namun, di dalam lubuk hatinya begitu tidak tenang selama mengerjakan pekerjaannya, ia masih kepikiran tentang Firda tadi, ia harus memeluk tubuh gadis itu sekarang juga, namun sebelum itu ia juga harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Ceklek…
Suara pintu ruangan terbuka mampu mengalihkan pandangan Satria yang sedang tidak fokus.
"Maaf tuan! Saya membawa berkas yang anda minta kemarin malam!" Ujar Juan Yang langsung menyimpan berkas ber map biru di meja Satria.
"Kau sudah sampai? Gadisku masuk ke apartemen dengan selamat bukan?" Tanya Satria tanpa melihat berkas di mejanya.
__ADS_1
"Maksud anda Nona Firda?" Tanya Juan.
"Kau pikir siapa lagi hah?" Ucap Satria sudah tersulut emosi.
"Maaf tuan! Saya baru saja sampai dari kantor Tuan besar, semalam anda meminta saya untuk menggantikan rapat di kantor utama William Group pagi ini!" Tutur Juan dengan hormat.
"****!" Satria menggebrak mejanya dengan keras mendengar penuturan Juan.
Damn it! Satria benar-benar lupa akan hal ini, ia pikir Juan stay di kantor polisi, lalu gadisnya pulang bersama siapa?
Tanpa pikir panjang Satria langsung berlari keluar untuk mencari Firda dan diikuti oleh Juan karena ia ikut panik melihat tuannya yang seperti itu.
"FIRDA!" Panggil Satria dengan keras dan dengan rasa khawatir yang begitu besar, ternyata ia tidak tenang mengerjakan pekerjaannya barusan karena ini? pikir Satria kesal.
"Maaf tuan apakah anda mencari nona?" Tanya Erik saya langsung menghampiri kaptennya.
"Apa kau melihatnya?" Tanya Satria dingin.
"Semua polisi baru saja keluar dari ruangan rapat saat anda membatalkan rapat kedua, mereka semua pasti tidak melihatnya termasuk saya!"
Semua orang disana menelan ludahnya susah payah melihat Satria yang marah itu, mereka lebih baik diam dari pada kena amukan sang kapten yang tidak pandang bulu itu.
Juan dan Erik langsung mengintruksikan semua polisi disana, ada yang melacak lokasi Firda, ada yang bergegas langsung pergi keluar mencari keberadaan Firda, dan ada juga yang mencari sekitar lingkungan kantor polisi barang kali Firda masih dekat dari sana.
Jumlah polisi yang mencari keluar lebih banyak dari pada yang hanya berada di lingkungan, lalu yang melacak hanya terhitung lima orang banyaknya.
Sedangkan Satria sendiri memilih untuk pergi mencari sosok gadisnya bersama yang lain.
Satria menekan tombol panggil yah berada di mobilnya.
"Cari posisi gadisku sekarang juga! Instruksikan semua orang untuk mencari gadisku sekarang juga!!"
"Siap Tuan!"
Setelah mendengar jawaban Satria langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota untuk mencari gadisnya, sial! sia! sial! ia begitu khawatir saat ini.
__ADS_1
"Ayolah Baby! Jangan membuatku semakin merasa bersalah!!" Ucap Satria dengan seribu kepanikannya.
Sedangkan di suatu tempat ratusan orang kini sedang kelabakan mendengar perintah tuannya, penghuni gedung begitu gempar mendengar kabar bahwa nona muda mereka hilang, dan lebih gilanya Satria menginstruksikan kepada seluruh penghuni gedung ini untuk keluar mencari Firda.
"Kita di bagi menjadi empat arah! Penghuni lantai empat mencari ke arah barat, penghuni lantai tiga mencari ke arah Utara, penghuni lantai dua mencari ke arah timur dan penghuni lantai dasar ke arah selatan, kalian paham?" Ucap pimpinan gedung itu.
"SIAP!!" Ucap mereka serempak.
Kali ini benar-benar gila! Pemimpin gedung itu harus mengumpulkan semuanya di lapang yang berada tak jauh dari sana, bagaimana tidak! Ratusan orang tak mungkin muat di salah satu lantai, bahkan barusan instruksi itupun harus menggunakan pengeras suara agar terdengar oleh yang lain yang baris paling belakang.
Setelah mendengar instruksi mereka semua langsung menjalankan misi mereka untuk mencari nona mudanya, mereka tentu tahu siapa Firda, pasalnya setelah Firda masuk ke kehidupan Satria, Satria langsung membuat akses khusus untuk Firda agar bisa masuk ke dalam gedung itu, yah walaupun Firda belum pernah ke sana.
Gadung itu terlihat tua jika dari luar, namun saat masuk gadung itu bagaikan bak istana yang memiliki banyak fasilitas di dalamnya, mereka semua sengaja tidak mengecat luarnya agar tidak ada orang yang curiga.
Kembali kepada Satria yang baru saja mendapat informasi dari Erik bahwa Firda berada di salah satu pemakaman kota, dan Satria tahu itu dimana, tanpa banyak berpikir ia langsung pergi ke pemakaman Dafa untuk menjemput gadisnya.
"Juan! Lokasi nona mati begitu saja, tapi lokasi terakhirnya memang berada di sana!" Ucap Erik saat ia menatap layar komputernya.
"Semoga nona masih ada disana!" Ucap Juan yang langsung berlari keluar untuk mengikuti mobil Satria yang pasti ke arah pemakaman.
Berbeda dengan Satria yang kini sudah sampai di parkiran pemakaman, ia menghentikan mobilnya dengan asal karena sudah tak sabar ingin melihat Firda.
Satria berlari dengan kencang mencari-cari keberadaan Firda, ia langsung menelusuri jalan menuju Pemakaman Dafa karena ia yakin gadisnya ada di sana.
Satria terpaku melihat pemakaman Dafa yang di taburi bunga baru di atasnya, dan tanah itu juga basah. Namun ia tak melihat Firda disana, kemana gadis itu? Apakah ia sudah pulang? Pikir Satria khawatir.
"FIRDA!! APA KAU MASIH SINI?" Ucap Satria dengan berteriak.
"FIRDA JANGAN MEMBUATKU KHAWATIR! DIMANA KAU?"
Juan juga yang baru sampai sangat kaget dengan suara keras Satria, tuan mudanya memang benar-benar panik sekarang, tapi kenapa juga harus berteriak seperti itu di TPU?, bagaimana jika yang berada di dalam tanah kaget saat mendengar suara keras Tuannya.
"Tuan bisakah anda tenang sedikit?" Ucap Juan pelan, mana berani ia berbicara seperti itu pada Satria.
Satria langsung pergi keluar TPU menuju mobilnya untuk pergi kembali mencari Firda.
__ADS_1
"SIAL! Kau harus baik-baik saja!" Ucap Satria yang langsung melajukan mobilnya diikuti oleh mobil Juan di belakangnya.