
Tak terasa bulan madu Anata Satria dan Firda kini telah berakhir, terpaksa sekali Satria pulang karena klien sialannya itu, untung saja Firda mengerti pekerjaannya, padahal ia sendiri tidak rela jika harus mengurangi momen-momen kebersamaan keduanya.
Selama beberapa jam di Jet pribadi akhirnya kini bisa mendaratkan pesawatnya di bandara Soekarno Hatta, dan sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion barunya.
Satria mengelus rambut istrinya yang kini berada di atas pahanya sedang terlelap sejak di jet pribadi tadi.
"Tuan apa anda mau membeli sesuatu terlebih dahulu?" Tanya Juan yang sedang menyetir.
"Tidak!"
"Bukannya nona muda belum sempat makan malam tuan? Takutnya nanti nona terbangun karena lapar!" Ujar Juan.
"Sial! Hampir saja aku lupa!" Gumam Satria kesal dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya ia lupa jika Firda tadi di pesawat belum makan apapun dan lebih memilih tidur di sore hari.
"Mampirlah terlebih dahulu! Kau yang memesan!"
"Baik tuan!"
Juan memarkirkan mobilnya di depan salah satu Resto terkenal di Jakarta, ia langsung turun dan masuk kedalam, tak lama ia keluar dengan menenteng kresek besar dan langsung menyimpannya di samping kursi kemudi. Ia juga langsung kembali membelah jalanan kota di malam hari ini.
"Mas?" Panggil Firda dengan pelan saat ia melihat wajah suaminya dari bawah.
"Kenapa hmm? Sebentar lagi kita Sampai! Apa kau lapar hmm?" Tanya Satria sambil membelai rambut Firda.
Firda menggelengkan kepalanya.
"Kepalaku pusing!" Ucap Firda sambil memijat pelipisnya.
"Kita ke dokter sekarang!" Ujar Satria khawatir.
"Tidak! Nanti juga hilang!"
"Tidurlah kembali agar pusingnya reda!" Ucap Satria yang langsung memijat pelipis Firda agar istrinya Kemabli tidur.
Firda hanya menurut dan langsung memejamkan matanya kembali.
"Tuan! Sebaiknya anda tidak perlu kekantor besok pagi! Saya akan mengerjakan beberapa berkas besok!"
"Tidak! Kau juga jangan masuk terlebih dahulu! Di mansion ku banyak kamar kosong! Pakailah salah satunya!"
"Baik tuan! Terima kasih!"
"Hmm!" Gumam Satria.
Juan disambut dengan gerbang yang begitu menjulang tinggi dan terbuka otomatis saat mobilnya datang, ia langsung memarkirkan mobilnya asal setelah satu menit baru sampai di halaman utama mansion baru tuan mudanya.
__ADS_1
Juan membukakan pintu belakang mobil dan muncullah Satria dengan membopong tubuh Firda ala bridal style.
"Tuan! Oleh-oleh selama di luar negeri akan datang beberapa menit lagi! Dimana saya harus meletakkan semuanya?"
"Ruang utama!" Jawab Satria dengan berjalan santai masuk ke dalam mansion yang langsung disambut oleh para maid yang sudah berjajar rapih menyambut kedatangan Tuan dan nona mudanya.
Firda bergerak gelisah saat Satria berjalan.
"Stttt… Ini aku!" Bisik Satria yang langsung memasuki lip mansionnya, Juan langsung menekan lantai paling atas untuk Tuannya dari luar karena ia tahu Satria akan kesusahan.
Setelah pintu lip tertutup Juan langsung kembali ke ruang utama untuk menyampaikan beberapa hal terpenting kepada para maid disana.
Sedangkan Satria berjalan kearah kamar barunya yang langsung terbuka otomatis saat dirinya datang karena pendeteksi wajah yang memudahkan semuanya.
Perlahan Satria meletakan tubuh istrinya di atas tempat tidur ukuran king size tersebut dengan hati-hati.
Satria juga melepaskan Hoodie milik istrinya agar ia bisa tidur dengan nyaman, tak lupa sepatu dan juga kaos kaki istrinya juga ia lepaskan hati-hati.
Cup…
Satria mengecup bibir Firda singkat karena gemas dengan wajah polos istrinya saat tidur seperti ini.
Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sejak tadi.
"Mas?" Panggil Firda setengah sadar dan langsung menyandarkan tubuhnya.
"Aku lapar!" Gumam Firda sambil memegang perutnya.
"Dimana ini?" Pikir Firda saat sadar karena tempatnya cukup asing dimatanya.
"Apa ini mansion baru?" Pikir Firda lagi.
"Sepertinya kamar ini lebih luas dari yang sebelumnya! Apa mansionnya juga lebih luas dari punya Ayah?"
Firda langsung turun dan langsung melihat keadaan malam hari, baginya dinding ini 99% transparan dan dapat memudahkan dirinya melihat pemandangan.
"Kau terbangun hmm?" Tanya Satria saat keluar kamar mandi dan langsung melihat istrinya yang tengah berdiri.
"Hmm!" Jawab Firda sambil melirik Satria sekilas.
"Apa kepalamu masih pusing?" Tanya Satria sambil memeluk tubuh Firda dari belakang dan menyimpan kepalanya di bahu istrinya.
"Tidak! Sekarang sudah lebih baik!"
"Kau pasti kecapean bukan?" Tanya Satria.
__ADS_1
"Mungkin! Mas aku lapar!" Ucap Firda yang langsung membalikkan tubuhnya menghadap langsung pada Satria.
"Aku akan menyuruh Juan membawa makananmu kesini!" Ucap Satria yang langsung memencet tombol didinding.
"Juan! Bawa makanan istriku keatas!" Ucap Satria.
"Waw!" Gumam Firda tanpa sadar saat melihat kecanggihan ini, apa lagi yang ia belum tahu Sekarang? Pikirnya saan menyapu setiap inci kamar baru ini.
"Bersihkan tubuhmu! Stelah itu baru kau makan!" Ucap Satria pada istrinya.
Firda hanya mengangguk dan langsung berjalan ke arah pintu yang bisa ia pastikan sendiri bahwa itu adalah ruang ganti beserta para pakaian.
Dan benar saj dugaannya, ia langsung mengambil piyama tidur berwarna hitam yang berlengan pendek untuk dipakai malam ini, setelah itu baru ia pergi kekamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang laki-laki paruh baya membuka matanya perlahan, hidungnya langsung menghirup aroma obat-obatan yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya.
Kenapa dengan dirinya? Kenapa semuanya terasa begitu sakit dan susah untuk digerakkan? Pikirnya panik.
Ia ingin berbicara! Ia ingin berjalan! Pikirnya lagi sambil terus berusaha untuk bergerak, namun usahanya nihil dan tak menghasilkan apa-apa.
"Tuan sudah Sadar?" Tanya seorang laki-laki yang umurnya mungkin lebih tua dari dirinya.
"Tuan koma selama beberapa bulan! Alhamdulillah tuan masih bisa diberi kesempatan untuk melihat dunia ini!" Ucap laki-laki itu.
"Tuan jangan bergerak terlebih dahulu! Anda akan seperti semula dalam dua hari nanti! Bersabarlah!" Ucap laki-laki itu saat melihat laki-laki itu yang mencoba Bergerak.
"Tuan masih ingat bukan nama diri anda sendiri?" Tanya laki-laki itu.
Ia hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban yang dapat ia berikan.
"Syukurlah! Anda masih ingat rumah alamat anda?"
Lagi-lagi laki-laki paruh baya itu mengedipkan matanya.
"Nanti jika anda sudah normal lagi, saya akan memberitahukan pada keluarga anda yang sebenarnya!"
Laki-laki paruh baya itu langsung meneteskan air matanya saat mendengar kata keluarga, ia begitu rindu sekali rasanya pada keluarganya, apa mereka mencari dirinya? Atau bahkan sebaliknya? Ia ingin sekali memeluk putrinya dengan erat.
"Anda yang sabar tuan! Saya yakin keluarga tuan juga sedang mencari keberadaan anda!" Ujar laki-laki itu yang langsung kembali menyelimuti dirinya.
.
.
__ADS_1