
Malam ini Satria bersikeras untuk membawa Firda ke mansionnya, entahlah ia merasa khawatir akhir-akhir ini, dan takut terjadi sesuatu kepada istrinya, apalagi setalah mendengar kabar Rio meninggal dunia, ia sangat yakin jika wanita itu akan segera bertindak.
"Kau boleh menginap lain kali sayang! Tak apa-apa kan?" Tanya Satria takut istrinya kecewa.
"Tidak! Lagian sejak siang tadi aku merasa canggung sendiri berada disana, aku perlu beradaptasi saja!"
"Aku tidak menyangka, ternyata aku dulu pernah bekerja di toko kue milik ibuku sendiri!" Ujar Firda dengan menghela nafasnya pelan mengingat semua skenario yang sungguh luar biasa ini.
Satria langsung mengecup kening istrinya lama dan menggandeng tangannya untuk masuk ke mansionnya.
"Yang penting semuanya baik-baik saja! Ayo masuk!"
Stelah keduanya membersihkan diri, Firda dan Satria kini berada di atas tempat tidur dengan posisi Firda yang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kamu kenapa bisa tahu semuanya dan kapan?" Tanya Firda penasaran, sejak tadi ia sangat ingin bertanya perihal ini.
Satria yang mengelus Surai hitam milik Firda terdiam sejenak dan kembali mengelusnya.
"Semua hal tentangmu aku sudah tahu sejak lama!"
"Jadi kamu menyembunyikannya dariku?" Tanya Firda sedikit kecewa.
"Hanya menunggu waktu yang tepat sayang! Aku harus mengumpulkan semua bukti, untunglah ayah sambung mu masih hidup, aku tak perlu lebih lama menunggu!" Ujar Satria meluruskan agar istrinya tidak salah paham.
"Kau tak marah bukan?" Tanya Satria lagi.
Firda mendongakkan kepalanya menatap wajah Satria yang memiliki rahang tegas serta tatapan elang.
"Mana mungkin, aku tak bisa marah pada suamiku yang telah membantuku selama ini!"
Cup…
Satria mengecup bibir Firda singkat "Itu sudah menjadi bagian tugas hidupku!" Ujar Satria pelan.
"Thank you my husband!"
"Your welcome honey! Berjanjilah padaku untuk tidak pergi dariku selamanya kecuali ajal yang menjemput kita!"
"Promise!" Firda langsung memeluk tubuh Satria erat.
Banyak orang mengatakan bahwa cinta kita akan habis di masa lalu kita, setelahnya kita hanya melanjutkan kehidupan dengan orang baru tanpa rasa cinta.
Persepsi itu salah, buktinya kini Firda merasakan cinta yang begitu besar dari suaminya, bahkan lebih besar dari masa lalunya, terlebih masa lalunya merupakan laki-laki brengsek yang tak patut ia ingat.
Dering handphone Satria mengalihkan pandangannya.
"Siapa sih yang menelpon malam-malam begini?" Ujar Satria kesal.
__ADS_1
"Angkat saja! Siapa tahu penting!" Ucao Firda.
Dengan terpaksa Satria meraih benda pipih yang berada di dekat tempat tidurnya. Disana terpampang jelas nama Erik yang sedang memanggilnya.
"Ada apa?" Tanya Satria to the point saat menekan tombol hijau dan menyalakan loud speaker.
"Kapten! Para geng motor yang meresahkan warga akhir-akhir ini lokasinya ditemukan, sialnya malam ini mereka kembali mengedar narkoba dan malam ini juga mereka telah menewaskan satu wanita paruh baya yang sedang berjualan di pasar! Kita harus segera bertindak malam ini juga!" Ujar Erik di sebrang sana.
"Kau panggil anggota lain!"
"Sebagian anggota inti sedang melakukan patrol malam di pelosok Kapten! Dan sebagiannya lagi sedang mengurus laporan-laporan hari ini yang harus ditangani! Apa kapten bersedia turun tangan malam ini?" Tanya Erik hati-hati takut Kaptennya marah.
Satria melirik istrinya yang sejak tadi hanya diam mendengar percakapan keduanya, menyesal rasanya ia telah menyalakan loud speaker.
"Pergilah! Mereka membutuhkanmu!" Ujar Firda yang mengerti tatapan mata Satria padanya.
Melihat Firda dengan mata yang meyakinkannya seolah tidak apa-apa membuat Satria luluh.
"Saya akan turun! Kirim lokasinya saat ini!"
Terdengar helaan nafas lega disana.
"Terima kasih tuan! Maaf mengganggu waktu anda! Saya akan kirim alamatnya sekarang!"
"Hmm!" Setelah bergumam Satria mematikan sambungan teleponnya. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam, bisa dipastikan ia akan pulang tengah malam sekali.
"Aku akan membantumu bersiap! Ayo!" Ujar Firda dengan tersenyum dan membawa suaminya keruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan seragam suaminya.
Selama bersiap Satria terus memandang wajah cantik istrinya yang tengah membantunya merapihkan seragam polisinya.
"Maaf harus meninggalkanmu malam-malam seperti ini!" Ujar Satria yang langsung mengelus wajah istrinya pelan dan membelainya.
"Kenapa terus meminta maaf? Aku tidak mempermasalahkan itu Sayangku!" Ujar Firda tersenyum.
Sial! Panggilan istrinya membuat Satria tak mau pergi, kenapa istrinya suka sekali membuat dirinya bimbang ketika ingin pergi?.
"Tak perlu mengantarkan aku keluar! Tidurlah!" Ujar Satria dan mencium kening dan beralih pada bibir istrinya.
Firda hanya mengangguk dan mengantarkan suaminya sampai depan kamar, sedangkan Satria keluar kamar dan berjalan menuju Lip untuk turun langsung ke garasi mobilnya.
"Juan! Jaga istriku selama kau pergi!" Ujar Satria saya merasakan seseorang mengikutinya yang tak lain adalah Juan.
"Tuan apa anda akan pergi sendiri?" Tanya Juan, biasanya tuannya akan menyuruhnya ikut kemanapun.
"Hmm! Perketat keamanan mansion!" Ujar Satria tegas.
"Baik tuan!" Ujar Juan saat melihat tuannya masuk ke salah satu mobil yang berjajar rapi, dan pintu garasi terbuka otomatis saat tuannya melajukan mobilnya.
__ADS_1
Juan Langsung menekan tombol pesan pada alat yang ia genggam.
"Perketat keamanan penjagaan malam ini! Tuan sedang keluar! Jangan lengah! Nyawa kalian taruhannya jika nona terjadi apa-apa! Jika perlu kalian istirahat setelah mendapat penggantinya!"
Setalah mengirim pesan, Juan langsung masuk ke dalam mansion Satria untuk berjaga di bagian dalam.
Firda kembali menaiki tempat tidurnya untuk tidur, tapi rasa kantuknya terasa hilang saat suaminya pergi, mungkin selama ini ia terbiasa tidur dalam pelukan Satria jadi sedikit sulit baginya untuk tidur, tapi Firda akan mencobanya.
"Ya ampun air minumnya habis!" gumam Firda saat melihat gelasnya kosong.
Terpaksa sekali ia harus beranjak dari tempat tidurnya untuk pergi ke dapur dan mengisi air minum.
"Nona! Apa kau butuh sesuatu?" tanya Juan tiba-tiba saat melihat nona mudanya keluar kamar.
"Yah! Aku akan membawa air minum ke dapur!"
"Biar saya saja nona!"
"Tidak! Aku sudah terlanjur keluar jadi tidak masalah!" ucap Firda dan langsung pergi dari hadapan Juan.
Juan langsung mengikuti nona mudanya dari belakang dengan perlahan agar nona nya tidak risih.
Sesampainya di lantai dasar, Firda langsung masuk ke dalam dapur untuk mengambil air, terlihat sepi di area dapur mungkin para maid sudah beristirahat malam ini.
Namun betapa terkejutnya tiba-tiba beberapa kucing keluar dari arah belakang dapur menuju tempat Firda. Dengan cepat Firda membekap mulutnya sendiri takut menghirup bulu kucing itu Dan sialnya kucing-kucing itu mendekati Firda dan bergelayut manja di kakinya.
Firda tak sengaja menyenggol gelasnya hingga terjatuh kelantai dan menimbulkan suara. Tak lama Juan datang dengan rasa panik mendengar suara pecahan kaca di area dapur.
"Nona pergilah keluar sebentar! Saya akan membereskan kucing-kucing ini!" Ujar Juan panik saat nona mudanya seperti tak bernafas karena takut alerginya kambuh.
Firda hanya menurut dan segera pergi dari sana, walau tak sengaja kakinya harus menginjak sedikit pecahan kaca dan menerobos lewat Alas kakinya, namun rasa sakitnya ia tahan sampa keluar area dapur.
"Sial! Tuan pasti marah besar!" Juan langsung memanggil beberapa bodyguard untuk membersihkan semuanya termasuk penjuru mansion takut bulu-bulu itu tertinggal.
Saat Juan mengeluarkan kucing-kucing ke area belakang, ia terkejut melihat pecahan kaca tadi dan terdapat darah yang berceceran.
"Arghhhh Nona maafkan saya!" ujar Juan yang langsung berlari keluar untuk mencari nona mudanya dengan mengikuti darah yang berceceran tadi.
Namun ternyata Firda sudah lebih dulu Samapi di kamarnya terlihat dari jejak-jejak darah tadi.
"Tuan! Bagaimana ini?" Gumam Juan bingung bagaimana melihat kondisi nona mudanya jika keberadaanya di dalam kamar, ia tak mungkin lancang masuk.
Juan langsung bergegas pergi mencari maid perempuan untuk mengecek kondisi nona mudanya, yah itu keputusan yang tepat.
.
.
__ADS_1