Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
26. Syarat?


__ADS_3

"Ini nona! Informasi yang anda minta! Menurut penemuan saya, wanita ini memiliki dua putri yang umur keduanya tidak terpaut jauh."


"Siapa namanya?"


"Firda Permata dan Karina Katrin!" Wanita di hadapannya sedikit familiar dengan nama pertama.


"Tunjukan fotonya!" Laki-laki didepannya menyodorkan dua foto yang berbeda-beda.


"Ingin bermain-main heh?"


"Saya permisi nona! Terima kasih atas bayarannya!"


"Pergilah! Saya juga senang bisa mendapat informasi indah ini!"


Ansela, yah. Wanita yang dipanggil nona barusan adalah Ansela, setelah melewati masa perawatan di rumah sakit, ia kembali menggali informasi tentang wanita yang berani masuk dan merusak hidupnya, dan ia benci itu. Menurutnya, gara-gara wanita itu, ayahnya sampai berani menamparnya, gara-gara wanita itu ia juga harus kehilangan anaknya.


"Sekali murahan tetap murahan! Kalian sengaja masuk kehidupku untuk menghancurkan ku? Oke! Mari kita lihat sejauh mana permainan kalian,"


Ansela bangkit dari duduknya dan langsung menemui pengacara yang telah ia sewa kemarin untuk membebaskan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku mau pulang!" Tutur Firda lagi, ini entah kalimat yang ke berapa kali ia lontarkan pada laki-laki didepannya.


"Kau punya rumah?" Tanya Satria meremehkan.


"Ibuku satu-satunya tempat pulangku Satria!" Tutur Firda lemah.


"Dan ibumu sendiri yang telah menutup pintu untukmu agar tidak masuk kedalamnya!" Jawab Satria lagi.


"Ibuku sudah berubah! Kemarin dia meminta maaf padaku, dan memohon agar aku kembali padanya,"


"Lalu?" Tanya Satria enteng.


"Tapi aku menolaknya dengan alasan aku masih terjerat hutang padamu!"


Satria melangkahkan kakinya dan menatap halaman mansion dari dinding yang terbuat dari kaca itu.


"Jika kau sudah tahu masih terjerat hutang padaku, mengapa kau meminta pulang saat ini?" Entah kenapa hati Satria berkata tidak rela jika gadis yang sedang bersamanya saat ini harus ia pulangkan kerumahnya.


"Aku akan membayar semuanya! Tapi kumohon beri aku waktu!!" Ucap Firda meyakinkan.


"Berapa lama aku harus memberi waktu?"

__ADS_1


Firda bingung, sangat bingung, memangnya ia sanggup mengumpulkan uang beberapa miliyar dalam kurun waktu beberapa bulan? bahkan jika beberapa tahun pun ia mungkin tak sanggup mengumpulkannya, tapi ia harus keluar dari sini, ia merasa terlalu merepotkan semua orang di mansion ini.


"A…aku juga tidak tahu!" Cicit Firda lemah.


"Kau mau hutangmu lunas bukan? Dan kau mau menemui ibumu? Ada satu cara! Tapi aku yakin kau pasti tidak mau menerimanya!" Ucap Satria dan langsung membalikkan badannya ia langsung menatap manik hitam milik Firda yang kini juga menatapnya.


"Sungguh? Syarat apa itu? Aku akan melakukannya, aku bersungguh-sungguh!" Ucap Firda yakin.


"Kau yakin?' Tanya Satria dengan menampilkan senyuman yang tak dapat bisa diartikan oleh siapapun.


"Yah! Aku yakin!" Tutur Firda yakin sekali.


Satria berjalan perlahan kearah Firda, ia mencondongkan tubuhnya mendekati telinga Firda, Firda sama sekali tidak bernafas saat ini, jantungnya juga berpacu dengan kencang saat menatap beberapa logo emas di baju milik Satria.


"Menikahlah denganku!!" Hembusan nafas Satria kini menerjang leher jenjang Firda. Setelah mengucapkannya Satria langsung kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum melihat Firda yang kaget.


"Bernafas lah hey!" Ucap Satria diakhiri dengan tawa renyahnya.


Lagi dan lagi? Kenapa Firda sangat kaget melihat Satria tertawa, kekagetannya belum juga sirna. malah ditambah lagi. Firda menghirup udara dengan cepat, ia sampai memegang dadanya akibat terlalu sesak.


"Tidak ada syarat lain kah?" Tanya Firda


"Hanya itu yang ku punya!"


' bahkan dia bisa mengubah syarat itu menjadi apapun heyy! kau kan punya segalanya ' kesal Firda dalam hatinya.


"Jika kau tidak mau! Berarti kau tidak akan bisa keluar dari sini selangkah pun! Dan kau tidak bisa bertemu ibumu selamanya!" Ucap Satria santai.


"Kau lupa? Bagaimana kita menikah jika wali nikahnya saja ayahku tidak ada?" Sedikit sakit bagi Firda, namun memang itu kenyataannya.


"Kau lupa? Jika Tidak ada walimu menurut negara dan agama bisa diwalikan kepada orang lain?"


Firda kalah kali ini, tapi… hatinya bimbang, kenapa harus menikah dengan laki-laki menyebalkan ini syaratnya?, kenapa Satria begitu egois menurutnya? Apakah ia ingin mempermainkan pernikahan? Apakah ia hanya ingin mempermainkan dirinya? Firda takut, sangat takut. Tapi ia lebih takut tidak bisa bertemu ibunya lagi.


Satria memang egois kali ini, hatinya terus bergerak untuk menahan Firda di hidupnya, dan entah akal dari mana ia malah memberikan syarat diluar nalar itu pada gadis dihadapannya, apakah ia mulai mencintai gadis ini? Sungguh mustahil bukan? Pikir Satria.


Bahkan gadis ini baru ia temui belum sampai dua bulan, namun kenapa ia sangat nekat pada gadis polos ini? Sejauh ini, jika dilihat pada kepribadian Satria, mungkin hal yang mustahil jika ia mempedulikan wanita lain kecuali Kakak dan Bundanya, tapi memang ini kenyataannya, ia sangat peduli dengan gadis didepannya.


Firda saat ini melamun, bukan memikirkan tawaran dari polisi menyebalkan didepannya, tapi ia sedang memikirkan keadaan sang Ayah saat ini, bagaimana kabar ayahnya yang jasadnya belum ditemukan sama sekali. Andai jika ayahnya ada disini, kebingungannya mungkin akan hilang.


"Kuberikan waktu 12 jam untuk memikirkan tawaranku! Nanti malam aku menantikan keputusanmu!" Tutur Satria yang langsung pergi dari kamar Firda.


" HEY!! BAHKAN 12 JAM TIDAK SAMPAI SATU HARI!! INI MASA DEPANKU POLISI ANEH!" Teriak Firda prustasi, untung saja kamar ini kedap suara, jadi ia tidak perlu khawatir jika suaranya akan keluar terdengar.

__ADS_1


"Bahkan tidak sampai satu hari dia memberiku waktu, apakah secepat itu aku harus memutuskan masa depanku?" Pikir Firda lemah.


"Arghhhh… aku mau menikah dengan orang yang kucintai, Arghhhh…menyebalkan, menyebalkan!!!" Firda kesal kali ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat datang di rumah ini Sayang! Sekarang ini sudah menjadi rumah kalian juga!" Tutur Riko sambil membawa koper milik Rani.


"Terima kasih mas! Kamu mau menerimaku apa adanya!" Ucap Rani tulus.


"Iya om makasih juga udah mau menerima Karin!"


"Sekarang panggil Ayah ataupun papa juga boleh, sekarangkan om juga ayah kamu!"


"Iya Ayah!" Ucap Karina lembut.


"Ansela! Kemari!!!" Ansela yang baru saja turun dari tangga menatap ayahnya malas.


"Sekarang Rani adalah ibumu, dan Karina adalah adikmu! Ayah harap kamu mau menerima mereka!"


"Aku akan menerima mereka jika ayah mau menyewakan pengacara hebat untuk suamiku!" Rika menghela nafas panjang dan menyetujuinya, bagaimanapun Rangga tetap menantunya, ia sudah menelusuri kasus Rangga, dan ternyata Rangga sudah melakukan diluar batasnya.


"Baiklah! Ayah setuju! Semoga suamimu bisa berubah sayang! Waktu kamu di rumah sakit ayah melangsungkan pernikahan dengan Rani, tadinya ayah mau memberitahumu, tapi ayah takut membuat kamu semakin stress setelah kehilangan janinmu!" Riko mengusap kepala Ansela lembut.


"Aku harus pergi! Permisi!" Ansela langsung melenggang pergi dari hadapan mereka bertiga, Riko menatap putrinya sendu, ada rasa bersalah dihatinya saat melihat sikap Ansela yang berubah.


"Ayo kita masuk! Karina nanti diantar oleh pelayan disini menuju kamarmu! Di atas ada tiga kamar, kamar utama pertama milik Ayah dan ibumu saat ini, kamar utama kedua milik kakakmu Ansela bersama suaminya, dan satu lagi kamar tamu, namun kali ini menjadi milikmu! Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Riko.


Sebenarnya Karina tidak mau tidur di kamar tamu, namun tatapan Rani yang menyuruhnya menyetujuinya.


"Gak papa kok ayah! Aku sudah senang bisa diterima di rumah ini! Kalau masalah kamar itu tidak jadi permasalahan!" Ucap Karina lembut.


"Terima kasih ya!"


"Sama-sama Ayah!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


SAMPAI SINI DULU NIH!! KIRA-KIRA PART NANTI FIRDA HARUS NOLAK ATAU NERIMA. SATRIA GAK YA? JUJUR AKU BINGUNG! KOMEN DONG KIRA-KIRA BAGUSNYA KAYAK GIMANA?


__ADS_2