Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
91. Keluarga Yang lengkap


__ADS_3

"Bunda mohon sayang! Kamu malam ini menginap di rumah bunda ya! Sekali saja!" Ujar Aneska sejak tadi membujuk Putrinya agar mau ikut satu hari saja.


"Tidak Tante maksudnya Bunda! Aku harus merawat ayah selama beberapa hari di mansion! Kalian semua bisa melihat betapa tersiksanya ayahku dengan luka di wajahnya!" Mendengar hal itu Arsen menatap putrinya sendu, sejak tadi bahkan putrinya tak menatap keberadaannya disini.


"Permata ayah kemari!" Ujar Dafa dan Firda hany menurut mendekati Dafa.


"Ayah mengerti sekali perasaan kamu sayang! Ayah bukanlah ayah kandungmu nak! Jangan membuat ayah dan bundamu sedih, cukup dua puluh tahun yang lalu mereka merasakan kesedihan! Pergilah! Ayah baik-baik saja!" Ujar Dafa dengan tersenyum meyakinkan putri yang ia rawat sejak kecil.


Firda menatap Aneska, Arsen, Farhan dan Aldo secara bergantian, kini terkahir ia menatap suaminya yang hanya diam tak berbicara apapun.


"Ayah akan tetap menjadi ayahku sampai kapanpun! Jangan pernah bilang kalau ayah bukan ayah kandungku! Aku tidak mempermasalahkan hal itu, ayah tetap menjadi ayahku!"


Dafa menatap Firda terharu, ia benar-benar tidak pernah menyesal bisa membawa Firda kehidupannya, setidaknya ia bisa merasakan rasa hangat dari putri yang bukan darah dagingnya.


"Peluk kedua orangtuamu sayang! Mereka sangat menantikan hal itu!" Ujar Dafa yang langsung disetujui oleh Firda.


Firda langsung berjalan kearah Arsen dan Aneska terlebih dahulu, ia menatap keduanya canggung, baru beberapa menit yang lalu keduanya harus ia panggil dengan sebutan Ayah dan Bunda, ini serasa mimpi di negri dongeng.


"Ayah!" Panggil Firda pelan dan langsung memeluk Arsen, rasanya seperti memeluk Dafa, tapi bedanya Arsen memiliki perawakan yang tinggi dan lebih kekar, namun rasa hangat pelukannya sama seperti Dafa.


Arsen langsung meneteskan air matanya, ternyata mimpinya selama ini untuk memeluk malaikat kecilnya bisa terwujud, ia pikir putrinya benar-benar tuhan ambil darinya, serumit apapun skenario yang diberikan, ia tetap bersyukur bisa dipertemukan dengan malaikat kecilnya.


"Malaikat kecil ayah! Aurora!" Ujar Arsen yang masih memeluk tubuh Firda erat.


"Aurora?" Tanya Firda heran dan melepaskan pelukannya.


Arsen mengusap jejak air mata putrinya sebelum menjawab.


"Kamu dan Aldo merupakan saudara kembar beda jenis kelamin, nama Aldo tadinya Azril dan nama kamu Aurora sayang! Tapi apapun itu ayah tetap senang karena putri kecil ayah ternyata masih didunia!" Ujar Arsen yang tak bisa menggambar kebahagiaannya sekarang.


"Bunda!" Panggil Firda dan langsung berhamburan ke pelukan Aneska, tangis anes kembali pecah akhirnya bisa memeluk tubuh putrinya ini, ia pikir putrinya akan membencinya, tapi ia salah sekali.


"Sayang maafin bunda! Bunda gak tahu selama ini kebenarannya!" Bisik Aneska dengan suara seraknya.


"Ini semua takdir bunda!" Ujar Firda dengan senyumannya.


Firda langsung menatap kedua saudaranya bergantian.


"Peluk kembaran dulu sini!" Ujar Aldo sambil merentangkan kedua tangannya.


"Dimana-mana kakak pertama lebih dulu!" Ujar Farhan sambil menepis tangan Aldo yang menghalanginya.


"Memangnya aku menyuruh kalian memeluk istriku?" Ujar Satria kesal.

__ADS_1


"Ck aelah! Dia adik gue! Gue lebih berhak!" Ujar Farhan menatap sahabatnya nyalang.


"Gue suaminya! Dan saat ini gue lebih berhak!"


"Lagian kita satu darah!" Ujar Aldo menimpal.


"Sudah-sudah kenapa malah jadi ribut sih?" Ucap firda kesal.


Amera Saka Arsen maupun Aneska hanya tertawa melihat tingkah laku tiga laki-laki itu, begitu juga Dafa yang terharu akhirnya sang putri bisa kembali keluarga asalnya.


"Mas lagian mereka kakak aku! Sebentar ya!" Satria hanya memalingkan wajah saat melihat wajah sembab dan memohon itu, ia memang tidak bisa menolak keinginan istrinya.


"Pak dokter dulu aja deh!" Farhan yang mendengar itu memutar bola matanya, bisa-bisanya masih menyebutnya dokter saat tahu jika ia adiknya sendiri.


"Panggil Abang!" Ujar Farhan dan langsung menarik Firda kedalam pelukannya, Farhan memejamkan matanya, ternyata mimpinya akhir-akhir ini bukan hal aneh, melainkan pertanda adik perempuannya akan hadir kembali.


Sejak pertama kali melihat Firda, ia merasakan hal aneh, ia sampai menjauhi sahabatnya takut jika rasa yang ia rasakan adalah rasa cinta, Karena ia sendiri belum tahu gimana rasa cinta itu, mana mungkin ia menikung sahabatnya, tapi ternyata rasa itu adalah kaitan batin seorang kakak kepada adiknya.


"Jangan lama-lama!" Tegur Satria.


"Satya!" Ujar Amera memperingati putranya.


"Sini sama kembaran!" Ujar Aldo yang langsung menarik tubuh Firda saat terlihat lepas dari Farhan.


"My twins! Panggil aku Bang Al!" Ujar Aldo yang masih memeluk adiknya.


Sebuah tangan kekar kini memisahkan Firda dan juga Aldo, siapa lagi kalau bukan Satria yang sudah meredam amarah melihat istrinya memeluk pria lain.


"Sayang! Nanti kau sakit terlalu lama memeluk mereka!" Ujar Satria berbisik dan merangkul pinggang Firda posesif.


Semua orang disana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Laku Satria jika sedang cemburu, mereka baru tahu seorang Satria bisa seposesif ini jika bersama orang yang ia cintai.


"Ini sudah pukul delapan lebih loh! Ini ceritanya mau libur kerja ya?" Ujar Amera sambil menatap suaminya.


"Sepertinya ide bagus!" Ujar Farhan.


"Karena hari ini aku sedang bahagia! Selama satu tahun gajih karyawan aku naikkan sepuluh kali lipat!" Ujar Arsen dengan wajah bahagianya sambil menatap putrinya yang berada di pelukan Satria.


"Gila!" Ujar Saka sambil menggelengkan kepalanya, tak aneh baginya karen Arsen merupakan sahabat yang begitu royal, tapi yang dimaksud Arsen karyawan di kantor utama atau semua karyawan yang berada di naungan Gabriel Group?


"Aku juga akan memberikan fasilitas VVIP kepada semua pasien yang sedang dirawat!" Ujar Farhan tak mau kalah.


Satria hanya memutar bola matanya malas, sudahlah jika beradu harta ia akan tetap menang dibanding sahabat dan mertuanya itu.

__ADS_1


"Sayang! Hari ini tidak usah ikut kekantor! Barangkali kau mau berkunjung ke mansionmu!" Ujar Satria lembut.


"Tapi kalau aku merindukanmu bagaimana?" Bisik Firda ditelinga Satria yang terkesan lucu menurut Satria apalagi dengan tingkah Firda yang seperti menggambar pola di dada bidangnya, ****! Satria ingin mengurung istrinya.


"Sayang jangan menggodaku! Aku harus pergi bekerja untuk menemui berkas sialan milik Ayahku!" Geram Satria ingin sekali menerkam istrinya disini jika saja tidak ada orang lain.


"Pergilah! Bawa makanan yang banyak saat pulang!" Ujar Firda.


Cup…


Satria mengecup bibir Firda singkat.


Ekhem…


"Berasa ngontrak di mansion sendiri!" Ujar Saka sambil melihat kearah Satria dan Firda.


Firda yang tersadar langsung memeluk Satria karena merasa malu, bisa-bisanya suaminya ini mencium sembarangan.


"Dahlah! Gak suci lagi nih mata!" Ujar Aldo sambil memalingkan wajahnya.


"Kita keluar saja yuk! Pak Dafa harus istirahat!" Ujar Saka yang melihat Dafa seperti ingin tidur karena obat yang di berikan dokter.


Akhirnya setelah berpamitan dengan Dafa, Firda juga ikut keluar kamar membiarkan sang ayah istirahat, karena ia yakin ayahnya akan dibantu oleh para maid disini.


"Aku harus segera pergi sayang! Jika ada apa-apa hubungi aku oke!" Ujar Satria memberi peringatan.


"Lo pikir gue bakal apain adik gue Sat?" Tanya Farhan tak terima.


"Gue hanya perlu adaptasi jika menyangkut orang baru!" Ujar Satria terkekeh melihat wajah kesa sahabatnya.


"Sialan kau!" Ujar Farhan.


Akhirnya semuanya bubar, bagutu juga Firda setelah berpamitan dengan suami dan mertuanya, ia kini ikut pergi ke mansion Arsen yang sekarang sudah menjadi rumahnya sendiri.


Diperjalanan begitu hangat dengan canda tawa keluarga Gabriel yang sudah terkumpul sempurna, bagia Anes ini merupakan mimpi yang nyata dan membawa kebahagian padanya. Sungguh Tuhan memang maha baik.


"Bagaimana sayang? Apa keluargamu dulu memperlakukan kamu dengan baik?" Tanya Arsen pada putrinya, karena mau tidak mau ia juga harus berterima kasih karena telah merawat putrinya walau memang dengan cara yang salah.


"Baik kok!" Jawab Firda pelan, karena jika diingat hanya ayahnyasaja yang memperlakukan dirinya kayaknya manusia, Rani dan Karina tidak pernah sama sekali sejak Rani berubah saat ia tumbuh remaja.


Farhan menatap manik adiknya dalam, sepertinya adik ya ini menyimpan kebohongan, tapi apa? Pikir Farhan dengan diam.


Ia harus segera menanyakan seluk beluk adiknya saat kecil, ia yakin Satria tidak mungkin tidak tahu jika menyangkut istrinya. Bahkan Satria sendiri yang membongkar semuanya tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2