
"KENAPA BISA HAH?" Tanya Anita dengan marah.
"Saya tidak tahu nona! Setelah kita mencampurkan bumbu kacang pada makanan, kita tidak menemukan jejak mereka! Namun kami bisa memastikan bahwa mereka masih berada di kota Paris!"
"SIAL! Mana data Satria tidak bisa di tembus!" Gumam Anita menggeram kesal.
"Bayaran kalian sudah aku transfer! Pergi dan cari tahu lagi! Aku akan membayar dua kali lipat dari itu!"
"Siap nona! Kamu permisi!"
Anita langsung mondar-mandir tak jelas di kamar hotelnya, baru saja ia mendarat di Paris sudah mendengar kabar tak enak saja, Anita sangat heran kemana perginya Satria an wanita murahan itu? Ia yakin sekali jika mereka hanya bersembunyi di negara kota ini.
"Lihat saja! Akan kutemukan kalian! Kalian sedang bermain petak umpet denganku bukan? Baiklah Satria Sayang! Aku akan menemukanmu dan aku akan menjadi pemenangnya!" Ujar Anita dengan senyuman bangganya.
Berbeda dilain tempat, kedua pasutri kini sedang nyaman tidur dengan posisi berpelukan, keduanya merasa letih dan memutuskan untuk beristirahat sejak tadi pagi setelah mendarat sempurna di negri sakura ini. Sudah sekitar empat jam mereka tidur di hotel milik Edward ini.
Firda menggeliatkan tubuhnya dan merenggangkan otot-ototnya setelah lepas dari pelukan Satria.
"Kembali istirahatlah!" gumam Satria pada Firda yang malah keluar dari pelukannya.
"Aku sudah baikan mas! Aku lapar!" Ucap Firda yang langsung bangun dan menyandarkan punggungnya pada punggung ranjang disana.
"Kau lapar?" Tanya Satria dan langsung membuka matanya sempurna.
"Hmm!" Jawab Firda sambil mengucek matanya.
"Sebentar!" Ujar Satria yang langsung meraih benda pipih di atas nakas disampingnya.
Satria langsung mendudukkan dirinya dan menekan tombol panggil pada seseorang yang tak lain adalah Juan.
"Antarkan makanan ke kamarku sekarang! Jangan pesan makanan berbau kacang! Apapun itu!" Satria Langsung mematikan sambungan panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban disana.
Berbeda dengan Juan yang baru saja memejamkan matanya menikmati setiap hembusan nafasnya, kini ia harus pergi lagi untuk memesan makanan tuannya.
"Sudah saya katakan anda harus makan tadi pagi tuan! Lihatlah! Bahkan aku semalaman tidak tidur karena membereskan pekerjaan anda tuan! Dan sekarang setelah anda bangkit dari mimpimu, kau malah mengusik mimpiku! Kalau saja anda bukan tuan muda yang saya hormati, saya sudah menekan tombol merah melihat panggilan anda!" Ucap Juan menggerutu, namun walau begitu ia tetap melangkah pergi keluar mencari makanan untuk makan pagi sekaligus makan siang.
…
"Sayang!" Panggil Satria.
"Hmm!" Firda hanya bergumam sambil terus menatap cermin di depannya.
"Kau sedang Apa hmm?" Tanya Satria sambil memeluk tubuh Firda.
"Mas aku belum mandi!" Ucap Firda tak enak, takutnya tubuhnya bau karena belum mandi.
"Aku tahu! Tapi kau tetap wangi!" Ucap Satria sambil mengendus diarea leher Firda.
__ADS_1
"Mas! Kenapa bintiknya cepat sekali menghilang? Biasanya ini akan memakan waktu tiga atau lima hari!" Ucap Firda aneh sambil menatap setiap inci wajah dan bagian tubuhnya yang terlihat.
"Ada obat khusus sayang! Kau tak perlu khawatir!" Ujar Satria sambil mengecup puncak kepala Firda.
Firda membalikkan tubuhnya menghadap langsung pada Satria yang tengah berjongkok untuk menyamakan tingginya dengannya yang sedang duduk.
"Mas!" Panggil Firda sambil mengelus rahang tegas Satria.
Satria langsung meraih tangan Firda dan mengecupnya dengan lembut.
"Kenapa hmm?" Tanya Satria.
"Diluar sana banyak sekali wanita berpendidikan, dan kau tahu? Yang kini ada di hadapanmu hanya seorang lulusan SMA dan berhenti kuliah ditengah jalan! Apa Mas tidak malu jika suatu saat semua orang mengetahuinya?" Tanya Firda serius, hal ini sebenarnya menjadi beban pikiran yang belum sempat Firda ungkapkan.
Satria menatap tak suka istrinya saat membahas tentang pendidikan, bahkan ia sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu.
"Jangan katakan hal itu lagi! Aku tak suka sayang!" Tegas Satria.
"Wanita diluar sana yang berpendidikan belum tentu memiliki sifat yang baik sepertimu! Sikap itu menjadi poin pertama dalam penilaian! Dan aku bangga memiliki seorang istri sepertimu!" Firda menatap haru mendengar kalimat Satria barusan.
"Mulailah mencintaiku Sayang!" Pinta Satria dengan harapan besarnya.
"Aku sudah memulainya sejak lama Mas!" Ucap Firda dengan senyuman tulusnya.
"Dan sepertinya sekarang aku sudah mencintaimu!" Ucap Firda lagi sambil mengelus rahang Satria lembut, Firda juga menempelkan keningnya dengan kening Satria hingga hidung keduanya beradu. Satria memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dari tangan istrinya.
CUP…
Satria mengecup bibir Satria singkat dan kembali mengelus rahang Satria.
"Aku belum mandi loh mas!" Ucap Firda saat Satria masuk kedalam pelukannya dan mengendus lehernya.
"I don't care!" Jawab Satria yang masih tetap berada di leher Firda.
"Mas! Sepertinya diluar ada orang!"
Satria mengumpat dalam hatinya saat mendengar suara bel Hotel. Ia terpaksa langsung berdiri dan sebelum itu mengecup bibir Firda singkat.
"Tunggu sebentar!" Firda hanya mengangguk dan menatap kepergian Satria keluar kamar menuju ruang tengah.
Satria berjalan keluar kamarnya menuju ruang tengah untuk membuka pintu utama kamar hotelnya.
"Selamat siang tuan! Saya membawa makanan pesanan anda!" Ucap Juan sambil menyodorkan nampan besar berisi beberapa maca makana, dibelakang Juan terdapat dua pegawai hotel yang membawa minuman serta cuci mulut untuk disantap.
"Masuk! Dan simpan dimeja ruang tengah!" Ucap Satria.
Juan hanya mengangguk dan masuk kedalam kamar hotel diikuti dua pegawai tadi.
__ADS_1
"Ada lagi yang anda butuhkan tuan?" Tanya Juan hormat.
"Cukup! Pergilah istirahat! Hari ini kita akan dikamar saja! Agendakan saja perjalanan untuk besok!"
"Baik tuan! Dengan senang hati!"
' Karena sebenarnya saya ingin sejak tadi beristirahat! ' Lanjut Juan dalam hatinya.
Setelah pamit Juan langsung menutup pintu kamar hotel Tuan mudanya, ia langsung berjalan beberapa langkah menuju kamarnya dan bersiap untuk memejamkan matanya yang sudah terasa berat sekali.
Sedangkan kini Satria memanggil Istrinya keluar kamar untuk melakukan makan.
"Duduklah!" Ujar Satria sambil menepuk sofa disebelahnya yang kosong.
"Waw! Sepertinya makanan ini enak semua!" Ucap Firda yang menghirup aroma wangi makanan.
"Makanlah!" Firda mengangguk dan dengan semangat mengambil sumpit lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
Satria langsung mengambil ikat rambut di saku celananya saat melihat Firda yang seperti kesusahan makan gara-gara rambut yang digerai
Satria mulai mengikat rambut istrinya perlahan agar tidak mengganggu makan Istrinya.
"mwakwasih!" Ucap Firda dengan mulut yang masih mengunyah.
"Telan dulu baru berbicara!" Tegur Satria dengan kebiasaan istrinya itu.
Firda hanya mengangguk tanpa berkata apapun, ia lebih memilih untuk melanjutkan makannya.
Sedangkan Satria hanya menatap wajah Firda yang kini tengah lahap makan, ia tak ada minat untuk makan saat ini, melihat Firda saja sudah membuatnya kenyang.
Firda menyodorkan sendok makan yang sudah ia isi pada Satria.
"Makanlah! Aku tak mungkin menghabiskan semuanya!" Ucap Firda pada suaminya.
"Hmm!" Jawab Satria yang langsung menerima suapan dari Firda.
"Makanlah yang banyak!" Ucap Firda senang saat sendoknya diterima oleh suaminya.
"Aku tak perlu makan banyak! Aku hanya perlu memakan mu saja saat ini!"
Firda mencebikan bibirnya mendengar perkataan Satria yang mesum itu.
.
.
.
__ADS_1
.