
Firda tak henti-hentinya menatap dinding transparan itu yang langsung mengarah pada Menara Eiffel di Prancis ini. Kebetulan satu jam yang lalu Jet pribadi Satria baru mendarat di negara Prancis, bahkan Firda yang tadinya mengantuk langsung membuka matanya Full 100% sata melihat menara yang cantik itu di malam hari ini.
"Satya ini indah sekali!" Ujar Firda tak henti-hentinya.
Namun Satria hanya fokus membidik Firda dengan handphonenya dari belakang.
"Istirahatlah! Besok kita akan pergi jalan-jalan!" Ujar Satria yang langsung memeluk Firda dari belakang.
"Satya apa kita bisa ke balkon itu?" Tanya Firda yang menunjuk balkon kamar mereka.
"Tentu! Tapi tidak sekarang! Aku tidak mengizinkan mu malam ini! Istirahatlah sekarang!"
Firda hanya memasang wajah cemberut mendengar perkataan Satria, namun ia juga tidak mau melawan dan hanya mengikuti saja perintah Satria.
"Baiklah!" Ujar Firda lesu.
"Good girl!"
Cup…
Satria mengecup pipi kanan Firda singkat dan langsung merengkuh tubuh istrinya, ia juga mengangkat tubuh Firda dan berjalan kearah tempat tidur yang menghadap langsung pada menara Eiffel.
"Tirainya jangan ditutup!' Pinta Firda pada Satria.
"Hmm!" Gumam Satria menurut.
Ia langsung membaringkan tubuhnya dan menarik tubuh Istrinya untuk di jadikan guling, tangan kiri Satria juga dijadikan bantal kepala Firda.
"Mulai sekarang jangan panggil namaku!" Bisik Satria ditelinga Firda.
"Lalu apa?" Tanya Firda heran dan langsung membalikkan badannya menghadap Satria.
"Panggilan yang biasanya pasangan suami istri sebut!"
Firda tampak berpikir sejenak.
"Kalau Mas?" Tanya Firda.
"Ada yang lain?" Tanya Satria yang merasa geli mendengar ucapan Firda dengan menyebut "Mas"
"Paksu?"
"Apa lagi itu?" Tanya Satria heran.
"Pak Suami!" Jawab Firda dengan cengengesan.
"Opsi pertama saja!" Jawab Satria.
"Siap Mas!" Ucap Firda diakhiri dengan tawa renyahnya.
Satria mengecup seluruh wajah Firda karena gemas dengan senyumannya barusan.
"Kalau kamu panggil aku apa?" Tanya Firda.
"Tante!" Jawab Satria dengan datar dan tentu membuat Firda membelalakkan matanya tak percaya.
"Ish…" Firda langsung memukul dada bidang Satria dengan keras.
"Jangan dipukul! Nanti tanganmu yang sakit!" Ucap Satria kesal karena istrinya ini sering sekali memukul dada bidangnya, ia tahu istrinya itu pernah meringis kesakitan setelah memukul dadanya.
__ADS_1
"Lagian bercandanya gak lucu!' Ucap Firda kesal.
"Maaf Sayang!" Ucap Satria dengan suara seraknya sambil menatap intens wajah Firda serta merapihkan anak rambut Firda.
Firda langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Satria mendengar ucapan Satria barusan.
"Kenapa hmm?" Tanya Satria menggoda Firda.
"Diam lah!" Ucap Firda dengan posisi masih didalam dada bidang Satria.
Satria tertawa pelan dan langsung memeluk erat tubuh mungil istrinya gemas.
Kedua pasutri itu langsung tidur dengan posisi yang berpelukan, yang tadinya ingin menyaksikan malam dengan Menara Eiffel yang menyala, malah menara Eiffel yang menyaksikan keromantisan sepasang suami istri itu.
…
Tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Firda yang sudah sejak tadi bersiap hanya tinggal menunggu Satria yang keluar dari kamar mandinya.
"apa hari ini kita akan sarapan diluar?" Tanya Firda yang baru saja melihat Satria keluar dari kamar mandi.
"Kita belum sempat membeli bahan makanan semalam! Juan juga baru saja sampai tadi pagi, lebih baik kita makan diluar!" Jawab Satria sambil menghampiri Firda yang masih berdiri di balkon.
Cup…
"Selamat pagi!" Bisik Satria setelah mengecup bibir Istrinya singkat.
"Pagi!"
"Kamu bilang Juan baru datang tadi pagi! Apa dia kesini?" tanya Firda heran.
"Hmm! Dia akan selalu ikut langkah tuannya kemanapun itu!"
"Dia terlalu setia sepertinya!"
"Mas! Ayo kita berangkat! Aku sudah lapar!" Ucap Firda.
"Ulangi lagi panggilan itu!" Ucap Satria menggoda istrinya.
"Apa? Yang mana?" Tanya Firda berpura-pura lupa.
"Jangan berpura-pura lupa!" Geram Satria.
"Yang mana sayang?!" Ucap Firda sambil mengelus rahang Satria lembut.
Satria yang mendengar panggilan pertama kali Firda membuat jantungnya berdetak kencang dan telinganya kini sudah merah padam.
Satria langsung menarik tubuh Firda agar semakin merapat ke tubuhnya.
"Sudah berani menggoda hmm?" Tanya Satria dengan suara seraknya.
"Sebaiknya kita dikamar saja hari ini! Aku ingin mengurung mu saat ini!" Ucap Satria lagi.
"Tidak! Tidak! Aku mau jalan-jalan!" Ucap Firda dengan merengek dengan memasang wajah memelas pada Satria.
****!
Satria jadi tidak tega jika harus dihadapi dengan wajah Istrinya yang memohon seperti ini.
"Satu syarat!" Ucap Satria dengan senyum miringnya.
__ADS_1
"Tidak masalah!" Jawab Firda enteng, yang penting hari ini ia tidak dikurung dengan laki-laki seperti macan ini.
"Nanti malam aku ingin kamu baby…" bisik Satria dengan suara seraknya.
Firda langsung menelan ludahnya sendiri susah payah mendengar perkataan Satria barusan.
"Le…lebih baik kita pergi sekarang! Kau mau aku mati kelaparan?" Ucap Firda gelagapan dan langsung melepaskan diri dari pelukan Satria.
Satria langsung menyusul langkah Firda yang sedang salah tingkah gara-gara perkataannya. Ouh ingin sekali Satria mengikat istrinya yang menggemaskan sekali dimatanya, ini pertama kalinya Satria merasakan rasa bahagia seperti ini dihatinya, entahlah setiap detik, menit, jam maupun setiap harinya, hidupnya terasa berwarna sepenuhnya karena kehadiran Firda sekaligus statusnya yang kini menjadi istrinya.
Kini Satria dan Firda sudah berada di salah satu restoran yang rata-rata berisi menu Indonesia, karena Firda sudah mewanti-wanti Satria agar tidak sembarang makan, takutnya kan makanan haram masuk ke perutnya.
Pelayan disana langsung menyajikan menu yang beberapa menit lalu telah Satria pesan, tak ingin menunggu lama Firda langsung melahap makanan yang sangat mengiurkan itu.
Namun baru saja Firda memakan beberapa suap, tubuhnya terasa aneh, namun Firda tak menghiraukan hal itu dan lebih memilih untuk melanjutkan makannya, mungkin saja ia kelelahan karena perjalanan panjang kemarin malam.
"Mas!" Panggil Firda lirih saat tubuhnya semakin merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhnya.
"Kenapa hmm?" Tanya Satria khawatir dan langsung menghampiri Firda, namun matanya terpaku pada leher Firda yang kini sudah banyak totol-totol merah dan sebentar lagi menyebar ke wajahnya.
****! Satria kecolongan saat ini!
Satria langsung membopong tubuh Firda dan berlari keluar, ia tak peduli menjadi tatapan penasaran para pengunjung restoran itu.
"Juan yang baru saja sampai didepan Resto langsung terkejut saat melihat tuan mudanya panik seperti itu.
"Tuan saya sudah menyiapkan dokter khusus kemarin di Paris!" Ucap Juan yang mengikuti langkah Satria menuju mobilnya.
"Bawa mobilku Juan!" Tegas Satria dengan aura dinginnya.
Juan langsung masuk kedalam mobil Yang tadi Satria bawa ke resto, sedangkan Satria masuk ke kursi belakang dengan posisi masih memeluk tubuh Firda.
"Mas ini gatal! Panas!" Ucap Firda gelisah yang kini totol-totol merah itu sudah sampai ke seluruh tubuhnya.
"Tenang sayang! Kau akan baik-baik saja!" Bisik Satria sambil terus memeluk tubuh Firda.
Juan langsung membelah jalanan kota Paris menuju rumah sakit terdekat disana, Untung saja Juan sudah berjaga-jaga memboking dokter di kota Paris ini sejak hari kemarin.
Tak butuh waktu lama kini Juan sudah berada di depan rumah sakit terbaik di Paris.
Satria juga langsung keluar dan berlari panik karena Firda sudah tak sadarkan diri sejak beberapa menit yang lalu.
"Médecin! S'il vous plaît, sauvez ma femme ! Je t'en supplie!" (Dokter! Tolong selamatkan istri saya! Saya mohon) Ucap Satria saat melihat beberapa perawat dan dokter yang sudah siap menyambut kedatangan Satria, karena mereka beberapa menit lalu sudah mendapat kabar darurat.
Satria langsung membaringkan tubuh Firda di Hospital Bed yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
"Bien sur monsieur!" (Tentu Tuan) Jawab Para perawat yang langsung membawa Firda ke salah satu ruangan.
"Juan!" Panggil Satria geram setelah Firda masuk keruangan dan sedang ditangani oleh dokter.
"Tuan maaf! Saya baru mendapat kabar bahwa anak buah nona Anita sudah bergerak! Kemungkinan makanan tadi dicampur dengan bahan yang dapat alergi nona muda kambuh!" Tutur Juan menyesal dengan keadaan seperti ini.
"Juan katakan pada Erik, blok semua data kepolisian ku saat ini! Dan blok semua akses wanita itu dari sana!" Ucap Satria dengan nafas yang memburu menahan emosinya saat ini.
"Baik tuan!"
"Dan siapkan Jet pribadi saat ini juga! Aku ingin pergi dari negara ini! Dan bawa dokter khusu untuk merawat istriku nanti!!" Ucap Satria dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan! Akan saya siapkan saat ini juga!" Ujar Juan dan langsung keluar untuk menghubungi seseorang.
' Lihat saja! Kau akan mendapatkan balasan atas perbuatanmu!' tutur Satria dalam hatinya dengan sangat geram hingga urat-urat lehernya terlihat begitu jelas karena sedang menahan emosinya saat ini.