
"Kapten target sudah menuju TKP!"
"Awasi dia jangan sampai lengah!!"
"Siap Kapten! Tapi sepertinya kita salah memperkirakan jumlah target yang datang!"
"Hanya menambah tiga tikus tidak jadi masalah! Ikuti aba-aba, dalam hitungan ketiga tembakan peluru pada kaki target hanya. satu tembakan! Mengerti?"
"Siap mengerti kapten!"
Malam ini Satria dengan terpaksa menangkap tikus berdasi sekaligus pengedar narkoba di sebuah gedung tua yang sudah puluhan tahun terbengkalai, sebenarnya malam ini ada sesuatu hal yang penting yang harus dilakukan, namun ternyata ini lebih penting sepertinya.
"One."
"Two."
"Three! Shoot!!"
DOR…DOR…DOR…
Suara tembakan kini tepat mengenai kaki para target, namun sialnya ternyata anak buah target keluar dari persembunyiannya dan jumlahnya lebih banyak dari polisi yang mengepung saat ini.
"Kapten! Bagaimana ini?" Ucap seseorang di balik walkie talkie itu.
"Urus area luar! Area dalam biarku bereskan!!!" Ucap Satria dan langsung berlari dari persembunyian menuju target.
Ia merogoh pistol barunya yang dapat menembak dengan kecepatan tidak sampai dua detik dan bisa menembus, bahkan dalam satu tembakan pistol yang ia rakit dapat menyebabkan dua atau tiga orang sekaligus tumbang, ia merancangnya sendiri bersama para ahlinya dari Italia.
DOR…
Satria menghindari peluru yang akan mengenai jantungnya.
"****! Hampir saja! Let's Start Playing!" Desis Satria.
DOR…DOR…DOR…
DOR…DOR…DOR…
DOR…DOR…DOR…
"Akh…!!!" Suara rintihan begitu terdengar keras akibat peluru yang begitu cepat hingga tak bisa dihindari begitu menyayat kali mereka dan memiliki efek lemas pada tubuh mereka.
DOR…
DOR…
DOR…
"One more!" Desis Satria.
DOR…
Satria tersenyum mengejek pada target dihadapannya yang sudah terkapar lemas, Satria membereskan perkiraan dua puluh orang dengan tangannya sendiri.
Tak lama anggota polisi yang lainnya masuk setelah membereskan semua tikus yang berada diluar.
__ADS_1
"Kapten kami sudah membereskan bagian luar!" Ucap Erik.
"Bereskan bagian dalam! Bawa ke sel paling bawah!" Perintah Satria pada Erik.
Erik merupakan tangan Kanan Satria dalam jabatannya sebagai kapten, terkadang Erik juga menjadi sekretaris Satria jika ia sedang dibutuhkan, pasalnya Satria saat ini tidak memiliki sekretaris, Erik dan Juan merupakan sekretaris pribadinya jika ia sibuk, karena Satria dapat membereskan pekerjaannya dengan sendirinya.
Jika di kantornya dan kantor ayahnya, Juan yang akan menggantikan semua pekerjaannya, dan jika di kepolisian Erik lah yang berperan. Namun posisi Juan lebih tinggi bagi Satria, selain di kantor membantunya, Juan juga sering mengikuti Satria kemanapun, seperti sekarang ini, Juan membantu para polisi lain membereskan hama-hama yang merugikan masyarakat.
Satria berjalan keluar gedung diikuti oleh Juan dengan tangan yang berlumur darah akibat cipratan darah tikus tadi, sedangkan polisi yang lain mengamankan barang-barang terlarang dan juga tikus berdasi itu.
Kini Satria berada di mobilnya, ia menyuruh Juan untuk memakai mobil yang berbeda, yah karena malam ini, ia akan pergi ke apartemen pasalnya sore tadi Firda tidak mau di ajak ke mansion dengan alasan tak enak pada Amera dan Saka, jadinya saat ini Firda berada di apartemen sendirian karena Satria yang mendapat panggilan darurat dari Erik.
Satria menatap dompet Firda yang terjatuh tadi sore saat di butik dan belum sempat ia kembalikan pada pemiliknya, ia meraih dompet itu dan membukanya.
Isinya hanya ATM pemberian Satria, kartu identitas dan juga foto dirinya bersama Ayahnya mungkin, karena terlihat wajahnya yang terlihat seperti tidak jauh dengan ayahnya. Satria membawa kartu identitas Firda dan melihat data-datanya yang sebelumnya sudah ia ketahui.
"Wow! it turns out tomorrow is your birthday?" Ucap Satria terkejut, ia langsung melirik jam di pergelangan tangannya.
"another thirty minutes into the turn of the day!"
Satria langsung menancapkan gas mobilnya membelah jalanan malam yang sebentar lagi menunjukkan pukul 00.00 WIB.
Namun sebelum menuju apartemen, Satria mampir ke salah satu toko kue untuk hadiah kecil Firda di ulang tahunnya. Jangan salahkan siapapun disini jika Satria menjadi sorotan publik karena toko masih cukup ramai, pasalnya dengan tetap santai ia masuk ke toko kue 24 jam itu dengan kondisi yang mengerikan karena tangan dan bau yang terdapat bercak darah, untungnya ia tidak ditakuti karena tanda pengenal yang ia pasang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menekan pin apartemen, ia langsung masuk dengan menenteng paper bag yang berisi kue untuk Firda. Ia juga menyimpannya di meja ruang tamu dan berjalan menuju Kamar Firda.
"SIAPA KAU?" Satria langsung mendapat suara Firda yang begitu nyaring di ruangan kamarnya, kenapa gadis itu seperti melihat perampok masuk saja.
"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Satria heran dan langsung mendudukkan dirinya di sofa kamar Firda.
"Kau pergi begitu lama sekali! Aku agak takut di apartemen ini!" Satria tersenyum remeh mendengarnya.
"Penakut sekali kau ini! Memangnya apartemen ini berhantu hmm?" Tanya Satria santai ia juga memejamkan matanya sejenak menikmati hawa dingin akibat AC di ruangan kamar.
Firda memanyunkan bibirnya kesal mendengar perkataan Satria, enak saja dia menyebutnya penakut, ia hanya agak takut bukan ketakutan, pikir Firda kesal. Namun matanya tak sengaja menatap tangan dan baju Satria yang terdapat bercak darah.
"Apa kau terluka?" Tanya Firda dan langsung menghampiri Satria yang posisinya tidak jauh darinya.
"Tidak!" Jawab Satria santai.
"Bajumu sangat kotor! Mandi dan bersihkan tubuhmu yang kotor itu!" Ucap Firda kesal.
"Hmm! Jangan tidur sebelum aku selesai mandi!" Ucap Satria yang langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju kamarnya di apartemen yang sama.
"Dia tidak tahu ya kalau kantukku sudah lewat gara-gara dia pergi dan membuatku takut disini? Menyebalkan memang!" Gumam Firda sambil memukul-mukul udara di kamarnya.
Firda termenung selama lima belas menit lamanya karena menunggu Satria keluar dari kamarnya, saat ini ia berada di ruang TV yang berdekatan dengan ruang tamu, TV itu menyala tanpa berniat Firda tonton.
Ceklek…
Firda mengalihkan pandangannya menatap sosok laki-laki yang sudah bersih tidak seperti tadi, ia hanya mengenakan kaos pendek polos yang mencetak tidak tubuhnya yang kekar di padukan dengan celana pendek selutut.
"Kau belum tidur?"
__ADS_1
"Heh! Bukannya kau yang menyuruhku menunggu? Ini sudah pertengahan malam!" Ucap Firda kesal, bisa-bisanya dia bertanya kenapa dirinya belum tidur.
Mau heran, tapi ini Satria yang selalu membuatnya kesal setiap saat.
Satria tak menghiraukan jawaban Firda yang menurutnya menggemaskan sekali, sepertinya hobinya akan menambah satu yaitu membuat gadis itu kesal setiap saat.
Satria meraih paper bag di meja dan berjalan ke dapur menyiapkan sesuatu, sedangkan Firda hanya menatap laki-laki itu heran dan tak berniat mengikutinya. Firda kembali menatap kedepan pada layar Televisi dengan malas.
Jlep…
Tiba-tiba lampu apartemen mati seluruhnya, Firda yang kaget langsung terperanjat dan menaikkan kakinya keatas karena takut.
"Satria!!" Panggil Firda dengan nada. takutnya.
"Kau dimana heyy?? Jangan menakuti ku!!" Ucap Firda sedikit berteriak, namun sayangnya tak ada jawaban dari Satria, apa dia meninggalkannya? Pikir Firda was-was. Tiba-tiba…
"Happy birthday to the future wife!" Bisik Satria di telinga Firda dari arah belakang membuat seluruh tubuh Firda meremang akibat suara serak Satria.
Setelah Satria mengatakan itu tiba-tiba lampu apartemen menyala dengan masih menampilkan wajah Firda yang kaget. Firda langsung membalikan badannya dan menampilkan sosok laki-laki yang sedang memegang kue ulang tahun dengan lilin yang masih menyala. Satria langsung duduk di samping Firda dan menyodorkan Kue di tangannya.
"Make a wish!" Perintah Satria pada Firda.
Firda hanya mengangguk dan menutup matanya sebelum meniup lilin di hadapannya. Firda tersenyum senang setelah meniup lilin ulang tahunnya. Bisa-bisanya ia lupa jika dirinya hari ini ulang tahun.
"Kau tahu hari ini aku ulang tahun?" Tanya Firda sambil melirik jam dinding besar di ruang televisi yang menunjukkan pukul 00.03 WIB.
"Yah! Karena aku peramal!" Ujar Satria yang hanya di balas Firda dengan tatapan malas.
"Terima kasih!!" Ucap Firda tulus sambil menatap manik Satria.
"Untuk?" Tanya Satria heran.
"Semuanya!" Satria menatap Firda intens, begitu juga Firda.
Firda menjulurkan tangannya pada Satria, sedangkan Satria hanya menatapnya heran tanda bertanya.
"Ku kira kau menyiapkan hadiah!" Ucap Firda langsung menarik nafasnya pelan.
"Besok saja!" Seketika wajah Firda berubah cerah mendengarnya.
"Kau besok harus kembali bekerja sebagai hadiah pertama! Berkas-berkas sudah menumpuk begitu banyak gara-gara kau tak mengerjakannya!" Firda mencebikan bibirnya karena kesal mendengar perkataan Satria.
"Menyebalkan sekali kau!" Ucap Firda kesal, namun seketika ia kaget saat cream kue teroles di wajahnya dengan pelaku Satria yang menampilkan wajah tak berdosa nya.
Dan dengan gerakan cepat Firda membalasnya dengan mengolesnya pada hidup mancung milik Satria, ia langsung berlari kencang menghindari amukan Satria dengan tatapan yang siap menerkam nya, dan berakhirlah mereka dengan saling mengejar satu sama lain di malam hari ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1