Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
59. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Suasana keluarga William malam ini begitu hangat dan cukup ramai saat ini, untuk pertama kalinya Firda juga bertemu dengan Edward kakek Satria, wajahnya memang terlihat sangar, namun saat ia mengajak Firda berbicara ternyata tidak seperti yang di bayangkan.


"Kakek! Aku mau duduk di dekatmu!" Ucap Sintia dengan tangan yang terus mengelus perutnya yang sudah terlihat itu.


"Come on sayang!" Ujar Edward gemas. dengan cucunya itu yang tengah mengandung.


"Cicit Kakek apa kabar?" Tanya Edward sambil mengelus kepala Sintia.


"Dia baik kek! Hanya saja mungkin nanti akan meminta hal yang aneh lagi!!" Tutur Sintia dengan cengengesan.


"Jangan sampai menyusahkan ku lagi!" Tutur Satria yang sejak tadi diam sambil tangan yang terus merangkul pinggang Firda.


"Kek lihat tuh! Dia sangat menyebalkan bukan? Kenapa wanita secantik Firda bisa suka dengannya!" Firda yang merasa namanya disebut hanya menggaruk kepalanya canggung, padahal dulu ia sering berkelahi dengan laki-laki ini yang statusnya polisi, ia tidak pernah berpikir untuk sejauh ini dengannya.


"Sudah-sudah! Jadi sebenarnya ini akan berkelahi atau mau bahas hal penting?" Tutur Emery kesal dengan perdebatan cucunya itu.


"Jadi lebih baik kita mulai saja! Satria acara pernikahan kalian akan di gelar lima hari lagi! Kita akan mempersiapkan semuanya dengan baik dalam lima hari itu, sebenarnya kita bisa saj menggelar acara kalian besok, tapi kita mau yang terbaik!" Ujar Saka.


Firda kaget sekali, apa telinganya masih berfungsi? Lima hari akan menyiapkan yang terbaik seperti apa? Pikir Firda heran.


"Aku ikut gadisku saja!!" Tutur Satria sambil terus memelintir rambut Firda yang lurus namun sedikit bergelombang itu.


"Aku boleh minta sesuatu?" Tanya Firda dengan suara tak enak.


"Katakan saja! Kau mau emas? Mau apartemen? Mau hotel? atau jet pribadi?" Ujar Emery.


"Tidak Nek! Aku hanya minta acara pernikahan di gelar biasa saja, yang hanya di hadiri oleh kerabat saja! Apa boleh?" Ucap Firda sambil menatap Satria.


"Kenapa memangnya sayang? Apa ada masalah?" Tutur Amera.


"Tidak Bund! Jujur aku masih ada rasa takut jika bertemu banyak orang, lagian yang penting kita sah kan pasangan suami istri?" Semua orang disana hanya diam memikirkan perkataan Firda.


Sedangkan mata Satria tertuju pada tangan Firda yang meremas ujung dress nya dengan kuat.


"Lagian aku juga malas bertemu dengan banyak orang! Biarlah media tidak tahu tentang hal ini! Aku risih jika ia harus memotret kekasihku!" Ujar Satria.


"Kalian yakin? Ini momen penting loh!" Ujar Sintia.

__ADS_1


"Momen penting bukan dilihat dari gelaran acara yang mewah, melainkan ucapan janji suci dihadapan Tuhan, yang paling penting kita sama-sama yakin bukan?" Tutur Satria.


"Jika kalian mau seperti itu kita ikuti saja mau kalian!" Ujar Edward.


"Tapi kita mau kalian tetap memakai gaun mewah saat acara pernikahan, terus kalian harus melakukan Foto Shoot untuk mengabadikan momen sakral kalian!" Tutur Emery.


"Itu tidak masalah, bukan begitu sayang?" Tanya Satria sambil melirik wajah Firda.


Blush…


Wajah Firda langsung memerah akibat ucapan Satria barusan, bisa gak sih kalau bikin salting itu jangan di depan banyak orang? kan wajahnya pasti seperti kepiting rebus sekarang.


"Dih! Geli banget sih dengernya!" Tutur Sintia sambil menatap Satria jijik, ini pertama kalinya ia mendengar Satria yang bucin seperti itu.


"Sudah-sudah! Mending kita makan malam yuk!" Ajak Amera pada semua orang.


Akhirnya semua orang di mansion melakukan makan malam dengan Hidmat saat berada di meja makan, setelah makan Meraka semua bercengkrama sambil memakan cuci mulut yang sudah di sajikan.


Rasanya ini seperti mimpi, sebentar lagi Firda akan menjadi sosok istri laki-laki yang bahkan pernah menjadi laki-laki menyebalkan dihidupnya, sejauh ini Firda juga sedikit takut karena Satria tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintainya, walau begitu Firda yakin cinta itu akan tumbuh setelah mereka menikah nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah pukul setengah sebelas malam jam menunjukkan waktunya, namun mata Firda masih terjaga dari tidurnya, rasanya susah sekali untuk menutup mata, malam ini ia rindu dengan Dafa, ingin sekali ia memeluk tubuh tegap milik Dafa.


"Ayah! Firda sebentar lagi jadi istri orang lain! Doakan Firda ayah!" Tutur Firda pelan sambil menatap langit gelap diluar yang di taburi bintang.


Firda menikmati angin malam dari balkon kamarnya, ia menatap para bodyguard yang berlalu lalang di bawah, apa mereka tak mengantuk? pikir Firda heran.


Firda tersentak saat sepasang tangan kekar kini melingkar diperutnya.


"Kaget ya? Maaf!" Gumam Satria sambil fokus menghirup aroma shampo yang dipakai Firda.


"Kau belum tidur?" Tanya Firda pada Satria.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!" Ucap Satria sambil terus mengendus-endus Rambut Firda.


"Aku belum mengantuk!" Jawab Firda masih tenang melihat langit malam.

__ADS_1


"Ada yang mengganggu pikiranmu hmm?" Tanya Satria.


"Banyak!" Jawab Firda singkat.


Satria langsung menarik tubuh Firda agar ikut duduk di kursi yang berada di balkon, otomatis Firda langsung duduk di paha Satria.


"Diam Lah!" Saat Satria merasakan Firda yang bergerak tak nyaman.


"Satya! Kita akan dimarahi bunda nanti!!" Tegur Firda dan berusaha untuk turun dan lepas dari pelukan Satria.


"Tidak akan!" Dari pada Firda membuang tenaga ia langsung saja diam dan tidak berontak lagi.


"Satya!"


"Hmm?"


"Kita sebentar lagi menikah bukan?" Tanya Firda.


"Hmm! Lalu?"


"Apa kau akan berusaha mencintaiku?" Tanya Firda tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.


"Apa kau juga akan berusaha mencintaiku?" Tanya Satria balik.


"Aku tidak mau cintaku bertepuk sebelah tangan! Cinta pertamaku bahkan sudah pergi dari hidupku! Jika kau mau berusaha aku juga akan berusaha!" Tutur Firda.


"Tatap aku!" Perintah Satria dengan tegas.


Firda langsung menolehkan wajahnya untuk menatap Satria.


"Memangnya sejauh ini kau masih berpikir aku main-main hmm?" Tanya Satria sambil menangkup wajah Firda.


"Aku hanya khawatir saja jika nanti aku akan dibuang begitu saja!" ucap Firda dengan raut yang tak terbaca, mengingat dirinya hanya seorang gadis miskin ia terus berpikir apakah Satria akan membuangnya suatu saat nanti.


"Jangan pernah berbicara seperti itu lagi! Selama ini aku tidak pernah berdekatan dengan seorang wanita manapun, dan apa kau belum mengerti dengan perasaanku?"


Firda menatap manik Satria dengan dalam untuk mencari kebohongan darinya, namun sialnya Firda tak menemukan itu.

__ADS_1


__ADS_2