
"Darah kita gak sama!" Ujar Arka yang baru saja keluar dari ruangan laboratorium.
"Bagaimana bisa?" Ucap Arsen kaget.
"Darah aku ikut dari ibu bang, sedangkan kamu dari ayah!" Jawab Arka.
Arsen mengacak rambutnya prustasi, ia hanya memiliki waktu beberapa jam lagi, tapi ia maupun anak buahnya belum menemukan darah yang cocok.
"Sayang tenang oke!" Ujar Arsen pada sang istri yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Kamu juga tenang mas! Aku gak bisa kalau lihat kamu seperti ini!" Ucap Aneska sendu.
"Aldo akan coba!" Ujar Putra Arkan yang sejak tadi hanya diam.
"Enggak! Jangan Aldo!" Ucap Syifa pada putranya.
"Kenapa Bu? Lagian aku udah dewasa, bang Farhan butuh bantuan kita Bu!"
"Bukan itu masalahnya sayang!" Jawab Syifa.
"Lagian percuma saja, Itu tidak akan bisa Aldo! Kamu anak ayah, darahmu akan mengikuti ayah ataupun ibumu!" Ucap Arka heran dengan putranya.
"Kita hanya sedang berikhtiar ayah!" Ujar Aldo yang langsung masuk ke laboratorium diikuti oleh para perawat.
"Mas kenapa kamu biarkan Aldo masuk?" Tanya Syifa kesal dengan suaminya yang hanya diam saja sejak tadi.
"Syifa sudah! Ini bukan waktu yang tepat untuk kita berdebat! Biarkan saja dia." Tekan Arka pada istrinya.
Setelah beberapa menit Aldo keluar dengan wajah datarnya diikuti oleh para perawat dan dokter.
"Kita akan segera melakukan tindak lanjut karena darah tuan Aldo sangat cocok!" Ucap Sang dokter yang langsung bergegas masuk kedalam ruangan Farhan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Arsen terkejut dan langsung menatap Putra adiknya.
"Aldo apa darah kalian sama?" Tanya Aneska dengan semua keterkejutannya.
"Darah kita memang sama Tante, ups maaf, maksudnya Bunda!" Ucap Aldo dengan senyuman diakhirnya.
"GAK ALDO APA YANG KAMU KATAKAN?" Ucap Syifa tak terima.
"Syifa kita dirumah sakit!" Tegur Arka pada istrinya.
"Ma…maksud kamu apa Aldo?" Tanya Aneska bingung dengan semua kejadian ini.
Aldo menghela nafas pelan, ia melirik laki-laki yang sedang bersedekap dada sekilas dan langsung menatap para keluarganya.
"Awalnya Aldo gak percaya sama semuanya, tapi kejanggalan muncul pada saat Aldo masih SMA!"
"Waktu itu Aldo cek golongan darah, tapi sayangnya Aldo malah kecewa dengan hasilnya, Aldo bukan anak kalian bukan? Tapi kasih sayang kalian begitu besar buat Aldo, terima kasih!"
"Apa yang kamu katakan Aldo?" Tanya Arka dingin.
"Dan ternyata benar, Aldo bukan anak kalian!"
"ALDO APA YANG KAMU KATAKAN?" Suara Syifa sudah begitu keras memenuhi area ruangan VVIP rumah sakit.
"Tapi Aldo seneng kok, karena ternyata orang tua Aldo yang sebenarnya adalah keluarga Aldo sendiri, aku gak perlu capek-capek cari orang tua aku! Aku gak tahu Alasan kalian yang sebenarnya, tapi sepertinya melihat sifat Bunda Anes yang begitu manis mana tega ia membuang anaknya sendiri bukan?" Aldo tersenyum miris membayangkannya.
"Jangan dipikirkan! Sekarang kita pikirkan bang Farhan saja!" Tutur Aldo.
"Aku gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Aneska sendu.
"Aldo, apa yang kamu bicarakan?" tekan Arka pada putranya dengan nada dingin, ia ingin sekali rasanya membentak putranya yang terus melantur kesana kemari, tapi ia sadar ia sekarang sedang berada di Rumah Sakit.
__ADS_1
Sedangkan Syifa menatap Aldo dengan tatapan kosong.
"Aldo ayo kita pulang!" Ajak Syifa pada putranya.
"No! Aku akan tetap disini!" Ucap Aldo sambil duduk.
"Aldo! KITA PULANG!" Nada suara Syifa semakin tinggi.
Arka langsung menarik tangan istrinya karena telah mengganggu keadaan disana dengan suaranya.
"GAK LEPASKAN AKU MAS! ALDO HARUS IKUT KITA! DIA ANAK KITA MAS! DIA AKAN KITA! ALDO AYO IKUT IBU NAK! KAMU BUKAN ANAK KAK ANES, KAMU ANAK IBU SAYANG!"
Suara Syifa semakin menjauh karena tarikan Arka yang kuat dan tidak melepaskan istrinya.
Aneska mendekati Aldo yang kini terduduk di kursi dengan pandangan tenang ke arah depan.
"Aldo apa maksud kamu nak?" Tanya Aneska lemah.
"Bunda apakah kau tak melihat kemiripan pada aku dan bang Farhan?" tanya Aldo.
"Aldo jangan membuat ibumu sedih! Kamu putra Syifa sayang! Maksud kamu apa?"
Aldo menatap Aneska dalam, tatapan Aneska begitu nyaman dimatanya, apa ini alasannya kenapa ia selalu tidak nyaman berada di rumahnya? Karena rumah yang sebenarnya ada pada keluarga Arsen dan Aneska.
"Aldo putra bunda! Putra ayah Arsen juga! Kalian orang tua kandung aku!" Ujar Aldo dengan senyumannya.
"Ta…tapi bagaimana mungkin?" Tanya Anes yang sudah berkaca-kaca.
"Aku baru menemukan fakta hari kemarin! Ternyata aku memang putra kandung bunda, aku akan menceritakan semuanya saat bang Farhan sadar!" Aldo mencium kening Aneska dan langsung pergi dari sana.
"Kau mau kemana?" Tanya Ares.
"Tenang saja ayah! Aku tak mungkin pergi jauh dari kalian! Aku hanya ingin menenangkan diri!" Ucap Aldo dan langsung pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
"Semua jawaban ada pada diri Syifa sayang!" Jawab Arsen dan langsung memeluk tubuh istrinya yang menangis.
"Aldo putra kita mas hiks… berarti-"
"Sttttt… aku aka mencari tahu semuanya! Maaf karena waktu itu aku tak bisa menemani kamu melahirkan!" Ucap Arsen dengan menyesal.
Satria menatap kejadian semuanya dengan wajah datarnya, kenapa harus sekarang? Pikirnya heran, pasalnya masalah kemarin hari saja belum selesai, kenapa malah bertambah seperti ini? Ia langsung masuk keruangan istrinya dirawat untuk melihat keadaannya.
"Diluar ada apa mas? Kelihatannya ada suara ribut!" Tanya Firda saat melihat suaminya masuk.
"Abaikan saja! Apa suara itu mengganggumu hingga terbangun hmm?" Tanya Satria yang langsung mengecup bibir pucat istrinya.
"Aku sudah bangun sejak tadi! Kau begitu lama keluar! Bunda sudah pulang sejak tadi!" Ucap Firda kesal.
"I'm sorry Honey! Tak akan ku ulangi lagi!" Ucap Satria lembut.
"Apa kau lapar hmm?" Tanya Satria mengalihkan kekesalan Firda.
"Hmm! Sebelum kau datang dokter sudah memberikan aku beberapa makanan, aku pikir kau akan cepat kesini, seperti makanan itu sudah dingin!"
"Aku akan meminta untuk menggantikannya sayang!" Ucap Satria dan langsung menekan tombol yang berada disana untuk memanggil dokter ataupun perawat.
"Tolong ganti makanan ini dengan yang baru dan hangat!" Ucap Satria sebelum perawat itu berbicaralah saat masuk.
"Baik tuan!" Ia langsung mendorong makanan tadi keluar untuk diganti.
"Apa semuanya masih sakit hmm?" Tanya Satria sambil melihat setiap inci wajah istrinya.
"Hmm! Punggungku terasa sakit, dan perutku juga!" Ucap Firda sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Kemarin kau batuk darah karena benturan, syukurlah saat ini sudah membaik!" Tutur Satria khawatir sambil mengelus perut Firda.
"Apa Kamu besok bekerja?" Tanya Firda saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Tidak! Semuanya ada Erik untuk meng handle!" Jawab Satria.
"Permisi! Makanan sudah datang!" Ucap seorang perawat yang mendorong troli makanan.
"Terima kasih!" Ucap Firda ramah.
"Sama-sama nona! Pukul sepuluh nanti saatnya infus anda diganti nona! Jika ingin makan dan kekamar mandi saya harap anda lakukan sebelum pukul sepuluh agar nanti infus barunya tidak terkena air!"
"Baik Suster! Terima kasih!"
"Saya permisi!" Ujar perawat tersebut yang langsung pergi.
"Ayo kita makan! Kau perlu asupan agar cepat tumbuh!" Ucap Satria yang langsung duduk di samping istrinya, ia langsung menekan tombol di ranjang istrinya yang membuat setengah badan Firda terangkat agar istrinya tidak capek-capek bangun saat ingin makan ataupun minum.
"Keadaan dokter Farhan bagaimana?" Tanya Firda saat suaminya sedang menyiapkan makanan untuknya.
"Dia sudah mendapatkan donor darah! Mungkin besok akan segera membaik!" Ujar Satria.
"Makanlah!" Firda Langsung membuka mulutnya saat melihat sendok yang sudah berada di hadapannya.
"Jangan menanyakan laki-laki lain di hadapanku sayang! Apa kau tidak tahu jika suamimu cemburu?" Ucap Satria dengan kesal sambil menatap makanan di tangannya.
Firda mantap suaminya gemas dengan tingkah lakunya, padahal ia hanya ingin tahu kondisi orang yang telah menyelamatkannya, kenapa bisa selucu ini melihatnya kesal? Pikir Firda gemas.
"Mas! Mendekat Lah!" Ucap Firda memberi isyarat agar suaminya mendekat.
Satria hanya menurut dan mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Firda.
CUP…CUP…CUP…
Firda mencium kedua pipi Satria dan berakhir di bibir suaminya.
"Jangan kesal seperti itu! Sangat menggemaskan sekali dimataku!" Ujar Firda dengan senyuman manisnya.
Ouh tuhan telinga satria sudah merah akibat perlakuan istrinya yang sudah mulai berani, dan Satria menyukainya.
"Aku jadi ingin memakan mu saat ini juga! Presetan kita ada di rumah sakit aku tak peduli jika.saja aku tak mengingat keadaanmu!" Ucap Satria dengan suara seraknya.
"Kau ini selalu saja berpikir mesum dimanapun!" Ucap Firda kesal dan merasa menyesal karena telah membangunkan singa yang sedang tertidur.
"Memangnya kenapa? Mesum pada istri sendiri menambah pahala!" Ujar Satria sambil kembali menyuapkan makanan pada istrinya.
"Aku sudah kenyang!" Tolak Firda.
"Kau baru makan dua sendok sayang!" Ujar Satria heran, bagaimana ia bisa kenyang? Pikir Satria heran.
"Rasanya makanannya hambar semua yang membuat perutku mual,!" Ucap Firda lirih.
CUP…
Satria mengecup kening Firda cukup lama.
"Sabar ya sayang! Nanti juga sembuh!" Firda hanya mengangguk.
"Mau peluk!" ucap Firda pelan.
Satria langsung memeluk tubuh Firda hati-hati agar bagian belakangnya tidak sakit karena pelukannya itu.
"Get well soon my little wife!" Bisik Satria.
__ADS_1