Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
29. Kerinduan yang Datang


__ADS_3

Langit nampaknya sudah mulai menggelap


menandakan sang mentari sudah pergi, sedangkan seorang gadis enggan untuk pergi. Sejak di ajak ke taman oleh Emery, Firda kembali lagi ke taman di sore hari, ia sangat suka dengan mawar putih sampai betah berada di taman.


Firda duduk di antara rumput-rumput yang hijau sambil menatap langit senja yang mulai menguning. Firda hanya melamun menatap bunga-bunga yang berwarna-warni itu.


Hari ini mansion benar-benar sepi, Maya yang sering menemaninya pun hari ini belum pulang sama sekali, pikiran Firda bergelut kesana-kemari, jika dipikir-pikir, banyak sekali kejadian-kejadian tak terduga dalam hidupnya saat ini.


"Ayah, Ibu, Karina, kalian lagi ngapain?"


Yah,, walaupun Rani dan Karina sering keterlaluan padanya, tapi bagi Firda mereka adalah keluarga yang patut Firda sayangi dan Cintai. Apalagi sosok cinta pertama bagi Firda yang begitu berarti dihidupnya, ia selalu belajar ikhlas setiap harinya, agar sang ayah dimanapun berada bisa merasakan ketenangan.


"Kau berada disini rupanya!" Ucap Seseorang dari arah belakang dan begitu familiar ditelinga Firda.


"Ada apa?" Tanya Firda tanpa melihat lawan bicaranya. Namun Satria hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Firda.


"Kau suka dengan bunga?" Tanya Satria dan langsung duduk di samping Firda.


"Hmm! Hanya mawar putih sebenarnya, tapi bunga yang lain juga terlihat sangat cantik dan menyegarkan Dimata!"


"Ada yang mengganggu pikiranmu hmm?" Firda langsung menatap laki-laki dengan perawakan tegak dan berotot didepannya, kenapa ia bisa tahu? Pikir Firda.


"Kau terlihat seperti orang kebingungan!" Ucap Satria saat melihat tatapan Firda yang menelisik.


Firda kembali menatap ke arah depan, ia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya pelan.


"Aku merindukan Ibu dan adikku!" Jawab Firda.


"Merindukan seseorang yang bahkan tak pernah merindukanmu, cih! Buang-buang waktu!" Tutur Satria.


"Menurutmu saja buang-buang waktu, bagiku mereka keluargaku satu-satunya, jika bukan mereka, siapa yang ku punya di dunia ini?"


"Kau bahkan sudah memiliki keluarga baru sekarang!"


"Tuan Satria yang terhormat! Bukan berarti aku harus melupakan mereka bukan?" Ucap Firda menatap nyalang seseorang di sampingnya, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum miring.


"Kau mau apa sekarang?" Tanya Satria datar.


"Antar aku bertemu Ibu dan Adikku! Aku mau melihat mereka walaupun sebentar! Ku mohon!!!" Pinta Firda dengan wajah yang menatap Satria sendu.


"Walau bagaimanapun! Mereka. tetap keluargaku, aku seperti ini! Tidak lain karena di besarkan oleh ibuku!" Ucap Firda pelan, ia memandang ke bawah menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan elang dari Satria.


"Hanya sebentar bukan? Akan ku antar Malam ini!" Firda menatap wajah Satria tak percaya karena ucapannya.


"Kau serius?" Tanya Firda dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Hmm!" Jawab Satria datar.


Tanpa aba-aba Firda langsung memeluk erat tubuh Satria dari samping kedua tangannya berada di leher Satria dan wajahnya ia benamkan di leher Satria yang terhirup aroma tubuhnya.


Satria yang tidak siappun langsung menahan dirinya dengan tangannya yang menopang ke tanah. Ada rasa berdesir di dalam tubuhnya saat Firda memeluknya, jantungnya berdetak kencang seperti orang maraton.


Perlahan tangan satria bergerak membalas pelukan dari gadis yang masih betah memeluknya. Satria juga tak kuasa menahan. senyumnya, ia mengukir bibirnya menjadi lengkungan manis yang hanya di saksikan oleh langit yang mulai menggelap.


Firda langsung melepaskan pelukannya dengan kasar dan langsung menatap Satria tajam, dan tentu membuat Satria heran dengan sendirinya.


"Kau membohongiku!" Firda langsung memukul dada Satria dengan keras, namun itu tak berlaku sakit bagi Satria, ia malah gemas dan heran menatap Firda.


"Apa maksudmu?" Tanya Satria penasaran.


"Kau bilang di mansion ini ada kucing imut bernama Moli! Tapi nenek bilang tidak ada kucing di mansion ini! Aku sudah membayangkan wajah imutnya yang begitu polos!!" Ucap Firda dengan nada marahnya.


"Katanya kau alergi kucing! Kenapa kau ingin melihatnya?" Tanya Satria heran.


"Aku bisa menatapnya dari kejauhan bodoh!" Ucap Firda kesal.


"Kau mengatakan bahwa aku bodoh hmm?" Firda hanya mengangguk dan menatap Satria galak.


"Baiklah-baiklah! Di mansion ini memang tidak ada kucing! Tapi hanya ada induk kucing!" Ucap Satria.


"Sudahlah aku tidak mau percaya lagi!" Ucap Firda dan langsung bangkit dari duduknya.


"Kau maju satu langkah lagi aku tak mau mengantarmu ke rumah ibumu!" Ucap Satria santai.


Firda langsung menghentakkan kakinya kesal dan langsung menatap Satria yang sedang bersedekap dada.


"Cepatlah! Aku belum mandi!" Ucap Firda Kesal.


"Mau ku mandikan?" Tanya Satria dengan senyuman iblisnya.


"DASAR GILA MESUM!!!" Ucap Firda kesal dan langsung berlari kedalam. Sedangkan Satria hanya terbahak di tempatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesuai janji Satria malam ini, ia kini sedang berada di jalan menuju kerumahnya, Firda kali ini memakai kemeja berwarna hitam dan rok putih selutut berwarna putih. Sedangkan Satria memakai outfit hampir sama dengan Firda hanya saja ia memakai celana jeans berwarna hitam. Malam ini mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang serasi, rambut Firda yang tergerai dihempas angin karena Lamborghini dengan penutup yang sengaja dibuka untuk melihat pemandangan malam.


"Mobilmu tidak bisa masuk ke gang rumahku! Kau tidak usah ikut ke dalam! Nanti mobilmu di begal orang!" Ucap Firda saat sudah melihat jalanan ke arah rumahnya yang sebentar lagi tiba.


"Aku tak akan cepat miskin. hanya karena mobil ini!"


"Terserah mu saja!" Ucap Firda mengalah tanpa mau mendebat laki-laki disampingnya.

__ADS_1


Saat sudah sampai, Firda langsung keluar dari mobil mewah berwarna hitam itu, ia langsung berjalan masuk ke dalam gang tanpa menunggu Satria.


Firda kini menatap rumah sederhana yang begitu banyak kenangan didalamnya. Tangan Firda mencoba mengetuk pintu rumah berwarna coklat itu tiga kali. Namun, anehnya tak ada jawaban dari dalam, apa mereka sudah tidur? Pikir Firda heran.


"Ibu!!! Karina!!" Panggil Firda dari luar dan melihat. jendela yang sudah tertutup gorden.


"Cari siapa ya?" Tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari samping dekat rumah Firda.


"Pak Cahyono! Saya Firda!"


"Ya ampun neng! Saya kok baru lihat neng Firda lagi!" Ucap pak cahyo senang.


"Iya pak, saya baru kesini lagi!" Ucap Firda ramah dan sekilas melihat Satria yang sedang diam sambil memasukkan tangannya ke saku celananya.


"Ngomong-ngomong neng lagi mau nginep di rumah ini ya?" Tanya pak Cahyo.


"Enggak pak! Saya mau bertemu sama Ibu dan adik saya, mereka lagi gak dirumah ya?" Tanya Firda.


"Loh neng emang gak tahu kalau Bu Rani dan Karina udah pindah?" Tanya Pak Cahyo heran.


"Pindah pak?" Tanya Forda terkejut.


"Iya neng pindah! Apa jangan-jangan neng gak tahu lagi kalau Bu Rani udah nikah lagi sama pengusaha kaya!"


Tubuh Firda seakan disengat oleh ribuan listrik mendengar penuturan pak Cahyono ini, apa? Menikah? Pikir Firda dengan keterkejutannya.


"kalau boleh tahu bapak tahu gak alamat rumah ibu saya!" Ucap Firda dengan suara seraknya.


"Aduh! Kalau itu sih saya gak tahu Neng! Emang neng gak punya nomor telepon ibu atau adik neng ya?" Firda hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Kalau begitu saya juga bingung harus bantu apa!" Ucap Pak Cahyo.


"Kalau gitu saya pamit ya pak!" Pak Cahyo hanya mengangguk setelah itu Firda berjalan gontai pergi dari sana.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Satria yang setia mengikuti Firda di belakangnya, Satria tak memperlihatkan keterkejutannya, sebab ia sudah tahu semuanya, namun Satria sengaja agar Firda tahu dengan sendirinya, makanya ia mau mengantar Firda kesini karena di rumah ini sudah tak ada siapapun.


Firda terisak tertahan mengingat perkataan Pak Cahyo tadi, ia terdiam di depan mobil milik Satria dengan posisi membelakangi Satria.


Satria yang menyadari itu langsung merengkuh tubuh mungil Firda dari belakang, satu tangannya berada di bagian leher Firda dan satunya lagi berada di perut Firda.


"Menangislah!" Firda. langsung menangis dengan keras.


Sudah sepuluh menit lamanya Firda menangis, Kenapa ibunya begitu tega! Padahal jasad sang ayah saja belum ditemukan, bum tentu ayahnya pergi bukan? Ia yakin bahwa ayahnya masih bertahan sampai sekarang!


Satria menahan tubuh Firda saat tiba-tiba melemas, saat Satria melihat ternyata Mata Firda tertutup dengan keadaan sembab, tanpa ba-bi-bu Satria langsung mengangkat tubuh Firda dan membawanya ke kursi Di samping kemudi, dengan perlahan ia membaringkan tubuh Firda dan menyesuaikan kursi agar Firda enak dengan posisinya.

__ADS_1


Setelah Satria masuk ia langsung pergi menuju mansionnya membelah jalanan kota dan keheningan malam.


__ADS_2