
Arka menatap istrinya yang sudah terbangun lebih awal dan terduduk di depan meja riasnya, istrinya kembali menangis pagi hari ini, apa yang sebenarnya ia tangisi? Pikir Arka, apa masalah semalam? Pikirnya lagi.
"Syifa jelaskan apa yang semuanya terjadi?" Tegas Arka pada istrinya yang kini sedang menangis tersedu-sedu sejak kemarin malam hingga kini pagi, matanya sudah sangat bengkak akibat tangisannya semalaman hingga menimbulkan kantung mata.
"Maksud kamu apa sih mas?" Tanya Syifa yang sudah tak berdaya lagi karena kehabisan suara.
"Seharusnya aku yang tanya kamu Syifa! Bahkan sewaktu kelahiran Aldo aku sedang berada di luar kota dalam perjalanan pulang saat itu!" Tegas Arka.
"Kenapa kamu bahas sepagi ini sih mas?" Tanya Syifa lemah.
"Karena firasat ku mengatakan kalau Aldo bukan anak kita!" Jawab Aldo.
"ALDO ITU ANAK KITA MAS! ANAK KITA?"
"TAPI KENAPA DARAHNYA BERBEDA DENGANKU MAUPUN DENGANMU?" Tanya Arka lebih keras dari suara Syifa.
"MUNGKIN ITU KESALAHAN DOKTER MAS!"
"LALU KENAPA FARHAN BISA TERSELAMATKAN DENGAN DARAH ALDO JIKA MEMANG HANYA SEBUAH KESALAHAN? JELASKAN PADAKU YANG SEBENARNYA SYIFA!!"
"CUKUP! CUKUP MAS! SAMPAI KAPANPUN ALDO ADALAH ANAK KITA!" Syifa langsung berlari ke luar dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
Arka mengacak rambutnya prustasi karena bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, apa benar Aldo bukan putranya? Jika benar, berarti Aldo adalah putra Kakaknya? Karena darahnya sama dengan Farhan, ia harus mencari kebenaran ini.
Jika diingat-ingat pantas saja sifatnya semenjak keluar SMA beberapa tahun lalu jadi semakin berbeda, ia terkesan cuek, dingin, tapi ia malah lebih memilih magang di kantor kakaknya dibanding kantornya, apa ini semua Alasan putranya itu?.
"Syifa! Jangan bilang kalau Aldo kamu tukar dulu? Syifa, jika benar, kamu sudah menyakiti seluruh keluarga!" Ujar Arka dengan tatapan kosongnya sambil berjalan ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah kali jenjang kini melangkah dengan santai dengan membawa korek api di tangan kanannya yang sejak tadi ia mainkan, sedangkan tangan kirinya ia masukan ke saku celananya.
"Bangunkan dia!" Ucapnya saat melihat seorang laki-laki yang sedang tertidur akibat terlalu lemah untuk menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Byur…
Salah satu bodyguard menyiram laki-laki itu dengan air garam yang sudah disediakan sesuai permintaan tuannya.
"Arghhhh…!!!" Laki-laki itu mengerang kesakitan saat luka-luka kecil di bagian tubuhnya tersiram oleh air garam dan terasa menusuk pada setiap inci lukanya.
"SIALAN KAU! APA YANG KAU LAKUKAN HAH ARGHHHH…!"
"Hai dude! How are you?"
"Siapa kau? Apa urusanku denganmu? Aku tak pernah memiliki urusan denganmu!" Ujar laki-laki itu dengan sisa tenaganya.
"Tentu jerk! Kau memang tidak memiliki urusan denganku, tapi dengan wanitaku!"
"Arghhhh sialan! Siapa kau sebenarnya?"
"Suami dari wanita yang hampir kau lenyapkan!" Ujarnya dengan nada dingin hingga aura disana langsung berubah menjadi seram mendengar nada bicaranya.
"Ma…maksud mu apa Hah?"
' apa Firda sudah menikah? ' tanya Rangga pada hatinya.
"Kau sudah salah mencari lawan tuan Rangga!" Yah, laki-laki yang sedang di rantai itu adalah Rangga, orang yang mencoba membunuh mantan kekasihnya alias istri dari laki-laki yang sedang ia hadapi saat ini, Satria!.
__ADS_1
"SIAPA KAU SEBENARNYA!"
"Jaga nada suara saat berbicara di hadapanku tuan! Aku sendiri berbicara santai disini!" Ujar Satria dengan tersenyum miring yang tercetak di balik masker hitamnya.
"Kau tahu? Wanita yang kau coba kau tabrak itu adalah istriku! Dan lebih sialnya sahabatku sendiri yang merelakan nyawanya untuk istriku! Dan saat ini, kau yang akan merelakan nyawamu untuk peliharaan imutku seperti orang suruhanmu itu yang kini sudah menjadi tumpukan tulang belulang!"
Rangga menelan ludahnya susah payah mendengar hal itu, apa Firda? Pikirnya, pasalnya ia baru s aja senang hati kemarin karena berhasil menabrak Firda walau menurut orang suruhannya tabrakan itu tak berhasil tapi setidaknya wanita itu sengsara nantinya, ini belum seberapa kenapa kejahatannya cepat sekali terbongkar? Pikirnya keras.
"GAK! LEPASKAN AKU SIALAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Ucap Rangga dengan berteriak dan mencoba untuk berdiri dengan tangan dan kaki yang di rantai.
BYUR…
"ARGHHHH…!" Rangga kembali mengerang kesakitan saat air lemon dan jeruk nipis itu menyentuh kulitnya.
"ck ck ck… bahkan sebelum kau menyentuh kulitku kau sudah lebih dulu pergi ke alam sana!" Ujar Satria dengan terkekeh sinis.
"Sepertinya bermain-mainlah dulu! Karena hidup dengan penuh penderitaan da penyesalan lebih menyiksa diri dari pada kematian! Jangan biarkan dia mati begitu saja! Kalau bisa obati luka itu dan jika sembuh baru lakukan lagi!" Ujar Satria yang langsung berjalan untuk pergi dari tempat itu.
"MAU KEMANA KAU SIALAN! LEPASKAN AKU! AKU AKAN MEMBALAS MU SUATU SAAT NANTI! LIHAT SAJA PEMBALASANKU NANTI!"
Suara Rangga begitu menggema di sana namun tak dihiraukan sama sekali oleh Satria, ia hanya berjalan santai sambil memainkan korek api di tangan kanannya diikuti oleh beberapa bodyguard dibelakangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa Mas Satria belum kesini Bund?" Tanya Firda yang terus menatap pintu kamar ruangannya yang tak terbuka sama sekali.
"Sabar ya! Mungkin lagi diperjalanan, kamu bisa kasih pesan sesuatu jika kamu mau memesan apapun!" Firda hanya menggelengkan kepalanya.
"Yu makan lagi!" Firda langsung menerima suapan dari Amera kembali, karena sejak tadi ibu mertuanya menyuruhnya makan yang ia bawa pagi ini ke rumah sakit khusu untuk dirinya.
"Pasti makanan dirumah sakit hambar ya? Kalau kamu mau masakan bunda lagi bilang ya jangan sungkan-sungkan!" Firda hanya mengangguk dan tersenyum pada ibu mertuanya.
"Apa kabar menantuku?" Tanya Saka sambil mengelus kepala Firda lembut.
"Baik ayah!" Jawab Firda dengan senyuman manisnya.
"Lihat ayah membawa apa?" Ujar Saka sambil membawa beberapa macam buah di keranjang.
"Ayah bahkan buah dari Tante Anes saja belum sempat aku makan!" Ucap Firda heran.
"Tidak apa-apa! Barangkali nanti kamu sedang gabut makanlah buah-buahan yang manis ini!" Ucap Saka dengan terkekeh.
"Apa kita berangkat sekarang?" Tanya Saka pada istrinya.
"Kita tunggu Satria sebentar lagi, kasian putriku tidak ada yang menjaga disini!" Ujar Amera.
"Aku sudah sampai bund! Kalian bisa berangkat!" Ujar Satria yang tiba-tiba muncul dan tentu hal itu membuat Firda senang.
"Baiklah, sayang! bunda dan ayah pergi dulu ya! Nanti bunda mampir lagi kesini!"
"Iya bunda! Makasih ya sudah mampir!" Ujar Firda.
"Makasih juga ayah!"
"Sama-sama, kita berangkat dulu ya!" Akhirnya Amera dan Saka langsung pergi dari jangan Firda, Satria langsung menutup kembali pintu ruangannya.
"Sudah berapa lama terbangun hmm?" Tanya Satria menghampiri Firda dan mengecup kening istrinya lama.
__ADS_1
"Pukul enam pagi Sepertinya, bahkan kau sudah tak ada di sampingku!" Ujar Firda sedikit kesal.
"Sorry Honey!" Satria langsung meraih kantong kresek yang ia bawa dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Bakso bakar!" Ujar Firda girang.
"Makanlah! Dokter mengizinkannya! Kau sudah makan bukan?" Firda langsung mengangguk dan meraih bakso bakar tersebut dari tangan suaminya.
"Terima kasih!" Ucap Firda tulus.
"Your welcome honey!" Satria langsung mengacak rambut Firda gemas dan kembali mencium kening dan hidung istrinya.
"Aku mau jalan-jalan ketaman bolehkan?" Tanya Firda setelah menelan makanannya.
"Sekarang?" Tanya Satria.
"Tentu! Aku akan memakan bakso bakar ini ditaman! Sepertinya enak,"
"Sure!" Ujar Satria yang langsung membawa kursi roda dari pojok menuju tempat tidur istrinya.
Satria mengangkat tubuh Firda pelan dan sebelumnya mengecup bibir Firda singkat sebelum ia diletakkan di kursi roda tersebut. Ia langsung mendorong kursi roda itu menuju keluar.
Kini Firda sedang menikmati pemandangan di taman dengan mulut yang ia biarkan terus mengunyah, rasanya matanya ini sangat sejuk melihat pemandangan hijau di depannya.
"Aku akan memberikanmu minuman sayang! Tunggu aku sebentar!" Ujar Satria yang hanya dibalas anggukan kecil Firda.
Firda hanya mengenal dan kembali mengunyah makanan ditangannya yang masih banyak, kebetulan Satria membeli bakso bakar begitu banyak lagi ini.
Namun baksonya tiba-tiba terjatuh saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang tak asing dimatanya.
DEG…
Jantungnya berpacu begitu kencang melihat apa yang ada di sana.
' Ayah! '
Firda langsung mendorong roda kursinya untuk maju namun ternyata sangat sulit dan membutuhkan waktu lama, ia sangat yakin jika itu adalah ayahnya.
"AYAH TUNGGU AKU!" Namun seseorang yang ia maksud justru malah masuk ke dalam sebuah mobil tanpa menghiraukan teriakan Firda.
"AYAH TUNGGU!" Firda terus mencoba memajukan kursi rodanya, ia tidak sadar jika di depannya ada Batu kecil yang mengakibatkan kursi rodanya langsung ambruk karena tak seimbang.
BRUK…
Firda langsung terjatuh sambil menangis memanggil ayah yang ternyata sudah tak ada disana.
"AYAH HIKS… ITU KAMU BUKAN? AYAH JANGAN TINGGALKAN AKU!" Firda mencoba berdiri namun kaki dan tubuhnya terasa ngilu saat digerakkan.
"FIRDA!" Ucap Satria keras saat melihat tubuh istrinya yang sudah berada di tanah, ia langsung melempar botol minum itu sembarangan dan langsung berlari menghampiri istrinya.
"Kau kenapa sayang?" Tanya Satria yang langsung membopong tubuh Firda untuk kembali duduk di kursi roda.
"MAS ITU AYAH TADI ADA DISITU HIKS… AYAH ADA DISANA!" Satria langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang Firda tunjuk, namun sayangnya ia tak melihat apapun.
"Sayang tenanglah! Kau pasti salah lihat, tenanglah ku mohon!" Satria langsung memeluk tubuh Firda dengan posisi ia yang berjongkok.
"Ada yang sakit hmm?" Firda hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kita kembali keruangan sayang!" Ujar Satria yang langsung menggendong Firda ala bridal style, ia tidak mau jika istrinya terluka kembali, ia sangat menyesal kenapa telah meninggalkan istrinya sendirian tadi, dan kemana para bodyguard yang selalu menjaga istrinya.
' ****! Mereka harus dihukum! ' gumam Satria marah.