
Kini telah tiba dimana hari yang sangat tidak di nanti oleh Firda, yaitu hari persidangan dimana Rangga akan dijatuhkan hukuman atas semua perbuatannya.
Satria kini sedang menunggu Firda yang masih berada di kamarnya, ia sudah menunggu kurang lebih lima belas menit lamanya, Satria adalah orang yang tidak suka menunggu sebenarnya, tapi sejak bersama Firda sedikit demi sedikit ia jadi pribadi yang banyak bersabar.
"Ck… dimana gadis itu?" Gumam Satria pelan sambil melirik arloji ditangannya.
Ceklek…
Bunyi pintu kamar Firda membuat atensi Satria teralihkan, ia mendapatkan Firda yang hanya melamun dengan tatapan kosong sambil berjalan ke arah Satria.
Satria yang menyadari tubuh Firda yang bergetar langsung menghampirinya dengan segera.
"Kau kenapa hmm?" Tanya Satria sambil memegang tangan Firda yang gemetar.
"A…aku-"
Belum sempat Firda menyelamatkan kalimatnya, Satria langsung menarik Firda kedalam tubuhnya, ia mencoba menenangkan gadisnya ini.
"Kau pasti bisa!" Ucap Satria sambil menghirup aroma rambut Firda dengan pelan.
Firda mendongakkan kepalanya menatap wajah Firda milik Satria, ia bisa melihat tatapan tenang dari Satria.
"Berapa lama?"
"Sekitar dua jam, tidak lebih!" jawab Satria.
"Sudah siap?" Tanya Satria yang hanya di jawab oleh anggukan kecil Firda.
Akhirnya mereka berdua pergi dari unit apartemen menuju tempat persidangan, entah mengapa sidang ini dilakukan, padahal jika. hanya membahas perihal kejadian Firda itu mungkin sudah cukup dengan bukti CCTV yang Satria miliki, tapi entah mengapa Satria sampai membawa ke jalur hukum, hanya ia yang tahu semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Arghhhh… sialan!!! Aku sudah bayar mahal-mahal agar bisa meretas, ternyata akui tipu!" Kini kamar Ansela sudah tak berbentuk lagi gara-gara kemarahannya pagi ini.
Ansela keluar kamarnya dan langsung berteriak sekencang mungkin.
"KARINA!! KARINA SIALAN KEMARILAH!!!" Pagi ini Ansela tidak memiliki pelampiasan amarahnya, untungnya sang Aya tidak ada sejak kemarin karena sedang dinas keluar kota selama dua Minggu, jadi ia bebas melakukan apapun kepada Ibu dan adik tirinya itu.
Karina yang mendengar teriakan Ansela Langsung keluar kamarnya dengan terengah-engah.
"Kau ini kenapa sih berteriak kencang sekali?" Tanya Karina kesal.
"Kemari!!" Ansela menarik tubuh Karina agar masuk ke dalam kamarnya dan ia langsung menghempaskan tubuhnya kelantai.
"Bereskan kamarku!! Para pembantu sudah diliburkan selama ayah diluar kota! Kau harus membersihkan semuanya!!" Tegas Ansela.
"TIDAK AKU TIDAK MAU!!" Karina bangkit dari lantai dan membentak Ansela dengan keras.
PLAK…
"JANGAN MENINGGIKAN SUARAMU PADAKU SIALAN!!!" Wajah Karina kini sudah lebam akibat tamparan keras dari Ansela.
Karina menatap takut kakak tirinya itu, ia memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Ansela.
"Lakukan apa yang aku perintahkan sebelum aku membongkar kebusukan kalian!! Dan berikan uang ini pada seseorang nanti di sore hari! Akan ku kirimkan alamatnya!!" Tutur Ansela sinis sambil melempar amplop berwarna coklat, ia juga langsung meraih tas ranselnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Karina yang terdiam.
"Arghhh… WANITA SIALAN!!" dengan terpaksa Karina membereskan semua kamar Ansela yang seperti kandang babi itu, yah sangat-sangat kacau dan berantakan.
"Kemana lagi ibu? Gara-gara dia pergi pagi-pagi jadi aku yang kena imbas wanita itu!" Kesal Karina sambil terus membereskan kamar Ansela.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat pagi tuan!" Ucap seseorang dengan setelan jasnya.
Satria menjabat tangan laki-laki itu dengan singkat.
__ADS_1
"Tuan semua bukti sudah saya amankan! Persidangan akan dimulai dalam waktu 5 menit kedepan! Apakah ada hal lain?"
"Cukup!" Laki-laki itu mengangguk dan langsung pamit dari hadapan Satria dan Firda untuk memasuki ruangan persidangan.
"Siapa dia?" Tanya Firda tiba-tiba membuka suara.
"Pengacara mu!" Jawab Satria singkat sambil menggandeng tangan Firda untuk mengikuti langkahnya.
"Kau menyewa pengacara?" Tanya Firda lagi.
"Tidak semua permasalahan dapat kita pecahkan sendiri, semuanya memiliki aturan tersendiri di negara ini!" Firda hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.
"Nanti pas pulang kita mampir ke angkringan ya! Aku mau baso bakar!" Satria tersenyum singkat dan langsung mengacak rambut Firda gemas.
"Kenapa tak bilang dari tadi?" tanya Satria heran.
"Angkringan di pagi hari mana ada yang sudah buka!"
"Aku bisa membukanya khusus untukmu!"
"Hidup itu jangan terlalu berlebihan!" Ucap Firda heran dengan laki-laki ini yang selalu berbicara dengan gampang seakan tak punya beban.
"Sudahlah! Kita sudah sampai di ruangan, nanti kita teruskan perdebatan nya!" ucap Satria saat kini langkahnya sudah berada di tujuan utamanya.
Mata Firda tak sengaja menangkap sosok Wanita yang dulu pernah melabraknya, siapa lagi kalau bukan Ansela yang kini sama halnya sedang menatap dirinya dengan tatapan tak bisa diartikan.
"Jangan melihatnya!" Ucap Satria yang langsung membawa. Firda ke kursi di sebrang Ansela.
Kini muncul sosok laki-laki dengan baju berwarna Oren dan tangan yang di borgol serta para polisi yang setia mengawalnya.
Tubuh Firda mencoba tenang walau hatinya berdegup kencang, bukan karena grogi namun karena ia sedang menahan takut dari bayangan yang menghantuinya saat melihat laki-laki itu, laki-laki yang dulu menjadi sandarannya dalam setiap duka dan keluh kesah Firda, kini menjadi sebaliknya, laki-laki itu menjadi musuh bagi Firda atas semua prilakunya yang diluar batas.
Mata Rangga menatap Firda dengan seringai iblisnya, yah! tatapan itu adalah tatapan yang ditunjukkan saat malam dimana ia hampir dilecehkan oleh laki-laki brengsek itu.
Sidang sudah dimulai, hakim kini meminta Firda agar menceritakan kronologi kejadian yang telah ia alami dan ia tuduhkan pada Rangga.
Firda mulai menceritakan dimana pada malam hari itu Rangga tiba-tiba datang dan langsung menerobos masuk ke unit apartemen yang Firda tempati. Rangga juga melakukan kekerasan secara fisik di malam yang sama.
Perdebatan mulai terjadi antara pengacara Ansela dan juga Satria, semua saling mengeluarkan bukti dimana pada malam hari itu Rangga berada di rumahnya bersama Ansela, walau tidak mungkin tapi semua orang bisa melihat di layar yang proyektor itu tampilkan.
"Tidak yang mulia! Rekaman itu tidak benar, itu hanya rekayasa semata dimana waktu dan tanggal itu telah di edit!" Ucap Pengacara Satria.
"Apakah anda memiliki bukti yang kuat?" Tanya Hakim kali ini.
"Tentu saja yang mulia!" Pengacara Satria langsung menjelaskan secara rinci ciri-cirinya, ia juga menampilkan rekaman untuk membandingkannya Dimana pada saat Rangga masuk ke unit apartemen Firda dan mencoba melecehkan Firda, bahkan suara Rangga saat itu begitu jelas terdengar di telinga semua orang disana.
"Satu hal lagi yang mulia! Ini surat pernyataan pengobatan nona Firda selama satu bulan penuh ini! Surat ini dijamin keasliannya dan dapat dipertanggung jawabkan! Setelah kejadian tersebut nona Firda mengalami trauma berat bahkan sampai sekarang ia terkadang selalu takut jika bertemu dengan pria asing!" Ucap Pengacara Satria sambil menyerahkan amplop berisi surat pernyataan yang dibuat oleh pihak rumah sakit.
Firda meremas bajunya dengan erat menahan traumanya mati-matian, apalagi saat ia mendengar kembali tangisannya, jeritannya dan semuanya di layar itu.
Satria ingin sekali menghampiri tubuh Firda dan memeluknya dengan erat untuk menenangkannya, namun kali ini ia harus bisa menahannya sebentar.
"Satu hal lagi Yang mulia! Terdakwa juga merupakan salah satu pengedar narkoba terbanyak pada tahun ini!!"
Tubuh Rangga seolah di sambar petir mendengarnya, tidak! tidak mungkin! Batinnya mencoba tenang. Begitu juga Ansela yang baru mendengar Fakta ini, ia yakin ini hanya tuduhan semata, siapa sebenarnya yang berdiri di belakang Firda? Mengapa di sidang ini ia sangat. sulit di kalahkan? Ia pikir Firda hanya gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang. sidang seperti ini.
Ansela melirik sosok laki-laki yang tadi datang bersama Firda, Ansela sangat ingat sekali! Jika laki-laki merupakan seorang kapten kepolisian, ia juga tahu dan pernah berbicara langsung dengannya, apa Firda merupakan salah satu wanita simpanannya? Pikir Ansela.
' Hebat sekali wanita itu! Bisa-bisanya ia mendapat dukungan dari seorang polisi, bahkan ia pasti membayar semuanya dengan tubuhnya, cih! Sampah tetap sampah! ' Batin Ansela sambil menatap Firda remeh sekaligus kesal.
Ansela yakin sekali setelah Rani menjual Firda ke club malam ia menjadi murahan dan so polos seperti ini untuk dikasihani, hidupnya penuh dengan drama! Pikir Ansela.
"Mohon maaf yang mulia! Kenapa anda malah menyeret dan menuduh hal lain pada terdakwa saudara Rangga! Apakah anda memiliki bukti yang kuat?" Tanya Pengacara Ansela.
Tanpa menunggu lama, Pengacara Satria langsung memulai rekaman-rekaman dimana Rangga yang melakukan pesta narkoba dan juga mengedarkan narkoba dengan caranya yang begitu hebat, Satria juga baru tahu Minggu kemarin saat menyelidiki siapa Rangga sebenarnya.
__ADS_1
"TIDAK! ITU TIDAK BENAR!! ITU EDITAN YANG MULIA!" Ucap Rangga dengan berteriak dan berdiri karena tidak terima.
"Saudara Rangga apakah anda bisa tenang?" Tanya hakim disana.
Rangga yang sudah merah padam langsung terduduk dan melirik tajam Firda sekilas.
"Saudara Rangga! Setelah melihat banyak bukti ternyata kasus anda sangat parah kali ini! Bahkan anda mengedar barang haram selama satu tahun ini anda kini dijerat dengan Pasal 114 Ayat (2) dan/atau Pasal 112 Ayat (2) dan Pasal 111 Ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya adalah pidana penjara minimal enam tahun dan maksimal pidana mati. Kemudian untuk denda minimal Rp 1 miliar dan maksimal Rp 10 miliar! Dan dikarenakan anda mengedar narkoba sudah satu tahun lamanya dalam jumlah banyak dan juga terjerat kasus untuk mencoba melakukan pelecehan seksual maka kami memutuskan untuk memberikan hukuman kepada anda yaitu penjara seumur hidup tanpa adanya denda untuk keluar!" Ujar Hakim memutuskan..
"Untuk itu kami juga menutup persidangan pada hari ini!"
Tok…tok…tok…
Ketukan palu terdengar tiga kali menandakan keputusan yang mutlak dan tidak dapat diubah sekaligus persidangan ini ditutup.
DUAR…
Untuk yang kedua kalinya Tubuh Rangga terasa di sambar petir mendengar pernyataan dewan hakim sebagai ketua sidang hari ini. Begitu juga Ansela yang langsung berdiri karena tak terima dengan pernyataan itu.
Semua orang yang berada di sana berhamburan untuk keluar karena persidangan telah selesai, persidangan kali ini cukup menguras waktu karena perdebatan tadi.
Satria langsung memeluk tubuh Firda yang sejak tadi ketakutan melihat wajah Rangga.
"Semuanya sudah selesai! Tenanglah!!" Bisik Satria sambil terus mengelus punggung Firda yang bergetar.
Rangga menatap tajam Firda yang kini tengah berpelukan dengan seorang laki-laki yang sedang memakai baju polisi, ia ingat sekali jika laki-laki itu adalah laki-laki yang memukulinya saat ia berada di unit apartemen yang Firda tempati malam itu, apalagi posisi wajahnya yang kini terlihat jelas karena posisi pelukan itu.
"Ayo kita kembali ke sel!" Ucap Salah satu polisi disana sambil menarik Rangga.
Rangga akhirnya berdiri dengan tangan yang kembali di borgol karena tadi pada saat sidang borgolnya sengaja di lepas.
Rangga berjalan melewati Firda dan juga Satria yang masih berpelukan dan di kawal oleh para polisi.
Dengan gesit ia mengeluarkan belati yang ia simpan dan ia bawa entah dari mana tanpa sepengetahuan polisi disampingnya.
Dengan cepat Rangga terlepas dari genggaman polisi dan berlari ke arah Firda untuk melakukan keinginannya saat ini.
CLEB…
DOR…
Belati itu kini menembus dan langsung mengeluarkan darah yang kini berceceran di lantai. Dan secara bersamaan polisi yang mengawal Rangga langsung menembak kaki Rangga agar tidak bisa bergerak lagi.
Namun sialnya ternyata belati itu tidak mengenai tubuh Firda, melainkan tubuh Satria yang dengan gerakan tak kalah cepat dari Rangga membalikkan tubuh Firda agar berdiri di tempatnya, alhasil belati itu menerobos tubuhnya dari belakang.
"Damn it!" Ucap Satria marah, untung saja ia melihat pergerakan Rangga tadi, jika tidak Firda akan terluka.
"Maaf kapten kami lengah!" Para polisi langsung membawa Rangga yang mengerang keras akibat sakit di kakinya. Ansela yang masih berada disana juga menatap perilaku bodoh Rangga kali ini, bagaimana jika hukumannya bertambah, ia pasti akan di hukum mati jika hukuman itu benar-benar bertambah, Ansela langsung mengikuti Rangga tanpa mempedulikan niatnya untuk menghampiri Firda.
Berbeda dengan Firda yang kini terus menatap darah yang berceceran yang berasal dari punggung Satria akibat menyelamatkannya barusan, ia juga melihat belati di lantai yang dipenuhi banyak darah, hatinya terasa sakit melihat Satria yang terluka seperti ini.
"Satya… Ka…kau-"
"Sttttt… ini luka kecil!" Ucap Satria menenangkan Firda dengan kembali memeluknya setelah kepergian Rangga yang di tarik kasar oleh rekannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1