
Sudah sehari Satria lebih memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, namun Baru saja ia fokus pasti ia sudah. terbayang lagi wajah Firda. Satria lebih memilih jalan aman dengan tidak bertemu Firda selama dua hari sebelum pernikahannya, jika kalian tahu kar Satria satu hari ini, ia sudah uring-uringan tidak seperti biasanya.
Sialnya kali ini ia juga di pantau Edward,, sang kakek marah betul saat mendengar kabar bahwa Satria pernah tidur bersama Firda, Edward sangat tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dengan calon menantunya itu.
"Sial! Ini semua kapan berakhirnya hah?" Ucap Satria kesal saat melihat berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya.
"Akan ku bakar kalian jika berani menggangguku besok! Gaidsku sedang apa hmm?" Satria memejamkan matanya sambil bersandar pada kursinya, ia membayangkan wajah Firda untuk menenangkan pikirannya yang kacau ini.
Kemarin seharian Satria mencoba meretas CCTV apartemen Firda, namun sayangnya CCTV itu di bawah kendali Edward, Juan dan Erik saja menyerah, makanya Satria SE prustasi ini sekarang.
"Permisi tuan!!" Ujar Juan yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Hmm!" Gumam Satria yang masih sibuk membayangkan wajah Firda.
"Apakah ada yang ingin anda siapkan di hari besok?" Tanya Juan.
"Beli helikopter baru! Aku mau membawa gadisku ke tempat yang sudah disiapkan kemarin!" Tutur Satria.
"Baik tuan! Apa ada lagi?" Tanya Juan lagi.
"Ganti kursinya dengan yah nyaman agar gadisku tidak sakit saat duduk di hari esok!"
"Baik tuan! Apa cukup?"
"Pergilah! Bawa berkas sialan ini!" Ucap Satria yang langsung kembali memejamkan matanya untuk membayangkan wajah gadisnya.
Juan hanya mengangguk dan langsung membawa berkas yang Satria maksud, ia juga langsung berlalu dari hadapan Tuannya untuk menjalankan misi yang sudah tuannya berikan, sejak hari kemarin banyak sekali persiapan yang harus Juan lakukan.
Dering ponsel Satria mengalihkan perhatiannya yang sedang membayangkan wajah Firda. Ia dapat membaca nama yang menelponnya, disana tertera nama dan foto Sintia.
"Hallo kau disana?"
"Hmm!"
"Hari ini pulanglah lebih awal! Besok ini kau menikah Satya!! Tidak usah memikirkan pekerjaan apapun!! Biarkan berkas-berkasnya membusuk!" Ujar Sintia di sebarang sana.
__ADS_1
"Baiklah!"
"Tumben kau tak membantah?" Tanya Sintia heran.
"Lalu kau mau membuatku semakin prustasi dengan setiap ocehan mu?"
Terdengar suara tawa kecil dari sebarang sana karena Satria yang sensitif sejak hari kemarin, apa dia sebucin itu dengan adik iparnya hingga tak mau berjauhan selama dua hari pun?.
"Baiklah-baiklah! Tak usah marah seperti itu adikku yang ganten!"
"Apa hanya itu?" Tanya Satria karena tidak mau lama-lama.
"Satya…!" Nada bicara Sintia sudah mulai membuat Satria tahu maksud Sintia.
"Apa yang kau butuhkan?" Tanya Satria pada kakaknya itu, ia bisa mendengar cengengesan yang berasal dari sana.
"Satya!!! Aku ngidam lagi!" Ucap Sintia dengan nada melasnya.
"Anak tuyul itu mau apa lagi?" Tanya Satria sedikit prustasi, ini sebenarnya ayah dari anak itu dirinya atau Kenzo sih? Kenapa sering sekali Sintia meminta apapun kepadanya, Namun walaupun begitu Satria tak pernah menolak jika memang keinginan kakaknya masih wajar dan sanggup ia lakukan, seperti kemarin kakaknya ingin membeli perusahaan es krim dengan uang Satria, tentu Satria tidak keberatan sama sekali karena itu masih dalam kemampuannya.
"Heh! Ini bukan anak tuyul ya!!!" Ucap Sintia tak terima.
"Satya! Bagaimana kalau besok kau saat akad memakai baju-"
"Kau pikir aku akan telanjang besok? Kau ini jangan membuatku semakin kesal!!" Tutur Satria memotong pembicaraan Sintia.
"Makanya dengarkan dulu aku hiks… Kau memotong pembicaraanku hiks…" Terdengar Isak tangis Sintia disana, Satria langsung mengacak rambutnya dan menarik nafasnya dalam-dalam, kenapa kakaknya begitu cengeng saat hamil.
"Maaf! Katakan apa yang ingin kau katakan!" Terdengar tangis Firda yang sudah mereda.
"Aku ingin kau memakai baju kostum burger hari besok!" Ucap Sintia dengan nada bahagianya, moodnya gampang sekali berubah akhir-akhir ini.
"Gila! Kau memang gila!!" Tutur Satria sambil mengacak kembali rambutnya. Apa dia tidak salah mendengar? Yang benar saja ia harus memakai kostum burger saat menikah besok, dimana wibawanya yang seorang polisi sekaligus CEO? Kali ini ngidam Sintia benar-benar membuatnya ingin membanting handphone ke lantai.
"Ini keinginan anakku untuk om nya!" Tutur Sintia dengan suara melasnya.
__ADS_1
"Kenap kau tidak suruh suamimu saja yang memakainya hah?" Ucap Satria berusaha sabar tidak membentak kakaknya.
"Tidak Satria! Suamiku sangat tampan jika harus memakai kostum burger seperti itu, kau saja bolehkan? Kalau bukan kau siapa lagi Satya?"
Satria langsung memutar otaknya untuk menghindari keinginan gila Sintia itu, dia pikir dirinya mirip seperti apa? Bisa-bisanya ia menyuruh dirinya memakai kostum aneh itu, memikirkannya saja sudah membuat ia pusing.
"Bukannya aku tidak mau! Tapi kemarin aku rasa ayah yang menginginkan memakai baju kostum burger itu!" Ucap Satria dengan nada yang meyakinkan Sintia.
"Benarkah? Kenapa ayah tidak bilang padaku?" Ucap Sintia dengan sedikit marah.
"Ayah tak tahu kau menginginkannya! Coba kau tanya dan bujuk dia agar mau memakainya!" Ujar Satria.
"Baiklah Satya! Terima kasih atas informasinya, maaf mengganggumu! Jangan lupa saat pulang bawakan aku mie jebew level 5!"
"Akan ku bawakan! Mau berapa porsi?" Tanya Satria pada sang kakak.
"Secukupnya saja untuk para maid di mansion! Aku ingin mereka makan mie yang enak itu!" Tutur Sintia.
"Baiklah!"
"Sampai nanti!! Dahhh!" Sintia langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Sorry Ayah! Aku merepotkan mu!" Tutur Satria dengan senyuman miringnya, yah ayahnya belum pernah sama sekali direpotkan dengan calon cucunya itu bukan? Jadi apa salahnya lempar batu seperti tadi?.
"Enak sekali wanita itu menyuruhku memakai baju gila! Dia pikir besok aku sedang festival kostum? Aku besok menikah jika dia lupa!! Ayolah tuyul! Jangan memberi permintaan dengan yang berada di luar nalar!" Tutur Satria sambil memijat pelipisnya.
Satria langsung membuka ponselnya dan jarinya memencet galeri handphonenya, yang pertama kali muncul adalah Foto-foto Firda yang selalu ia abadikan saat gadis itu lengah, kenapa ia bisa lupa jika di handphonenya ada foto Firda? Jika tahu seperti ini kenapa ia cape-cape membayangkan wajah Firda? Tapi Satria beruntung mengingat hal ini, ia langsung mengirim foto kepada Juan untuk dicetak dan disimpan di meja kerjanya dan ruangannya sebanyak mungkin.
"Cetak foto-foto itu, lalu pakaikan bingkai foto! Jangan memandang wajah gadisku jika kau masih ingin melihat dunia! Dan awasi pencetak foto itu! Jangan sampai dia menyimpan apalagi memandang wajah foto gaidsku! Jika dia berani berbuat seperti itu, maka hukum dia!"
Itulah pesan yang ia kirim pada Juan, dan tentu membuat Juan pusing sendiri dengan tuannya yang semakin aneh itu, tapi Juan senang juga karena. tuannya tidak sibuk memikirkan pekerjaan seperti dulu.
.
.
__ADS_1
.
.