Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
41. Kesedihan yang kembali


__ADS_3

Satria memandang wajah polos yang kini masih tertidur di balik Hoodie yang mereka kenakan, perlahan Satria membuka resleting Hoodie berwarna hitam itu agar Firda bisa bergerak leluasa, untungnya cuaca juga sudah baik pagi hari ini.


Rasanya Satria ingin sekali tidur kembali, selama ia tidak pulang ke apartemen ia tidak pernah tidur sama sekali di malam hari, ia terus memikirkan kenapa Firda berpikir ingin mengakhiri pernikahannya, walau pernikahan ini awalnya tidak di landasi dengan saling mencintai, tapi Satria tidak rela jika Firda harus terlepas darinya, memikirkannya saja membuat ia kesal sendiri.


Firda menggeliat sambil menguap merenggangkan otot-ototnya dengan mata yang masih tertutup, dengan cepat Satria menutup matanya lagi walau tangannya masih berada di perut Firda.


"Malas sekali aku membuka mata!" Gumam Firda dengan mata yang masih tertutup.


Perlahan Firda membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah sebuah tangan kekar yang berada di atas perutnya, Firda mengerutkan keningnya heran, seketika ia teringat sesuatu dan langsung melihat ke sebelah kiri.


' ya ampun! aku lupa kalau tidur bersamanya malam ini! ' ujar Firda dalam hatinya sambil menepuk jidatnya pelan.


Firda menatap sosok laki-laki yang tengah memejamkan matanya, dengan hidung bagai bak perosotan, alis yang tajam, bibir yang merah alami, serta rahang yang tegas.


"Sudah puas memandangi ketampanan ku hmm?" Ucap Satria yang langsung membuka matanya.


Glek…


Firda menelan lidahnya susah payah akibat sosok yang ia pandangi kini membuka matanya dengan posisi saling berhadapan.


"Si…siapa yang memandangi mu hah? Jangan terlalu pede ya!" Firda langsung bangkit dari tidurnya dan siap turun dari ranjang.


Namun tubuhnya terhempas lagi keranjang akibat ditarik oleh Satria.


"Aaaaaaaaaaaaaa!" Firda berteriak karena kaget.


"Mau kemana hmm?" Tanya Satria dengan suara the voice nya.


Jantung Firda berdegup dengan kencang seketika saat menatap wajah Satria yang kini berada di atasnya.


"A…aku mau memasak untuk sarapan!" Ujar Firda dengan sedikit gugup.


Satria langsung bangkit dan turun dari ranjangnya.


"Nanti kau ikut denganku setelah sarapan, ada yang ingin ku tunjukkan!" Ucap Satria yang langsung memasuki kamar mandinya.


"Ck… Sepertinya jantungku tidak aman dekat dengan polisi menyebalkan itu!" Gumam Firda yang langsung ikut bangkit dan pergi dari kamar Satria menuju kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Firda telah selesai menata sarapan pagi ini, ia hanya membuat sandwich ayam dan juga sandwich daging sapi panggang menurutnya ini lebih simpel dan juga enak, jadi ia membuatnya dua varian sekaligus.


"Makanan sudah siap!" Ucap Firda sambil bertepuk tangan karena bangga dengan hasilnya.


"Kau sudah siap?" Tanya Satria yang tiba-tiba datang dengan seragam kebanggaannya dan kini yang tengah berfokus pada layar handphonenya.


"Kau tidak sarapan terlebih dahulu?" Tanya Firda.


"Sepertinya kita sarapan di kantor saja!" Jawab Satria yang masih tetap Fokus pada handphonenya.


Firda merenggut kecewa mendengarnya, ia sudah mengeluarkan tenaganya untuk memasak cepat hari ini, seenaknya sekali laki-laki ini menyuruhnya sarapan di kantor.

__ADS_1


"Kena…" belum sempat Satria menyelesaikan ucapannya ia langsung melihat Firda dengan wajah yang di tekuk, ia juga melihat sandwich yang sudah tersaji di sana.


Satria yang mengerti langsung meraih Piring yang berisi sandwich.


"Kita makan ini di mobil! Ayo!" Firda langsung merubah wajahnya cerah mendengarnya.


"Aku akan mengambil tasku terlebih dahulu!" Sambil berlari ke arah kamarnya. Satria menatap gemas gadis itu, tingkah lakunya benar-benar membuat Satria heran, kenapa ia selalu seceria seperti ini walaupun ia tersakiti dulu saat bersama ibunya.


Kini, di perjalanan mereka sibuk dengan makanan masing-masing, kebetulan hari ini Juan yang mengendarai mobil karena Satria mau fokus sarapan sambil mengerjakan beberapa pekerjaannya yang tertunda karena semalam.


"Juan! Yang ku perintahkan sudah kau lakukan?" Tanya Satria membuka suaranya.


"Sudah tuan! Datanya sudah ditemui, kita tunggu pergerakannya saja!"


"Hmm!" gumam Satria sambil mengangguk.


"Boleh mampir sebentar?" Tanya Firda sambil fokus menatap keadaan diluar dari balik jendela mobil.


"Anda mau mampir di…!"


"Tidak!" ucap Satria menyela ucapan Juan.


"ish… sebentar saja ku mohon!" Ucap Firda sambil memegang tangan kekar Satria dan menggoyangkannya.


"Kita sudah terlalu telat!" Ucap Satria tanpa melihat lawan bicaranya.


"Ayolah! Satu menit saja!" Wajah memohon Firda membuat Satria kesal karena tidak tega jika saat ini.


"Aku mau ke toko buah, rasanya aku mau stroberi yang segar!" Ucap Firda ceria dan membayangkan buah stroberi saat berada di mulutnya nanti.


"Baik nona! Biar saya yang turun saja!" Ujar Juan saat berada di tempat yang Firda maksud yang kebetulan tidak jauh dari jarak sebelumnya.


Firda hanya mengangguk menyetujuinya takut-takut laki-laki di sampingnya ini malah berubah pikiran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kita ke rumah sakit?" Tanya Firda yang entah ke berapa kalinya ia terus bertanya namun sayangnya tak ada jawaban dari mulut Satria maupun Juan.


Dengan kesal Firda terus menghentakkan kakinya karena kesal sambil menyamakan langkahnya dengan kaki Satria yang panjang.


Firda menyuapkan stroberi dengan kesal yang Juan beli tadi sebanyak se kantung kresek yang kini ia pegang.


Hingga kini mereka berhenti di depan ruang otopsi sesuai dengan nama yang terpampang di atas pintu masuk.


"Kita mau ngapain sih kesini?" Tanya Firda kesal, ia ingin segera duduk dan menikmati setiap suapan stroberi ini.


"Ayo masuk!" Ajak Satria pada Firda yang kini tengah kesal.


Firda yang tak. mau terus berdebat langsung mengikuti langkah Satria, karena percuma ia terus berbicara jika akhirnya ia tidak ditanggapi juga.


Saat sampai di dalam ruangan, Satria langsung melihat Farhan yang sudah selesai mengevakuasi korban.

__ADS_1


"Hai Sat! Kapan Lo sampai?" Tanya Farhan dan langsung membuka sarung tangan putihnya.


"Barusan! Dimana?" Tanya Satria pada Farhan.


Farhan yang mengerti langsung memberi kode dengan kepalanya menunjuk satu korban yang kini di tutupi kain putih.


Satria menggenggam tangan kiri Firda yang masih celingukan menatap setiap sudut ruangan otopsi.


"Bukalah!" Perintah Satria pada Firda saat berada di hadapan seseorang yang kini tertutup kain putih itu.


"Untuk apa? Memangnya ini siapa?" Pikir Firda heran pada laki-laki di sampingnya.


Satria mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Firda.


"A…apa ini?" Tanya Firda gugup saat menerima kartu identitas yang terbalik itu.


DEG…DEG…DEG…


Jantung Firda tiba-tiba berdetak kencang dan hatinya terasa mencelos seketika. sat menatap nama identitas yang kini ia pegang.


"Ja…jangan bilang i…ini…"


"Ayahmu! Ini Ayahmu!" Ucap Satria sambil menatap wajah Firda dengan tatapan teduhnya.


kantung kresek berisi stroberi kini terjatuh dan membuat buahnya berserakan dimana-mana, ia juga menjatuhkan identitas Dafa dan langsung membuka penutup kain itu.


"Gak! Ini bukan ayahku!" Tegas Firda dengan suara bergetar nya, ia yakin ini bukan Dafa karena wajahnya sudah hancur.


"Identitasnya ditemukan di dekat mayat ini!"


"GAK! AYAH GAK MUNGKIN NINGGALIN AKU…!" Firda berteriak histeris sambil terus menangis dan terus memukul dada bidang Satria yang tidak bergerak sama sekali.


"DIA BUKAN AYAHKU HIKS… AAAAAA GAK MUNGKIN GAK MUNGKIIIIIIIN…" Firda terduduk lemas sambil terus berteriak histeris.


"KATAKAN KALAU INI BOHONG! KATAKAN!!"


"AYAAAAH! AKU BENCI AKU BENCI DIRIKU SENDIRI AKU BENCII…!" Firda memukul-mukul dadanya sendiri akibat terlalu sesak menerima semuanya.


Satria yang melihat itu langsung berjongkok dan menahan pergerakan yang kini Firda lakukan pada dirinya sendiri.


"Hey! Jangan sakiti dirimu sendiri!" Tegas Satria.


"AYAH KENAPA TEGA NINGGALIN AKU HAH? KENAPA AYAH TEGA HIKS…" Firda langsung di bawa kedalam dekapan Satria agar ia tenang.


Firda terus meraung keras di ruang otopsi itu yang kini disaksikan oleh Farhan dan juga Juan, mereka juga ikut berduka cita melihat keadaan Firda yang saat ini.


' Nona muda tenanglah! Tuan muda akan membahagiakanmu setiap saat mulai detik ini! Saya bisa menjaminnya Nona! ' gumam Juan dalam hatinya sambil menatap dua insan yang kini tengah berpelukan di lantai.


Sama halnya dengan Farhan kini begitu merasakan kesedihan yang Firda Alami saat ini, gadis yang terjerat dengan sahabatnya itu begitu banyak sekali tekanan dan juga ujian dalam fase hidupnya saat ini, di usia Firda saat ini seharusnya ia bersenang-senang dengan teman-temannya, sibuk kuliah dan juga berfoya-foya, tapi dia? Sungguh gadis yang sangat kuat, pikir Farhan yang masih terdiam dengan tatapan datarnya.


...KOMEN DAN LIKE NYA JANGAN LUPA YAH! JANGAN CUMA MAMPIR DOANG READER TERCINTANYA!!!!!!!!! 😍...

__ADS_1


__ADS_2