
Firda membuka matanya saat ia tiba-tiba terjatuh ke lantai.
"Awhhss…" Firda memegangi bokongnya karena sakit yang luar biasa.
Firda langsung bangkit dan duduk kembali di sofa, ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi. What? Dia kesiangan?.
Firda mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen dan tak menemukan sosok Satria yang sejak semala ia tunggu.
"Dia benar-benar tidak kesini rupanya!" Firda langsung melamun memikirkan kejadian hari kemarin.
Suara dering telepon mengalihkan pandangannya ke benda pipih yang berbentuk persegi itu.
"Bunda!" Gumam Firda dan langsung menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan.
"Sayang? Kamu kemana aja sih? Bunda udah dua puluh kali telepon kamu baru di angkat sekarang!" Ucap Amera di sebrang sana dengan nada khawatir.
"Firda baru Bangun bund!"
"ya ampun! Bunda kira kemana! Satria udah berangkat ke kantor ya? Dia gak pulang-pulang setelah bawa kamu ke apartemen baru!"
"Mungkin dia udah di kantor bund! Soalnya Dia gak ke apartemen semalam!"
"Loh kenapa? Dia gak apa-apain kamu kan?"
"Enggak bund! Justru Satria gak kesini gara-gara aku!" Cicit Firda pelan namun masih terdengar jelas oleh Amera.
"Kalian lagi ada masalah ya?"
"Firda mau bicara sama bunda hari ini boleh?" bukan menjawab pertanyaan dari Amera justru Firda malah bertanya balik.
"Boleh kok sayang! Bunda ke apartemen kamu hari ini ya! Nanti pukul sebelas siang bunda udah disana!"
"Makasih ya bund! Firda malah ngerepotin!"
"Loh! Kok ngomongnya kayak gitu sih? Bunda gak suka ah! Kamu kan udah bunda anggap kayak putri bunda sendiri sayang! Udah dulu yah! Bunda mau siap-siap dulu sebelum kesana!"
"Iya bunda! Makasih ya bund!"
"Sama-sama sayang! See you!"
Suara panggilan terputus terdengar di telinga Firda, akhirnya Firda langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum sarapan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria merenggangkan otot-ototnya setelah olahraga pagi, sejak semalam sampai saat ini Satria belum mengistirahatkan matanya sama sekali, ia terus berlatih menembak di gedung rahasia miliknya yang terdapat banyak ratusan orang di dalamnya, masih ingat bukan gedung yang jauh dari kota ini?.
"Tuan muda! Nyonya menanyakan keberadaan anda saat ini!"
"Katakan aku sudah dikantor!" Jawab Satria tanpa melihat ke arah Juan.
"Bak tuan!"
"Kau memperketat penjagaan apartemen bukan?"
"Saya sudah mengerahkan sekitar 15 bodyguard untuk berjaga semalaman tuan! Apa itu terlalu sedikit?"
"Lain kali tambah penjagaan lagi! Bagaimana kalau dia keluar? Jumlahnya tidak cukup untuk memperketat!"
"Baik tuan saya akan lebih berhati-hati lagi!"
' tuan-tuan! bahkan disaat hubungannya tidak baik-baik pun ia tetap perhatian pada nona, ia sendiri bahkan tahu nona tidak mungkin berani keluar setelah saya antarkan kemarin sore! Tuan sudah berubah banyak berkat nona!Terima kasih nona telah membuka hati tuan yang keras ini! ' Tutur batin Juan.
' ****! Bahkan aku tidak bisa tidur karena perkataannya kemarin! ' ucap Satria dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara bel Apartemen membuyarkan lamunan Firda saat ini, ia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju pintu apartemen melihat siapa yang datang.
Firda mengintip keluar lewat pintu apartemen, disan terdapat Amera yang di jaga oleh dua orang bodyguard dibelakangnya.
Tanpa menunggu lama, Firda langsung membuka pintu tersebut dan menyambut hangat Amera.
"Hai sayang! Bunda kangen!" Tutur Amera yang langsung memeluk tubuh Firda erat.
"Firda juga!"
"Masuk dulu yu bund!" Ajak Firda dan ia langsung melihat bodyguard di belakang Amera.
"Mereka akan pergi setelah ini! Kita hanya akan menghabiskan waktu berdua saat ini!" Ucap Amera yang mengerti tatapan ragu Firda.
"Kalian pergilah! Nanti aku akan di jemput Saka sore hari!" Bodyguard itu hanya menunduk patuh namun enggan untuk pergi sebelum Amera beranjak masuk.
Akhirnya Firda dan Amera masuk ke dalam dan langsung menuju dapur.
__ADS_1
"Sayang! Bunda bawa bahan makanan nih, kita masak untuk makan siang yuk!"
"Boleh banget tuh bund! Bunda bawa apa nih?" Tanya Firda semangat.
"Bunda bawa aneka macam seafood dan juga daging, sekalian ini juga buat stok kamu masak di apartemen! Ini juga bunda bawa sayuran! Kamu harus makan-makanan sehat jangan makan yang sembarangan! Gizi kamu harus seimbang!" Tutur Amera panjang lebar sambil fokus menata makanan ke freezer.
Firda menatap haru pada Amera, Baru kali ini hatinya begitu hangat mendengar perkataan seorang wanita berstatus ibu dan begitu perhatian terhadapnya, bahkan Rani tidak pernah sama sekali memperhatikan dirinya dalam hal apapun, yang Rani perhatikan hanya kerja dan penghasilan Firda.
Tanpa sadar satu tetes air mata membasahi wajah Firda saat mengingat betapa beruntungnya dia saat ini.
"Sayang! Kenapa nangis hey?" Amera langsung menghampiri Firda karena khawatir.
"Firda hanya bahagia bisa mendapatkan perhatian seorang ibu! Yah walaupun Bunda Amera bukan bunda kandung Firda!" Ucap Firda dengan suara bergetar.
"Sayang! Bunda kan juga sekarang sudah jadi bunda kamu! otomatis kamu harus anggap bunda sebagai bunda kandung kamu!" Amera langsung menghapus sisa air mata Firda di wajahnya.
"Makasih ya bunda!"
"Iya sama-sama! Yuk kita mulai masak! Bunda gak kuat kalau suasananya harus melow!" Firda tersenyum dan langsung mengangguk.
Akhirnya dua sosok perempuan kini tengah berkutat dengan peralatan dapur sambil tertawa ria, terkadang Firda juga bercerita tentang pengalamannya dalam memasak yang gagal dan berakhir dengan tawa gelak dari Amera.
"Kamu beruntung loh bisa masak sebelum menikah, Bunda dulu tidak bisa masak saat awal menikah! Kau tahu? Saka bilang kalau bunda gak perlu bisa masak! Karena dirumahnya banyak maid! Terdengar romantis sih! tapi sayang, bunda juga mau dong kali-kali masak buat Suami bunda! Biar dia tahu betapa enaknya masakan bunda dan biar dia punya istri Paket lengkap!" Firda mendengar cerita Amera dengan begitu antusias.
"Dulu masakan pertama kali bikinan bunda adalah sup ayam! Kamu tahu? Sup ayamnya ternyata lupa pakai garam! Rasanya jadi hambar!" Firda menatap Amera tak percaya, bisa-bisanya Amera lupa pada bumbu utama.
"Terus reaksi Ayah gimana?" Tanya Firda penasaran.
"Bunda waktu itu langsung kasih makanannya ke Mas Saka! Dan reaksi dia hanya mengangguk sambil melanjutkan makanannya, dan saat bunda nyoba karena penasaran, bunda langsung nangis minta maaf pada Mas Saka! Eh…kamu tahu kata Ayah Satria apa? Dia bilang kamu kenapa nangis hmm? aku bahkan menikmati masakan mu! jangan dipikirkan! Ini hal wajar dala tahap pembelajaran, masakanmu tetap enak karena terbuat dari cinta," Firda tersenyum melihat Amera yang menirukan gaya bicara Saka yang tidak beda jauh dengan Satria.
"Bunda baper banget saat itu! Akhirnya sejak saat itu bunda terus ikut kelas memasak sampai bunda bisa wujudin masakan-masakan kesukaan Saka, Sintia dan juga Satria!" Firda menatap kagum pada Amera, wanita paruh baya di depannya ini begitu multitalenta.
"Kita makan siang dulu yah! Setelah itu baru kamu boleh cerita masalah kamu sama Satria!" Firda mengangguk sebagai jawaban singkatnya.
"Yu kita siapkan makanan siang!" Ajak Amera pada Firda semangat.
.
.
.
__ADS_1
.
.