Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
89. Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Keluarga William dan keluarga Gabriel Group kini sedang berkumpul bersama di mansion Saka, sesuai perjanjian malam ini kedua keluarga tersebut melaksanakan makan malam di Mansion Saka sebagai tanda rasa syukur atas sembuh totalnya Farhan dan juga rasa terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa menantu Saka.


"Malam semuanya! Terima kasih Ares! Kau sudah bersedia datang beserta keluarga pada malam hari ini!"


"Malam! Thanks juga bro udah mau direpotkan!"


"Santai! Tidak perlu sungkan!" ujar Saka sambil mempersilahkan Arsen dan keluarganya duduk.


"Kenalkan! Dia Aldo, putra keduaku!" Ujar Arsen pada Saka.


"Yah aku sudah dengar semuanya dari Satria! Aku turut senang mendengarnya Sen!" Ujar Saka pada sahabatnya.


"Ouh iya! Ada yang ingin aku sampaikan nanti setelah acara makan malam!" Ujar Satria sambil menggenggam tangan Firda sejak tadi tanpa berniat melepaskannya.


"Jangan sajikan berbau kacang di dekat istriku!" Tutur Satria lagi dengan dingin menatap koki rumahnya, sang koki hanya mengangguk patuh dan menyingkirkan beberapa makanan yang berbau kacang dari hadapan nona mudanya.


"Ya ampun kamu alergi kacang sayang?" Tanya Amera pada menantunya.


Firda hanya mengangguk dan tersenyum malu, pasti semua orang menganggap aneh pada dirinya yang alergi kacang, dimana kacang merupakan makanan kesukaan kebanyakan orang.


"Lain kali bunda akan mengingatnya!" Ujar Amera dengan senyumannya.


Akhirnya keluarga William dan Gabriel Group melaksanakan makan malam dengan khidmat, itu juga berlaku pada pasangan suami istri baru alias Satria dan Firda yang melakukan makan malam kadang dengan saling menyuapi, dan tentu semua orang tidak berkomentar karena sedang makan, hanya saja mereka semua menahan senyum melihat tingkah Satria yang biasanya dingin dan enggan disentuh oleh wanita manapun, kini berbanding balik jika sudah berhadapan dengan sang istri.


"Habiskan makananmu!" Ucap Satria pelan pada istrinya.


Firda menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Satria dengan memohon, pasalnya sejak tadi ibu mertuanya menambahkan makanan banyak sekali ke piringnya.


Satria langsung meraih Piring makanan Firda dan mulai memberikannya kepada Firda. Sedangkan istrinya hanya bisa cemberut sambil memaksakan diri untuk memakan suapan dari Satria.


"Good girl!" Ujar Satria pelan.


Setalah acara makan malam, kedua keluarga tersebut berbincang-bincang di taman belakang mansion Saka sesuai keinginan putranya yaitu Satria, mereka juga penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh Satria.


"Apa yang ingin kau bicarakan bung?" Tanya Saka pada putranya.


"Banyak sekali!" Ujar Satria sambil menatap wajah semua orang satu persatu.


"Tapi sebelumnya biarkan ku beri pertunjukan pada istriku dulu!" Ujar Satria yang langsung ditatap heran oleh Firda setelah itu ia mencium kening Firda singkat.


"Cih… bucin akut nya keluar! Najis dah!" Ujar Farhan sambil memutar bola matanya.


"Terlalu lama jomblo mengakibatkan tidak waras juga!" Jawab Satria dengan terkekeh dan ditatap langsung oleh Farhan tak terima.


"Panggil dia masuk!" Ujar Satria pada Bodyguard yang terdapat disana.


"Baik tuan!" Ujar Bodyguard tersebut dan langsung pergi dari area taman.


"Siapa yang kau maksud bung?" Tanya Saka heran, biasanya putranya ini akan berbicara terlebih dahulu jika ingin memasukan orang asing ke mansionnya.


"Ayah akan tahu nanti!" Tutur Satria sambil menatap wajah Firda yang sejak tadi kebingungan.


Suara langkah kaki membuat atensi semua orang teralihkan karena penasaran siapa yang datang karena Satria tak mau memberitahu mereka. Namun Mereka hanya terdiam karena bagi mereka asing sekali dengan seseorang yang baru saja datang itu.


Berbeda dengan Firda yang langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat.


"Ini benar ayah bukan?" Ujar Firda bahagia di sela-sela tangisannya.

__ADS_1


Yang baru saja datang adalah memang benar-benar Dafa, setelah kejadian dirumah sakit istrinya melihat ayahnya, Satria langsung mencari tahu kebenarannya, dan benar saja ternyata Dafa memang masih hidup, otomatis yang ditemukan reka kerjanya hanya orang lain.


"Satria apa maksudmu?" Tanya Amera heran, yang ia tahu ayah menantunya sudah tidak ada, lalu barusan menantunya menyebut pria paruh baya itu dengan panggilan Ayah.


"Tuan Dafa sebaiknya kau duduk dulu! Honey come here!" Ujar Satria pada sang istri.


Firda langsung menarik tubuh ayahnya untuk duduk setelah menumpahkan kebahagiaannya, walau dihatinya harus menelan rasa pahit jika sebenarnya Dafa bukankah ayah kandungnya, tapi Firda tak peduli itu semua, Dafa akan tetap menjadi ayahnya sampai kapanpun.


Firda langsung kembali ke tempat duduknya didekat Satria dan diikuti ayahnya yang berada di sebelahnya.


"Semua pertanyaan di benakmu akan terjawab malam ini sayang!" Ujar Satria lembut pada istrinya.


Dafa belum berkata apa-apa, ia langsung berdiri dan berjalan kearah seorang pria yang usianya tidak jauh darinya. Ia langsung bersimpuh dengan kedua kakinya dihadapan pria tersebut.


"Apa yang ka-"


Tangan Satria langsung terangkat sebagai tanda agar ia tetap diam mendengar semua apa yang akan dikatakan Dafa.


"Ayah apa yang kau lakukan?" Tanya Firda penasaran kenapa ayahnya bersimpuh dihadapan Tuan Arsen, yah Dafa memang bersimpuh pada Arsen.


"Tuan Arsen! Aku akan mengakui kesalahanku!" Ujar Dafa dengan kepala yang tertunduk.


Farhan, Aldo, Aneska, Amera dan Saka hanya terdiam menatap pemandangan sekarang.


"Angkat kepalamu kalau begitu! Lalu katakan kesalahanmu!" Tegas Arsen pada pria dihadapannya, walau ia sendiri bingung siapa sebenarnya orang dihadapannya ini.


Dafa mengangkatkan kepalanya menatap wajah tegas Arsen.


"Maaf tuan! Aku telah memisahkan anda dengan putri anda selama dua puluh tahun!"


"APA MAKSUDMU HAH?" Tanya Arsen dengan marah dan keras ia juga langsung berdiri menatap nyalang pria di hadapannya. Apa pria ini yang membunuh putrinya? Atau apa maksudnya? Pikir Arsen.


"Dua puluh tahun yang lalu saya telah menggantikan putri anda dengan putriku yang sudah tiada!" Lagi-lagi semua orang terhenyak kaget mendengar penuturan Dafa termasuk Firda.


"SIALAN KAU!"


BUGH…


BUGH…


BUGH…


"TUAN ARSEN JANGAN SENTUH AYAHKU!" Ucap Firda tak terima dan langsung pergi kepada sang ayah yang tak memberikan perlawanan sedikitpun.


"TUAN ARSEN BERHENTI!"


"DIAM KAU!" ucap Arsen membentak Firda yang baru saja melangkah.


"JAGA NADA BICARA ANDA TUAN ARSEN!" Ucap Satria keras dan langsung berdiri dan berlari menghampiri istrinya yang sudah membeku.


BRUK…


Dugaannya benar, istrinya langsung pingsan karena mendapat bentakan dari Arsen, sialan sekali! Bahkan dirinya saja tidak pernah membentak istrinya sejak saat itu.


"Firda!" Amera langsung menghampiri menantunya yang diangkat langsung oleh Satria menuju kedalam diikuti oleh Farhan.


Arsen memukul pria dihadapannya dengan membabi buta, tidak ada yang menolong Dafa kecuali Saka yang langsung menahan tubuh sahabatnya.

__ADS_1


"Arsen tahan emosimu! Kita dengarkan apa yang ia bicarakan dulu! Kau lihat? Bahkan kau telah membuat menantuku pingsan karena nada bicaramu!" Ujar Saka dengan aura dinginnya.


Arsen langsung tersadar, yah barusan ia mengeluarkan emosinya yang memuncak. Ia langsung menatap pria yang sudah tak berdaya di atas rumput taman, Saka juga membantu pria tersebut untuk duduk di kursi.


"Jelaskan yang sebenarnya terjadi!" Ujar Saka pada Dafa.


Aneska sejak tadi sudah melemas mendengar semua kenyataannya, ia berada dalam pelukan Aldo sekarang. Ditaman hanya tersisa Anes, Aldo, saka dan juga Arsen Yang akan mendengar penjelasan Dafa.


"Panggil Farhan! Dia berhak tahu semuanya!" Ujar Arsen pada salah satu bodyguard disana.


Tak lama Farhan Langsung kembali ke area taman karena panggilan ayahnya.


"Katakan langsung sialan!" Desis Arsen.


***


"Maaf tuan! Putri anda tidak bisa kami selamatkan!" Dunia Dafa rasanya hancur berkeping-keping mendengar kenyataan tersebut, apa yang harus ia katakan pada istrinya nanti, pasalnya ini adalah penantian mereka yang ke enam tahun akhirnya bisa mendapatkan momongan, namun semuanya telah sirna.


Dafa langsung berjalan keluar menuju ruangan khusus bayi, ia langsung terpaku menatap dua boks bayi yang berisi dua bayi kembar didalamnya.


"Kembar tapi berbeda jenis kelamin! Lucu sekali kalian!" Tutur Dafa.


Terlintas pikiran jahat di otaknya, ia langsung menggantikan putrinya yang baru saja pergi, dengan bayi wanita yang ada disana.


"Maaf!" Ujar Dafa yang langsung membawa bayi perempuan itu pergi dari sana.


Dan siapa sangka ternyata setelah Dafa keluar Syifa datang dan menggantikan bayi laki-lakinya yang tiada dengan bayi milik kakak iparnya. Awalnya ia tidak tega Karen bayi perempuan kembarannya sudah tak bernafas, tapi ia tidak mau mengecewakan suaminya.


***


"BENAR-BENAR MANUSIA IBLIS KAU!" Bentak Arsen.


Aldo yang sejak tadi menahan dirinya langsung melepaskan pelukan Aneska dan berjalan kearah Dafa, ia langsung mengangkat kerah baju Dafa.


"DIMANA ADIKKU SEKARANG!" Ucap Aldo dengan nada marah dan langsung mencengkram kerah baju milik Dafa.


Dafa hanya diam tak memberontak karena sisa tenaganya yang sudah hampir hilang sepenuhnya.


"Firda Permata!" Tutur Dafa dengan senyuman manisnya membayangkan wajah putri yang selama ini mencintainya.


Aldo dengan spontan melepaskan cengkeramannya mendengar nama yang pria ini sebutkan.


DEG…


Pantas saja banyak sekali kemiripan dengan Firda, dari mulai alergi kacang, dan ternyata Firda juga tidak bisa dibentak, pantas saja Firda langsung pingsan saat Arsen membentaknya tadi, dan itu semua juga berlaku pada tubuh Aneska. Aneska langsung berlari kedalam diikuti oleh Farhan, mereka semua tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Tapi mereka juga bahagia mendengar fakta ini.


Sedangkan tubuh Arsen terasa kaku, apa barusan? Firda? Menantu sahabatnya? Istri Satria? Sial! Dia telah membentak putrinya sendiri, ujar Arsen yang langsung mengikuti istrinya masuk kedalam mansion.


Ditaman hanya tersisa Dafa, Aldo dan juga Saka.


"Bawa pria ini masuk dan panggil dokter untuk memeriksa keadaannya!" Perintah Saka pada Bodyguardnya.


..


..


...

__ADS_1


__ADS_2