
Kini sudah lima hari lamanya akhirnya demam Firda sudah sembuh, ia sudah aktif dan beraktivitas lagi sejak kemarin sore, pagi ini ia sedang berkutat dengan peralatan dapur di mansion Satria berniat untuk memasak untuk keluarga William pagi hari ini.
"Nona biar saya saja yang mengaduk!" Pinta Lili pada Firda.
"Tidak-tidak! Aku hanya ingin memasak sendiri! Kalian bisa pergi dan beristirahat!"
Mendengar perkataan Firda para koki di sana menelan ludahnya susah payah, bagaimana jika tuan mudanya keluar dan melihat semuanya, bisa habis mereka di tangan tuan mudanya.
"Nona biar kami membantumu! Nanti kau kelelahan, kau kan baru saja sembuh dari sakit mu!" Tutur Lili memelas.
"Aku akan bicara padanya nanti! Pergilah!!" Jawab Firda sambil tetap fokus memasak makanan yang sebentar lagi siap di sajikan.
Sekitar dua puluh menit lamanya akhirnya masakan yang Firda buat kini sudah siap di sajikan, para maid beserta koki berjejer rapi mengelilingi Firda karena mereka takut untuk beranjak dari sana, bagaimana jika tuan besar dan Nyonya rumah ini datang? Bisa habis mereka.
"Eh…kalian masih ada di sini?" Tanya Firda kaget saat sadar melihat para maid yang mengelilingi dirinya yang kini berada di tengah-tengah.
' Bagaimana kami bisa pergi nona! Sedangkan kau selaku orang penting malah memasak untuk sarapan pagi ini!!! ' jerit batin Lili.
' Nona nyawa kita hanya satuuuu…! ' Jerit para koki di sana.
' Nona kau memang baik! Tapi di mansion ini sebaiknya kau jangan terlalu baik!!! '
Dan banyak lagi jeritan-jeritan hati para maid di dapur luas sana.
"BIAR KAMI BANTU NONA!" Ucap semua yang berada disana secara serempak dan membuat Firda terkejut.
"Hey kalian ini kenapa?" Tanya Firda aneh saat ia akan menuangkan masakannya ke dalam wada yang telah di siapkan.
"Nona sebaiknya kau duduk! Anda telah memasak dan cukup menguras tenaga pagi hari ini, sebaiknya kau istirahat!!" Pinta Lili pada Firda.
"Tapi…" Belum sempat Firda menyelesaikan ucapannya Lili sudah menuntun Firda agar duduk di kursi yang berada di sana.
Setelah itu baru para maid bergerak cepat menyajikan masakan yang telah Firda masak pada setiap wadah.
Firda menghela nafas pelan melihat kelakuan para maid, memangnya kenapa jika dirinya yang menyelesaikan semuanya? Pikir Firda heran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Awhhss… Lepaskan aku!!!" Ringis seorang wanita yang kini tengah di tarik keras rambutnya ia tak lain adalah Karina.
"Bagaimana kalau aku tidak mau hah? Apa kau akan mengadu pada ayahku? Hahahaha tidak. semudah itu bodoh!!" Dengan keras Ansela mendorong tubuh Karina hingga terjatuh dan membentur lantai.
Dugh…
"Hiks… apa sebenarnya maumu?" Tanya Karina takut.
"Dimana kakak mu sekarang?" Tanya Ansela tegas dan penuh penekanan.
"Sudah ku bilang aku tidak tahu!!"
"JANGAN BERBOHONG!!!"
"AKU TIDAK BERBOHONG!!!"
"JANGAN MENINGGIKAN SUARAMU PADAKU SIALAN!!" Teriak Ansela tak kalah keras dari Karina.
"Sejak ibu menjualnya di club malam kita tidak tahu dimana Firda sialan berada saat ini!!" Cicit Karina pelan.
"HAHAHAHA!!!"
"Aku tak menyangka kau dan ibumu sama-sama iblis sepertiku!!" Ucap Ansela sambil menangkup wajah Karina yang kini sedang ketakutan.
__ADS_1
"Club mana yang kau maksud hmm?" Tanya Ansela pelan.
"Ya…yang ada di… di ja…jalan me…melati!"ucap Karina gugup.
Ansela bangkit dan membersihkan debu di tangannya tak lupa ia memandang Karina remeh.
"Jika kau berani berbicara pada siapapun! Aku jamin satu jarimu akan hilang hari ini juga! Kau mengerti?" Tegas Ansela.
"Aku me…mengerti!"
Ansela kini keluar dari gudang rumahnya meninggalkan Karina yang sudah sangat kacau tak berbentuk, Ansela menggunakan waktu luang saat ayah dan ibu tirinya pergi pagi ini, yah… Ansela tahu kelemahan mereka saat ini, ia yakin ayahnya tak akan tahu perilakunya, mendengar perlakuan mereka pada Firda membuat hatinya senang, berarti ia tidak salah memperlakukan sampah seperti sampah bukan? ucap Ansela bangga.
"Arghhhh… gue gak suka kelemahan, gue benci ditindas!" Tegas Karina kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Firda tengah bersiap untuk ikut pergi latihan menembak bersama Satria sesuai keinginannya agar ia bisa menghirup udara segar setelah beberapa hari berada di mansion ini.
Firda mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan tangan panjang yang di lipat karena terlalu panjang, serta ia memakai rok putih selutut kesannya seperti akan berangkat ke kantor yah walaupun sebenarnya ia membawa baju ganti di tasnya, tapi untuk berjaga-jaga saja barang kali Satria pergi ke kantor terlebih dahulu.
"Kok punggungku gatal ya!" gumam Firda dan langsung menggaruknya dengan keras.
"Awhhss…" Firda meringis keras saat tiba-tiba punggungnya begitu sakit dan terasa ngilu.
Firda membelakangi cermin untuk melihat punggungnya yang baru saja ia garuk, ah sial ternyata benar sekali dugaannya, disana terpampang jelas kemeja biru langit itu sudah terdapat darah yang menembus warna cerah bajunya.
Firda terkejut melihat sosok yang kini tengah berada di ambang pintu menatapnya tajam, lebih tepatnya melihat ke punggung Firda yang kini terlihat dari cermin.
"Ka… kau sejak kapan disana?" Tanya Firda mengalihkan suasana walau ia mati-matian menahan sakit yang luar biasa saat ini.
Bukannya menjawab Satria justru malah menghampiri Firda dan membalikkan badannya agar Satria bisa leluasa melihat punggungnya.
"Luka apa ini?" Tanya Satria dengan aura datarnya.
"Kau tidak pandai berbohong!"
Srek…
Dengan sekali tarikan kemeja bagian belakang Firda kini sudah robek ulah Satria, sedangkan Firda gelagapan menahan agar kemejanya tidak terjatuh dan memperlihatkan tubuhnya.
"Apa… Yang kau la…lakukan?" Tanya Firda takut.
Satria termenung pada luka yang kini sedikit terlihat di pundak Firda, ia tahu jika itu adalah bekas tambang besar, Satria bisa menebaknya jika luka itu adalah luka bekas cambukan yang kini infeksi kembali entah sudah berapa lama.
Satria mengeraskan rahangnya membayangkan betapa tersiksanya saat ini Firda menahan rasa gatal yang luar biasa akibat bekas cambukan itu.
"Bersihkan dulu semuanya, ganti pakaianmu! Lima menit kemudian dokter akan datang!" Tutur Satria memalingkan wajahnya dan pergi menuju balkon kamar Firda disana.
Firda dengan cepat pergi ke kamar mandi karena gugup, bagaiman tidak? saat ini ia bisa saja bukan melihat dirinya yang tak memakai baju, semoga polisi itu tidak mesum!! pikir Firda takut.
Satria kini menunda latihannya akibat kejadian beberapa menit lalu, apalagi saat mendengar ucapan dokter Wina yang ia panggil tadi yang statusnya masih memiliki darah keluarga dengan Satria.
"Satria! Tante sangat prihatin dengan kekasihmu! Luka itu sudah sangat lama sekali Sepertinya, kenapa tidak di obati? untung saja lukanya tidak menyebar, bagaimana jika sudah menyebar? Satria perhatikan dia ya! Sepertinya dia adalah gadis tertutup yang selalu memendam kepedihannya sendiri! Siapa yang sudah tega mencambuknya? Kamu harus mencari tahu! Dan yang terpenting saat ini obati setiap saat lukanya! Dan jangan terlalu beraktivitas diluar Agar ia tidak berkeringat dan menyebabkan lukanya perih!" Pesan Dokter Wina begitu terngiang di kepala Satria.
"Kemari Lah!" Satria memberi isyarat agar Firda mendekati dirinya yang kini tengah duduk di sofa.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Satria to the point karena ia tidak suka bertele-tele.
"Maksudmu?" Tanya Firda pura-pura tidak tahu.
"Kau tahu maksudku bukan? Jadi katakan!!" Ucap Satria sambil menarik tubuh Firda agar duduk disampingnya.
__ADS_1
"Satria ini hanya luka lama!"
"Aku hanya bertanya siapa yang melakukannya bukan?" Tegas Satria dengan menatap tajam Firda.
Firda menundukkan kepalanya karena takut pada Satria saat ini.
"I…ibuku!" Cicit Firda pelan, ia memejamkan matanya mengingat kejadian dua tahun lalu saat Firda masih duduk di bangku SMA.
***
"MANA UANGMU FIRDA?" Tanya Rani dengan keras dari arah kamar menuju ruang tamu.
"Maaf Bu! Uangku dari ayah aku bayarkan ke uang SPP ku, aku tidak bisa ikut ujian jika semuanya belum selesai!" Sedangkan kini Karina sedang meraung keras menangis karena ingin makan dengan spagheti.
"DASAR ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG!" Rani menarik Firda ke arah belakang rumah ia juga meraih tambang yang berada di gudang belakang.
"IBU AMPUNI AKU BU! AKU MOHON HIKS…" Seakan. tuli Rani tetap menarik tubuh Firda dan mendorongnya kuat hingga Firda tersungkur.
CTAR…
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!" Firda menjerit sekeras-kerasnya akibat sakit yang luar biasa di punggungnya, cambukan Rani memang hanya satu kali, tapi panas di tubuhnya sampai beberapa hari.
Sejak saat itu, Firda selalu takut jika ia tidak memberi uang pada ibunya apapun alasannya, walaupun beberapa kali ia pernah membagi uang hasil kerja kerasnya yang terpenting dirinya tidak sampai ketahuan.
Dan sejak saat itu pula bekas lukanya selalu terasa gatal sampai sekarang, ia pernah membeli obat salep agar meredakan nyerinya, tapi ternyata ia tidak bisa mengobati lukanya sendirian, alhasil obat itu malah dibuang.
Pernah suatu hari ia menahan rasa sakit, panas, dan gatal secara bersamaan yang amat kuat biasa, yang hanya bisa Firda lakukan hanya menangis tertahan.
***
"Hey!!! Are you okay?" Tanya Satria panik melihat Firda yang tiba-tiba melamun dengan tatapan kosong dan malah meneteskan air mata.
Firda tersadar dari lamunannya dan langsung menatap manik Satria dengan sendu.
"Hiks…!" Firda malah terisak dan langsung memeluk tubuh tegap Satria.
"Hey don't cry!!! Kamu akan baik-baik saja!" Satria mengelus Surai hitam milik Firda dengan lembut.
"Aku lemah! Aku tak bisa melawan! Aku lemah!!!" gumam Firda lemah.
"Sttttt… sekarang ada aku! Kau mengerti?" Satria tahu semuanya, namun ia hanya butuh kejujuran Firda saat ini, ia baru menemukan Fakta kalau luka ini ternyata masih ada, ia pikir Firda sudah sembuh tapi ternyata?
"Aku akan balas perbuatan orang-orang yang telah menyakitimu! Mereka juga harus merasakan betapa sakitnya semua hal yang telah mereka lakukan secara tak berperikemanusiaan!" Gumam Satria pelan.
"Aku Satria Arnold William berjanji akan hal itu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.