
"Bu aku pengen hidup enak lagi!!!" Ujar Karina merengek.
Selama diperjalanan uang dari Riko kemarin habis karena di rampok beserta barang-barang yang pernah mereka beli dari uang Riko, dan malam ini mereka belum makan apapun karena tidak ada sepeser pun uang.
"Kau pikir aku mau sengsara seperti ini hah? Diamlah! Seharusnya kau pergi bekerja saja perlu sekolah!"
"Enak saja! Aku mau tetap sekolah Samapi kuliah nanti! Kenapa tidak ibu sayang bekerja? Atau minta saja pada Firda sialan itu! Bukankah dia juga masih putrimu?" Ujar Karina kesal.
"Tapi masalahnya aku tak dapat menemukan Firda! Aku sudah menyeretnya jika ketemu mungkin!"
"Halah! Sos soan! Bukankah waktu Ansela menyuruhmu saja ibu tidak becus?"
"Jaga sikapmu Karin! Aku ini ibumu!" Ujar Rani tak terima, rasanya sakit mendengar kata-kata pedas dari anaknya, bahkan Firda yang ia siksa pun tak pernah melawan sedikitpun, pikirnya heran.
"Sudahlah memang susah berbicara denganmu ibu!"
Karina langsung pergi begitu saja meninggalkan Rani yang prustasi, kini ia harus kembali ke rumah kumuhnya dulu setalah menikmati hidup enak, kenapa secepat ini berakhirnya? Pikir Rani tak terima.
"Loh Bu Rani balik lagi kesini?" Tanya seseorang yang tak lain adalah tetangganya.
"Katanya sudah nikah sama pengusaha! Kok balik lagi kesini?" Ujarnya lagi melihat tatapan Rani yang tajam.
"Tak usah ikut campur kau! Pak Cahyo gak tahu apa-apa!" Sarkas Rani kesal.
"Saya mau beritahu saja, mungkin sekarang anak pertama ibu lebih enak dari ibu, anak yang selama ini ibu siksa sudah menikmati kehidupannya!"
"Apa maksudnya?" Tanya Rani penasaran dengan ucapan tetangganya itu.
"Dulu sewaktu Bu Rani pergi pindah ke rumah suami baru, Firda kesini sama pacarnya, ganteng dan saya lihat juga mobilnya bermerek Lamborghini! Dan dua Minggu yang lalu saya juga lihat Neng Firda lagi makan enak di Restoran ternama!"
"Cih… paling juga habis main sama pria hidung belang!"
"Jaga omongannya loh Bu! Gimana kalau sebaliknya terjadi pada anak kesayangan ibu si Karin?" Ujar pak Cahyo yang langsung melenggang pergi dari hadapan Rani.
"Sial! Benarkah dia bahagia? Aku yakin ia memang banyak uang hasil jual dirinya! Tapi waktu itu bukannya dia dibeli secara langsung? Otomatis pria itu yang menghidupinya sekarang dengan jaminan tubuhnya!"
"Sepertinya menarik! Tapi sialnya dia malah memblokir Instagramku! Benar-benar tak tahu diri!" Ujar Rani kesal.
Rani langsung pergi ke dalam rumahnya untuk memikirkan rencana selanjutnya agar hidupnya lebih baik dari sekarang.
Berbeda di mansion megah itu, seorang laki-laki sudah mengeluarkan darah dari hidungnya akibat Bogeman keras dari sang tuan.
"Juan sudah kukatakan beberapa kali JANGAN PERNAH LENGAH MENJAGA ISTRIKU!" Nada suara Satria kini meninggi karena emosinya yang memuncak, bagaimana tidak?
__ADS_1
Flashback On
"Kau! Pergi ke kamar nona dan obati luka nona sekarang!" Ujar Juan dengan aura datarnya walau hatinya sudah mati-matian menahan kepanikan.
"Baik tuan!" Ujar wanita tersebut dan langsung pergi dari sana menuju lantai atas.
"Syukurlah masih ada maid yang belum tidur!" Ujar Juan menghela nafas, akhirnya ia bisa fokus pada kawasan mansion untuk membersihkan darah serta kucing-kucing sialan yang pasti sudah menyebar bulunya di mansion sang tuan.
Namun hal itu tak berlangsung lama, saat tuannya kembali Juan memang akan menjelaskannya, tapi tiba-tiba Satria keluar kamarnya dengan menakan tombol darurat dan menyuruh semuanya memanggil Dokter Wina untuk datang ke mansionnya.
Dan hal yang paling mengejutkannya lagi, di kamar nona mudanya terdapat banyak sekali kucing, dan tentu nona mudanya sudah tak sadarkan diri dengan hidung yang begitu merah akibat bulu kucing yang ia hirup hingga pernafasannya terganggu dan membuat nona nya terus bersin.
Dan hal yang lebih parahnya lagi apa? Luka di kaki nona mudanya malah semakin parah dan Dokter Wina menemukan jejak minuman keras disana yang mengakibatkan luka kecil Firda jadi terinfeksi.
Semua itu hanya satu penyebabnya, yaitu maid yang Juan suruh tadi yang kini telah diamankan di ruang rahasia, untungnya maid itu belum sempat melarikan diri karena pengamanan lebih ketat.
Juan benar-benar tidak tahu jika maid itu sangat brengsek! Dan Menag awalnya sedikit aneh, biasanya para maid akan disuruh istirahat lebih awal agar bangun lebih dulu juga. Dan kesialan memang harus terjadi Sepertinya.
Flashback off
Setelah Dokter Wina mengatakan semuanya setalah menangani Firda, Satria langsung menyeret Juan ke ruangan pribadinya dan mengumpulkan para bodyguard yang berjaga saat tragedi itu terjadi. Tentu tuannya menginginkan penjelasan dari semuanya.
"DIMANA MAID ITU SIALAN?"
"Jangan biarkan dia kabur sebelum mengakui perbuatannya!" Tegas Satria.
"DAN KALIAN SEMUA!"
"Hukuman kalian kali ini harus memukul rekan kalian secara bergantian sampai semuanya impas!" Ujar Satria dingin.
Semua para bodyguard menelan ludahnya kasar.
"Dan jangan bocorkan hal ini ke siapapun termasuk keluarga Farhan! KALIAN MENGERTI?"
"SIAP MENGERTI TUAN!" Jawab mereka serentak.
"Pergi dan lakukan hukuman kalian! Dan kau Juan! Urus maid sialan itu, dan cari tahu dalang dibalik semuanya! Satu hal lagi! Cari temannya sekarang juga! Aku yakin ia tidak sendiri disini!" Ujar Satria dengan penuh penekanan.
"Baik tuan! Saya akan melakukannya!" Ujar Juan yang langsung pamit dari sana bersama para bodyguard lainnya.
Satria langsung berjalan tergesa-gesa menuju Lip untuk menemui istrinya yang sudah siuman, yah ia tahu istrinya siuman karena tombol sinyal yang bergetar ditangannya.
Minggu lalu ia mendesain gelang khusu untuk ia dan istrinya agar bisa berkomunikasi secara khusus walau jarak yang begitu jauh sekalipun. Dan memang Satria akhir-akhir ini sering cemas dengan keadaan Firda, entahlah, ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, salah satunya adalah kejadian malam ini.
__ADS_1
"Sayang? Are you okay?" Tanya Satria lembut saa mendapatkan tatapan sendu istrinya.
Haccim…
Bukannya menjawab Firda justru malah bersin karena hidungnya yang terasa gatal dan pernafasannya yang sangat sakit akibat alerginya kambuh.
"Kita cuci hidung dulu! Dokter sudah memberikannya khusus agar menghilangkan kuman-kuman itu!" Ujar Satria lembut yang hanya di angguki oleh Firda pelan.
Satria Langsung mengangkat tubuh istrinya, ia tak mungkin membiarkan Firda jalan dengan kondisi kakinya yang terluka.
Setelah selesai, Satria kembali membaringkan tubuh istrinya pelan.
"Maaf!" Ujar Satria sendu dengan menatap dalam manik istrinya.
"Aku tidak apa-apa! Panggilanku tadi tepat waktu bukan?" Tanya Firda pelan.
Saat merasakan keanehan pada maid yang katanya ingin mengobatinya, Firda langsung menekan gelangnya karena merasa tak enak dengan hawa di kamarnya.
Dan benar saja, maid tersebut malah memberi miras pada kakinya dan otomatis Firda menjerit keras karena merasakan sakit yang menjalar dan luar biasa. Sialnya lagi maid itu malah membawa masuk beberapa kucing ke kamar yang sebelumnya, dan saat ini keduanya memang tidak dikamar utama akibat belum dibersihkan.
"Nona! Kau hanya membawa sial bagi semua orang, banyak yang mencintai Tuan muda dan hampir gila gara-gara anda yang baru saja masuk ke dunia tuan dan menghancurkan semuanya dan malah mendapatkan tuan dengan mudah, kau memang membawa sial nona!"
Ucapan maid itu sangat terngiang di kepala Firda saat ini.
"Aku menyesal meninggalkan kamu sendirian!" Satria langsung memeluk tubuh istrinya erat karena merasa tak becus menjaga sang istri, sudah beberapa kali ia kecolongan seperti ini, dan ia tak mau hal yang lebih buruk terjadi pada keluarganya.
"Aku memang membawa sial ya untuk kamu!" Ujar Firda pelan, namun tentu terdengar jelas di telinga satria.
"Apa yang kau katakan? Kamu bukan pembawa sial sayang!" Ujar Satria tak terima.
"Maid tadi benar! Aku memang membawa sial!"
"Apa yang maid sialan itu katakan padamu sayang? Jangan pernah dengarkan perkataannya!" Sial! Satria tak terima istrinya yang berpikir seperti itu, ia akan benar-benar menghukum maid itu lebih dari ini.
"Aku… aku… aku selalu merepotkan kamu Mas!" Ujar Firda dengan suara seraknya.
"No! Big no! Tidak sedikitpun! Kau tak pernah merepotkan aku sayang! Tidak pernah!" Tegas Satria yang langsung memeluk istrinya erat.
Tangis Firda pecah saat itu juga, rasa bahagianya tadi siang kini tak berlangsung lama saat dirinya harus merasakan ketakutan lagi, rasanya ia terlalu capek jika berpura-pura kuat seperti ini, ia masih terbayang wajah devil maid tadi yang sekan ingin membunuhnya, Firda justru tak bisa berontak saat itu ia hanya menangis sejadi-jadinya akibat sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Aku berjanji akan menghukum mereka yang berani menyakitimu sayang!"
"Aku takut!"
__ADS_1
"Ada aku!" Ujar Satria menenangkan.