
Sejak datangnya Anita tadi membuat Firda hanya diam sampai saat ini, Satria yang heran hanya membiarkannya karena ia sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk akibat ia abaikan beberapa hari ini.
Satria melirik jam dinding sekilas, ternyata satu jam lagi waktunya makan siang, ia beralih menatap gadis yang kini menguap dan mulai merebahkan dirinya di sofa panjang dan empuk itu, namun Satria masih tetap membiarkannya.
"Aku ngantuk sekali!" Gumam Firda pelan, ia langsung merebahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di sofa bantal agar lehernya tidak sakit nanti.
Perlahan matanya mulai tertutup karena rasa bosan dan kantuk yang melandanya, bahkan Firda tak sadar jika kini handphone terbaru miliknya pemberian dari Satria sudah tergeletak ke lantai begitu saja akibat ia sudah tak bisa menahannya.
Satria yang melihat itu Langsung menekan tombol otomatis mengunci pintu ruangannya agar tidak ada yang bisa masuk, di ruangannya sengaja ia pasang kunci tersebut untuk berjaga-jaga.
Satria kembali fokus pada pekerjaannya, setelah dirasa cukup lama dan Firda sudah terlelap ia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Firda yang sudah nyenyak. Satria meraih ponsel di lantai dan menyimpannya di atas meja, ia juga membuka jas kebanggaannya dan menyimpannya di tubuh Firda.
"Ck…ck…ck…"
"Menyusahkan sekali gadis ini!" Ucap Satria dan langsung menggendong Firda ala bridal style dan menuju kamar pribadinya di sana.
Tak banyak orang yang mengetahui keberadaan kamar pribadinya, hanya Juan, Erik, dan dirinya, setelah ini mungkin Firda orang keempat yang mengetahui kamar ini.
Satria merebahkan tubuh Firda perlahan dan menyelimuti tubuh mungilnya yang meringkuk akibat AC di kamar rahasia ini.
Satria mengecilkan AC dan kembali menatap wajah damai milik Firda.
"Cute!" Gumam Satria pelan.
Satria. Langsung kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan siang tiba.
"Juan. bawa makan siang ke ruangan ku! Lalu suruh Erik untuk memindahkan laki-laki itu ke sel bawah!!"
Satria langsung mematikannya secara sepihak setelah memerintahkan pada tangan kanannya, memang kantor ini sangat luas, jika di lihat dari depan pasti semua orang mengira bahwa kantor polisi ini hanya dua tingkat saja, namun nyatanya kantor polisi ini Satria membuatnya menjadi lima tingkat, karena ada sel bawah tanah yang memiliki dua tingkat tingginya, dan juga ruangan khusu polisi sebanyak tiga tingkat atau tiga lantai.
Satria langsung fokus kembali pada layar komputer dan segudang berkas dihadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karina menatap Kakak tirinya yang sedang bersantai di ruang tamu sambil menonton TV besar disana.
"Hai kak!" Sapa Karina dan langsung menghampiri Ansela.
Ansela yang melihat Karina yang so akrab padanya langsung memutar bola matanya malas, ia malas sekali berurusan dengan orang-orang yang kampungan.
"Sejak aku pindah kesini, aku tak pernah berbincang padamu kak!" Ujar Karina yang langsung duduk di samping Ansela.
"Aku bukan kakakmu! Mengerti?" Ucap Ansela dingin.
"Sekarang kau juga kakakku bukan?" Tanya Karina yang malah terfokus pada baju yang dikenakan Ansela yang tentunya Karina tau itu sangat mahal.
"Cih! Jangan harap!! Aku hanya pewaris satu-satunya keluarga Wijaya! Kau mengerti?" Ya, memang Riko Aditia Wijaya hanya memiliki darah daging satu-satunya yaitu Ansela Putri Wijaya.
__ADS_1
"Bahkan saat ini aku tidak membicarakan Warisan kak!" Ucap Karina tak terima.
"Dengar baik-baik!" Ucap Ansela sambil mencengkram kedua pipi Karina dengan satu tangannya.
"Aku tahu maksud kalian masuk ke kehidupan ayahku! Karena hartanya bukan? Ingat ini! Kau, ibumu, maupun kakakmu! Tidak akan pernah bisa dapatkan apapun dari sini! Kau paham? Jangan mengira aku dapat ditindas seperti yang di cerita dongeng itu!" Ucap Ansela dan langsung menghempas wajah Karina kasar hingga kini wajah Karina memerah akibat cengkraman tangan Ansela.
"Ka…kau ta…tahu aku punya kakak?" Tanya Karina gugup karena keterkejutannya.
Ansela tersenyum miring sambil menatap remeh Ke arah Karina.
"Informasi kalian bagaikan sampah yang berserakan Karina! Jadi jangan macam-macam padaku! Atau semua keluargamu akan menyesal! Kau mengerti?" Ucap Ansela santai.
"Dan satu lagi! Aku tahu rencana kalian masuk ke keluarga ini! Dan sayangnya semua rencana kalian tidak akan ada yang berhasil!!" Ucap Ansela lagi.
Karina dibuat bungkam dengan perkataan Ansela, baru kali ini ia memiliki rasa takut pada orang lain selain Dafa, padahal sama Rani saja ia masih berani membentak.
Ansela langsung pergi meninggalkan Karina yang masih terpaku entah apa yang ada di pikirannya saat ini dan Ansela tentu tidak peduli. Sedangkan berbeda dengan Karina yang masih terkejut dengan apa yang Ansela katakan! Bagaimana ia bisa tahu kalau dirinya memiliki saudara, padahal ia dan ibunya menutup rapat-rapat tentang Firda, ia tidak mau ayah sambungnya tahu kelakuan mereka berdua pada Firda, bisa-bisa mereka tidak akan bisa hidup enak seperti sekarang.
Namun ternyata semuanya sirna setelah Karina mendengar perkataan Ansela tadi, sejauh mana wanita itu tahu keluarganya dulu? Apakah ia juga tahu bahwa ibunya telah menjual kakaknya ke club malam? Jika benar Ansela tahu, maka celakalah mereka! pikir Karina panik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Eh…dimana aku sekarang?" Ucap Firda panik saat ia bangun langsung melihat nuansa kamar yang gelap karena perpaduan warna abu-abu dan hitam pada dinding kamar itu.
"Kau sudah bangun rupanya!" Ucap Satria saat keluar dari kamar mandi kamar itu.
"Kau berharap aku menyentuhmu?" Tanya Satria saat melihat kelakuan gadis di atas ranjang itu.
"Dasar otak mesum!"
"Heh! Bukannya kau yang selalu berfikir mesum padaku hmm?" Ucap Satria tak terima, ia langsung berjalan keluar saat menekan tombol pintu rahasia itu.
Dengan gesit Firda langsung turun dari ranjang dan ikut keluar, ia tak mau terkurung di kamar ini sendiri. Firda kaget ternyata selama ini diruangannya Satria ada kamar rahasia milik polisi itu, ah jika ia tahu lebih awal, ia akan tidur semaunya disini.
"Heh polisi aneh! Aku lapar tahu!" Ucap Firda cemberut.
Satria yang kini berada di kursi kebesarannya hanya menatap Firda malas, suruh siapa ia tertidur di detik-detik jam makan siang? Pikir Satria kesal.
"Di pantry sudah ada makanan yang ku hangatkan barusan! Makanlah sepuasnya!" Ucap Satria.
Firda menatap Satria binar saat mendengar makanan, dengan cepat ia bergegas menuju pantry untuk mengeceknya.
Firda semakin senang saat ternyata makanan yang tersaji adalah makanan kesukaannya, ada ayam rica-rica, ada juga baso bakar, dan tak lupa ada jus alpukat favoritnya, walaupun jusnya mungkin sudah tak dingin, tapi itu tidak jadi masalah baginya.
Firda langsung membawa semuanya menuju ruangan Satria, ia langsung meletakkannya di meja, namun saat ia duduk ternyata ia mendapatkan panggilan alam dari perutnya, dengan terpaksa Firda bergegas ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Hai Sat!" Sapa seseorang yang baru saja datang dan masuk ke ruangan Satria.
__ADS_1
"Hmm!" Gumam Satria saat melihat sahabatnya yang baru saja masuk.
"Lo disini bereng pacar Sat?" Tanya Farhan yang langsung mengedarkan pandangannya. Namun yang Farhan temukan hanya makanan yang sudah tersaji di meja, kebetulan sekali saat ini ia sangat lapar.
"Hmm!" Jawab Satria lagi. Sahabatnya yang tak lain adalah Farhan hanya menggeleng melihat sifat Satria yang cuek dan dingin itu, saat ini Farhan datang ke kantor satria setelah ia mengecek pasien yang kebetulan mereka adalah korban begal yang kini kasusnya sedang ditangani oleh Satria.
"Keluarga Korban sudah cukup baik saat ini! Begal itu udah ketangkap bukan?" Tanya Farhan yang kini sedang anteng dengan kegiatannya.
"Baru semalam begal itu tertangkap! Ia bersembunyi jika disiang hari!" Tutur Satria tanpa melihat sahabatnya.
Hiks…hiks…
Satria yang mendengar Isak tangis kecil langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia langsung mendapatkan sosok Firda yang kini sedang menangis sendu sambil berdiri.
Begitu juga Farhan yang kaget sekaligus aneh melihat kekasih sahabatnya yang menangis ditambah gadis itu menatapnya, apa ia masih trauma dengan laki-laki lain? Padahal Satria pernah bilang bahwa kekasihnya sudah cukup baik saat ini, pikir Farhan.
Satria yang kini sudah berada disamping Firda karena panik langsung bertanya pada gadis dihadapannya.
"Kau ini kenapa?" Tanya Satria heran.
"Ke…kenapa dia memakan makananku…hiks" ucap Firda sambil menunjuk Farhan yang kini tengah mengunyah bakso bakar di meja.
Glek…
Farhan menelan ludahnya kasar saat mendengar perkataan Firda, ia kira makanan ini untuknya yang sengaja Satria sediakan.
Sedangkan Satria langsung menatap tajam sahabatnya itu, bisa-bisanya Satria tak sadar jika Farhan sedang memakan makanan Firda.
"Kau bisa membelinya lagi sekarang, biar aku yang memesannya!" Ucap Satria menenangkan sambil memeluk tubuh mungil Firda, aneh sekali bagi Satria, kenapa Firda menangis hanya karena makanan? Apa semua wanita seperti ini? Pikir Satria.
"Tidak! Ini gue yang makan! Jadi gue akan memesannya lagi!" Ucap Farhan yang langsung mengetikan sesuatu di handphonenya untuk memesan makanan yang sama.
"Aku sudah tidak lapar!" Ucap Firda yang langsung melepaskan pelukannya dari Satria dan beranjak keluar.
Sedangkan kedua laki-laki disana saling menatap kebingungan, Satria ingat bahwa hari ini Firda masih datang bulan, pantas saja mood nya sejak tadi pagi berubah-ubah. Tanpa pikir panjang ia langsung mengejar Firda keluar takut gadis itu tersasar ke sel-sel para narapidana.
Berbeda dengan Farhan yang kini menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, ia merasa bersalah pada kekasihnya Satria, salahnya juga tidak bertanya terlebih dahulu pada Satria.
"Pasti tuh bocah lagi datang bulan deh! Bunda juga suka ngambek nih kalau makanannya diambil!" Ucap Farhan.
.
.
.
.
__ADS_1