
"Rapat kali ini di hentikan!" Tutur Satria saat sadar gadisnya kini tidur dengan posisi duduk, ia khawatir jika saat bangun nanti lehernya sakit.
Satria membuka jasnya untuk menutupi tubuh Firda ia juga langsung mengangkat tubuh Firda dan meninggalkan ruangan rapat untuk membaringkan tubuh Firda di ruangannya, bisa-bisanya gadis ini tertidur padahal posisinya pasti tak nyaman.
"Ah aku ingin sekali di posisi nona muda!" Tutur salah atau pegawai wanita yang kini menatap kepergian Satria dan Firda.
"Kau harus seperti nona dulu! Baru bisa seperti itu!" Jawab salah satu pegawainya lagi.
"Kalau aku seperti nona! Kalau siapa yang. akan menjadi seperti tuan muda?"
"Ada tuh! Si Tarno OB legend William Group! Hahahaha…" Pegawai tadi hanya cemberut saat mendengar perkataan temannya.
Berbeda dengan Satria yang kini tengah meletakan tubuh Firda di atas ranjang dengan perlahan, di Kantor ayahnya juga Satria memang memiliki ruangan khusus yang mungkin hanya beberapa orang yang mengetahuinya.
"Kau memang suka ya membuatku khawatir hmm?"
Satria menghela nafasnya pelan dan tak lama ia langsung memeluk tubuh Firda yang tengah tertidur.
"Hiks…" Tiba-tiba Firda terisak dengan mata yang masih tertutup.
"Kenapa hmm?" Tanya Satria sambil membelai wajah Firda dengan lembut.
"Hiks… jangan sakiti aku Bu!" cicit Firda pelan namun masih terdengar jelas.
"Tak ada yang menyakitimu! Tak ada lagi!" Ucap Satria dan langsung membawa Firda kedalam dekapannya.
"Sttttt… tidurlah!!" Bisik Satria di telinga Firda.
"Hiks… Ayah…!" setelah mengucapkan hal itu Firda langsung terdiam sambil membalas pelukan Satria dengan erat seakan tak ingin terlepas.
"Kau mimpi buruk hmm?" Tanya Satria pada Firda yang tak menjawab pertanyaannya.
"Tidurlah kembali dengan nyaman!" Satria menepuk-nepuk punggung Firda lembut agar Firda pulas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ya ampun kenapa kapten tidak bisa dihubungi!" Ucap Erik yang gelisah, pasalnya ini menjelang satu hari dimana Rangga akan di hukum mati, tapi ternyata Rangga sudah kabur dari sel, padahal penjagaan begitu ketat dari sisi manapun.
Erik langsung melajukan kembali mobilnya untuk mencari Rangga barangkali ia masih tak jauh dari kota ini.
Sedangkan di sudut kota seorang laki-laki memakai sweater hitam dan memakai kaca mata hitam serta masker hitam di wajahnya sedang tersenyum miring, akhirnya ia dapat kabur dari sel menyebalkan itu.
"Semuanya bodoh! Bukan begitu dude?"
"Ini tidak gratis kawan!" Ucapnya remeh.
"Akan ku bayar nanti! Aku hanya menikmati setiap detik hidupku sebelum aku tertangkap lagi bukan? Atau mungkin tak akan tertangkap lagi? Hahahaha!"
__ADS_1
"Aku harus pergi Rangga!" Ucap Laki-laki itu berpamitan.
"Hmm! Hati-hati lah!" Ucap Rangga saat melihat kepergian laki-laki itu.
"Firda!"
"Mari kita berpesta sayang! Karena kau selamat dari belati ku saat itu!" Tutur Rangga dengan seringai iblisnya.
"Ansela!"
"Aku akan datang baby!" Rangga langsung pergi dari sana menuju tempat persembunyian nya, ia memutuskan untuk tidak berada di kotanya sementara, ia hanya ingin pergi sebentar dan kembali setelah puas dengan permainan petak umpet nya.
…
"APA RANGGA KABUR?" Ucap Ansela.kaget saa mendengar kabar dari pihak kepolisian.
Dengan kesal Ansela mematikan sambungan teleponnya dan langsung membanting handphonenya ke ranjang.
"Kenapa sih laki-laki itu sering sekali membuatku pusing! Seharusnya ia berprilaku baik di sel agar ia tak jadi di hukum mati!" Geram Ansela pada Rangga suaminya.
"Dan sebentar…!" Ucap Ansela terdiam sejenak.
"Siapa yang sudah membantu Rangga keluar? Diakan laki-laki bodoh!" Tutur Ansela heran.
"Dia tidak mungkin keluar tanpa bantuan yang lainnya bukan?"
Sedangkan tanpa Ansela ketahui seseorang tengah menguping pembicaraan Ansela sejak tadi.
"Ouh… jadi Rangga itu hampir dihukum mati?" Tutur Rani dengan suara pelannya.
"ck ck ck… Ansela. terlalu bodoh dalam memilih laki-laki!" Tutur Rani dengan dramatis.
"Mas Riko hanya tahu jika menantunya akan segeralah keluar akhir pekan ini, bukan di hukum mati, uhhh sepertinya ini adalah kesempatan emasku untuk membuat mas Riko kesal dengan anaknya!" Ucap Rani dan langsung berlalu dari balik pintu.
Tak teras kini sudah dua jam lamanya Firda tertidur nyenyak, ia menggeliat pelan namun sepertinya ia sangat susah bergerak, ada apa ini?.
Firda langsung membuka matanya, hal yang pertama kali ia lihat adalah dada bidang seseorang yang mengenakan kemeja namun dasinya yang sudah kendur.
"Satya!" Gumam Firda. dan langsung mendongakkan kepalanya menatap rahang tegas Satria.
Firda menyapu ruangan yang cukup asing dimatanya, laki-laki ini memang bukan sembarang orang, bahkan setiap tempat Satria memiliki ruangan khusus untuk dirinya.
"Aku lapar!" Gumam Firda sambil memegang perutnya yang bersuara.
"Satya!" Panggil Firda pelan sambil menepuk pelan pipi Satria.
"Satya bangun!" Ucap Firda lagi tak pantang menyerah.
__ADS_1
Namun Firda malah terpaku dengan ketampanan Satria yang berlipat-lipat jika dilihat dari kata dekat, sungguh ciptaan Tuhan memang luar biasa.
"Kenapa kau tampan sekali?" Tanya Firda sambil mengelus rahang Satria pelan.
"Kenapa aku sampai sejauh ini denganmu?" Tanya Firda lagi.
"Kau sangat tampan jika dengan wajah damai seperti ini!" Ucap Firda sambil mengelus setiap inci wajah Satria.
"Aku tahu!" Jawab Satria tiba-tiba.
Karena kaget firda mendorong tubuh Satria dan hampir saja dirinya terjatuh kelantai jika saja. Satria tidak menahan tangannya.
"huh!" Firda bernafas lega saat dirinya tak terjatuh.
"Kau suka sekali membuat orang khawatir yah!" Ucap Satria kesal dengan Firda, bagaimana jika Satria tidak menahannya tadi? Bisa-bisa Kepala Firda sudah terbentuk dengan lantai.
Satria Langsung menarik tubuh Firda agar kembali ke dekapannya.
Namun suara dering ponsel Satria langsung mengalihkan perhatiannya. Satria bangkit dan langsung meraih handphonenya dinakas.
Ia heran kenapa banyak sekali panggilan telepon tak terjawab, hampir seratus kali Erik menelponnya.
"Hallo!" Ucap Satria saat sambungan teleponnya terangkat dari sebarang sana.
"Kapten apakah anda sibuk?" Tanya Erik disebrang sana.
"Saya baru selesai meeting!" Ucap Satria sambil menatap Firda dan mengisyaratkan agar ia diam.
"Kapten ada yang perlu saya bicarakan saat ini mengenai Rangga!"
"Katakan dengan jelas sekarang!"..
"Kapten tiga jam lalu kita mendapat kabar bahwa Rangga berhasil melarikan diri dari sel! Dan sampai saat ini kita tidak menemukan keberadaannya!" Ucap Erik dengan sedikit takut jika kaptennya marah.
"Biarkan dia!" Ujar Satria yang tentu membuat Erik heran sendirian di sebrang sana.
"Maksud anda kapten?" tanya Erik yang memang tidak mengerti tujuan perkataan Satria.
"Biarkan dia menjelajah sesukanya! Aku ingin tahu sejauh mana dia pergi, dia pasti akan kembali Erik!" Ujar Satria dengan seringainya.
"Tapi Kap-"
"Akan ku urus dia! Kembalilah ke aktivitas seperti biasa!" Ujar Satria yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Siapa yang menjelajah?" Tanya Firda tiba-tiba.
"Tikus kecil!" Jawab Satria santai.
__ADS_1
"Ayo kita makan siang!" Ajak Satria yang tentu langsung di angguki oleh Firda dengan antusias.