
Firda membuka matanya saat mendapatkan cahaya sinar matahari dari celah-celah jendela yang masih tertutup gorden berwarna gold itu. Ia mencoba menetralkan matanya dan mencoba bangkit dari tidurnya untuk merenggangkan otot-ototnya.
"Hoamm!" bangun tidur saja ia masih menguap gara-gara ia semalam tidur pukul satu lebih dini hari, setelah acara saling mengejar Firda meminta Satria menemaninya memakan kue pemberiannya dan tentu saja Satria setuju.
Firda tersenyum membayangkan adegan-adegan langka bersama Satria, biasanya mereka akan berantem, adu mulut, dan yang lainnnya, Firda senang karena di sela-sela kesedihannya ia memiliki sandaran saat ini walaupun ia masih ragu dengan perasaannya, namun ia selalu meyakinkan hatinya pula untuk membuka lembaran baru.
Seperti yang dikatakan Satria semalaman bahwa ia akan mulai bekerja lagi hari ini, dengan gesit Firda turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi setelah melihat jam menunjukkan pukul setengah delapan, sial! ia kesiangan sekali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Rani tampak gelisah setelah mendengar perkataan dari putrinya.
FLASHBACK ON
"Ibu ayo kita bicara sebentar!" Ucap Karina panik. dan langsung membawa Rani ke kamarnya tak lupa mengunci pintunya.
"Ada apa Karin? Kau terlihat begitu cemas saat ini!" Ucap Rani heran.
"Ibu kau tahu? Kita dalam bahaya!!" Ucap Karina dengan nafas masih tersengal-sengal.
"Hey tarik nafas dulu pelan-pelan!" Perintah Rani menenangkan.
Akhirnya Karina menetralkan nafasnya dengan tenang.
"Ibu! Gawat sekali dengan Kakak tiriku itu!" Ucap Karina panik lagi.
"Ada apa dengannya?" Tanya Rani heran.
"Dia tahu aku punya kakak kandung!"
"Bagaimana dia bisa tahu? Kau tidak cerobah bukan?"
"Tidak ibu! Dia tahu sendiri katanya! Ibu bagaimana jika dia bilang pada Ayah!" Ucap Karina kesal.
"Tenanglah sayang! Mungkin dia hanya tahu sekilas tanpa bukti bukan?" Ucap Rani menenangkan putrinya, padahal ia sendiri sekarang sedang gelisah.
"Ibu! Sepertinya dia bukan orang biasa! Dia bisa lakukan segala cara karena punya segalanya, dan bagaimana jika dia tahu kita menjual Firda di club malam? Dan bagaimana jika dia bilang pada Ayah ibu?"
"Karina tenanglah!!! Jika dia tahu, kita pasti punya banyak cara agar tidak keluar dari dunia enak ini!" Ucap Rani berusaha tenang.
"Bagaimana kita sekarang Bu?" Tanya Karina pada Rani.
"Bersikaplah seperti biasanya! Ibu yakin dia tidak akan berani bilang pada ayahnya dalam waktu dekat ini!"
__ADS_1
Karina hanya mengangguk sebagai jawaban terakhirnya agar ibunya juga tidak ikut gelisah karenanya.
FLASHBACK OFF
"Ck… aku tidak boleh sampai keluar dari rumah ini! Baru saja aku bisa hidup enak, lihat saja! Sekarang kita akan lihat seberapa besar niatmu itu Ansela!" Rani menyingrai tipis saat di otaknya berputar berbagai rencana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Huh!" Firda mengelap pleuh keringatnya setelah membereskan beberapa berkas di meja Satria, kebetulan sang pemilik sedang mengadakan rapat, jadi Firda saat ini hanya sendirian dan sayang sekali sepertinya AC di ruangan ini sedang mati.
"Lapar sekali! Padahal jam makan siang masih lama," Tutur Firda yang langsung bangkit dari duduknya dan merenggangkan otot-otot.
Firda pergi ke kamar mandi saat tiba-tiba perutnya merasa sakit dan meminta dikeluarkan.
Ceklek…
Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Satria dan Sahabatnya yaitu Farhan, kebetulan ia datang hari ini karena undangan makan siang dari Satria.
Mata Satria terus menyapu ruangan mencari sosok yang hilang.
"Apa ia sedang tidur?" Pikir Satria saat melihat jam dinding, karena hari kemarin juga Firda tertidur di jam seperti ini.
"Mungkin dia di kamar!" Gumam Satria lagi dan langsung duduk berhadapan dengan Farhan.
"hmm!"
"Ada apa?" Tanya Farhan penasaran.
"Gue mau nikah!" Ucap Satria santai sambil melirik handphonenya.
Farhan tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Satria, apa dia gak salah pendengaran hari ini bukan?
"What? Sama gadis itu?" Tanya Farhan kaget.
"Hmm!"
"Sebenarnya Lo ada rasa gak sih sama dia?"
"Emang gue laki-laki bodoh yang bisa suka sama dia hmm? Dia sendiri yang datang ke kehidupan gue Han! Dan tidak ada yang bisa disalahkan disini, jadi se sakit apapun dia hari ini dan suatu saat nanti, itu karena dia sendiri yang datang ke kehidupan gue! " Tegas Satria menatap sahabatnya, Satria memang bisa bicara panjang lebar pada waktunya terlebih pada sahabatnya.
"Terus Lo mau nikah sama gadis itu karena apa Sat! Gue gak terima ya Lo permainkan wanita terlebih dia gadis lugu!" Tutur Farhan.
"Perasaan masih jadi Boomerang gue saat ini Han! Semakin hari banyak rasa yang terus mendorong gue untuk memiliki gadis itu! Entah rasa apa itu!"
__ADS_1
"Berarti Lo mencintainya Sat!"
"Gue gak tahu!" Jawab Satria sambil menatap lurus pandangannya kedepan.
Berbeda dengan Firda, kini ia masuk kembali ke kamar mandi dan terduduk di lantainya, ia terus memukul dadanya akibat sesak, yah! tanpa sengaja Firda mendengar percakapan Satria dan Farhan sahabatnya barusan.
"Bodoh Firda! Bodoh! Dia emang gak ada rasa sama kamu! Apa yang kamu harapkan darinya? Kamu ini gadis miskin Fir…hiks!!" Tangis Firda pecah begitu saja, ia kembali mengingat percakapan antara Satria dan Farhan tadi.
"Gue mau nikah!"
"What? Sama gadis itu?" Tanya Farhan kaget.
"Hmm!"
"Sebenarnya Lo ada rasa gak sih sama dia?"
"Emang gue laki-laki bodoh yang bisa suka sama dia hmm? Dia sendiri yang datang ke kehidupan gue Han! Dan tidak ada yang bisa disalahkan disini, jadi se sakit apapun dia hari ini dan suatu saat nanti, itu karena dia sendiri yang datang ke kehidupan gue! "
Dan setelah Satria mengatakan itu, Firda langsung masuk lagi ke kamar mandi menumpahkan kesedihannya, ia tak mau mendengar kelanjutan percakapan mereka, itu bisa membuatnya semakin sakit, untungnya kamar mandi ini ada dinding sebagai penghalang antara ruangan Satria dan kamar mandi, jadi mungkin Satria tidak tahu bahwa ia mendengar percakapan mereka berdua.
"Terus maksud dia perhatian selam ini apa HAH?" Firda benar-benar sakit dibuatnya, baru saja. semalam ia memiliki keyakinan untuk membuka hatinya untuk Satria dan juga menerima perkataan Emery waktu ke apartemennya. ternyata ia malah dijatuhkan begitu saja hari ini.
"Terima cucu nenek apa adanya ya sayang! Nenek yakin ia mencintaimu! Sejauh ini, ia tak pernah membawa gadis lain ke mansion, kaulah yang pertama!" Tutur Emery saat itu, masih ingat kan pas Emery datang membawa bahan makanan ke apartemen baru?.
"Lebih baik aku menderita karena menanggung hutang darinya, dari pada aku harus menikah dengannya yang hanya ingin mempermainkan ku saja, aku harus batalin pernikahan ini. hiks…" Firda menangis keras di dalam kamar mandi, dan tentunya suaranya tak keluar karena kamar mandi ini kedap suara.
"A…ayah…hiks… bawa aku pergi dari dunia jahat ini…hiks!" Firda menenggelamkan wajahnya di antara kedua kalinya yang ditekuk.
"Aku bodoh ayah! Putrimu sangat bodoh…hiks!"
Setelah lama kini tangisannya mereda, ia mencuci mukanya menghilangkan jejak-jejak air matanya, ia menatap kembali rambutnya yang berantakan dengan cara di kuncir kuda.
"Pernikahan tidak akan pernah terjadi!" Gumam Satria menatap cermin dengan tatapan kosong.
.
.
.
.
.
__ADS_1